
Hari berangsur sore. Ririn pamit duluan untuk pulang, sementara Rendy dan Lisa masih berdiam di toko bunga. Menunggu adzan magrib berkumandang, lalu sama-sama melaksanakan sholat berjamaah.
Mereka berencana kencan malam ini. Setidaknya itulah yang Rendy utarakan pada istrinya. Lisa sudah berusaha melarang, karena takut Rendy kelelahan. Esok ia harus berangkat ke luar kota.
Adzan berkumandang indah. Dua sejoli itu segera menuju masjid terdekat. Melaksanakan kewajiban mereka sebagai seorang muslim.
Sholat telah usai. Rendy dan Lisa segera masuk mobil, lalu bersama menikmati indahnya malam. Rendy hendak memberikan sebuah kejutan. Sesuatu yang selama ini tidak pernah ia lakukan.
Begitu sampai di tempat tujuan. Rendy sengaja menutup kedua mata Lisa dengan seuntai kain.
"Mas, kamu tidak akan meninggalkanku kan?" tanya Lisa.
"Tenanglah. Aku ada di sampingmu." Rendy menuntun istrinya. Menjadi petunjuk jalan bagi Lisa.
"Bukalah matamu perlahan," ucap Rendy. Membuka untaian kain penutup mata Lisa. "Apa kamu menyukainya?"
Mata Lisa membulat. Menyusuri setiap sudut pemandangan yang ia lihat saat ini. Sebuah makan malam romantis Rendy persiapkan untuk Lisa.
Lilin kecil menerangi meja. Dua kursi berlapis kain berwarna putih berseri. Bunga mawar nampak hadir tertata rapi menghiasi meja makan.
Rendy perlahan menuntun sang istri. Membawa Lisa ke dekat meja makan. Tangannya merogoh sesuatu di saku, lalu berjongkok di hadapan Lisa dengan tangan memegang sebuah cincin indah.
"Sayang, mungkin ini sedikit terlambat. Namun aku tetap akan melakukannya," kata Rendy. Hatinya bergetar, ia tidak pernah melakukan hal romantis seperti ini saat bersama istri pertamanya.
"Maukah kamu hidup selamanya denganku? bisakah kau berjanji untuk setia disampingku?" lanjut Rendy.
Lisa menutup mulut dengan tangannya. Ia tidak pernah berpikir akan mengalami hal seromantis ini.
Dengan sebuah senyuman kecil Lisa berkata, " Aku mau! Aku sangat mau bersamamu selamanya. Sampai maut memisahkan kita."
Mata Rendy berbinar. Diraihnya tangan mungil Lisa, lalu perlahan disematkannya cincin tersebut.
"Terimakasih." Rendy bangkit, lalu menarik tubuh Lisa ke dalam pelukannya.
Selang dua menit, seorang pelayan membawa makanan. Menatanya rapih di meja makan. Lisa dan Rendy segera menikmati makan malam penuh kehangatan.
Pancaran sinar mata keduanya tidak bisa tertutupi. Ada ribuan kata bahagia tengah melanda diri.
Rendy menatap lekat pada Lisa. Membayangkan jika, ia harus kehilangan sosok manis di hadapannya. Hidupnya mungkin bukan hanya sekadar hancur, akan tetapi dunianya tidak akan berputar kembali.
Hati yang telah terpatri kuat untuk Lisa. Menimbulkan sedikit keegoisan diri untuk memiliki Lisa selamanya.
__ADS_1
Di tengah larutnya suasana. Tiba-tiba datang tiga orang laki-laki membawa beberapa alat musik. Rendy terlihat berjalan ke arah orang-orang itu, lalu mengambil mikropon dari tangan salah satu laki-laki.
"Untukmu yang kini ada di hadapanku. Untukmu yang telah mewarnai hidupku. Tetaplah tersenyum, dan hidup bahagia bersamaku. Lagu ini untukmu istriku," ucap Rendy melalui mikropon.
**Hanya kamu di hatiku, yang mampu mengertiku.
Menjadikan diriku yang lebih baik.
Aku menyayangi kamu.
Kamu selalu setia menemaniku.
Cinta kita memang tidak semudah yang dibayangkan.
Dulu kita saling menyakiti dan hampir menyerah.
Kini kita hadir tuk saling menyempurnakan.
Ku berdoa untuk bisa hidup dan menua bersamamu.
Cinta kita memang tidak semudah yang dibayangkan.
Dulu kita saling menyakiti dan hampir menyerah.
Kini kita hadir tuk saling menyempurnakan.
Ku berdoa untuk bisa hidup dan menua bersamamu.
Menua bersamamu, semoga saja**.
Satu lagu dari penyanyi Tri Suaka, berjudul Menua bersamamu terdengar merdu dan penuh penghayatan.
Lisa mengurai senyum indah. Malam ini ia berharap tidak sedang bermimpi. Berharap tidak berakhir secepat mungkin.
"Istriku, kamu adalah segalanya. Aku akan mempertaruhkan segalanya untukmu. Jadi, tetaplah hidup denganku dan menua bersama!" seru Rendy.
Laki-laki itu berjalan kembali ke tempatnya semula. Begitupun para band pengiring, pergi meninggalkan mereka berdua.
"Mas, kamu mempersiapkan ini semua untukku?" tanya Lisa, matanya penuh kebahagian.
"Tentu! Aku memesan tempat ini jauh-jauh hari," ungkap Rendy, "kamu suka?"
__ADS_1
Lisa mengangguk dengan senyuman yang kian mengembang. Mawar merah di meja pemisah jarah tubuh mereka, menjadi saksi bisu ungkapan cinta dan sayang sepasang suami istri ini.
Setelah puas menikmati makan malam. Keduanya segera pulang. Badan mereka lelah, akan tetapi tidak dengan hati keduanya.
Sesampainya di rumah. Lisa dan Rendy bergegas ke kamar. Sebelumnya Rendy sudah mengabari Bi Inah untuk tidak menunggu mereka pulang.
Rendy bukanlah orang perhatian, akan tetapi ia tetap memperlakukan pekerjanya dengan baik. Sejak dulu ia selalu berpesan pada pembantu dan supirnya. Agar mereka tidak perlua menunggu Rendy pulang jika, sampai pukul delapan malam belum di rumah.
Mereka pun bebas menikmati fasilitas rumah. Mereka diberi kebebasan untuk beraktivitas, asalkan tidak mengganggu pekerjaan inti.
Lisa baru selesai membersihkan diri. Tubuhnya terasa segar kembali. Kini giliran Rendy memanjakan diri dengan aliran air yang mengucur langsung dari shower.
Malam semakin larut. Kedua manusia itu tengah berbaring di atas ranjang. Rendy terus mendekap erat tubuh istrinya. Seakan ia berat untuk meninggalkan Lisa keluar kota.
"Mas," panggil Lisa.
"Iya, Sayang." Mencium pelan kening istri. Rambut istrinya yang panjang terurai dan hanya ia yang bisa menikmati.
"Apa aku boleh mengatakan sesuatu," ucap Lisa. Ada keraguan di setiap kata-katanya. Ia bahkan tidak tahu mengapa ingin sekali mengatakan ini.
"Bicaralah!" Masih membelai lembut rambut Lisa. Sesekali mencium bau shampo yang seakan menggoda jika, istrinya yang memakai. Padahal ia tahu, ia sendiri memakai shampo yang sama. Sudah pasti ia sudah kenal betul wangi ini.
"Aku ingin mengatakan__." Mulut Lisa seperti membeku, susah sekali untuk digerakan.
"Mengatakan apa?" tanya Rendy sedikit penasaran.
"Jika terjadi sesuatu padaku. Berjanjilah, Mas akan menjaga anak kita untukku." Air mata sedikit hadir mengiringi perkataan Lisa.
Rendy terdiam. Ia tidak paham mengapa istrinya berkata begitu. Ingatannya memutar kembali perkataan Dion di toko. Ini tidak mungkin? Dion hanya menggeretak. Lalu, ini apa? mengapa sang istri tiba-tiba berkata seperti itu.
Hatinya mulai dilanda gelisah. Ada sedikit ketakutaan yang tersirat dipikirannya, namun Rendy mencoba menepis. Semua akan baik-baik saja.
"Kenapa kamu berkata seperti itu!" jawab Rendy.
"Aku hanya iseng saja mengatakannya. Bukankah kita tidak tahu takdir apa yang akan terjadi di kemudian hari?" tanya Lisa balik. Matanya menatap lekat pada Rendy.
Entah mengapa malam ini ia ingin menikmati wajah Rendy dengan kedua bola matanya. Merasakan setiap pancaran hangat yang selalu Rendy berikan. Seakan itu yang akan ia rindukan suatu saat nanti.
Rendy semakin mempererat dekapannya sambil berkata, "Tidurlah, ini sudah malam. Jangan pernah berpikir tentang hal yang belum terjadi. kita nikmati saja waktu yang ada."
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG~~~
Jangan lupa like, coment dan vote untuk Author๐๐๐