
🌹HAPPY READING🌹
Al melangkahkan kakinya ke rumah Ibra. Sampai disana, terlihat Ibra, Dee, Kina, Zahra dan Bi Nini yang sedang sarapan.
"Umi," panggil Al sedikit keras.
Mereka semua menoleh ketika mendengar suara Al.
"Abang!" pekik Kina dan Zahra bersamaan.
Al tersenyum dan berjalan mendekat kedua adiknya. Mengecup dahi Kina dan Zahra secara bergantian.
"Abang udah sarapan?" tanya Zahra yang dibalas gelengan kepala oleh Al.
"Ngapain pagi-pagi ke rumah orang?" tanya Ibra yang sejak tadi diam menikmati sarapannya.
Ibra menatap kesal kepada Abinya. "Semperin wanita tercinta lah," ucap Al langsung mengecup pipi Dee dari samping.
Dee hanya tersenyum mendapat perlakuan manis dari anaknya itu. Sedangkan Ibra sudah menatap Al kesal.
"Cium istri sendiri, jangan istri orang," ucap Ibra.
"Mas, ih," ucap Dee memperingati suaminya itu. Jika tidak dicegah, maka perdebatan mereka akan berlanjut.
Dee menoleh kepada Al yang berdiri di belakangnya. "Ada apa, Nak?" tanya Dee lembut.
"Umi sudah selesai makan?" ucap Al tanpa menjawab pertanyaan Dee.
Dee mengangguk dan menunjuk piringnya yang sudah kosong. "Mau apa?" tanya Dee.
Al mengambil tangan Dee dan menyeretnya menaiki tangga ke lantai dua.
"Eh, eh, eh, istri Abi mau dibawa kemana?" teriak Ibra.
"Bentar doang, Abi," jawab Al teriak dari pertengahan tangga.
"Mau kemana, Nak?" tanya Dee.
"Ikut aja, Umi. Kita ke kamar Umi, ya," ucap Al.
Dee pasrah dan mengangguk. Dia mengikuti langkah kaki Al yang membawanya menuju kamar Dee dan Ibra.
"Mau apa?" tanya Dee setelah mereka sampai di kamar Dee.
Al menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia malu untuk mengatakan ini. Tapi dia yakin Uminya pasti tahu solusi masalahnya.
Al mendekatkan mulutnya ke telinga Dee untuk membisikkan maksud dan tujuan kedatangannya. Meskipun disini hanya ada mereka berdua, tapi tetap saja Al merasa malu terhadap malaikat di kiri dan kanannya.
Mata Dee membulat sempurna, dia menutup mulut karena terkejut mendengar bisikan anaknya. Tapi tidak berselang lama, senyum jahil terbit di bibir Umi cantik itu.
__ADS_1
"Anak Umi udah gede, ya," ucap Dee.
Anak sama Abi sama aja. Sama-sama ganas kalau udah urusan begituan. Batin Dee mengingat Ibra yang juga ganas terhadapnya jika sudah urusan ranjang.
"Ayolah, Umi. Runa nungguin Al," ucap Al.
Dee mengangguk dan berjalan menuju nakas sebelah ranjangnya. Dee membuka laci nakas dan mengambil sesuatu dari sana.
"Ini. Kasih di area yang sakit," ucap Dee menyodorkan salep kepada Al.
"Makasih, Umi," ucap Al senang mencium pipi Dee.
"Kamu bahagia banget, Bang?" ucap Dee melihat raut wajah Al yang sangat bahagia pagi ini.
Al mengangguk. "Karena Allah maha baik dan memberikan nikmat tak terduga, Umi," ucap Al.
"Apa?" tanya Dee penasaran.
"Ternyata Umi benar, pasti ada bahagia setelah kesabaran dan perjuangan kita, Umi," ucap Al.
"Umi nggak paham maksud kamu," ucap Dee bingung.
Al hanya menggeleng dan kembali tersenyum. "Ternyata nikmat pernikahan sangat-sangat indah, Umi. Kalau gitu Al pamit dulu. Assalamu'alaikum," ucap Al langsung berlari keluar kamar Dee.
Dee hanya menatap punggung anaknya dan tersenyum. "Syukurlah kamu bahagia, Nak," gumam Dee pelan. Setelah itu dia ikut keluar menyusul keluarganya di meja makan.
.....
"Sarapan dulu, Menantu," teriak Bima dari meja makan yang melihat Al berlari memasuki rumahnya.
"Nanti dulu Mertua," jawab Al dan langsung berlari menaiki tangga ke kamar Bella. Dia yakin istrinya itu masih berendam menunggu obat darinya.
Al memasuki kamar. Dia terkejut melihat Bella yang sudah duduk di kasur dengan handuk sebatas dadanya hingga paha. Kaki Bella sedikit terbuka. Al yakin pasti Bella masih kesakitan.
"Sayang," panggil Al lembut berjalan mendekati Bella.
"Iya, Al," jawab Bella pelan.
"Kenapa nggak nungguin Aku balik, sih. Nanti kalau makin sakit gimana," omel Al kepada Bella.
"Aku bisa masuk angin nungguin kamu," ucap Bella.
Al menghela nafas pelan dan berjongkok di depan Bella yang duduk di tepi ranjang.
"Pakai ini, ya," ucap Al menunjukkan salep kepada Bella.
Bella mengangguk pasrah.
Al menyingkap handuk Bella dan melihat area bawah Bella.
__ADS_1
"Merah banget ini. Terkelupas juga. Kenapa bisa begini banget sih," gumam Al pelan namun masih bisa didengar oleh Bella.
Bella tersenyum lembut. "Aku ikhlas, Al. Pahala besar bagi istri jika memenuhi kebutuhan bathin suaminya. Kepuasan kamu adalah keberhasilan buat aku, Al," ucap Bella lembut. Dia tidak mau Al merasa bersalah atas apa yang telah mereka lakukan.
"Terimakasih, Sayang. Aku olesin, ya," ucap Al.
Bella mengangguk dan membiarkan Al mengolesi salep tersebut ke area bawahnya yang perih. Sentuhan lembut Al membuat Bella sangat nyaman.
"Eh, kamu dapat salep ini darimana, Al?" tanya Bella tiba-tiba.
"Dari Umi," jawab Al santai sambil terus mengolesi salep tersebut.
Mata Bella melotot sempurna mendengar jawaban Al. "Kamu kasih tahu Umi?" tanya Bella yang dijawab anggukan oleh Al.
"Kan malu, Al," ucap Bella merengek.
"Udah nggak usah malu. Umi pasti ngerti juga kok," jawab Al santai.
"Itu kamu. Tapi aku yang malu," ucap Bella.
Al hanya terkekeh pelan. "Selesai," ucap Al saat selesai dengan kegiatannya. Mati-matian Al menahan hasratnya untuk tidak menerkam Bella lagi.
"Kamu ngga mandi?" tanya Bella.
Al hanya diam dan berdiri dari posisi jongkoknya. Dia berjalan kearah lemari dan mengambil salah pakaian rumahan Bella.
Al mengambil salah satu gamis yang ada di lemari dan memakaikannya kepada Bella. Dengan patuh, Bella menurut saja ketika Al memakaikan bajunya. Al tidak ingin Bella kesakitan lagi karena terlalu banyak bergerak. Jadi dia berinisiatif untuk memakaikan baju sendiri untuk Bella.
Setelah selesai, Al pamit untuk membersihkan dirinya dikamar mandi. Sedangkan Bella menungggu Al dengan duduk manis sambil memainkan ponsel di atas kasur.
.....
Waktu berjalan begitu cepat. Siang telah berganti menjadi kembali malam. Matahari sudah selesai dengan tugasnya dan digantikan Bulan yang menerangi Bumi.
Al tiduran bersama Bella di ranjang. Kini mereka berdua berada di rumah Ibra. Rencananya besok Al akan membawa Bella pindah ke rumah mereka berdua yang sudah disiapkan oleh Al. Bima juga sudah kembali ke Inggris tadi siang.
"Al," panggil Bella lembut dengan kepala bersandar di dada Al.
"Kenapa Sayang?" tanya Al.
"Kamu kok bisa temui Papa di Inggris? Dan kenapa bisa pulang bareng Papa juga kesini?" tanya Bella. Sebenarnya dia sudah penasaran sejak awal. Tapi dia mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Kamu mau dengar cerita aku, Sayang?" ucap Al.
Dengan antusias Bella mengangguk. Al mengeratkan pelukannya pada Bella dan meletakkan dagunya di pucuk kepala Bella.
"Semua berawal dari penolakan kamu, Sayang."
......................
__ADS_1
Jangan lupa buat tetap like, komen dan kasih vote ya. Aku sayang kalian 😘🌹