Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
S2 BAB 27


__ADS_3

~Saat memutuskan meninggalkanmu, bukan berarti aku tidak mencintaimu lagi. Mungkin saat itu aku sedang berusaha melepaskan rasa sakit di sanubari~


🌹🌹🌹🌹ZAHRA🌹🌹🌹🌹


Sarapan usai. Zahra pamit berangkat mencari ilmu untuk masa depan yang cerah. Hatinya tengah bimbang. Sudah benarkah keputusan yang akan ia ambil.


Selama di kampus, Zahra tidak secerah biasanya. Bahkan Riki dan Riko pun nampak heran atas perubahan sikapnya.


Siang itu, Zahra tengah makan siang bersama si kembar dan Adnan. Ia memesan jus buah dan satu mangkuk baso. Namun, sejak pesanannya datang. Ia hanya melamun tanpa memakannya.


Tentu, ini menimbulkan banyak pertanyaan di pikiran Riki. Lelaki itu bertanya pada Riko dan Adnan, tetapi jawaban mereka sama.


"Gue engga tahu," jawab kedua-nya serentak.


Tidak berapa lama terdengar suara Amelia menghampiri mereka. Cara bicara-nya yang khas, membuat siapa pun bisa mengetahui itu dia.


"Aa ... Neng datang!" teriaknya.


Sontak Riki dan Riko saling menyikut. Mereka menunduk, karena malu dilihat orang banyak.


"Aih, Ko 'tuh pacar Lu urus dulu napa!" ujar Riki.


"Gebetan Lu kali!" kilah Riko.


Amalia duduk tepat di samping Zahra yang masih saja tidak bergeming. Ia terlalu hanyut dalam dunianya sendiri.


"Aa kaseup, Neng dongkap ieuh. Naha kalah tarungkul kitu si Aa teh! Oh, eta teh saking ku rindu ka Neng nya," celetuk Amalia dengan bahasa sundanya.


Adnan melirik sekilas pada si kembar. Ia menyunggingkan sebuah senyuman kecil. Mungkin saat ini bukan rindu yang tengah di landa dua "R" , tetapi tepat-nya rasa malu yang mencoba mereka sembunyikan.


"Lia, Lu ngomong apaan 'sih? bicaralah dengan bahasa indonesia yang jelas!" jawab Riki dengan penuh penekanan.


"Cakep, My Brother!" Riko menepuk bahu kembarannya dua kali.


"Ih, ari Aa. Neng teh udah biasa ngobrol kayak gini. Jadi, Aa teh, harus plus wajib belajar bahasa kebudayaan Neng biar tahu," cakap Amelia.


Duo "R" menggelengkan kepala tanpa menjawab. Mereka sudah malas menanggapi gadis culun, tapi tingkat percaya dirinya 100%.


Amalia memperhatikan sejenak Zahra yang mendadak menjadi pendiam. Dengan isyarat mata, Amalia meminta penjelasan Riki dan Riko.


"Boro-boro Lu yang baru datang. Kita aja kagak tahu dia kenapa? lagi demo ngomong kali!" tutur Riki.


Adnan sesekali melirik pada Zahra. Ia sebetulnya tahu alasan gadis itu diam. Selain kesepian, karena sekarang Egi cuti mengajar di sini. Gadis itu juga pasti sedang bimbang perihal perjodohan-nya.

__ADS_1


"Dari dulu, Lu mana pinter nyembunyiin sesuatu dari gue sama Paman, Ra," batin Adnan.


Kampus memang terasa sunyi. Terlebih bagi fans berat Egi. Mereka merasa kehilangan saat mengetahui dosen favoritnya cuti sementara. Namun, alasan mengapa Egi mengajukan cuti tidak semua penghuni mengetahuinya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Dua hari berlalu setelah itu. Tidak terasa Egi sudah mulai terbiasa dengan pekerjaan-nya sekarang. Ia bukan lagi dosen, tetapi jika ada waktu luang ia habiskan dengan membaca buku.


Seperti hari ini, ia baru saja selesai meninjau proyek baru-nya dengan salah satu perusahaan terbesar di kota "Y". Ia bukanlah pemimpin yang senang berongkang-angking kaki saja. Egi lebih suka terjun langsung, untuk memastikan sendiri.


Waktu menunjukan pukul lima sore lewat dua puluh menit. Egi pamit pada Rey, untuk beristirahat di hotel yang menjadi tempat mereka tinggal sementara di sini.


"Setelah sholat maghrib. Kakak pamit pulang dulu ke rumah. Kamu bisa istirahat besok, kita lanjut Lusa. Ada acara keluarga yang tidak bisa Kakak tinggalkan," kata Rey.


"Baik, Kak Hati-hati di jalan. Besok, aku akan diam seharian di kamar. Rasanya badanku remuk semua." Memijat pelan bahu-nya.


"Apa perlu Kakak panggilkan layanan pijat untukmu?"


Egi menolak halus. Ia belum membutuhkan layanan pijat. Cukup beristirahat seharian saja, badannya akan normal kembali.


"Baiklah. Kalau gitu, istirahatlah. Kakak akan langsung berangkat tanpa pamit lagi."


Egi dan Rey berpisah. Mereka menuju kamar masing-masing. Egi tidak terlalu banyak tanya perihal urusan keluarga Rey. Ia meyakini setiap orang punya privasi yang tidak ingin di campuri orang lain.


Dalam sholatnya. Egi merasa ada sesuatu yang aneh dengan hatinya. Ia merasa rindu, tetapi tidak tahu siapa orang yang ia rindukan.


Untaian dzikir membasahi mulut Egi sejak selesai sholat. Lelaki itu memilih cara ini, untuk meredam rasa yang aneh pada dirinya.


"Ada apa dengan diriku? apa yang sebenarnya aku inginkan?" gumam Egi di sela-sela dzikir.


Sementara itu, di kamar lain Rey tengah bersiap-siap, untuk pulang ke rumah. Keluaga Ardi sudah mengabari-nya sejak sore hari perihal niat kedatangan mereka.


Bergegas Rey keluar kamar, lalu berjalan menuju parkiran. Malam ini adalah malam penentuan masa depan anaknya. Ia akan menerima apa pun keputusan Zahra nanti.


Perjalanan yang hanya memakan waktu sekitar satu jam setengah itu telah usia. Kini, Rey sudah berada di tengah-tengah keluarganya.


Setelah membersihkan diri dan berbicara sebentar dengan Mona. Mereka segera bersiap menyambut tamu di lantai bawah.


Aroma makanan menyeruak ke dalam hidung. Mona sengaja memasak banyak makanan, untuk acara makan malam bersama keluarga Ardi.


Selang lima menit, tamu yang mereka nantikan datang. Ardi bersama kedua orang tua-nya disambut hangat oleh Mona dan Rey.


Mereka berbincang-bincang kecil sebelum masuk ke acara inti. Ardi sesekali melirik ke arah tangga. Ia berharap Zahra segera turun bergabung dengan mereka.

__ADS_1


"Baiklah, Pak Rey agar tidak terlalu membuang waktu. Kami sekeluarga ke sini, untuk mendengarkan jawaban dari Zahra atas pinangan putra kami, Ardi," ucap Papa Ardi.


"Ya, kami sudah tahu. Sekali lagi, kami menyerahkan sepenuhnya keputusan pada Zahra. Saya tidak bisa memaksa seandainya anak kami menolak," jawab Rey.


"Tidak apa-apa. Yang menjalani juga mereka, memang sudah seharusnya merekalah yang menentukan," cakap Papa Ardi.


Rey meminta istrinya memanggil Zahra di kamarnya. Bergegas Mona ke atas menuju kamar Zahra.


Sesampainya di kamar anaknya. Mona mengetuk pintu dua kali, kemudian terdengar Zahra membuka pintu.


Mona mengatakan, bahwa Ardi sudah menunggunya di lantai bawah. Seketika Zahra gugup. Ia semakin bimbang terlihat dari reaksinya menggigit bibir bawahnya.


"Tenanglah! Kamu boleh memutuskan masa depanmu. Mama dan Papa pasti support kamu." Mona menarik tubuh Zahra masuk ke dalam dekpaannya.


Setelah puas. Mereka segera turun ke bawah. Langkah Zahra terasa berat seakan ia sedang membawa beban.


Kini duduklah Zahra tepat di hadapan Ardi. Lelaki itu sekilas mencuri pandang ke arah Zahra. Wajahnya yang kecil dengan bola mata bulat sempurna menjadi daya tarik sendiri.


"Jadi, apa keputusanmu, Dek?" tanya Ardi penasaran.


Semua mata tertuju pada Zahra. Mereka tengah harap-harap cemas menantikan gadis itu membuka mulut.


Zahra memejamkan mata sekejap. Meyakinkan diri, bahwa inilah keputusan terbaik yang ia ambil.


Zahra menatap lekat Ardi. "Bismillah, aku menerima lamaranmu, Mas."


Semua orang berucap "Alhamdulillah." Mereka lega telah melewati masa-masa menegangkan.


Ardi tersenyum kecil. "Terima kasih, Dek."


...****************...


BERSAMBUNG~~~


BISMILLAH ....


Kemarin ada banyak yang bertanya, apa saya membiarkan cerita ini berakhir begitu saja?


Saya jawab, TIDAK.


Cerita ini tetap berlanjut, hanya saja sebentar lagi tamat. Jadi, saya mempersiapkan cerita baru untuk penggantinya. Tentu, dengan pemain yang baru. Egi dan Zahra hanya akan tamat di sini.


Terima kasih πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2