Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
139


__ADS_3

Mereka semua menatap pada sesosok lelaki tampan yang berbalut jas berwarna coklat muda. Ia terlihat berjalan semakin mendekat, lalu menghampiri Lisa.


"Lisa ... Kamu sudah sadar?" tanya Dion lirih.


Lelaki itu tidak lain adalah Dion. Orang yang dari dulu mengagumi Lisa. Rendy segera menggenggam tangan istrinya. Ia takut hal yang tidak diiinginkan terjadi lagi.


"Pak Dion tahu Lisa koma?" tanya Lisa balik.


"Iya, saya tahu sehari setelah kamu masuk rumah sakit. Maaf ...." Tertunduk lesu.


"Maaf untuk apa, Pak?" tanya Lisa.


"Maaf, karena saya tidak tahu, jika wanita sialan itu yang telah membuatmu celaka!" tutur Dion.


Tersirat jelas raut penyesalan yang begitu mendalam dari wajah lelaki ini. Ia tidak bisa menutupi itu semua. Terlebih perkataan Pak Adrian dulu masih teringang di telinganya.


Lisa tersenyum kecil, lalu berkata, "Tidak apa-apa, Pak. Mungkin benar Ririn yang menyebabkan semua ini. Namun, ini semua tetaplah takdir dari Allah yang di gariskan untuk Lisa. Yang terpenting sekarang Lisa sudah sadar kembali, semua juga atas izin Allah."


"Aku juga minta maaf, untuk semua perbuataan dan kata-kataku padamu, Lis. Selama ini aku sadar bahwa aku terlalu ambisius untuk memilikimu. Padahal jelas-jelas kamu sudah menikah," sesal Dion.


"Alhamdulilah, kalau Pak Dion sudah menyadarinya. Lisa harap Pak Dion segera menemukan wanita hebat yang mencintai Pak Dion sepenuh hati," balas Lisa.


"Saya sudah menemukannya, bahkan kami berniat menikah minggu ini!" ungkap Dion.


"Benarkah! Siapa wanita hebat itu, Pak?" Matanya memencarkan rasa penasaran.


"Dia yang mengajakku ke sini, sebentar! Tadi dia ada di belakangku." Menengok ke belakang, mencari keberadaan wanitanya.


"Nah, itu dia wanita hebatku!" tunjuk Dion.


Seorang wanita cantik berjalan begitu anggun sambil menebarkan senyuman. Mata mereka semua menatap ke arah yang di tunjuk Dion.


"Dokter Tania!" seru Dika yang kaget.


"Apa kamu mengenalnya, Kak Dika?" tanya Dira.


"Iya, dia rekan kerjaku, Dek di rumah sakit. Aku tidak menyangka kalau dia orangnya," tutur Dika.


"Bukankah itu dokter kandunganmu, Sayang?" bisik Rendy pada Lisa.


"Iya, Mas," sahut Lisa.


"Dunia memang sempit! Aku pikir jodoh si lelaki licik ini wanita berbau mafia," kata Rendy.


"Kamu ini, Mas ngomongnya 'kok sembarangan." Mencubit pinggang Rendy.


"Aduh, Sayang kalau kamu terus seperti ini. Pinggangku bisa minta jajan ke rumah sakit! cakap Rendy.


Sedangkan Rey, Mona, Pak Adrian dan Egi sama sekali tidak mengenal wanita yang tengah berjalan ke arah mereka.


"Apa kamu kenal dia, Adindaku?" tanya Rey.


"Kayaknya engga, aku baru melihatnya," balas Mona.


"Dia cantik," gumam Rey.


"Oh ... jadi dia lebih cantik dari aku, ya! Udah, sono nikah sama dia aja! Ngapain malah sama aku." Muka Mona cemberut.


Rey tertawa pelan, kemudian menarik pinggang sang istri. Rey berkata. "Kakanda hanya bercanda, Adindaku. Kamu memang manis asli tanpa gula sekali pun."


"Kak Rey pikir aku iklan teh gelas! sungut Mona kesal.

__ADS_1


Egi melirik ke arah Pak Adrian dengan penuh tanda tanya. Pak Adrian yang mengerti akan hal itu, lalu berkata, "Papa tidak mengenalnya."


Dokter Tania semakin mendekat, ia mengangguk pada Pak Adrian sebagai tanda bahwa ia menghormati beliau.


"Selamat, ya, Dokter Dika. Saya engga tahu kalau Anda mengenal tunangan saya juga," lontar Dokter Tania.


"Terima kasih, Dok sudah menyempatkan hadir di pernikahaan kami. Bukan saya yang mengenal tunangan Anda, tapi sahabat saya Rendy dan Rey," balas Dika.


Dion tersenyum manis pada Dokter Tania, lalu berkata, "Betul, Honey. Aku dulu adalah bawahannya Pak Rendy."


"Baiklah. Sekali lagi selamat, ya, Dok!" sela Dokter Tania pada Dika.


Dokter Tania memperhatikan wajah Rendy dan Lisa yang seperti tidak asing baginya.


"Ah, iya saya ingat! Anda ini Pak Rendy yang dulu berkonsultasi pada saya, saat istrinya hamil muda 'kan?" lanjut Dokter Tania.


"Iya, Dok! Dulu kami pernah tiga kali berkonsultasi dengan Dokter, sebelum berganti pada Dokter Haikal," jelas Lisa.


"Iya, Bu. Maaf, waktu itu saya sedang berada di luar kota, jadi saya meminta Dokter Haikal untuk menangani Bu Lisa. Syukurlah, Bu Lisa sudah sadar dan melahirkan seorang anak lelaki yang tampan," ungkap Dokter Tania.


"Terima kasih, Bu." Tersenyum ramah.


"Kalau begitu, kita pamit berbaur dengan tamu yang lain, ya," pamit Dokter Tania.


Dion dan Tania beranjak pergi meninggalkan pelaminan. Pak Adrian sedikit bergeser ke arah Rendy, lalu berbisik, "Sepertinya lelaki itu paham apa yang Papa bicarakan saat di rumah sakit. Terbukti saat ini dia sudah mampu melupakan istrimu. Papa harap kamu juga melupakan rasa sakitmu padanya."


Rendy tersenyum sambil mengangguk. Hatinya sekarang lega, tidak akan ada lagi orang yang merecoki biduk rumah tangganya. Lisa dan Rendy pamit untuk menyantap hidangan yang tersedia. Begitu pun Mona dan Rey.


Mona diketahui tengah berbadan dua, usia kandungannya baru saja menginjak 5 minggu. Beruntungnya ia tidak mengalami morning sicks seperti ibu hamil pada umumnya. Ia bahkan lebih sering makan setelah diketahui hamil.


"Adinda, kamu harus makan semua makanan yang di sini. Kamu harus memberikan nutrisi terbaik untuk Baby kita." Mengambil satu per satu makanan yang tersedia.


"Memang benar, Kak Rey aku harus memberika nutrisi terbaik. Tapi jangan banyak-banyak juga, aku engga serakus itu, Kak!" protes Mona.


"Kan, kamu makan untuk dua orang. Berbeda denganku yang hanya makan untuk diriku sendiri," cakap Rey.


"Hadeh, tapi jangan porsi kuli juga!" kesal Mona.


Sementara itu pasangan pengantin terlihat sedikit kelelahan, pasalnya dari pagi sampai siang tamu tidak berhenti berdatangan. Pak Adrian dan Egi pamit , untuk mengisi perut dahulu.


"Dek, kamu cape, ya?" tanya Dika.


"Iya, Kak," sahut Dira.


"Sini aku pijitin kakimu, Dek. Duduklah!" perintah Dika.


Dira menurut, ia duduk bersandar dengan tangan yang masih memijat kakinya yang terasa sakit, karena terus berdiri.


Dika segera berjongkok di hadapan Dira, kemudian memulai memijit kaki sang istri. Dika menahan sekuat mungkin saat melihat kaki mulus Dira.


"Dek, kamu jangan kecapean. Nanti malam malah engga bisa perang," lontar Dika.


"Perang! Ngapain perang, Kak Dika udah kayak jaman dulu aja," sahut Dira.


"Perang yang ini beda, Dek. Ini cuman khusus kamu dan aku!" jelas Dika.


"Aneh, perang 'kok cuman berdua. Di mana-mana perang itu, ya bawa pasukan, Kak! protes Dira.


"Kalau bawa pasukan, kita malah engga jadi perang, Dek." Masih memijit kaki istrinya.


Dira terdiam sejenak. Otaknya berpikir keras. Setahunya perang itu banyak orang, tapi kenapa suaminya mengatakan hanya mereka berdua saja.

__ADS_1


"Ya, sudahlah terserah, Kak Dika aja," tutur Dira.


"Nah, gitu 'kan seru! Kamu memang wanita penurut," puji Dika.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Sementara itu di pojok kanan gedung. Lisa dan Rendy tengah menyantap makanannya. Sesekali Rendy menyuapi sang istri.


"Sayang, kalau kaya gini dunia berasa milik berdua, ya!" cakap Rendy.


"Kasian yang lain, Mas. Kalau milik kita berdua, yang lain tinggal di mana?" tanya Lisa.


"Ya, ngontrak sama kita! ujar Rendy.


"Mas ini ada-ada saja! Oh, ya Aku kangen Adnan, Mas. Selesai acara langsung pulang, ya!" rengek Lisa.


"Sekarang cintamu terbagi, Lis!" protes Rendy.


Lisa menatap lekat pada Rendy. Ia tidak mengerti maksud arah pembicaraan suaminya. Selama ini Lisa berusaha semampunya untuk menjaga cintanya tetap untuk Rendy. Tapi mengapa suaminya bisa menunduh ia seperti itu.


"Cintamu terbagi antara aku dan Adnan." Tersenyum kecil.


"Mas ... Aku pikir kamu menunduhku membagi cintaku dengan pria lain! jelas Lisa.


Rendy beranjak dari tempat duduknya. Dia mendekat pada Lisa sambil berbisik, "Kalau itu aku tidak perlu khawatir. Kamu adalah wanita paling setia yang aku miliki. Aku mencintaimu, istri kecilku."


Tanpa aba-aba Rendy mengecup singkat pipi istrinya. Membuat wajah Lisa memerah seperti halnya tomat.


"Mas ... Aku malu," lirih Lisa.


"Kamu tambah cantik kalau seperti itu. Ah, aku semakin tidak sabar menunggu habis mana nifasmu." Duduk kembali di tempatnya.


Selang lima menit, Egi datang menghampiri mereka. Bocah lelaki itu mengajak kedua Kakanya untuk naik pelaminan kembali.


"Sini, Nak. Ayo, kita berfoto bersama!" ajak Pak Adrian pada Lisa dan Rendy.


Fotograper sudah siap di tempatnya untuk memotret keluarga bahagia ini. Pak Adrian, Egi, Rendy, Lisa, Dika, Dira, Mona dan Rey tersenyum ceria begitu Fotograper berkata " Satu, dua, tiga!"


Inilah Akhir dari semua kehidupan mereka. Tiga serangkai yang memiliki cerita masing-masing. Jalan hidup yang penuh lukisan cerita. Membuat ketiga serangkai mengerti akan maknanya kehidupan.


Mereka bertiga hidup bahagia bersama pasangan masing-masing. Saling melengkapi dan Berjanji untuk tetap solid.


Lisa dan Rendy menjalani perannya yang baru sebagai orang tua. Mereka bahu membahu mendidik putra pertamanya dengan penuh kasih sayang. Lisa yang berhenti mengurusi toko bunganya, dan memilih menjadi ibu rumah tangga. Sementara Rendy semakin bersinar menjadi pemilik perusaahaan. Namun, tetap ramah pada setiap karyawan.


...****************...


~~TAMAT~~~


Terima kasih untuk semua yang sudah menemaniku dari awal sampai akhir. Kalian hebat! Kalian adalah keluarga keduaku.


Aku tidak mungkin bisa menulis cerita ini sampai tamat, jika bukan karena semua dukungan kalian. Terima kasih๐Ÿ˜ญ


Aku sangat berterima kasih, dan mohon maaf jika aku terus melakukan kesalahan dalam hal penulisan, atau cerita.


Aku ingin sekali membuat season 2 untuk cerita ini. Mungkin tentang anak-anak tiga seangkai. Namun, aku takut kalian bosan karena ceritanya terlalu panjang seperti sinetron๐Ÿ˜Š๐Ÿ™


Sekali lagi terima kasih๐Ÿค—


Bagi yang berkenan mampir ke ceritaku yang ini, yau


__ADS_1


Aku tunggu, ya๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2