Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 98


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


"Umi gendong, mau?" tawar Dee.


Al mengangguk. Dee menggendong Al dengan sebelah tangannya dan satu tangannya lagi menyeret koper kecil mereka.


.....


Satu Minggu sudah Dee dan Al tinggal di Kota Padang. Tepatnya di sebuah desa kecil yang bernama Sungai Lareh. Suasana yang masih asri membuat udara terasa masih segar. Dee dan Al tinggal di sebuah rumah sederhana yang Dee beli dengan menggunakan uang tabungannya.


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Dee dan Al baru selesai melaksanakan sholat magrib. Kini mereka sedang duduk lesehan di ruang tengah untuk menikmati makan makan malam. Menikmati makanan sederhana yang terasa nikmat apabila kita mensyukurinya.


"Umi," panggil Al setelah anak itu selesai menghabiskan makannya sendiri.


"Iya, Nak," jawab Dee.


"Sekolah Al gimana, Umi?" tanya Al. Karena sudah seminggu pula dia tidak merasakan bangku sekolah.


"Besok kita daftar sekolah Al yang baru, ya. Al nggak apa-apa kan sekolah di tempat yang biasa?" tanya Dee hati-hati. Mengingat saat di Jakarta, Al sekolah di tempat yang mewah.


"Nggak apa-apa, Umi. Yang penting Al sekolah," jawab Al.


"Belalti nanti Al dapat teman balu lagi, ya, Umi?" tanya Al antusias.


Dee tersenyum dan mengangguk. "Iya, Nak. Nanti Al akan dapat teman baru lagi," jawab Dee mengacak pelan rambut Al.


"Em ... Umi, boleh Al beltanya?" ucap Al hati-hati.


Dee yang melihat perubahan ekspresi anaknya mengerutkan dahi heran. "Al tanya apa, Sayang?" jawab Dee lembut.


"Umi, Abi kapan nyusul kita?" tanya Al takut.


Dee membawa tubuh Al duduk di pangkuannya. Tangannya terulur mengusap lembut rambut Dee. "Al, kan Abi udah pernah bilang kalau Abi lagi ada kerjaan mengurus perusahaan yang di Turki, Sayang. Nanti kalau kerjaan Abi selesai, Abi akan datang bertemu dengan Al," ucap Dee.


"Tapi kapan Umi?" tanya Al dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Apa Al nggak senang tinggal disini sama Umi?" tanya Dee.


Al menggeleng. "Al senang, Umi," jawab Al.


"Kalau begitu Al nggak boleh sedih lagi. Kalau Al sedih, Umi juga ikutan sedih. Kalau Umi sedih, Adek yang ada diperut Umi juga ikutan sedih," ucap Dee sendu kepada Al.

__ADS_1


"Umi nggak boleh sedih. Sekalang Al nggak ada sedih lagi. Kita akan tinggal disini sampai Abi datang," jawab Al tersenyum kepada Dee.


"Ini baru anak Umi," ucap Dee menciumi seluruh wajah Al.


"Al nanti mau bantuin Umi nggak?" tanya Dee.


"Bantu apa Umi?" tanya Al mengasah melihat Dee.


"Nanti kita cari tanah liat terus kita buat kerajinan. Nanti kita jualin. Al mau kan?" tanya Dee.


"Uang kita habis, Umi?" tanya Al polos.


"Bukan, Nak. Biar kita ada kegiatan. Kan kalau kita jual bisa bermanfaat untuk yang beli, dan memberi syafaat juga untuk kita," ucap Dee.


Maaf Sayang. Bukan maksud Umi bohong sama Al Umi nggak mau Al ikut terbebani. Semoga niat Umi untuk buka usaha berjalan lancar. Ucap Dee dalam hati.


"Al mau, Umi. Tapi Al bantu Umi setelah pulang sekolah, ya. Kan Al halus sekolah dulu," jawab Al.


"Iya, Nak," jawab Dee senang. Dee memeluk erat tubuh Al menyalurkan kasih sayangnya. Keberadaan anaknya mampu memberi Dee kekuatan untuk selalu tegar.


.....


Sedangkan di tempat lain, Ibra duduk termenung di balkon kamarnya. Matanya terus fokus memandangi pigura kecil di tangannya. Di sana terlihat dia tertawa bahagia bersama Dee dan juga Al. Foto itu adalah foto yang mereka ambil ketika berlibur bersama ke Kebun Binatang.


"Kamu dimana Sayang? Kenapa tega bohongin aku? Apa begitu sulit memenuhi permintaan ku untuk tetap berada dalam pandanganku, Sayang?" ucap Ibra bertanya pada dirinya sendiri.


Saat sedang asyik menikmati wajah Al dan Dee di foto, ponsel Ibra berdering dan memperlihatkan nama Kevin di sana.


"Halo," ucap Ibra setelah menekan tombol hijau.


"Lo dimana?" tanya Kevin dari seberang sana.


"Rumah," jawab Ibra lesu.


"Gue kesana sekarang," ucap Kevin.


"Ya," ucap Ibra memutus sambungan teleponnya.


Setengah jam kemudian, Kevin datang bersama dengan Agam dan Alan ke rumah Ibra. Tanpa mengetuk pintu, mereka langsung saja masuk ke kamar Ibra.


"Ib!" teriak Kevin karena tidak melihat keberadaan Ibra di kamarnya.

__ADS_1


"Balkon!" teriak Ibra dari arah balkon. Ketiga pria itu melangkahkan kakinya ke balkon kamar Ibra.


"Ck, orang bodoh," maki Agam saat melihat Ibra yang duduk sambil mengusap foto keluarga kecilnya.


Mereka bertiga langsung duduk di kursi yang ada di sana. Memandangi Ibra yang terlihat sangat berantakan. Padahal baru seminggu Dee meninggalkannya, tapi Ibra sudah seperti gembel menurut mereka.


"Ck, baru seminggu udah gila aja, Lo," celetuk Alan.


Ibra memandang tajam Alan. "Diem!" ketus Ibra. Hati dan pikirannya kacau, tapi temannya ini malah datang untuk mengganggunya.


"Gimana, dapat kabar?" tanya Ibra mulai serius.


Mereka semua menghela nafas sambil menggeleng. Ibra yang melihat ekspresi teman-temannya menyebarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Harus bagaimana lagi dia mencari Dee.


Setelah mengetahui Dee benar-benar pergi, Ibra langsung mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Dee dan Al. Begitu juga dengan Kevin dan Agam.


"Lo gimana, Lan?" tanya Ibra kepada Alan. Harapannya sangat besar kepada Alan.


"Nggak ada petunjuk, Ib," jawab Alan lesu.


Ibra mengacak rambutnya kasar mendengar jawaban Alan. "Gue harus cari kemana lagi?" tanya Ibra frustrasi.


"Lagian gue heran sama Lo, Ib. Bisa-bisanya Lo nikah tanpa mikirin perasaan Dee? Kemana otak Lo? Istri di penjara Lo malah nikah, dasar brengsek!" ucap Alan greget dengan kelakuan Ibra.


"Udah pergi aja baru nyesel Lo. Udah nggak guna penyesalan Lo," lanjut Agam ikut gemas dengan Ibra.


Alan dan Agam yang mendengar cerita ini dari Kevin sangat kaget dan sangat tidak menyangka. Ternyata Ibra sangat bodoh melebihi dugaan mereka. Alan dan Agam juga kesal dengan Wijaya dan Kevin yang tidak berbuat apa-apa saat itu. Tapi mau bagaimana lagi? Nasi sudah jadi bubur.


"Lagian nih, ya. Orang taunya Sofia itu seorang Kiyai, bisa-bisanya egois begitu. Gedeg banget gue tau nggak!" sambung Alan.


"Dan Lo Ib, meskipun tidak berhubungan badan, tapi itu hasil dari benih Lo. Ada anak Lo di dalam perut Sofia. Gue nggak tahu mau ngomong apa lagi. Kegoblokan Lo nggak ada tandingannya tau nggak. Kesel banget gue!" ucap Agam melampiaskan segala sakit hatinya kepada Ibra.


Ibra tidak menjawab segala perkataan Agam dan Alan. Karena ala yang diucapkan temannya itu adalah benar. Semua ini adalah kebodohan dan kesalahannya sendiri. Tidak ada manusia yang lebih bodoh darinya.


"Jadi gimana, Ib?" tanya Kevin setelah Agam dan Alan berhenti menggerutu kepada Ibra.


"Gue mau pencarian Dee dan Al tetap dilakukan. Hanya akan berhenti jika anak dan istri gue ketemu," jawab Ibra.


"MANTAN ISTRI!" teriak Agam dan Alan secara bersamaan. Mereka berdua benar-benar mengeluarkan segala kekesalan mereka atas kebodohan Ibra.


......................

__ADS_1


Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"


Bayar Kiz dengan like dan komentar nya yaa, jangan lupa vote juga. Kalau ada rezeki lebih kasih tip yaa 🌹


__ADS_2