
Setelah ritual perpisahan dengan Dira yang sebenarnya hanya pergi sementara, Lisa dan Rendy segera pulang.
Rendy menyetir dengan perlahan, ia bukan hanya membawa dirinya saja, melainkan ada istri dan benih janin dalam tubuh sang istri.
"Mas, hari ini usia kandunganku sudah menginjak dua bulan," ujar Lisa memulai percakapan.
"Sudah dua bulan berarti sebentar lagi kamu akan segera melahirkan, Sayang?" tanya Rendy yang pandangannya tetap fokus kedepan.
"Kalau semua lancar, insyaallah tujuh bulan lagi si kecil segera hadir,"
"Tujuh bulan!" teriak Rendy.
"Mas, kenapa sih pake teriak-teriak segala. Aku masih bisa mendengarmu, meskipun berbicara pelan!" tegur Lisa.
"Aku kaget, Sayang. Kenapa selama itu kamu hamil? apa ini tidak masalah? atau kita harus berdiskusi dengan Dokter kandunganmu agar usia kehamilanmu tidak selama itu," ungkap Rendy.
Lisa berdiam, ia mencoba mencerna apa yang diucapkan suaminya. Sebenarnya laki-laki seperti apa yang ia nikahi? kenapa berapa lama wanita mengandung saja Rendy tidak tahu.
"Apa kamu tidak akan tersiksa selama hampir sembilan bulan membawa dia kemana-mana?" tunjuk Rendy pada perut Lisa.
Lisa sudah tidak sanggup menahan tawanya, ia tidak perduli, jika suaminya nanti akan marah karena ia lancang menertawakan suami sendiri.
"Hahahahaha." Lisa tertawa selepas mungkin, ia bahkan memegang perutnya yang mulai sakit akibat tertawa kencang.
Rendy melirik sekilas pada Lisa, ia mengerutkan kening, tidak mengerti dengan jalan pikir istrinya. Rendy sedang mencemaskan istrinya, akan tetapi reaksi Lisa diluar nalarnya
"Hei, kenapa kamu malah tertawa sepuas itu, Sayang?" tanya Rendy.
"Mas, aku ini sedang hamil bukan liburan," sahut Lisa.
"Siapa yang bilang kamu sedang liburan!" seru Rendy.
"Begini ya, Sayangku," ujar Lisa. " kehamilan itu berlangsung selama kurang lebih sembilan bulan. Itu hal wajar bagi semua ibu hamil, dan semua ibu hamil akan merasakan semua ini.
Otak Rendy mencerna sedikit demi sedikit perkatan Lisa, benarkah wanita hamil selama itu? pantas saja surga itu berada ditelapak kaki ibu. Membayangkan selama sembilan bulan harus membawa nyawa orang lain di dalam tubuh kita, itu sangat melelahkan. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada wanita hamil, sudah dipastikan nyawa janin itupun akan terancam.
"Aku ingin tahu lebih detail tentang kehamilan!" lontar Rendy.
"Harus itu, biar Mas mengerti bagaimana jadi aku," jawab Lisa.
"Ayo, kita kerumah sakit!" ajak Rendy sembari membelokkan laju mobil menuju jalan bagian kiri, arah yang membawa mereka pada rumah sakit dimana Dika bekerja.
__ADS_1
"Untuk apa, Mas? jadwal periksa kandunganku masih seminggu lagi."
"Aku ingin bertanya langsung pada ahlinya!" seru Rendy.
"Astagfirullah, kamu ada-ada saja, Mas. Masa kaya gini aja mesti ke Dokter," sahut Lisa dengan pasrah.
Lisa hanya menurut, ia ingin tahu seberapa jauh rasa penasaran suaminya.
"Ya Allah, dia memang ganteng tapi, engga gini juga," batin Lisa.
Selama perjalanan, Lisa menerka-nerka pertanyaan apa saja yang akan suaminya ajukan. Selang waktu dua puluh menit mobil Rendy sudah masuk halaman parkir rumah sakit, ia tidak sabar untuk mengetahui lebih lanjut perihal kehamilan.
Dengan langkah gontai, Lisa mengikuti langkah kaki Rendy masuk ke dalam rumah sakit.
"Permisi, saya ingin melakukan pemeriksaan kehamilan?" tanya Rendy begitu ia tiba di meja resepsionis.
Wanita berseragam putih dengan celana biru, terlihat jelas nick name dengan nama Sila mematung mendengar ucapan Rendy. Lisa yang ketinggalan jauh dari suaminya, hanya bisa menonton dari belakang.
"Periksa kehamilan!" ulang Petugas itu.
"Iya," jawab Rendy.
"Tapi maaf, Mas. Laki-laki tidak periksa kehamilan karena yang hamil hanya perempuan saja," jawab petugas wanita itu dengan jelas.
Lisa menahan tawa, ia segera mendekati suaminya. Lisa tidak ingin laki-laki ini membuat petugas itu menertawakannya.
"Maaf, Mba. Maksud suami saya, dia ingin memeriksa kehamilan untuk saya istrinya." Lisa menjelasakan begitu sampai dimeja respsionis.
"Oh, saya pikir ...," ucap petugas itu tidak meneruskan ucapannya.
"Jadi apa kami sudah bisa bertemu Dokter?" tanya Rendy.
"Sebentar, Mas." sahut petugas itu.
Petugas wanita itu meminta Lisa mengis formulir pendaftaran, setelah beres ia segera membawa sepasang suami istri itu ke salah satu ruangan paling pojok.
"Mas sama Mbanya tunggu disini dulu, Dokter Tania sedang menuju kesini," jelas petugas itu.
Rendy tidak menjawab, sedangkan Lisa mengurai senyum ramah lalu berkata, " Terimakasih, Mba."
"Sama-sama, Mba. Kalau begitu saya permisi dulu." petugas wanita keluar dari ruangan yang dipenuhi alat-alat rumah sakit.
__ADS_1
Selang lima menit, seorang Dokter muda cantik masuk keruangan. Lisa menyambut hangat dengan senyuman, berbeda dengan Rendy dikepalanya sudah tertanam beribu pertanyaan untuk menghujam sang Dokter.
"Selamat pagi, Bu, Pak. Ada yang bisa saya bantu," ucap Dokter Tania ramah.
"Begini, Dok ...," lirih Lisa.
"Saya ingin bertanya, apa benar masa kehamilan itu berlangsung selama sembilan bulan? apa tidak ada cara untuk mempersingkatnya?" brondong Rendy yang sudah tidak sabaran.
Untuk kedua kalinya Rendy membuat seseorang terdiam mematung. Lisa tidak tahu apa yang ada dipikiran sang Dokter saat ini, yang jelas dari raut wajahnya Dokter bernama Tania itu terlihat menahan tawa.
Lisa mencubit pelan pinggang suaminya, ia sudah gemas rasanya menghadapi pertanyaan konyol Rendy. Lisa bahkan harus bermuka tebal untuk menahan malu.
"Begini ya, Pak. Saya akan menjelaskan secara detail soal kehamilan," ujar Dokter Tania. " saya paham, sebagai pasangan yang baru akan dikarunia anak. Ibu dan bapak belum tahu sepenuhnya tentang kehamilan, makanya disini sudah tugas saya untuk memberi penjelasan sedetail mungkin.
"Iya, saya ingin tahu semua tentang hal sekecil apapun. Saya hanya tidak ingin istri saya menanggung beban selama itu." Rendy tetap menjawab dengan kepolosannya tentang wanta hamil.
Lisa berdecak pasrah, dia sudah tak ingin berbicara. Setidaknya sisi positifnya, Rendy akan tahu bagaimana rasanya menjadi seorang wanita hamil.
Dokter itu berkerja dengan profesional, dia tetap tenang padahal hatinya sudah ingin tertawa melihat seorang laki-laki sebegitu antutiasnya pada kehamilan sampai-sampai mempertanyakan hal yang konyol.
Jika didunia ini kehamilan seorang wanita bisa dipersingkat, sudah pasti Dokter itu akan memilih hanya dua bulan saja ia mengandung ketiga anaknya.
Dia tidak harus bersusah payah membawa, bahkan menikmati semua rasa sakit, karena proses pertumbuhan janin didalam perutnya selama berbulan-bulan.
Dokter Tania menghela nafas kasar lalu berkata, " Mari kita mulai dari yang paling mendasar terlebih dahulu."
Rendy menajamkan telinganya, ia tidak ingin sedetikpun melewatkan penjelasan Dokter wanita itu. Ia sudah melangkah sejauh ini, jika tidak mendapatkan apa-apa itu terasa sia-sia.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Mohon dukungannya untuk Author dengan cara
Like
Coment
Vote
Rate 5
__ADS_1
Selamat membaca🤗🤗