Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
Extra part 6


__ADS_3

Setiap deru napasmu terdengar merdu. Alunan bunyi suaramu menggetarkan jiwaku. Jangan pergi! Aku tak mengizinkan sedetik pun.


{ EGI }


Zahra berjalan mengekor di belakang. Telinganya terusik mendengar pendapat orang tentang dirinya. Sedangkan Egi tetap melangkah tanpa beban. Ia tak peduli tanggapan sekitar.


"Aku masih ada kelas. Kamu bisa pulang duluan!" perintah Egi tanpa menoleh ke belakang.


Zahra mengerti. Hari ini tak ada lagi kelas untuknya. Jadi, sudah seharusnya ia pulang. Dengan langkah teratur Zahra menyeret kakinya. Dia bukanlah gadis manja. Pulang sendiri tak masalah baginya.


Tangannya merogoh saku, mengambil ponsel pintar dan mulai mencari sebuah aplikasi. Tiba-tiba suara klakson mobil menghentikan aktivistasnya. Zahra menoleh ke arah sumber suara.


"Mau pulang, Bi?" tanya Adnan.


"Jangan panggil aku Bibi! Geli aku dengarnya!" hardik Zahra.


"Paman bisa membunuhku, kalau tau!" Adnan menatap lekat. "Ayo, aku juga mau pulang."


Zahra termenung sejenak. Ia tak boleh gegabah. Bagaimanapun, statusnya sekarang seorang istri.


"Aku bisa pulang sendiri."


"Kamu takut paman?"


"Jelas! Dia suamiku." Zahra kembali memainkan ponsel, mulai memesan mobil. Namun, jaringan kartu prabayar mendadak hilang. "Ini kota! kenapa sinyalnya susah!"


Adnan tertawa mendengar wanita yang sudah bergelar Bibinya sekarang tengah mengomel tak jelas.


"Jangan mengomel tak jelas. Buruan masuk! Aku engga suka nunggu." Adnan menutup kaca jendela.


Dengan terpaksa Zahra masuk ke mobil. Hari sudah mulai sore dan Egi pun telah menyuruhnya pulang.


Selama di perjalanan Zahra memilih diam. Memperhatikan pepohonan yang terlewati. Suasana sedikit canggung. Adnan pun tak berniat mencairkannya.


Bayangan Egi saat di kelas masih berlompatan di mata Zahra. Mengusik pikirannya, tetapi membuat debaran jantung yang tak karuan. Sudut bibir Zahra sedikit terangkat ke atas. Mengingat bisikan indah nan mesra yang ia dapatkan tadi.


"Dosenku, suamiku. Ah ... Aku bakalan susah napas selama di kampus. Sedikit kesenggol aja, paman engga segan berbisik. Apalagi ... aku gila! Jangan bayangin yang aneh-aneh!" batin Zahra.

__ADS_1


Zahra memukul pelan kedua pipinya. Menimbulkan rasa curiga dari diri Adnan. Ia tak berniat bertanya, tetapi rasa penasaran semakin menghantui.


"Apa kamu jadi gila setelah nikah sama Paman?" tanya Adnan, melirik sekilas, kemudian pokus menyetir kembali.


"Hah! Mana ada aku gila!" kilah Zahra.


"Aku harap, paman engga pusing ngadepin kamu."


"Dasar ponakan engga ada akhak!" sungut Zahra kesal.


"Aku bukan ponakanmu. Kamu yang bilang engga usah panggil Bibi."


"Ya, ya, ya!"


Suasana kembali hening. Mobil pun membawa mereka sampai rumah. Tanpa berkata apa pun, Zahra langsung keluar dan masuk ke rumah.


"Bibi engga tau terima kasih!" umpat Adnan kesal.


Zahra mengucap salam sambil langkahnya masuk ke rumah. Tak ada jawaban. Ia lupa bahwa, saat ini kedua kakak iparnya sedang keluar kota.


Zahra menaiki anak tangga satu per satu. Membawa kakinya menuju kamar. Kasur empuk nan hangat itu seakan melambai-lambai. Mengajak Zahra untuk beristirahat sejenak.


Waktu terus bergulir tanpa bisa terhentikan. Tak terasa Maghrib telah datang. Zahra masih saja tertidur pulas tanpa menyadari sang suami sudah pulang.


Egi mendekat, menggoyangkan badan Zahra pelan. Namun, wanita itu tetap tak ingin membuka mata. Dengan sabar Egi kembali membangunkan, tetapi kali ini ia sedikit kencang. Tak di duga Zahra bereaksi, menggeliat, kemudian netranya perlahan terbuka.


"Mas," panggil Zahra.


"Sudah Maghrib. Ayo, bangun dan sholat!" ajak Egi.


Zahra bangun, berangsur turun dari kasur. "Sejak kapan Mas pulang?"


"Baru saja. Aku mandi dulu." Berjalan ke arah kamar mandi. "Kamu dan Adnan pulang bersama?"


"Maaf."


"Tak masalah, aku hanya bertanya."

__ADS_1


Egi mandi. Sedangkan Zahra mempersiapkan pakaian ganti. Mereka bergantian memakai toilet. Setelah semua selesai, keduanya bergegas menuju mushola rumah. Melaksanakan salat berja'maah dengan penghuni yang lain.


Salat selesai. Egi masih tak ingin beranjak dari atas sajadah. Begitu pun Adnan yang berada di belakangnya. Paman dan keponakan melantunkan dzikir bersama.


Waktu makan malam tiba. Egi mengajak Zahra dan Adnan keluar rumah. Namun, Adnan menolak. Ia beralasan tak ingin mengganggu pasangan pengantin baru.


"Aku makan di rumah saja, Paman," tolak Adnan lembut. "Bibi juga sudah kusuruh masak."


"Baiklah."


"Paman, apa menikah itu menyenangkan?" tanya Adnan. "Wajah Paman tak sekaku dulu!"


Egi melirik, menatap Adnan lekat. Membuat yang ditatap merasa ketakutan.


"Aku hanya bercanda!" Adnan memperlihatkan deretan giginya, berjalan menjauh dari Egi.


"Aku mengutuk mulutku sendiri!" omel Adnan. "kau lupa sedang berbicara dengan siapa? Paman tak berubah, masih dingin. Aku harap Zahra tak gila karena menghadapi sikapnya."


Sementara itu di kamar, di depan cermin Zahra mematung melihat tampilan dirinya. Egi masuk, memperhatikan sekejap, selanjutnya memeluk dari belakang. "Sayang, apa kita tak usah makan saja? Aku jadi malas!"


Zahra terperanjat, merasakan lingkaran tangan Egi di pinggangnya. "Kenapa? Aku lapar!"


"Aku tak mau berbagi kecantikan istriku dengan yang lain."


"Maksud, Mas?"


"Hapus make up-mu!" Egi membalikkan badan Zahra. "Cukup di depan aku saja! Tak perlu perlihatkan pada yang lain."


Tangan Egi meraih tisu di meja rias, mengusap pelan bibir Zahra yang bergincu merah. "Pakailah warna yang tak mencolok. Bukankah kamu akan keluar rumah?"


Zahra mengangguk pelan. Suara lembut milik Egi menghipnotis dirinya. Ia mematung, merasakan denyut jantung yang semakin tak beraturan.


"Aku tau niatmu baik, tapi alangkah baiknya tak perlu berlebihan. Aku menghormatimu sebagai istriku. Maka dari itu, aku tak ingin kecantikanmu dinikmati yang lain."


Pada Akhirnya mereka tetap keluar. Meski Zahra harus menghapus riasannya kembali. Egi menggandeng tangan istrinya, berjalan beriringan menuruni anak tangga. Adnan memandangi mereka di ambang pintu kamar, beberapa kali menggelengkan kepala.


"Cinta bisa merubah kulkas menjadi sehangat teh manis," gumam Adnan, masuk ke kamar dan kembali merebahkan diri. "Jodohku, di manakah dirimu?"

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG~~~~


__ADS_2