Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
S2 BAB 22


__ADS_3

Semilir angin terbangkan rasa sakit. Hembusan napas, saksi bisu tumbuhnya cinta. Kadang kala luka sulit sembuh, karena pedang terlalu dalam menancap.


Rendy dan Egi masih setia duduk di bangku. Kedua-nya larut dalam hening, tanpa berucap sepatah kata pun.


"Apa kamu memiliki sebuah rahasia?" Mata Rendy menatap langit pagi yang indah. Sesekali ia menghirup aroma udara pagi yang menenangkan.


"Ya, aku sudah menyembunyikan-nya lama dari kalian," sahut Egi.


"Mengapa?"


"Tidak ada alasan, untuk itu."


"Apa kamu dilukai oleh cinta?" tanya Rendy sekali lagi.


Egi menghirup sebanyak-banyaknya udara pagi. Lalu, menghembuskan-nya perlahan. Ia seperti orang rakus, yang sudah lama tidak keluar menikmati dunia.


"Dia adalah cinta pertamaku, Kak. Aku bukanlah lelaki humoris, atau pun puitis. Tidak banyak teman yang aku punya. Keseharian-ku hanyalah belajar, belajar, dan belajar. Hingga dia hadir membawa warna tersendiri. Melukis tinta-nya di lembaran hidupku. Aku bahagia, bahkan berniat menikahinya, tetapi di hari aku membawa cincin. Ia mengaku, bahwa selama ini ia juga menjalin cinta dengan teman lelakinya. Saat itu ia pun tengah mengandung buah cinta mereka," ungkap Egi.


Reaksi Rendy hanya diam. Memandang langit, menikmati waktu. Sesekali tangan Rendy mengusap wajah tampannya. Hampir tidak banyak berubah seperti dulu.


"Saa itu, aku ingin sekali marah pada-nya, tetapi lagi-lagi hatiku berkata, "Diamlah. Kamu hanya perlu menerimanya." Cukup sulit, aku seperti diterbangkan ke cakrawala. Lalu, dihempaskan tanpa aba-aba." Egi meremas pelan kedua tangannya. Seakan ada emosi yang ia tahan dalam jiwa.


"Kamu sudah seperti itu sejak kecil. Tidak pernah mau menyusahkan kami. Sering mengalah, demi Adnan kecilku," cicit Rendy.


"Aku Pamannya," sahut Egi.


Egi berdiri. Memperhatikan sekitar yang semakin ramai. Hari semakin terang. Sudah waktunya mereka pulang.


"Ayo, pulang, Kak. Aku merindukan nasi goreng Kak Lisa!" ajak Egi berjalan mendahului.


"Apa saat ini kamu juga sedang mengalah untuk Adnan?" tanya Rendy. "Kakakmu sering memperhatikan cara Adnan memandang Zahra, tetapi gadis itu lebih sering mencari perhatian padamu."


Egi berhenti. Berbalik badan menatap Rendy lekat. "Seperti yang sudah aku katakan tadi, Kak. Aku adalah Pamannya."

__ADS_1


Rendy beranjak dari tempat duduk. Lalu, berjalan ke arah Egi. Menepuk bahu lelaki itu sambil berkata, "Sesekali kamu perlu memproitaskan dirimu dulu."


Mereka berjalan beriringan. Menyimpan rapat-rapat percakapan pagi ini. Dua lelaki berbeda generasi, tetapi memiliki ikatan kuat sejak pertama bertemu.


💐💐💐💐💐💐💐


Di waktu yang sama. Di rumah Rey, Mona baru saja selesai memasak bersama Bi Anah.


"Bi, sedikt lagi selesai. Sebaiknya, Bibi kerjain yang lain saja" ujar Mona.


"Baik, Nyonya." Bi Anah mengayunkan langkah menuju area laundry rumah.


Tiba-tiba Mona tersentak saat tangan suaminya melingkar di pinggang-nya.


"Adinda, wangi sekali," ucap Rey.


"Aku baru saja mandi, Kak," sahut Mona.


"Bukan kamu yang wangi, tapi masakanmu, Sayang." Tersenyum kecil di belakang.


"Oh, jadi menurut Kak Rey. Aku engga wangi!" ketus Mona.


"Aku tidak bilang begitu, Adinda," kilah Rey.


Mona berbalik. Tangannya memegang cutik. Matanya menatap tajam. "Sepertinya, sudah lama Kak Rey engga di cium. Sini, biar cutik panas ini mendarat di bibir Kak Rey."


"Ampun, Baginda ratu. Udah lama nikah, masih saja galak." Sedikit menjauh dari istrinya.


Mona kembali melanjutkan memasak. Sedangkan, Rey duduk manis menunggu menu pengisi perutnya pagi ini.


Selang lima menit, Mona membawa sarapan mereka weekend ini. Zahra baru saja datang bergabung dengan kedua orang tua-nya.


"Wanginya ... perutku langsung demo minta di isi," celetuk Zahra melihat menu di meja makan.

__ADS_1


"Ayo, sarapan, Sayang!" ajak Mona.


"Masakan Mama-mu memang paling mantap!" puji Rey sambil mengedipkan satu mata menggoda istrinya.


Zahra tersenyum. Ia bersyukur di anugrahi orang tua yang tidak terlalu kaku. Setidaknya, Zahra tidak pernah melihat mereka bertengkar.


Ketiga-nya mulai menyantap sarapan. Tidak terdengar percakapan, hanya keheningan yang tercipta.


Sarapan selesai. Mona dan Zahra membawa piring kotor ke dapur. Bi Anah langsung menyambut-nya, untuk dicuci.


Rey merogoh saku, meraih ponsel. Lalu, mencari sebuah poto di galeri. Anak dan istri-nya sudah kembali bergabung.


"Nak, duduklah!" perintah Rey pada Zahra.


Zahra menurut. Begitu pun Mona yang ikut duduk disamping suaminya. Rey memberikan ponsel milik-nya, lalu berkata, "Lelaki ini bernama Ardi. Dia teman bisnis Papa di perusahan Om Rendy."


Zahra meraih benda pipih itu. Memperhatikan poto lelaki tampan berjas hitam tersenyum manis. Zahra berkata, "Lalu, untuk apa Papa memberikan poto-nya ke Zahra?"


Rey dan Mona saling melempar pandangan. Mona tersenyum, mengisyaratkan suaminya agar menjelaskan.


"Ardi meminta-mu ke Papa," ungkap Rey.


"Minta! Aku bukan barang, Pa." Tertawa pelan.


"Bukan begitu, Sayang. Maksud Papa, dia berniat meminangmu," jelas Rey.


Zahra tertegun. Tubuhnya kaku, mulutnya mengunci.


"Papa belum menerimanya, semua tergantung kamu," sambut Rey.


Mona berdiri. Lalu, duduk di dekat Zahra. Membelai lembut pucuk kepala Zahra berbalut hijab merah. "Nak, kami tidak akan memaksa-mu, jika kamu tidak suka. Ia akan datang ke sini, untuk bersilaturahmi terlebih dahulu. Kamu boleh menolak, ataupun memilih mengenalnya dulu."


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG~~~


__ADS_2