
🌹HAPPY READING🌹
Bram bersimpuh dan mensejajarkan tubuhnya dengan Naina yang terduduk di lantai sambil menangis.
"Pertemuan ini harusnya menjadi bahagia, bukan? Kenapa menangis, Nainaku?" ucap Bram lembut menatap Naina.
Naina mengangkat kepalanya. Mata mereka saling bersitatap. Kedua mata indah itu nampak berair. Itu bukan air mata kesedihan, tapi air mata kebahagiaan dari kedua manusia yang sudah sangat merindu itu.
"Bram," panggil Naina lirih.
Bram mengangguk sambil tersenyum dengan mata yang sangat berkaca-kaca. "Iya," jawab Bram lembut.
"Apa masakanku enak?" tanya Naina tersenyum.
Bram mengangguk semangat. "Sangat enak. Bahkan aku selalu menunggu masakanmu," jawab Bram.
"Kenapa harus secara diam-diam, Bram?" tanya Naina.
"Aku terlalu buruk untuk bertemu denganmu," ucap Bram.
"Tapi itu pendapatmu," jawab Naina.
"Kamu berhak mendapat yang lebih baik daripada pria tua ini, Naina. Sugar Daddy yang dulu sangat kau kagumi itu sekarang sudah hilang bersama masa lalu. Kini hanya tinggal Bram dengan segala kekurangannya," ucap Bram sendu.
"Kamu bertindak sok tahu, seolah mengetahui semua sisi kehidupanku, Bram," ucap Naina sedih.
Bram memandang lekat mata Naina. Terlihat jelas kesedihan, kekecewaan, cinta dan juga kerinduan di mata indah itu.
"Nai," ucap Bram lirih.
"Aku tidak sebahagia itu tanpa kamu, Bram. Aku tidak sebahagia itu, hiks," ucap Naina menunduk dalam menyembunyikan tangisnya.
"Apa cinta itu sudah tumbuh karena sebuah ketulusan, Nai?" tanya Bram sendu. Didalam hatinya masih terselip ketakutan bahwa Naina mencintainya hanya untuk kepentingannya sendiri. Sama seperti dulu saat Naina memanfaatkannya untuk mendapatkan Ibra.
Naina mengangkat kepalanya memandangi Bram. "Aku tidak pernah mencintai sedalam ini selain kepada Tuhan dan Nabiku, Bram. Jika aku mau, aku tidak akan disini," ucap Naina. Dia mengerti bagaimana rasa trauma yang dia ciptakan dalam hati Bram.
"Adakah kesempatan untuk kita menciptakan keluarga bahagia, Nai?" tanya Bram.
Naina memandang lekat mata Bram. "Aku wanita cacat. Aku sudah bukan Naina yang dulu. Naina yang begitu kau puja karena segala kecantikannya, Bram. Sekarang aku wanita yang tidak sempurna, Bram, hiks," ucap Naina memberitahu kekurangannya. Akan lebih baik Bram mengetahui keadaan yang sebenarnya agar tidak ada kebohongan nantinya.
"Cacat?" tanya Bram.
__ADS_1
Naina mengangguk, memandangi Bram dengan air bening yang terus mengalir dari mata indah itu. "Aku tidak akan pernah bisa menjadi seorang Ibu, Bram," ucap Naina dengan suara gemetar.
Bram memejamkan mata beberapa detik mendengar perkataan Naina. Menghirup nafas dalam menenangkan hatinya.
"Sebesar itu hukuman atas kesalahan kita, Nai?" tanya Bram sendu menyentuh kedua bahu Naina yang terlapisi jilbabnya.
Badan Naina semakin bergetar karena tangisnya. Sentuhan itu masih terasa lembut setelah sekian lama.
Naina menggeleng. "Ini tidak seberapa dibandingkan penderitaan yang kita ciptakan untuk manusia baik seperti Dee dan Al, Bram. Bahkan kematianpun belum cukup rasanya untuk membayar dosa yang kita lakukan," ucap Naina.
"Kamu tahu, Bram. Anak kecil yang dulu aku siksa, kini tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan dan gagah, Bram," lanjut Naina bercerita.
"Sama tampan seperti Om Kakeknya," ucap Naina tersenyum.
"Om Kakek?" tanya Bram.
Naina mengangguk. "Kamu. Waktu kecil dia sering memanggilmu Om Kakek," ucap Naina.
Bram tersenyum dan mengangguk ketika mengingat Al kecil.
"Bram, maukah kamu menerima kekuranganku, Bram?" ucap Naina berani.
Tidak ada yang salah bukan? Saat seorang wanita menyatakan hati dan perasaannya, bukan berarti dia seorang yang rendah dan hina. Tapi dia hanya menunjukan isi hatinya daripada memendam yang dapat menimbulkan sakit hati untuk kesekian kalinya. Lebih baik sakit sekali daripada berkali-kali karena penyesalan.
Senyum bahagia terbit di bibir Naina. Tangis haru itu tidak dapat lagi dia tahan. "Hiks, terimakasih, Bram," ucap Naina bahagia.
Dengan air mata di pipinya Bram mengangguk. "Kembali kasih, Nainaku," jawab Bram.
Ingin sekali Bram memeluk tubuh yang bergetar itu. Tapi dia urungkan untuk menjaga kesucian wanitanya. Begitu juga dengan Naina. Pelukan hangat dari seorang yang dulu memberinya kebahagiaan yang tulus namun disia-siakan. Naina sangat merindukan itu.
"Tidak ingin memelukku, Bram?" tanya Naina mengerjai Bram.
Bram menggeleng dan tersenyum. "Kulit kita akan bersentuhan saat kata sah menjadi awal hubungan kita, Nai," ucap Bram.
Naina tersenyum senang. Ternyata lelaki yang dulu penuh dosa sama sepertinya kini telah berubah menjadi lelaki yang sangat menjaga ketaatan pada Penciptanya.
Tanpa mereka sadari, Dee dan Bella menyaksikan semuanya. Dee dengan segala rasa penasarannya mengajak Bella untuk melihat apa yang terjadi. Dengan diam-diam mereka masuk dan berdiri di tepi pintu.
"Selamat kembali, Naina dan Om Bram," ucap Dee dengan senyum tulusnya. Nampak mata gadis itu sedikit bengkak karena ikut menangis haru melihat Naina dan Bram.
Begitu juga dengan Bella yang berdiri disebelah Dee. "Selamat, Bunda," ucap Bella.
__ADS_1
Naina tersenyum dan mengangguk mendengar Dee dan Bella.
"Bunda?" tanya Bram bingung ketika mendengar Bella memanggil Naina.
Naina beralih menatap Bram dan mengangguk. "Arabella Aruna Azzahra, putri angkatku, Bram," jawab Naina
Bram ikut tersenyum. "Tidak ingin memeluk Ayah dan Bunda?" ucap Bram merentangkan tangannya kepada Bella.
Bella melihat Dee meminta pendapatnya. Dee mengangguk. Setelah itu Bella berjalan dan memeluk lelaki yang akan menjadi Ayahnya itu.
Bella merasakan pelukan seorang Ayah. Batin Bella senang ketika memeluk Bram.
Naina dan Dee yang melihat itu ikut tersenyum senang.
"Sekarang Bella punya Ayah dan Bunda. Punya Umi juga," ucap Bella senang.
Mereka semua tertawa melihat tingkah Bella layaknya seorang anak kecil yang baru menyambut kedatangan Ayahnya setelah sekian lama gak bertemu.
Mereka semua sudah bahagia. Al juga sudah bahagia dengan masa depannya di Inggris. Kini tinggal aku yang harus menjadi manusia lebih baik agar masa depan indah itu segera datang. Batin Bella berharap yang terbaik untuk dirinya.
.....
Sedangkan di atas udara, melewati awan, langit biru sebagai atapnya, dua orang pemuda tampan dan seorang lelaki paruh baya nampak menikmati pemandangan Alam dari atas udara.
Senyum mengembang di bibirnya karena tujuannya tercapai walau harus dengan cara yang tak mudah.
Akhirnya restu itu aku dapatkan, Runa. Batin Al senang memandang jauh keluar jendela pesawat.
Ya, mereka adalah Al, Aska dan Bima. Mereka kembali ke Indonesia dengan jet pribadi milik Bima.
Aska yang melihat raut bahagia dari wajah sahabatnya ikut bahagia. Usaha kita nggak sia-sia, Al. Pengorbanan Lo benar-benar membuahkan hasil. Batin Aska.
Bima yang duduk sendiri di depan Al dan Aska memandangi foto dua orang wanita yang sangat berarti dihidupnya itu. Aku akan segera memberi kebahagiaan untuk anak kita, istriku. Dan untuk anak Papa, semoga kamu masih mau menerima lelaki bajingan ini yang sayangnya adalah Papa kamu, Nak. Batin Bima sendu.
Tidak dengan mudah Al mendapat restu Bima. Tapi dengan segala keyakinan dan kepercayaan terhadap Allah, Al bisa melewati semuanya. Dan sekarang dia akan kembali untuk menjemput masa depannya.
......................
Mau tahu gimana perjuangan Al? Nanti akan aku ceritakan lewat Flashback ya. Jadi jangan pindah haluan dulu.
Jangan lupa kasih aku like, komentar, dan votenya juga yaa. Mau kasih bunga juga nggak papa. Bukti kalian cinta aku, karena Aku sayang kalian semua 🌹🌹😚🤗
__ADS_1
Terimakasih selalu nungguin part demi part novel ini ya, jangan bosan-bosan 🤗🤗🌹