Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
S2 BAB 17


__ADS_3

Mentari memancarkan sinarnya. Rasa panas membakar terasa sampai ke jiwa. Perbincangan ketiga orang itu menambah panas cuaca saat ini.


Sementara itu, di lain tempat Riki dan Riko tengah asyik menikmati sop buah di pojok kantin.


Si kembar itu memilih pergi ke kantin, dari pada menyusul Adnan dan Zahra. Mereka yakin semuanya akan baik-baik saja.


Telinga Riki di sumbat hedseat. Ia menikmati alunan lagu dari handphonenya. Tiba-tiba Riki teringat akan sesuatu. Ia ingin kembarannya mengetahui juga.


"Ko, gue punya lagu sunda enak banget di dengar, tapi kagak tahu artinya," cakap Riki.


"Lagu apaan emang," jawab Riko.


Riko merapat ke dekat kembarannya. Riki yang mengerti segera memasangkan satu hadseat ke telinga kanan Riko.


Lewat hadseat suara lagu sunda terdengar menggema. Lagu dari penyanyi Darso ini mencuri perhatian si kembar.


Ema ... Bapa ... cing pangneangkeun jodo.


kuring embung boga title jomblo.


Ema ... Bapa .. sok pangmilihkeun calon


Asal ulah urut ucing garong.


Keun bae randa Ema.


Randa bengsrat anyar pegat


Alunan musik yang mereka dengar sangat asyik. Membuat keduanya hanyut dalam buaian lagu. Seketika Riko terpikir. Apa arti dari kata Randa.?


Riko mengembalikan hadseat ke telinga Riki sambil berkata, "Ki, Randa apaan?"


Riki mengangkat bahunya tanda ia pun tidak tahu. Berdasarkan rasa penasaran akhirnya kedua pemuda itu memutuskan mencari teman sekampus yang berasal dari suku sunda.


Mereka hanya ingin menanyakan sebuah kata yang menyebabkan rasa penasaran dalam hati.


Mata Riki yang jeli melihat salah satu teman sejurusannya tengah asyik bermain handphone tidak jauh dari mereka.


Wanita culun. Namun, galak itu setahu mereka adalah orang sunda asli. Terlihat dari cara bicaranya yang masih di campur antara sunda dan indonesia.


Keduanya menghampiri gadis tersebut. Mereka duduk tepat di hadapan gadis bernama Amalia itu.


"Lia" panggil Riki.


Amalia atau yang sering di panggil Lia itu masih saja pokus pada layar ponselnya. Ia tidak mendengar panggilan Riki.

__ADS_1


"Hei, si culun, tapi galak!" seru Riko.


Seketika Amalia menoleh ke arah mereka. Matanya membulat sempurna. Mulutnya cemberut, karena kesal.


"Apa 'sih Aa ganteng," jawab Amelia.


Riki dan Riko mendadak merinding saat mendengar panggilan Aa dari Amalia.


"Lo tahu artinya Randa engga?" tanya Riko.


"Oh, Randa," balas Amalia.


"Lo tahu 'kan?" sela Riki.


"Ya, atuh pasti tahu. Neng 'kan orang sunda, A!" sungut Amalia.


"Terus artinya apaan?" tanya Riko.


"Randa itu artinya Janda," ungkap Amalia.


"Oh ... janda katanya, Ki," ulang Riko.


Amalia menatap si kembar dengan lekat. Membuat yang di tatap mulai cemas. Pasti gadis culun itu berpikir yang tidak-tidak.


"Aa kasep teh mau nungguin jandanya Lia gitu," tebak Amalia.


"Yeh, ngapain gue nungguin Lo janda. Mending gue nungguin jandanya si Zahra," celetuk Riki.


"Terus ngapain Aa kasep pada nanyain soal Randa." Lia berdiri dari tempat duduknya.


Tanpa di duga gadis itu berteriak membuat seisi kantin gempar, karena ucapannya.


"Pengumuman pemirsa. Aa Riki dan Riko katanya mau nungguin Neng Lia janda!" teriaknya.


Sontak suasana kantin menjadi ricuh. Mereka ada yang tertawa, bertepuk tangan ada pula yang berteriak, "Ternyata duo 'R' diam-diam ngembat si culun juga."


"Aih, dasar culun. Duduk engga Lo!" perintah Riko menarik tangan Amalia.


"Apaan 'sih Aa," jawab Lia.


"Ki, nih buat Lo aja. Gue kagak mau," ucap Riki.


"Aih, gue juga engga mau," tolak Riki.


"Udah, udah Aa semua. Jangan rebutan Lia. Neng teh jadi terhura." Menutup mukanya seperti orang bermain cilukba dengan bayi.

__ADS_1


"Aduh, ni anak makin ngaco aja. Ayolah, Ko kita cabut," ajak Riki.


"Ayo, lama-lama gue ketularan tingkat narsisnya kaya ni cewek," timpal Riko.


Riki dan Riko beranjak dari tempat duduknya.


"Aa ganteng jangan lupa. Neng tunggu pinangannya!" seru Amalia.


Suara ricuh terdengar kembali. Si kembar yang sudah merasa malu segera mempercepat langkahnya keluar dari kantin.


Entah salah apa mereka hari ini? hanya gara-gara sebuah kata, malah menjadi santapan enak penghuni kantin.


"Lagian Lo nanya sama si Lia. Udah tahu dia mah tinggkat percaya dirinya akut," tutur Riki.


"Kan, kagak ada lagi yang suku sunda yang gue kenal selain dia," kilah Riko.


"Dasar, Bambang! sungut Riki.


Keduanya tiba di taman kampus. Mereka duduk di bangku taman. Napasnya memburu, karena terlalu cepat berjalan.


"Ki, emang Lo bener mau nungguin jandanya si Zahra?" tanya Riko.


Riki yang masih mengatur napas belum menjawab. Ia duduk sambil menyenderkan punggungnya ke bangku.


Kepalanya mendongkak ke atas. Menatap cahaya mentari yang masih saja menyengat.


"Gue kagak berani lah. Yang ada gue di tebas sama Paman Egi!" bantah Riki.


Riko mengikuti kembarannya. Mereka sama-sama mendongakkan kepala sambil menutup mata.


"Kalau gue boleh jujur. Gue emang suka sama Zahra. Cuman gue engga mau saingan sama Paman dan Sepupu sendiri. Cukup mereka berdua aja yang bersaing," ungkap Riki.


Pernyataan Riki sedikit menyentak hati Riko. Ia tidak menyangka kembarannya akan memiliki rasa seperti itu.


Riko membuka mata, lalu merangkul bahu Riki dengan tangan kanan sambil berkata, "Lo yang sabar. Gue yakin kita berdua bakal ketemu jodoh yang terbaik."


Riki mengangguk pelan. Rasa sukanya pada Zahra sudah perlahan ia lupakan. Ia tidak ingin terlalu larut dalam ketidakpastian.


Tiba-tiba suara bariton seorang gadis yang tadi membuat mereka malu terdengar kembali.


"Cielah. Kelamaan nunggu neng. Aa jadi pacaran berdua 'nih!" teriak Amalia.


...****************...


BERSAMBUNG~~~

__ADS_1


Jangan lupa like, coment dan vote🤗


__ADS_2