Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
117


__ADS_3

Setelah acara perkenalan. Ketiga wanita ini segera melakukan tugasnya. Dira berusaha fokus pada bunga-bunga cantik. Mengalihkan sejenak pikirannya yang kalut.


Sejak kedatangan Lisa. Toko bunga ini sedikit ramai. Lisa sangat ramai pada setiap orang yang datang. Sampai banyak dari mereka menjadi pelanggan setia.


Hari berangsur siang. Ririn pamit untuk makan siang diluar, sedangkan Lisa dan Dira memilih delevery makanan.


Mereka berdua tengah asyik mengobrol. Banyak hal yang diceritakan Dira. Ia mengatakan akan segera mendaftar kuliah di salah satu perguruan tinggi di kota ini.


Seketika seseorang datang dan mengucap salam. Membuat kedua wanita itu menolah ke arah datangnya suara.


"Assalamualaikum." ucap Dika.


"Waalaikumsalam," jawab kedua wanita itu serentak.


Mata Dira membulat. Melihat Dika datang ke toko. Ia tidak menyangka akan bertemu di sini. Sejak pertemuan terkahir mereka, Dika tidak pernah menghubungi Dira sekali pun. Dira bisa memaklumi sebagai Dokter. Dika pasti sangat sibuk.


"Maaf, saya ganggu. Kebetulan lewat sini jadi, saya mampir untuk kasih kalian ini aja, Lis." Dika memperlihatkan satu kantung kresek berwarna putih berisikan ayam geprek plus nasi.


"Silakan masuk, Pak Dokter," sambut Lisa sambil mempersilahkan Dika masuk.


Diiringi senyuman manis, Dika berjalam masuk ke dalam toko. Menyimpan bungkusan tadi di atas meja. Matanya sedikit melirik pada Dira. Sudah beberapa hari ia menanggung rindu. Mungkin benar kata Dilan. Rindu itu berat, Dika saja tidak kuat.


"Ini apa, Pak Dokter?" tanya Lisa kembali.


"Oh, ini hanya ayam geprek sama nasi, Lis," ucap Dika. Matanya menatap gadis cantik di sampingnya. "Dira suka banget makanan ini. Makanya saya membelinya."


Hati Dira tersentah. Sampai sekarang Dika masih saja memberinya perhatian. Ia bukan hanya menerima kekalahan, bahkan ia tidak pernah mendapatkan jawaban atas pengakuannya dari Dira. Namun, Dika tetaplah setia berada di samping Dira.


"Oh. Terimakasih, Pak Dokter." Dengan tangan kanan Lisa meraih bungkusan tersebut. " Ayo, makan sama kami. Ini terlalu banyak untuk kami berdua, Pak Dokter!.


Dika mengangguk, ia akui perutnya memang lapar. Ia sebenarnya tidak sedang lewat sini. Dika sengaja datang ke toko, setelah Rendy meneleponnya untuk menitip Lisa sementara. Rendy juga berkata Dira akan berada di toko hari ini.


Tentu Dika sangat menyambut baik permintaan sahabatnya. Selain dia juga menyayangi Lisa sebagai kenalan di rumah sakit. Lisa juga seperti adik baginya, mungkin karena mereka pernah dekat soal Egi dulu.


Dira merasa canggung, terlebih Dika duduk tepat di sampingnya. Bau harum parfum khas Dokter ini, menyeruak masuk ke rongga hidung gadis cantik ini.

__ADS_1


Aroma yang sangat maskulin, cocok untuk karakter Dika. Dira berusaha menghindar, ia mencari ide untuk keluar dari situasi yang tidak menyenangkan ini.


"Kak, aku beli air minum dulu ke minimarket sebrang, ya! pamit Dira.


Lisa hanya mengangguk. Pedasnya sambel ayam geprek membuat lidahnya panas, tapi juga membuat ketagihan.


Dira bangkit dari tempat duduk, lalu berjalan keluar. Namun, lagi-lagi Dokter itu sedikit berteriak.


"Tunggu, Dek!" Dika bangkit menyusul gadis manisnya.


"Gue ikut! Ada yang harus gue beli juga," lanjut Dika.


Dira tidak bisa menolak. Ia tidak menemukan cara lagi untuk menghindari Dokter ini. Mungkin tidak seharusnya juga Dira bersikap seperti ini.


Gadis itu mengangguk pelan. Berjalan terlebih dahulu keluar toko, sedangkan Lisa hanya memandang punggung keduanya dengan mulut kepedasan.


"Kalau Mas Rendy ada di sini. Udah pasti mulutku habis diciumnya, karena ketahuan makan sambal sepedas ini," gumam Lisa.


Usia kandungannya sudah mau empat bulan. Nafsu makannya pun sudah mulai menanjak. Ia bahkan bisa memakan apa pun yang ia sukai saat ini. Masa-masa sulit itu telah ia lewati, kini tinggallah acara pemontokan badan di mulai.


Sementara itu Dika dan Dira berjalan beriringan menuju minimarket di sebrang jalan. Dengan hati-hati mereka menyebrang. Sekali-kali Dika mencuri pandangan pada Dira. Rasa rindunya sedikit terobati, dengan melihat wajah cantik itu.


Siang itu minimarket terlihat ramai. Mungkin karena ini jam istirahat, banyak pengunjung datang untuk sekadar membeli cemilan.


Dira dan Dika masuk ke dalam minimarket. Dira langsung ke rak yang berjejer air minum, sedangkan Dika ke arah cemilan.


Merasa sudah cukup, Dika segera mencari Dira. Ia mendapati gadis manis itu tengah kesulitan mengambil kripik di rak atas. Dengan sigap Dika segera menghampiri Dira, lalu menjulurkan tangannya ke atas, kemudian mengambil kripik yang diinginkan Dira.


Posisi Dira yang menghadap rak seakan tertutupi badan Dokter tampan itu. Dira membalikkan badannya, untuk melihat siapa gerangan orang baik yang telah membantunya.


"Teri__," Dira menatap lekat pada Dika. Ia tidak tahu jika, orang baik itu adalah Dika.


Mata mereka bertemu, meski hanya beberapa detik saja. Debaran jantung Dika terasa cepat, membuat Dika sedikit gugup. Mungkin setelah pulang dari sini ia akan berkonsultasi dengan Dokter ahli jantung.


"Kamu pengen yang ini kan, Dek!" Menyodorkan satu bungkus besar kripik singkong rasa keju.

__ADS_1


"Iya, Kak. Makasih, ya!" ucap Dira. Wajahnya sedikit memerah, ia rasa pendingin ruangan ini kurang. Buktinya ia merasakan aura panas saat ini.


"Lo udah selesai, Dek?" lanjut Dika.


"Udah, Kak," sahut Dira. Memperlihatkan keranjang bawaannya yang hanya terisi empat botol air mineral, dan satu bungkus kripik singkong barusan.


"Lo cuma beli itu doang!" ujar Dika. Memerhatikan isi belanjaan gadis ini yang terkesan hemat. " Lo engga butuh apa-apa lagi, Dek?"


Sejujurnya ia sangat menginginkan cemilan. Apalagi deretan coklat yang menggoda air liurnya. Namun, karena terburu-buru menghindari situasi canggung tadi. Dira lupa membawa dompet, hanya ada empat lembar uang pecahan sepuluh ribu di sakunya. Itu pun bekas kembalian beli rujak dari Kaka iparnya yang lupa belum dikembalikan.


"Engga, Kak. Ini udah cukup, kok!" jawab Dira berbohong. Ia tidak mungkin meminta Dika membelikannya sesuatu. Meski ia tahu Dokter ini pasti akan memberikannya.


"Ok. Kalau gitu, kita ke kasir." ucap Dika.


Mereka segera bergegas mengantri seperti pelanggan yang lain. Setelah menunggu lima menit, kini giliran keduanya membayar.


Dira sempat kaget melihat banyak cemilan yang Dika beli. Mungkin Dokter ini membutuh semua itu, untuk menemaninya di rumah sakit.


Selesai membayar Dira membawa barang belanjaannya yang hanya sekantong kresek kecil. Berbeda dengan Dika, tidak hanya satu kantung. Namun, kali ini Dokter itu membawa dua kantong plastik penuh cemilan.


Dira sempat berpikir bagaimana bisa seorang Dokter memakan semua cemilan yang tidak sehat itu. Namun, lagi-lagi Dira tidak ingin bertanya.


Sampainya mereka di toko, Lisa sama halnya dengan Dira tadi. Sedikit kaget melihat barang belanjaan Dika.


"Pak Dokter suka ngemil, ya! Cemilannya banyak sekali," ucap Lisa sambil tersenyum.


Dika menaruh dua kantong plastik itu sambil berkata, " Ini bukan untuk saya. Tapi ini untuk Adik ipar kamu yang sangat menyukai semua ini. Kalau begitu saya permisi dulu, sudah waktunya memeriksa pasien-pasien kembali.


Dira tersentak mendengar itu. Matanya memandang punggung laki-laki yang kini mulai hilang dari balik pintu. Sedangkan Lisa hanya tersenyum sambil berkata, " Kakak harap kamu bisa mempertimbangkan Dokter Dika. Mungkin cintamu memang untuk Farhan, akan tetapi alangkah baiknya kamu memulai kehidupan baru".


...****************...


BERSAMBUNG~~~


Jangan lupa jempolnya digoyang, Say😉

__ADS_1


__ADS_2