
🌹HAPPY READING🌹
"Kalau kamu mau ceraikan aku, aku siap, Mas," ucap Sofia hati-hati.
Kevin yang mendengar perkataan Sofia langsung menekan gas secara mendadak. Untung saja jalanan sepi hingga tidak membahayakan mereka.
"Jangan gila Sofia!" ucap Kevin tegas.
Air mata Sofia semakin jatuh mendengar perkataan tegas Kevin.
Kevin yang melihat Sofia menangis membawa kepelukannya. "Kita akan usahakan pengobatan terbaik. Aku tidak masalah kita tidak memiliki anak lagi. Kita sudah punya Zahra, itu sudah cukup buat aku bahagia, Sofia. Jangan mengambil keputusan di saat emosi," ucap Kevin lembut.
"Mas, Tuhan menghukum aku, ya," ucap Sofia lirih.
"Jadikan semua ini pelajaran untuk kita, Sayang. Mungkin ini yang dinamakan setiap perbuatan ada balasannya. Mungkin ini jalan Allah untuk menghapus dosa kita," ucap Kevin.
Sedangkan Sofia hanya mengangguk dipelukan Kevin.
"Sekarang kita pulang, ya. Besok kita harus segera ke Turki. Di sana kita akan melakukan pengobatan juga," lanjut Kevin.
Sofia mengangguk dan mengusap air matanya. Setelah itu Kevin melepaskan pelukannya dan kembali melanjutkan laju mobilnya. Tangan Kevin tidak pernah lepas menggenggam tangan Sofia. Memberikan ketenangan untuk wanita itu. Sedangkan Sofia hanya memandang ke luar jendela dengan pandangan sendu.
.....
Ibra dan keluarga kecilnya kini sudah sampai di rumah mereka.
"Wah, lumah Abi becal, Umi," ucap Kina kagum melihat rumah tersebut. Ibra dan Dee tersenyum mendengar penuturan Kina.
"Ini bukan rumah Abi, Dek. Ini rumah Abang," celetuk Al.
Mulut mungil Kina menganga mendengar perkataan Al. Anak itu nampak sangat lucu dengan ekspresi terkejutnya.
"Aban dapat uan dali mana? Aban culi, ya. Umi, Abi , Aban culi uan!" teriak Kina kepada Ibra dan Dee.
"Abang nggak curi uang, ya. Kalau Adek nggak percaya tanya sama Abi," ucap Al cuek.
"Benal Abi?" tanya Kina.
Ibra tersenyum dan mengusap pipi gembul Kina yang ada digendonganya. "Ini rumah Adek sama Abang. Jika sudah besar nanti, kalian berdua berhak atas rumah ini. Tidak hanya rumah, semua harta Abi untuk kalian," ucap Ibra kepada Kina.
Kina yang mendengar penuturan Ibra tersenyum senang. Wah, belalti Ina bica beli apapun. Wah Ina kaya, Ina ndk pelu lagi minta Umi. Kalau minta Umi pati ndak dapat. Batin Kina senang membayangkan banyaknya mainan yang akan dia beli.
"Adek kenapa senyum-senyum?" tanya Dee.
Kina tertawa imut kepada Dee. "Ndak apa-apa, Umi," ucap Kina.
"Yasudah, sekarang kita masuk ya," ajak Ibra.
Mereka berjalan memasuki rumah tersebut. Sebelum Dee pulang ,Ibra sudah meminta Bi Nini dan anak buahnya untuk menyiapkan kamar Al dan Kina. Kamar mereka berada di lantai dua. Dengan kamar Kina di sebelah kiri dan kamar Al di sebelah kanan. Dan kamar Ibra berada di tengah-tengah kamar anak-anaknya.
Kedatangan mereka disambut baik oleh Bi Nini. Wanita paruh baya itu nampak sangat senang dengan kembalinya Nyonya yang sudah sangat lama dia rindukan.
Kini Ibra dan Dee berada di kamar mereka. Sedangkan Kina dan Al diruang bermain yang ada dilantai satu.
"Sayang," ucap Ibra memeluk Dee dari belakang.
Dee yang sedang menyusun pakaiannya membalik menatap Ibra. "Kenapa Mas?" tanya Dee lembut.
Ibra diam. Dia membenamkan kepalanya di ceruk leher Dee yang sudah tak tertutup hijab.
"Rambut kamu bagus lagi tumbuhnya," ucap Ibra ngawur.
Dee terkekeh mendengar perkataan Ibra. Dia sadar, suaminya ini sedang ingin bermanja-manja dengannya. "Maaf ya, Mas. Adek belum bisa ngasih hak Adek sebagai istri untuk sekarang, badan Adek masih lemes banget," ucap Dee lembut mengusap pipi Ibra.
Ibra mengangguk. "Iya, Sayang. Kayak gini aja udah cukup kok," ucap Ibra.
__ADS_1
Lama mereka berpelukan sambil berdiri, hingga Ibra melepaskan pelukan mereka dan menatap lekat mata Dee. "Sayang, jangan pernah kayak kemarin lagi, ya," ucap Ibra.
Dahi Dee berkerut. "Kayak kemarin gimana, Mas?" tanya Dee.
"Jangan pergi jauh-jauh dari hidup aku lagi. Jangan pernah minta cerai lagi, jangan pernah mencoba berfikir untuk menghilang lagi. Aku hancur tanpa kamu," ucap Ibra sendu.
"Buktinya Mas sekarang baik-baik aja," ucap Dee jahil.
"Ck, aku serius, Sayang," ucap Ibra.
Dee terkekeh dan mengangguk. "Kalau kita saling menjaga dan percaya, kita akan selalu bersama, Mas. Sampai rambut memutih, aku akan selalu ada di samping kamu," ucap Dee.
Ibra mengangguk dan kembali membawa Dee kepelukannya. "Aku cinta kamu," ucap Ibra.
"Aku juga cinta Mas dan anak-anak," jawab Dee.
"Oiya, besok kita ke Bandara, ya," ucap Ibra.
"Ngapain, Mas?" tanya Dee.
Ibra gak langsung menjawab. Dia menggiring Dee untuk duduk di ranjang. "Besok Kevin akan ke Turki sama Sofia dan Zahra, Sayang," ucap Ibra.
"Mereka jadi pergi, Mas?" tanya Dee.
Ibra mengangguk.
"Mas, Zahra nggak apa kok kalau tinggal disini. Aku nggak keberatan," ucap Dee. Dia tidak tega jika anak itu harus berpisah dengan Ibra.
Ibra menggeleng. "Akan lebih baik Zahra bersama mereka, Sayang. Kita juga tetap bisa mengunjungi mereka ke sana saat liburan," ucap Ibra.
Dengan pasrah Dee akhirnya mengangguk.
"Sayang," panggil Ibra lembut.
"Sofia cacat," ucap Ibra.
"Maksud kamu?" tanya Dee tak paham.
"Tadi Kevin kirim pesan dan menceritakan semuanya sama aku. Sofia akan sulit untuk memiliki anak lagi," ucap Ibra.
Dee kaget mendengar penuturan Ibra. "Kenapa bisa, Mas?" tanya Dee.
"Akibat kecelakaan kemarin, Sayang," jawab Ibra singkat.
Dee hanya diam dan asik dengan pikirannya. Terkejut? Tentu saja. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Sofia. Karena bagi seorang wanita, rahim adalah kelebihan terbesar yang mereka miliki.
"Pasti Sofia sedih banget, Mas," ucap Dee.
"Mungkin udah jalannya," ucap Ibra singkat. Tangan Ibra bekerja masuk ke dalam gamis Dee.
Dee masih belum menyadarinya. Wanita itu asik dengan segala pikirannya.
"Mas!" pekik Dee saat dia merasakan Ibra menggenggam kedua dadanya.
Ibra hanya terkekeh tanpa dosa memperlihatkan gigi rapinya. "Aku kangen ini," ucap Ibra.
"Sabar ya Mas," ucap Dee tak enak.
Dengan senyum tampannya Ibra mengangguk. "Kita mandi, yuk," ajak Ibra.
Mata Dee memicing mendengar penuturan Ibra. "Hanya mandi, Sayang. Aku nggak mau nanti istri aku tambah sakit," ucap Ibra langsung mengangkat Dee ke kamar mandi.
Akhirnya mereka mandi bersama. Ingat, hanya mandi dan sedikit pijat plus-plus.
.....
__ADS_1
Hari ini adalah hari keberangkatan Kevin dan keluarga kecilnya Ke Turki. Mereka semua mengantar keluarga kecil itu ke Bandara. Zahra tampak menangis tidak ingin berpisah dengan Abang dan Adiknya.
"Zahra, dengar Abang, ya. Zahra bisa telfon Abang kapanpun Zahra mau. Nanti kalau liburan, pasti Abang akan minta Abi buat ke tempat Zahra," ucap Al membujuk Zahra.
"Iya, Tak. Nanti tita pideokal," celetuk Kina.
"Abang sama Adek jangan lupain Zahra, ya," ucap Zahra sendu.
Al dan Kina mengangguk. Ketiga anak itu saling berpelukan menyalurkan kasih sayang mereka. Mereka orang dewasa yang melihat itu ikut tersenyum.
"Ib, gue berangkat dulu. Lo baik-baik disini," ucap Kevin pada Ibra. Ibra mengangguk mendengar perkataan Kevin.
"Gam," panggil Kevin pada Agam.
Agam nampak sangat tidak suka Kevin pergi. Tapi ini semua yang terbaik, jadi dia harus maklum. "Lo jaga diri di sana, Vin. Jaga keluarga kecil Lo. Jangan sampai bodoh kayak teman kita ini," ucap Agam menyindir Ibra.
Ibra hanya berdecak kesal mendengar perkataan Agam. Agam memang nomor satu kalau urusan sindir menyindir.
Setelah pamit pada semuanya, Kevin, Sofia dan Zahra segera pergi saat mendengar pengumuman.
Dee hanya memandang Zahra yang selalu melihat kebelakang dari kursi rodanya. Dee tersenyum kecil melepas kepergian Zahra, begitu juga Zahra. Dia tersenyum dan melambai kepada Dee walau air mata anak itu masih membasahi pipinya.
Kapanpun Zahra kembali, Umi akan selalu menerima kehadiran Zahra. Batin Dee memandang Zahra. Anak itu sama sekali tidak bersalah, sama sepeti Al dan Kina, tapi dia harus menanggung semuanya.
Kini keluarga kecil Ibra sudah berada di dalam mobil. Sedangkan yang lainnya di mobil yang lain. Adam saat ini bekerja memimpin perusahaan orang tuanya yang dulu di urus oleh Ibra sejak kematian kedua orang tua Dee.
"Abi, mau ecklim," celetuk Kina yang duduk di kursi belakang.
"Tanya Umi, Nak," jawab Ibra.
"Umi," rengek Al dan Kina kepada Dee dengan wajah memohon mereka.
Dee gemes dengan kedua anaknya itu. Dia tidak sanggup jika harus menolak jika sudah seperti ini. Akhirnya Dee mengangguk menyetujui permintaan anak-anaknya.
"Yeay," sorak Kina riang. Sedangkan Al hanya diam dan tersenyum.
Lima belas menit, mobil Ibra sampai di kedai Es Krim yang dulu sering dia kunjungi bersama Al. Mereka semua turun dari mobil dan memasuki kedai Es Krim tersebut.
"Abi, Al mau ke toilet," ucap Al sambil menahan pipisnya.
"Mau Abi temani?" tawar Ibra.
Al menggeleng. "Al sendiri saja Abi," ucap Al dan langsung berlari ke arah Toilet tanpa mendengar perkataan Ibra dan Dee.
"Huft, lega," ucap Al setelah selesai melepaskan pipisnya.
BRUK
"Aws," ucap seorang gadis kecil yang ditabrak oleh Al.
"Maaf, aku tidak sengaja," ucap Al mengulurkan tangannya ingin membantu gadis kecil tersebut.
Senyum terbit di bibir Al saat melihat wajah gadis tersebut yang sudah cemong karena noda Es Krim. "Lucu," gumam Al tersenyum.
Tanpa menerima uluran tangan Al, gadis itu berdiri dan berlari meninggalkan Al. Rambut dan rok yang digunakan anak itu nampak bergerak-gerak lucu karena berlari. Al kembali tersenyum di buatnya, setelah itu Al kembali ke meja tempat orang tuanya dan Kina duduk.
......................
Secantik apa gadis kecilnya sampai Al senyum-senyum seperti itu?
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaa
Aku harap kalian nggak pernah bosan yaaa 🤗🌹😍😘
Follow Instagram aku @yus_kiz
__ADS_1