Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 108


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Satu persatu kaki Al melangkah menaiki tangga menuju panggung. Kini, Al sudah ikut berbaris bersama pemenang yang lainnya.


"Baik lah, sekarang kita sudah mendapatkan sang juara puncak kita. Untuk itu, kami meminta kepada masing-masing pemenang untuk menceritakan maksud dibalik lukisan yang mereka buat. Dimulai dari pemenang dengan kategori perpaduan warna terbaik. Silahkan," ucap Pembawa Acara.


Setiap pemenang kini sudah memegang ke dua hasil lukisan mereka. Al berdiri di paling ujung panggung yang berlawanan dengan tempat Ibra berdiri. Mata Ibra tidak lepas dari Al yang memeluk lukisannya. Sedangkan Al hanya melihat lurus ke depan menghindari tatapannya dengan Ibra.


Satu persatu pemenang menceritakan maksud dari lukisan mereka. Suara tepuk tangan dan decakan kagum keluar dari mulut penonton. Kini giliran Al yang menyampaikan isi lukisannya. Sang pemenang itu maju ke depan dan berdiri di tengah panggung.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabaraka tuh," ucap Al mengawali pembicaraannya dengan salam.


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabaraka tuh tuh," jawab semua orang yang ada di sana.


Al mengangkat lukisan pertamanya yang bertema Pahlawan. Saat Al membalikkan lukisannya dan memperlihatkan kepada semua orang yang ada di bawah panggung, semua mata tertuju fokus pada lukisan itu. Nampak dalam lukisan itu seorang guru yang sedang mengajari muridnya.


"Lukisan ini Al persembahkan untuk guru Al tercinta," ucap Al memandang Pak Anton yang sudah berdiri dari duduknya di bangku belakang.


Pak Anton yang mendengar perkataan Al tersenyum senang dan mengacungkan jempolnya kepada anak tersebut.


"Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Tapa dia, kita bukan apa-apa. Tanpa guru, Pak Presiden tindak mungkin bisa memimpin negara dengan hebat. Tanpa guru, tidak akan ada orang-orang hebat. Jadi jangan bangga dengan jabatan mu jika kamu melupakan jasa seorang guru," ucap Al.

__ADS_1


Mereka semua yang mendengar itu ikut terharu.


"Jangan marah jika guru menasehati, karena nasehatnya adalah ilmu yang paling berharga. Jangan marah jika guru memukul kita, barangkali ada ucapan dan sikap kita yang sudah melukai hatinya. Bahkan orang dulu belajar lebih keras dari kita. Mereka bahkan di beri rotan oleh guru, tapi mereka tidak mengeluh karena itu demi kebaikan mereka. Dan lihatlah, banyak orang dulu yang lebih sukses dari anak sekarang yang jika dimarahi sedikit, langsung mengadu pada orang tuanya. Al juga begitu, tapi Umi selalu bilang, tidak ada guru yang menginginkan keburukan untuk muridnya. Terimakasih Guru, karena engkau menjadikan kami manusia yang sesungguhnya," ucap Al menutup ucapannya. Suara tepuk tangan terdengar riuh. Bahkan Pak Anton yang berada di bangku belakang matanya sampai berkaca-kaca. Sungguh luar biasa muridnya itu.


"Wah, penuturan yang sangat luar biasa. Anak usia tujuh tahun seperti ini bisa memberikan pelajaran berharga bagi semua orang. Sekarang silahkan sebutkan maksud lukisan mu yang bertema bebas, Al," ucap Pembawa Acara kepada Al.


Al mengangguk. Dia meletakkan lukisan pertamanya dan setelah itu bergantian mengangkat lukisan keduanya. Dengan perlahan, Al membalikkan lukisan tersebut dan memperlihatkannya kepada semua orang.


DEG


Jantung Ibra berdetak kencang. Mata Ibra memanas melihat lukisan anaknya di layar besar yang terpampang di sisi kanan dan kiri panggung. Itu adalah sebuah lukisan dimana seorang Ibu dengan kerudung dikepalanya sedang berjuang melahirkan seorang anak, dan di temani oleh seorang anak lelaki kecil. Dalam lukisan itu tampak tangan mungil anak laki-laki itu menggenggam tangan Ibunya yang sedang berjuang melahirkan. Decak kagum keluar dari mulut semua orang yang melihat lukisan tersebut.


Al mengalihkan pandangannya kepada Ibra dan menatap manik mata Ibra dengan sangat dalam. Setelah itu Al kembali melanjutkan perkataanya tanpa mengalihkan pandanganya dari Ibra. "Ini adalah lukisan dimana seorang anak laki-laki berusia lima tahun menemani Ibunya yang bertaruh nyawa untuk melahirkan adiknya. Tanpa ditemani seorang Ayah, anak laki-laki itu memberikan kekuatan kepada Ibunya. Hingga dengan mempertaruhkan nyawanya, anak itu berhasil lahir ke dunia dengan selamat tanpa cacat sekalipun," ucap Al memandang dalam manik mata Ibra. Seolah dia mengatakan bahwa ini adalah kesakitan yang dia lalui bersama Sang Ibu.


"Wah, lukisan yang sangat indah dan sempurna. Lukisan ini terasa nyata dan hidup. Apa ini adalah sebuah kisah nyata Al?" tanya Pembawa Acara kepada Al.


Al mengalihkan pandangannya kepada Pembawa Acara. "Ini nyata bagi mereka yang pernah mengalaminya, Kakak Pembawa Acara," jawab Al. Al tidak ingin mengatakan bahwa ini adalah kisah yang dia lalui sendiri. Karena itu akan mengundang banyak pertanyaannya nantinya. Anak ini benar-benar mengeluarkan apa yang ada dipikirannya dengan seoptimal mungkin, dan menyalurkannya melalui sebuah lukisan.


"Kakak Pembawa Acara, bolehkah Al mengatakan sesuatu lagi?" tanya Al dengan berani.


"Silahkan, Al," ucap Pembawa Acara tersebut sambil tersenyum ramah.

__ADS_1


Al kembali memandang Ibra sebelum berbicara. "Umur tidak menentukan seseorang menjadi dewasa. Tapi pengalaman, luka dan air mata mengajarkan kita semua untuk dewasa. Dari lukisan ini, Al ingin menyampaikan, bahwa seorang anak kecil pun bisa bertindak sebagai pelindung bagi Ibunya dan Malaikat bagi adiknya. Terimakasih," ucap Al mengakhiri perkataannya. Suara tepuk tangan dan sorakan kagum terdengar memenuhi ruangan. Anak berusia tujuh tahun itu memberikan banyak pelajaran kepada setiap orang yang hadir di sana.


"Wah Al, kau anak yang sangat luar biasa. Orang tuamu mendidik mu dengan baik, Al," ucap Pembawa Acara mewakili semua penonton.


"Lebih tepatnya Umi yang mengajari Al, Kakak Pembawa Acara," ucap Al.


Sakit! Itu lah yang dirasakan Ibra. Apakah ini dulu yang dirasakan Dee saat Al dan dia tidak menganggap keberadaan Dee? Apakah harus sesakit ini? Batin Ibra bertanya-tanya.


Haruskah sesakit ini yang Abi terima, Nak? Batin Ibra memandangi Al.


Air mata Ibra sudah tak terbendung lagi. Anak dan Ayah itu saling bertukar pandangan. Ibra dengan tatapan Iba dan memohonnya, sedangkan Al dengan tatapan kecewanya.


Hati Al juga sakit mengatakan perkataan buruk kepada Abinya, tapi semua ini dia lakukan biar Abinya mengetahui bagaimana luka yang Abinya berikan akibat perbuatannya.


Alan, Agam dan Kevin yang menyaksikan itu semua dari pintu masuk hanya bisa diam. Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk saat ini. Kecuali, menyaksikan bagaimana Al mengeluarkan segala isi hatinya di atas panggung lewat lukisannya.


......................


Bayar Kiz dengan like dan komentar nya yaa, jangan lupa vote juga. Kalau ada rezeki lebih kasih tip yaa 🌹


Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"

__ADS_1


__ADS_2