Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 56


__ADS_3

Plak


"Ini untuk setiap air mata istriku."


Plak


"Ini untuk kesakitan Mama ku."


Plak


"Ini untuk setiap kesedihan Papa ku."


"Bunuh aku Ibra," pinta Naina dengan hara lemah. Tubuhnya benar-benar tidak kuat menerima setiap cambukan Ibra.


"Membunuhmu adalah hukuman yang paling ringan. Aku akan membiarkanmu hidup hingga kau sendiri yang memohon untuk sebuah kematian," ucap Ibra memandang tajam Naina.


Ibra melepaskan cambuknya dan mengambil setrika panas yang sudah disiapkan. Kevin dan Agam hanya diam melihat setiap tindakan Ibra. Tidak ada rasa kasihan melihat tubuh Naina yang memerah. Ini Bahkan belum seberapa dari apa yang didapatkan oleh Al dan Dee, pikir Kevin dan Agam.


Naina mengalihkan pandangan lemahnya kepada Kevin dan Agam. Berharap lelaki yang berstatus sebagai sahabatnya itu bisa menolongnya. Tapi Naina hanya mendapat senyum jahat dari keduanya.


"Dengan setrika panas ini kau menciptakan luka di perut anak dan istriku, kan. Sekarang kau bisa merasakan bagaimana nikmatnya semua ini," ucap Ibra mengarahkan setrika panas tersebut kepada telapak kaki Naina. Ibra sengaja mengarahkannya ke telapak kaki Naina agar wanita itu merasakan sakit saat berdiri.


"AAAHHHHH," jerit Naina ketika setrika panas itu menyentuh kulit telapak kakinya.


"AAAAHHHH BUNUH AKU IBRA," pekik Naina kepada Ibra.


"INI BELUM SEBERAPA DIBANDINGKAN DENGAN SAKIT DAN AIR MATA YANG KAU BERIKAN KEPADA ANAK DAN ISTRIKU!" bentak Ibra telat di depan wajah Dee. Pandangan kebencian benar-benar terlihat jelas di mata Ibra. Jiwa predatornya benar-benar keluar saat ini.


Kevin dan Agam benar-benar hanya menikmati setiap perlakuan Ibra. Menurut mereka Ibra yang lebih berhak untuk membalaskan semuanya. Meskipun sedari tadi tangan mereka sudah sangat gatal untuk menyiksa Naina. Bukan hal mengejutkan bagi mereka melihat sosok Ibra yang seperti ini, karena sewaktu sekolah dan sebelum menikah dengan Dee, Ibra lebih kejam dari ini.


Puas bermain di telapak kaki Naina, Ibra meletakkan setrika tersebut dan mengambil pisau kecil yang ada di saku celananya. "Dengan pisau kecil ini kau menggores lengan istriku dan melukai betis anakku!" ucap Ibra tajam dengan memperlihatkan pisaunya kepada Naina.


Perlahan Ibra mendekatkan pisau tersebut ke pipi Naina. Memainkannya sebentar di pipi Naina. Naina sudah sangat ketakutan. Tapi sesekali gadis ini nampak tersenyum licik sambil menatap berani kepada Ibra.

__ADS_1


Sret


Sret


Sret


Pisau tersebut menggores kedua pipi Naina. Darah mengalir dari kedua pipinya.


"AAAHH!" jerit Naina kesakitan. "Kau benar-benar iblis, Ibra," ucap Naina dengan segala kekuatannya.


"Aku akan menjadi Iblis demi kebahagiaan anak dan istriku," tekan Ibra kepada Naina.


Naina tertawa di dalam kesakitan nya. Wanita ini benar-benar sudah gila, pikir Ibra.


"Kau memang tidak waras, Naina. Bahkan disaat kesakitan seperti ini kau masih bisa tertawa."


Plak


satu cambukan kembali melukai badan Naina.


"Dan aku tidak akan membiarkan kau melakukan itu, Bajingan!"


Plak


Plak


Plak


Tiga cambukan dengan sangat keras menyentuh kulit Naina. Naina sudah tidak sanggup rasanya untuk mengeluarkan suara. Rasa haus, sakit, pedih menyatu dalam tubuhnya saat ini.


"Berikan minum itu!" Ucap Ibra kepada anak buahnya.


Setelah menerima minuman tersebut, Ibra membuka tutup botolnya. "Aku tahu kau haus, bukan. Kau harus memiliki tenaga lebih untuk menerima hukuman dari para anak buah ku nanti," ucap Ibra mengarahkan botol tersebut ke mulut Naina.

__ADS_1


Naina melawan dan menutup rapat mulutnya untuk menolak minuman tersebut. "Ini yang kau lakukan ketika memaksa anakku menelan obat berbahaya itu, bukan. MINUM!" bentak Ibra melihat penolakan Naina. Dengan terpaksa Naina menelan air tersebut. Setengah botol air tersebut masuk kedalam perut Naina.


Setelah lima menit Naina menelan minuman itu, kesakitan luar biasa sangat dia rasakan di bagian perutnya. Ibra, Kevin dan Agam tersenyum miring melihat semua itu.


"AAAHHH, SAKIT!" jerit Naina merasakan sakit luar biasa di perutnya.


"Tahan sedikit, Naina. Dengan air itu kau tidak akan memiliki anak. KARENA KAU MEMANG TIDAK PANTAS UNTUK MENJADI SEORANG IBU!" bentak Ibra.


Ya, minuman yang diberikan Ibra adalah air yang sudah dicampur dengan obat yang dapat merusak rahim Naina.


Naina hampir kehilangan kesadarannya. Sebelum itu di memandangi Ibra, Kevin dan Agam secara bergantian. "Jika aku tidak bisa mendapatkan mu, maka tidak ada satu wanita yang bisa bersama mu. Kesakitan ku ini, akan aku balas dengan air mata anak dan istrimu," ucap Naina pasti dengan suara yang sangat pelan.


Naina tersenyum miring. Ibra, Kevin dan Agam yang melihat itu saling pandang.


Dret, dret, dret


Getar ponsel dari saku jas Ibra mengalihkan pandangan mereka semua. Ibra melihat ponselnya dan melihat tulisan 'Rumah' pada layar ponselnya. Ini berarti panggilan dari telepon rumahnya. Ibra memandangi Kevin dan Agam bergantian sebelum mengangkat ponselnya.


"Ha-halo," ucap Ibra dengan perasaan tak menentu.


"ABIII," terdengar suara jerit Al dari ponsel Ibra.


DEG


......................


Terimakasih selalu setia mengikuti cerita receh yang author tulis.


Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.


Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @nonam_arwa


Akan sangat indah jika kalian semua memberi like dan komentarnya

__ADS_1


Author sayang kalian 🌹🌹😘


__ADS_2