
Rey baru saja keluar dari Lift, dia melihat Mona berjalan menjauhi Dion. Kening nya berkerut melihat wajah Mona yang sedikit masam.
Rey segera mengejar Mona, saat di koridor kantor Rey menarik tangan Mona dari belakang, Mona yang menduga itu Dion langsung saja berceloteh
"Aduh, apaan sih pak Dion jangan maen tarik-tarik gitu kan a...." Mona berhenti berbicara setelah menatap orang yang menariknya.
"Ada urusan apa Dion sama kamu?" Tanya Rey.
"Bukan apa-apa, lagian pak Rey ada apa tarik-tarik saya. Kan bisa manggil nama aja, engga usah narik tangan kaya gini." Ketus Mona.
"Saya mau ajak kamu ke suatu tempat?"
"Kemana, pak? Saya harus kerja, kalau pak Rey mau nagih uang yang di cafe waktu itu. Maaf, aku belum punya, pak." Tutu Mona.
"Saya engga butuh uang kamu, saya cuman minta kamu nemenin saya."
"Minta temenin kemana sih, pak? Kalau ke KUA, aku belum siap, pak." Ujar Mona ngasal.
"Tunggu saya ngelamar kamu dulu, baru kita ke KUA."
"Hah!!" Mona tersentak.
"Nanti malam, saya jemput kamu jam 7 malam. Dandan yang cantik dan jangan menolak, saya engga terima penolakan." Jelas Rey.
"Idih ari si bapak, ngajak kok maksa." Mona mengerucutkan bibirnya.
"Udah, pokoknya sebelum jam 7 malam. Kamu sudah harus siap."Perintah Rey.
"Kita mau kemana memang, pak? Jangan-jangan, pak Rey mau bawa saya ke hotel terus, maksa saya yang engga-engga." Ucap Mona sambil tangannya menyilang di atas dada.
Rey yang kesal dengan tingkah laku satu makhluk ciptaan Tuhan ini, menyentil kening Mona dengan tangan kanannya.
"Saya bukan lelaki seperti itu, buat apa saya melakukan itu. Lebih asyik rasanya jika di lakukan nanti setelah kita menikah." Ucap Rey.
"Waduh, mimpi pak Rey ketinggian. Siapa juga yang mau nikah sama, bapak?"
"Kita lihat saja nanti, kamu atau saya yang akan meminta menikah." Ucap Rey tersenyum nakal.
"Jauh-jauh dari saya. Aduh, saya bisa gila terus ketemu sama bapak."
"Saya justru akan lebih gila kalau engga ketemu kamu." Ucap Rey spontan.
"Astagfirulloh, mimpi apa aku semalam sampai bertemu dengan lelaki sepede, pak Rey. Udah ah, saya pamit kerja lagi." Mona berjalan kembali.
"Jangan lupa nanti malam, saya jemput kamu." Rey sedikit berteriak, untung koridor sepi karena para karyawan sedang jam sibuk.
Rey tersenyum, dia puas melihat tingkah Mona yang menurutnya Lucu.
__ADS_1
Apa gue bener gila ya, bisa-bisanya gue suka sama wanita itu tapi, cinta memang buta sih. Batin Rey
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Malam harinya Lisa sudah siap pergi ke pesta pernikahaan teman suaminya, dia memakai gamis biru muda di padukan dengan jilbab abu muda, dengan sedikit riasan di wajahnya Lisa terlihat mempesona.
Rendy yang melihat penampilan istrinya, menatap tak berkedip. Lisa bagai bidadari yang jatuh dari kayangan, sungguh Rendy sangat bersyukur atas itu.
"Kamu cantik, sayang." Puji Rendy.
Lisa hanya tersenyum simpul, bagi Lisa ada kebahagian tersendiri jika, suaminya ini memuji dirinya.
Mereka segera masuk mobil, Rendy menjalankan mobilnya dengan sangat hati-hati seperti dia sedang membawa sebuah berlian.
Tak berapa lama, Mobilpun berhenti di sebuah gedung megah nan mewah, ratusan bunga warni-warni menghiasi setiap sudut. Lampu kelap kelip memeriahkan ruangan itu.
Rendy dan Lisa keluar dari mobil lalu, bergegas masuk ke dalam. Rendy menggandeng mesra tangan istrinya.
Semua mata memandang pada mereka, Rendy yang di kabarkan seorang duda kini datang dengan seorang wanita cantik.
Desas desus pun terdengar dari mulut setiap orang yang melihat tapi, Rendy berusaha cuek dengan apa yang dia dengar. Toh orang hanya memandangnya sejauh mata memandang. Tanpa tau bagaimana yang sebenarnya.
Rendy dan Lisa segera naik ke pelaminan untuk, memberi ucapan selamat pada pengantin.
"Selamat, bro." Ucap Rendy pada Bimo.
"Makasih, Ren. Wih, lo udah punya gandengan lagi ceritanya tapi, kok gue engga tau." Jawab Bimo sambil melihat Lisa.
"Kenalin ini istri gue. Gue belum ngadain resepsi baru akad doang maklum, gue sibuk banget. Yang penting sah dulu." Tutur Rendy.
"Hebat lo, bro. Gue baru aja nikah sekali lah, lo udah mau dua kali aja. Dapet yang bening-bening terus lagi." Bimo terus melirik Lisa.
Rendy yang memperhatikan gerak gerik Bimo, merasa sedikit kesal. Bisa-bisanya dia menggoda Lisa di hadapan Rendy, hanya saja Rendy berusaha menahan emosinya.
"Ya, lah. Mana ada ceritanya istri gue engga cantik, suaminya aja ganteng kaya gini." Jawab Rendy dengan percaya diri.
"Bisa aja, lo."
"Ya, udah. Gue ke bawah dulu. Sekali lagi selamat ya, bro." Rendy menyalami tangan Bimo untuk kedua kalinya.
Rendy ingin sekali cepat membawa Lisa dari mata buaya darat ini, Hatinya sudah panas melihat istrinya di tatap seperti itu. Rendy dan Lisa berbaur bersama tamu yang lain di pesta.
Sedangkan itu, Mona dan Rey baru saja tiba. Rey memaksa menggenggam tangan Mona, Mona berusa melawan tapi, tenaganya kalah kuat dengan Rey akhirnya, dia hanya pasrah.
Mereka masuk ke dalam, Mona yang baru datang ke acara resepsi pernikahaan semegah ini, merasa sangat minder.
"Jangan takut, saya ada bersamamu. Relax aja, kita pasangan di sini." Ucap Rey yang menggiring Mona untuk ikut naik ke pelaminan.
__ADS_1
Setelah acara salam-menyalami dengan pengantin, Rey dan Mona ikut bergabung ke dalam pesta seperti Rendy dan Lisa.
"Wah, pak. Makanannya banyak banget, Mona boleh makan sepuasnya engga nih?" Mata Mona jelalatan melihat hidangan yang sangat mewah dan menggiurkan tentunya.
"Boleh, asalkan perutmu mampu menampung semuanya." Jawab Rey.
Di sudut gedung Rendy dan Lisa tengah menyantap sebuah cup cake yang ada di pesta ini. Tiba-tiba suara lelaki yang Rendy kenal mengagetkan mereka.
"Wah, Liatlah siapa yang lagi makan. Bukankah ini tuan presedir Rendy Wijaya Kusuma? Dan ini, nona manis office grils di kantornya." Ucap Farhan menghampiri mereka.
Rendy menatap kesal pada Farhan, kenapa dia harus bertemu laki-laki tak beretika ini sekarang, membuat nafsu makannya hancur.
"Mau lo apa?" Tanya Rendy.
"Mau gue, gue engga mau apa-apa. Hanya penasaran, siapa sebenarnya nona manis ini?" Ucap Farhan melirik nakal pada Lisa.
Lisa bersembunyi di balik badan suaminya, dia merasa kalau suami dan lelaki yang pernah di lihatnya dulu di kantor ini punya masalah pribadi.
"Lo mau tau siapa dia? Dia istri gue, paham lo." Tutur Rendy tegas.
"Wow, menarik. Seorang Rendy Wijaya Kusuma memiliki istri seorang office grils. Berita yang sangat segar." Ucap Farhan sinis.
Farhan menatap Lisa, wanita ini begitu menarik di matanya. Dugaannya tentang hubungan Lisa dan Rendy ternyata benar.
"Hai, nona manis. Jangan takut, sepertinya kita akan bertemu lagi di lain waktu. Tentunya bukan saat bersama suamimu ini." Goda Farhan.
Tangan Rendy mengepal, dia ingin memukul Farhan sekarang juga. Tapi, Lisa menahannya.
"Gue peringatin sekali lagi, jangan pernah coba lo sentuh dia. Berani lo sentuh dia, gue pastiin hidup lo hancur." Ancam Rendy.
"Santai dong, bro. Gue belum mulai, lo udah kaya cacing kepanasan. Apalagi kalau gue udah beraksi, bisa gila lo." Jawab Farhan.
Rendy terus menahan amarahnya karena, Lisa terus mengingatkan untuk tak berbuat onar di pesta orang lain. Rey yang melihat dari kejauhan segera menghampiri mereka, tanpa aba-aba Rey langsung memukul pipi Farhan.
"Gue udah cukup sabar sama lo tapi, ucapan lo barusan bikin kesabaran gue habis. Gue pastiin lo engga bergerak sedikitpun kalau, lo berani nyentuh wanita sahabat gue." Ucap Rey marah.
Mona yang melihat Rey marah segera menahannya. Untung saja semua orang sedang fokus pada kesibukannya masing-masing, apalagi posisi mereka yang di sudut membuat orang tak begitu melihat kejadian barusan.
Farhan memegang pipinya yang baru saja di tampar Rey, dengan senyum sinisnya dia berkata.
"Menarik, Gue semakin ke tantang. Gue pengen tau seberapa kuat Lo berdua bisa ngancurin gue" Ucapnya lalu berlalu meninggalkan Semuanya.
...****************...
BERSAMBUNG~~~~
Jangan Lupa dukungan author ya dengan
__ADS_1
like, coment&vote๐ค
SELAMAT MEMBACA๐๐