
Di rumah kediaman orang tua Rendy.
Ibu Ratna, pak Adrian dan Dira baru sampai ke tanah air tadi pagi.
Setibanya di tanah air Dira terus merengak pada orang tuanya, agar segera ke rumah kakaknya.
Rasa kangen juga penasaran akan kakak iparnya itu, yang menjadi alasan Dira semangat untuk segera mengambil cuti kuliah sementara.
"Mah, ayo dong kita ke rumah kak Rendy!" rengek Dira yang belum berhenti.
Sifatnya memang sedikit manja, jika sedang dengan keluarganya. Tapi Dira akan berubah menjadi wanita tangguh, saat jauh dari keluarganya.
Terbukti selama di negri orang, Dira mampu bertahan tanpa orang tua maupun kakak di sana. Demi cita-cita Dira bertekad memetik ilmu sampai ke negri orang.
"Sayang, ini sudah malam. Mamah janji besok kita akan kesana," jawab Bu Ratna.
"Iya Dira, lagian masa kamu engga capek habis perjalanan jauh," ucap pak Adrian.
"Iih papah sama mamah ini, Dira itu udah nyiapin tenaga dari sana biar bisa ketemu kak Rendy sama kakak ipar!" rajuk Dira agak kesal.
"Ya sudah, mending sekarang kamu tidur gih. Jangan lupa sholat isya dulu," ucap Bu Ratna.
Dira yang kesal akhirnya menurut pada orang tuanya. Dia pergi ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat.
Sementara itu, bu Ratna dan pak Adrian masih tenggelam dalam obrolan mereka.
"Pah, kok belum ada kabar baik ya dari Rendy sama Lisa. Mamah udah engga sabar nih," ucap Bu Ratna.
Pak Adrian yang sedang menikmati tehnya itu, menatap pada istri yang sudah memberinya 2 orang anak.
"Kabar baik apa mah?" tanya pak Adrian.
"Itu loh, kabar baik kalau Lisa hamil".
"Mah, kita kan cuman manusia itu semua rahasia Allah. Mungkin Allah belum memberi titipannya itu pada anak-anak kita," ucap Pak Adrian menasehati istrinya.
"Iya juga sih, tapi pah. Kita ini udah tua, kita engga tau sampai kapan ada di antara mereka. Mamah berharap bisa menimbang cucu sebelum mamah di panggil Ilahi,"
"Sudah,sudah. Kita doakan saja yang terbaik buat mereka. Apapun keputusan mereka, kita hargai. Kita engga boleh ikut campur urusan rumah tangga mereka. Alangkah baiknya kita sebagai orang tua, menjadi contoh yang baik," tutur pak Adrian sambil memeluk istrinya.
Sepasang suami istri ini memang sudah tak muda lagi, tapi kemesraan mereka tetap terjaga. Pak Adrian sendiri, tak pernah sekalipun membentak atau berlaku kasar selama mengarungi bahterai rumah tangganya.
__ADS_1
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Sementara itu Lisa dan Rendy tengah duduk berdua di atas kasur. Lisa yang terus teringang ucapan suaminya tadi, membuat matanya susah terpejam.
Rendy yang menangkap suatu kejanggalan pada istrinya, langsung mendekat dan memeluknya erat.
"Sayang, kamu lagi mikirin apaan sih?" tanya Rendy penasaran.
"Engga mikirin apa-apa kok, Mas!"sahut Lisa sambil menggelengkan kepalanya.
"Bicaralah, aku tau kamu sedanng melamun!"
Lisa terdiam, haruskah dia membicarakan perihal ini lagi. Tapi Lisa ingin memastikan apa perkataan suaminya tadi, benar atau hanya candaan.
"Mas," ucap Lisa.
"Iya, Sayang."
"Apa..ucapan mas tadi serius."
"Tadi, yang mana, Sayang," ucap Rendy pura-pura Lupa, padahal dia paham arah dari pembicaraan istrinya ini.
"Itu ... yang" Lisa berhenti karena ragu.
"Apa soal anak kembar?" tanya Rendy.
"I-iya, Mas,"
"Kenapa, apa kamu tidak mau?" tanya Rendy.
"Bukan begitu, hanya saja hubungan kita belum ke tahap sejauh itu," sahut Lisa.
Rendy melepaskan pelukannya, lalu memandang istrinya dalam-dalam.
"Lihat aku, apa aku seperti sedang bercanda. Percayalah, aku tak pernah main-main dengan ucapanku. Soal hubungan kita, harus sejauh mana menurutmu agar kita bisa punya komitmen yang sama, terutama soal anak," ucap Rendy.
Lisa diam saja, dia tak tau harus menjawab apa. Tatapan Rendy membuat nyalinya menciut.
Mata mereka saling bertemu, udara yang dingin masuk menusuk ke setiap penjuru ruangan.
Perlahan tangan Rendy memegang belakang kepala Lisa, lalu dia memiringkan kepalanya. Jarak antara mereka semakin dekat, kini hidung mereka beradu tak berjarak.
__ADS_1
"Bolehkah, aku mencicipi bibir manismu." ucap Rendy.
Lisa semakin diam, mulutnya terkunci. Situasi macam apa ini, Lisa tak pernah merasakan sebelumnya.
Rendy mengelus bibir ranum milik Lisa dengan tangannya, dan tanpa aba-aba Rendy menempelkan bibir pada bibir istrinya.
Lisa menghirup udara sebanyak-banyaknya, sungguh ganas suaminya ini sampai membuat Lisa hampir kehabisan nafas.
"Maaf," cicit Rendy.
"Engga apa-apa, Mas,"
"Bibirmu manis, ini pasti akan menjadi candu untukku. Aku sebenernya ingin lebih dari ini, tapi nanti saja aku tau kamu belum sepenuhnya siap. Aku akan sabar menunggu waktunya tiba." ucap Rendy memeluk Lisa kembali.
Lisa hanya diam, ini pertama kalinya Lisa bersentuhan dengan lelaki. Selama ini Lisa memang tidak mau pacaran, tentu karena di larang agamanya. Lisa pun tak punya waktu luang seperti gadis seumurannya.
"Kamu tau sayang, sejak kepergian kayla. aku tak pernah sekalipun berani bermimpi menikah lagi. Bagiku, hidup sendirian saja sudah cukup. Toh aku sudah pernah merasakan rumah tangga juga,"
Rendy menghela nafas sebelum meneruskan ucapannya.
"Tapi saat aku melihatmu di rumah sakit itu, aku merasa hatiku tergerak, untuk ingin tau dan lebih tau tentangmu. Tentang wanita yang aku lihat sedang menangis. Aku tak pernah berpikir akan sejauh ini denganmu sayang, tapi inilah takdir Alloh semua tidak akan tau apa yang akan terjadi di kemudian hari. Terimakasih, karena sudah mau menerimaku dan segala masalaluku," ungkap Rendy seraya mengecup singkat kepala Lisa.
Lisa tersenyum bahagia hatinya mendengar ucapan tulus Rendy. Lisa berharap bisa selamanya bersama suaminya ini. Tapi ada yang mengganjal di hatinya, soal janjinya pada almarhum istri Rendy.
"Mas, mau kah mas mengantarku ke makam mba Kayla. Aku ingin meminta maaf sekaligus izin untuk memiliki Mas," ucap Lisa.
"Baiklah, Lusa kita akan kesana, sekarang lebih baik kita tidur. Besok kita harus bekerja," ucap Rendy menarik tubuh istrinya agar berbaring di ranjang.
Bagi Rendy kemajuan hubungannya dengan Lisa, sudah sangat cepat. Rendy mampu sedikit demi sedikit, melupakan masalalunya.
Terlebih sebagai istri, Lisa cukup penurut. Lisa tak banyak menuntut apapun pada Rendy. Sungguh suatu anugrah bagi Rendy memiliki istri seperti Lisa.
Rendy terus bersyukur pada yang Maha Kuasa, karena mempertemukannya dengan gadis sebaik istrinya.
"Kayla, maafkan aku. Aku berharap kamu merestui hubungan kami." Ucap Rendy lirih setelah memastikan istrinya tertidur.
...****************...
BERSAMBUNG~~~~
Jangan Lupa terus dukung author ya
__ADS_1
Like,coment&vot🤗
SELAMAT MEMBACA😊