Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
125


__ADS_3

Hati Dira saat ini tengah gundah gulana. Dokter yang sejak tadi memeriksa Kaka Iparnya tidak kunjung keluar. Tangan gadis itu masih bergetar. Pikirannya menarik Dira ke masa lalu.


Dari kejauhan Dika terlihat berlari menghampiri Dira. Ia yang diberi kabar buruk ini langsung dari gadis cantik itu.


"Dir," panggil Dika.


Dira yang sudah tidak karuan. Segera berhambur masuk ke dalam pelukan lelaki ini. Ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Dika. Sedangkan Dika tersentak begitu gadis cantik ini memeluknya secara tiba-tiba.


"Hiks... hiks... Kak Lisa...," lirih Dira.


Dika ingin merangkul. Membiarkan tangannya memeluk tubuh mungil Dira, tetapi ia tidak punya keberanian. Ia hanya bisa mengelus rambut lurus sang gadis sambil berkata, "Tenang, Lisa pasti baik-baik saja. Kamu harus tenang."


Entah mengapa Dika ingin mengubah panggilannya pada gadis ini. Ia merasa sudah saatnya ia berbicara aku, kamu dengan Dira. Bukan ia mengharapkan lebih, hanya ia ingin lebih akrab saja dengan panggilan baru.


Dira masih tidak bergeming. Jas Dokter yang dikenakan Dika sudah mulai basah oleh air mata Dira. Namun, Dika tetap diam membiarkan gadisnya meluapkan segala rasa kesakitan.


Satu jam berlalu. Pintu yang tertutup perlahan terbuka. Dokter Tania keluar dengan dua perawat. Tatapan matanya mengisyaratkan bahwa saat ini semua tidaklah baik-baik saja.


Dira segera menghampiri sang Dokter, lalu berkata, "Bagaimana keadaan Kaka saya, Dok?"


Dokter Tania masih terdiam. Dengan matanya ia meminta Dika mengikuti dirinya.


"Dira, kita bicara di ruangan Dokter Tania saja, ya!" ucap Dika.


"Kenapa? apa sesuatu yang buruk terjadi pada Kakaku! teriak Dira.


Ia sudah tidak peduli bahwa ini rumah sakit. Banyak orang yang berlalu lalang. Banyak pasang mata yang melihatnya berteriak.


"Jawab, Dok jangan diam saja." Dira menggoyang-goyangkan badan Dokter Tania.


Dokter Tania menghela nafas kasar, lalu berkata, "Baiklah. Kakamu mengalami koma, karena benturan yang keras di bagian kepalanya."


Perkataan Dokter Tania bagaikan sebuah panah yang menancap tepat pada sasarannya. Tubuh Dira merosot ke bawah lantai. Persendiannya terasa lemas. Ia semakin tidak kuasa memberi kabar buruk ini pada Kaka lelakinya.


Dengan cepat Dika memeluk tubuh gadis mania itu. Ia sudah tidak ingat lagi soal dirinya yang bukan mahram bagi Dira.

__ADS_1


"Tenangkan dirimu, Dir. Semua akan segera baik-baik saja!" ucap Dika.


Dika membangunkan tubuh Dira yang lemas. Membiarkannya dalam dekap hangat tubuhnya. Matanya menatap lesu pada Dokter Tania sambil berkata, "Bagaimana dengan kandungannya, Dok?"


"Beruntung janinnya kuat. Sehingga bayi dalam kandungan Ibu Lisa masih bisa bertahan. Namun, kami harus ekstra melakukan perawatan untuk kelangsungan hidup sang bayi. Karena Ibunya saat ini dalam keadaan koma," jelas Dokter Tania.


Dika sedikit lega. Setidaknya bayi itu masih bisa diselamatkan, meski Ibunya sendiri harus berjuang dalam kondisi ini.


"Oh, ya. Saya ingin bertemu Pak Rendy untuk membicarakan soal tindakan perawatan Ibu Lisa dan bayinya," lanjut Dokter Tania.


"Rendy sedang di luar kota, Dok. Dia juga belum tahu soal kabar ini. Tapi saya minta agar segera melalukan tindakan yang terbaik untuk Lisa. Biar saya nanti yang menghubungi Rendy," ungkap Dokter Dika.


"Baiklah, Dok. kalau begitu, saya pamit undur diri. Pasien akan segera dipindahkan ke ruangan Vip," ucap Dokter Tania.


"Baik, Dok. Terima kasih bantuannya," balas Dika.


Dokter wanita itu hanya tersenyum kecil, lalu segera pergi meninggalkan Dira dan Dika. Sedangkan kedua perawat tadi masuk kembali ke dalam ruangan gawat darurat.


Selang dua menit, kedua perawat itu keluar dengan mendorong tubuh Lisa yang terbaring di branker. Mereka akan memindahkan Lisa ke ruangan Vip, lalu memasangkan alat-alat pembantu rumah sakit di tubuh Lisa.


Dira masih saja tidak bergeming. Ia bahkan menutup mata tatkala badan Lisa di dorong ke ruangan Vip. Ia merasa bersalah. Mengapa ia tidak datang secepat mungkin saat itu. Mungkin, jika Ia bisa lebih cepat. Kejadian ini tidak akan ada.


Dira terdiam, ia tidak tahu harus siapa yang memberi tahu soal ini pada Kakanya. Yang jelas ia tidak kuasa mengatakannya.


"Kak Dika saja. Aku tidak sanggup," jawab Dira.


"Baiklah. Kalau begitu, kita susul Lisa ke ruangannya dulu. Baru setelah itu, aku akan menghubungi Rendy," usul Dika.


Dira hanya mengangguk. Ia bahkan tidak kuat berdiri. Dengan dibantu Dika, ia berjalan menyusuri ruangan demi ruangan. Hatinya masih belum menerima akan kejadian yang baru saja ia lewati.


🏡🏡🏡🏡🏡


Sementara itu di lain tempat. Rendy yang baru saja selesai bertemu klaen. Terus berusaha menghubungi nomer istrinya. Namun, lagi-lagi rasa kecewa akan ketidakaktifan nomer ponsel istrinya itu semakin membara.


Ia sempat berpikir apa yang sebenarnya tengah Lisa lakukan saat ini. Sehingga membuat dirinya tidak bisa dihubungi.

__ADS_1


"Hati gue engga enak kayak gini. Apa sih yang sebenernya terjadi di sana. Sialan!" umpat Rendy kesal.


Rey yang sedang memeriksa kembali dokumen kerja sama dengan klaen tadi. Sempat melirik sekilas pada sahabatnya. Ia merasa Rendy hari ini tidak seperti biasanya.


"Ren, Lo kenapa?" tanya Rey.


Rendy berdecak pelan sambil berkata, "Dari siang Lisa susah dihubungi. Gue juga udah minta Dira buat cek ke toko. Eh, sampai sekarang anak itu juga engga ada kabar apa-apa."


Rey menyimpan dokumen di atas meja. Meraih gelas berisi kopi, lalu menyeruputnya perlahan.


"Mungkin Lisa lagi sibuk layanin pelanggan," jawab Rey.


Lelaki kocak itu sedikit bijak hari ini. Ia bahkan tidak mengeluarkan ledekannya pada Rendy. Matanya menangkap kekhawatiran dari manik-manik sahabatnya.


Rey kembali menyimpan cangkir kopi itu di atas meja. Sedangkan Rendy masih saja bergelayut manja dengan pikirannya sendiri. Ia menerka-nerka apa yang terjadi di kota J sana. Apa istrinya baik-baik saja? apa istrinya tidak rindu padanya?.


Banyak prasangka yang pikiran Rendy ciptakan sendiri. Namun, hebatnya Rendy. Ia tidak pernah sekalipun berpikir, jika Lisa sedang bersama lelaki lain saat ini.


Kesetiaan istrinya sudah teruji klinis. Lisa tidak akan berbuat curang saat suaminya jauh. Hanya saja pikiran Rendy lebih kepada ketakutan akan sesuatu yang buruk terjadi.


Seketika pikirannya teringat akan ucapan Lisa pada malam itu. Ia meminta Rendy untuk menjaga anak mereka, jika sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya.


Suara dering ponsel menarik Rendy keluar dari pikiran khawatirnya. Ia segera meraih ponsel, lalu melihat siapa yang meneleponnya.


"Dika." Mata Rendy melihat nama di layar ponselnya. Ada apa Dokter tampan ini menghubunginya. Dengan cepat Rendy mengangkat telepon, lalu berkata, "Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, Ren. Gue minta Lo pulang secepatnya ke sini. Lisa..,"


"Lisa kenapa!" sela Rendy.


"Lisa sekarang di rumah sakit. Dia koma, Ren," jawab Dika cepat.


Seketika ponsel milik Rendy terjatuh begitu saja. Hatinya tidak percaya mendengar perkataan Dika. Permainan takdir apa lagi ini? Lisa koma! Bagaimana bisa?. Dunianya tiba-tiba gelap bersamaan dengan berakhirnya sambungan telepon dari Dika.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG~~~


Jangan lupa like, coment dan vote😍😘


__ADS_2