
🌹HAPPY READING🌹
DEG
Bruk
Ponsel dan file yang ada di genggaman Dee terjatuh ketika mendengar perkataan lelaki paruh baya tersebut. Semua yang ada di sana mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara benda jatuh.
DEG
Kini giliran mereka semua yang kaget, terkejut dengan detak jantung yang sudah tak karuan. Mata mereka membola melihat Dee yang berdiri mematung di sana. Tapi tidak dengan Kiyai Rozak, dia tampak biasa karena belum mengetahui siapa Dee.
Dengan perlahan dan sekuat tenaga, Dee berjalan mendekati mereka semua. Ibra yang melihat istrinya sontak berdiri. Diikuti Kevin, Wijaya dan Sofia.
"Mas," panggil Dee lirih. "Apa yang Adek dengar tadi benar?" lanjut Dee bertanya pada Ibra.
Ibra menggeleng lemah. "Sayang," ucap Ibra.
"Jawab Adek, Mas. Apa itu benar?" tanya Dee sekali lagi.
"Dee, duduk dulu, Nak," ucap Wijaya.
"Mas jawab Adek, Mas?" tanya Dee pada Ibra tanpa mengharukan Wijaya.
"Dee, ayo duduk dulu, Dee," ucap Kevin.
Ibra hanya dia tidak menjawab. Dia tidak berani berkata jujur pada istrinya.
"Maaf, kamu siapa?" ucap Kiyai Rozak ramah kepada Dee.
Dee menoleh kepada Kiyai Rozak yang masih duduk. "Sebelumnya saya ingin tahu, Bapak siapanya Ibrahim?" tanya Dee kepada Kiyai Rozak.
"Saya mertuanya," jawab Kiyai Rozak. Mereka semua memejamkan mata mendengar jawaban Kiyai Rozak. Tidak kuat melihat bagaimana reaksi Dee.
Duar
Runtuh sudah pertahanan Dee. Jadi benar apa yang dia dengar, bahwa Ibra memiliki istri lain. Air matanya mengalir tanpa bisa dia tahan.
"Mas," ucap Ibra sendu kepada Dee.
"Apa disini hanya aku yang tidak tahu?" tanya Dee memandang mereka semua.
__ADS_1
Mereka semua hanya diam menunduk. Tidak berani menatap mata Dee. Mereka semua tahu, ini adalah kesalahan besar yang mereka lakukan.
"Sayang, dengar penjelasan aku dulu, ya," ucap Ibra lembut mencoba mendekati Dee.
Dee mundur dan mengangkat tangan agar Ibra tidak mendekatinya.
"Ini sebenarnya ada apa?" tanya Kiyai Rozak bingung dengan keadaan.
Dee menoleh kepada Kiyai Rozak. "Saya Haidee Tsabina, istri dari Ibrahim Rubino Hebi. Ibu dari anaknya. Laki-laki yang anda sebut sebagai menantu anda, Pak," ucap Dee memandang sendu Ibra. Ibra yang melihat tatapan Dee menggelengkan kepala lemah dengan mata yang sudah memerah.
"Jangan mengada-ada, istri Ibra itu anak saya, Sofia," ucap Kiya Rozak menunjuk Sofia.
"Kalau Bapak tidak percaya, silahkan tanyakan kepada menantu Bapak. Atau tanyakan kepada Besan Bapak," ucap Dee melihat Wijaya dan Ibra secara bergantian dengan pandangan terlukanya.
"Benarkan itu, Ibra?" tanya Kiyai Rozak.
"Benar Kiyai. Dee istri saya," jawab Ibra pasti.
"Bagaimana mungkin?" tanya Kiyai Rozak tidak percaya.
"Saat menikahi Sofia, sayang sudah memiliki istri, Kiyai," jawab Ibra.
"Apa kamu mengandung anak suamiku, Sofia?" ucap Dee bertanya kepada Sofia yang sedari tadi hanya menunduk.
Sofia memberanikan diri mengangkat kepalanya menatap Dee. "Maaf, Dee," ucap Sofia dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Dee terhuyung mendengar perkataan Sofia.
"Sayang!"
"Dee!"
Teriak Ibra, Wijaya dan Kevin Yanga melihat Dee hampir terjatuh. Tapi Dee segara mengangkat tangannya menahan agar mereka tidak mendekatinya.
"Kenapa kamu melakukan ini, Mas?" tanya Dee kepada Ibra.
"Aku bisa jelasin semuanya, Sayang," ucap Ibra memohon.
"Apa aku kurang untuk kamu, Mas?" ucap Dee dengan suara bergetar.
Ibra menggeleng. "Enggak gitu, Sayang," jawab Ibra.
__ADS_1
"Lalu bagaimana? Kapan kamu menikahi Sofia, Mas?" tanya Dee mencoba menguatkan dirinya.
Ibra hanya diam tidak menjawab Dee.
"Jawab, Mas! Kapan Mas menikahi Sofia?" tanya Dee tegas.
Ibra tetap bungkam.
"MAS JAWAB?" teriak Dee kepada Ibra.
Ibra memandang sendu Dee. "Enam bulan yang lalu," jawab Ibra pelan.
Dee semakin terluka. Itu artinya Ibra menikah lagi saat dia masih dalam penjara. Apa dia benar-benar terlupakan. Apa dia benar-benar tidak berharga?
Dee memandangi Ibra. Air matanya sudah mengalir deras.
"Dee duduk dulu, Nak," ucap Wijaya mencoba membujuk Dee. Dee hanya diam. Bahkan untuk berdiri saja saat ini dia sudah sangat tidak bertenaga. Tapi dia memaksakan dirinya. Kekecewaan memenuhi hatinya.
"Nak, semua bukan salah Ibra. Disini Papa yang salah, Nak. Maafkan Papa," ucap Wijaya memohon kepada Dee. Setelah itu Wijaya menceritakan semuanya kepada Dee tanpa ada yang terlewat. Mereka semua diam mendengarkan Wijaya.
"Sudah selesai?" tanya Dee ketika Wijaya berhenti bicara.
Wijaya mengangguk. "Maafkan Papa, Nak. Disini Papa yang salah. Semua karena kecerobohan Papa," ucap Wijaya dengan mata yang sudah memerah.
"Apa tidak ada niat Papa untuk mencegah anak Papa untuk tidak menikah lagi? Dia sudah memiliki istri, bahkan dia memiliki seorang anak yang sudah berumur empat tahu. Apa Papa tidak berpikir bagaimana kedepannya? Papa boleh tidak memikirkan perasaan Dee. Tapi bagaimana dengan perasaan anak Dee jika mengetahui bahwa Abi yang selama ini dia banggakan, Abi yang selama ini dia jadikan panutan, Abi yang selama ini dia jadikan tempat berlindung tenyata melakukan sebuah pengkhianatan dengan membuatnya memiliki seorang ibu tiri. Apa Papa tidak memikirkan perasaan anak Dee?" ucap Dee kepada Wijaya.
Wijaya hanya diam. Dia tahu dia sangat salah disini. Dia tidak tahu harus berkata apalagi sekarang. Hanya kata Maaf yang selalu terucap dari mulutnya.
Dee beralih menatap Kevin. "Kak Kevin," panggil Dee yang berhasil membuat Kevin menoleh kepadanya.
"Kak Kevin menyaksikan semuanya, bukan? Kenapa Kak Kevin tidak mencegahnya sama sekali? Walaupun bukan untuk Dee, setidaknya untuk menjaga perasaan anak Dee, Kak. Kenapa Kak Kevin meniatkan kenyataan menyakitkan ini terjadi? Kemana Kak Kevin yang selalu memberikan solusi saat itu? Kemana Kak Kevin yang akan selalu membantu Dee mempertahankan rumah tangga Dee? Kemana Kak Kevin yang selalu menyayangi Al, Kak? Kemana?" ucap Dee menangis kepada Kevin.
Kevin bungkam. Dia tidak sanggup melihat Dee seperti ini. Dia sudah menganggap Dee seperti adiknya sendiri. Dia mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa mencegah Ibra agar tidak melakukan pernikahan itu. Harusnya saat itu dia yang menawarkan diri untuk menggantikan Ardi sebagai mempelai Sofia. Penyesalan hinggap di hati Kevin sekarang.
"Dan untuk Mbak Sofia. Kita sesama wanita, bukan? Apa pantas seorang wanita menyakiti hati wanita lainnya?" tanya Dee beralih kepada Sofia. Sedangkan Sofia yang ditanya hanya diam menunduk.
"Anak saya tidak melukai wanita manapun," ucap Kiyai Rozak menjawab pertanyaan Dee yang diajukan kepada Sofia.
......................
Terimakasih Kiz ucapkan karena selalu mengikuti novel receh Kiz teman-teman. Like, vote dan komentar kalian sangat berguna bagi Kiz. Pasti indah banget kalo semua yang baca kasih Like. Semoga hati kalian terketuk untuk kasih Like ya teman-teman. Kiz doain murah rezeki dan cepat dapat jodoh bagi yang jomblo (kayak Kiz), bagi yang udah dapat jodoh biar makin kuat cintanya, Aamiin. Kiz sayang kalian 🌹🌹😍
__ADS_1