Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 79


__ADS_3

Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍


Jangan lupa komentarnya 💬


Jangan lupa vote nya juga yaa


Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini


🌹HAPPY READING🌹


Hari ini adalah hari dimana Al akan mulai bersekolah di tempat yang baru. Waktu menunjukan pukul enam pagi. Mata Dee terus menyaksikan dua orang lelaki berbeda usia itu mondar mandir mempersiapkan keperluan mereka masing-masing. Dia benar-benar tidak diperbolehkan untuk bergerak oleh Ibra.


"Mas, biar Adek bantu, ya," ucap Dee seraya bangun dari duduknya.


"Eits, nggak usah Sayang. Aku sama Al bisa kok sendiri. Iya kan, Boy?" ucap Ibra melarang Dee untuk bergerak sambil membantu Al mengenakan seragam barunya. Ibra sendiri masih menggunakan handuk yang melilit indah di pinggangnya.


Al mengangguk patuh, "Iya, Abi," ucap Al.


"Mas, membantu Mas sama Al nggak akan buat Adek capek," ucap Dee kepada Ibra. Dia sungguh bosan jika setiap hari hanya rebah, rebah dan rebah. Dia juga butuh bergerak.


"Tidak berarti tidak, Sayang!" ucap Ibra tegas melarang Dee.


"Mas nyebelin!" ucap Dee ketus. Dia merebahkan diri di kasur dan menutupi seluruh badannya. Biasanya dia akan menjadi istri yang sangat penurut kepada suaminya. Tapi kini dia ingin sekali memberontak dan selalu mencari perhatian Ibra.


Ibra menghela nafas kasar melihat sikap istrinya. "Al turun kebawah duluan, ya. Sarapan duluan sama Kakek. Abi siap-siap dulu. Nanti Abi akan menyusul," ucap Ibra setelah selesai membantu Al.


"Iya, Abi," jawab Al patuh sambil mengambil tas sekolahnya di atas kasur Dee dan menyandang ya ke bahu.


"Al kebawah duluan, Abi," ucap Al pamit.


"Iya. Hati-hati turun dari tangga," ucap Ibra memperingati Al.


Al mengangguk patuh, dan setelah itu dia berlalu keluar dari kamar Abi dan Uminya.


Ibra berjalan mendekati Dee. Dia melihat tubuh istrinya yang bergetar. Ibra yakin saat ini istrinya itu sedang menangis.


"Sayang," panggil Ibra lembut kepada Dee.


"Sayang, jangan ngambek, ya. Jangan nangis terus," ucap Ibra membuka selimut yang menutupi tubuh Dee.

__ADS_1


Dee tetap tidak mendengarkan Ibra. Wanita itu menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Sayang, yakin nggak mau bantu Mas buat siap-siap? Ya sudah kalau gitu Mas siap-siap sendiri," ucap Ibra.


Belum sempurna Ibra berdiri, sebuah tangan menahan tangannya. "Biar Adek bantu," ucap Dee berbalik menghadap Ibra. Pipi wanita itu sudah basah karena air mata. Dia benar-benar sangat cengeng sekarang.


Ibra tersenyum, dia berjongkok di depan Dee. Tangan Ibra bergerak untuk menghapus air mata di pipi istrinya.


"Jangan sedih-sedih ya. Nanti anak kita ikutan sedih. Aku melarang kamu karena aku sayang kamu. Aku nggak mau kamu dan anak kita kenapa-napa, Sayang. Jadi jangan nangis lagi, ya," ucap Ibra lembut.


Bukannya berhenti, Dee malah semakin mengencangkan tangisnya. "Hiks, maaf kalau Adek kekanakan. Adek juga nggak tahu kenapa bisa cengeng banget kayak gini, hiks," ucap Dee disela tangisnya.


"Nggak apa, mungkin itu pengaruh kehamilan kamu, Sayang. Sekarang bantu pakein kancing kemejanya, ya," ucap Ibra mengambil kemeja yang ada di kasur.


Dee mengangguk senang. Dengan semangat Dee membantu mengancingkan kemeja suaminya. Setelah selesai dengan semuanya, Ibra dan Dee turun untuk bergabung dengan Al dan Wijaya di meja makan untuk sarapan.


"Al, ingat pesan Umi, ya. Jangan kemana-mana sebelum Abi atau Kakek jemput. Jangan terima apapun dari orang yang tidak di kenal. Jangan jajan sembarangan dan harus makan bekal yang udah di siapin di tas, ya," ucap Dee sebelum melepas kepergian anak dan suaminya.


"Iya, Umi," jawab Al patuh.


"Ya sudah, kalau gitu aku sama Al berangkat dulu, Sayang. Kamu hati-hati di rumah. Dan jangan mengerjakan apapun. Jangan sampai kelelahan, jangan naik turun tangga terus, ya," kini giliran Ibra yang memperingati istrinya.


"Iya, Suamiku," jawab Dee dengan senyum manisnya. Dee menyalami tangan Ibra dan dihadiahi kecupan manis di dahi Dee. Setelah itu gantian Al yang menyalami Dee. Dee mencium seluruh wajah anaknya sebelum Al pergi sekolah. Kemudian Ibra dan Al masuk kedalam mobil.


"Assalamu'alaikum," ucap Al dan Ibra serentak saat sudah berada di dalam mobil.


.....


Saat ini Ibra sudah duduk di kursi kebesarannya. Suara pintu terbuka mengalihkan fokus Ibra.


"Ib," panggil Kevin memasuki ruangan Ibra. Kevin langsung mendudukkan badannya di sofa.


"Kenapa Lo?" tanya Ibra melihat Kevin yang masuk dengan wajah lusuhnya.


"Naina masuk rumah sakit, Ib," ucap Kevin memberitahu Ibra.


Ibra menghentikan kegiatannya dan memandang lekat Kevin. "Maksud Lo?" ucap Ibra meminta penjelasan.


"Tadi Agam kasih tahu gue. Naina di bawa ke rumah sakit karena asam lambung nya kumat. Dia tidak makan beberapa hari di penjara," jawab Kevin.


"Kenapa bisa nggak makan?" tanya Ibra lagi.

__ADS_1


Kevin menggeleng, "Nggak tahu juga. Naina lebih banyak diam dan menyendiri. Dan tadi pagi dia tidak sadarkan diri di bilik tahanannya."


"Nanti kita ke sana," ucap Ibra.


Kevin mengangguk menyetujui perkataan Ibra. Maksudnya mengatakan ini kepada Ibra juga untuk mengajak Ibra melihat keadaan Naina.


.....


Sedangkan di sekolah barunya, Al memiliki teman baru. Seorang anak kecil cantik dan tampan yang kini duduk di depan Al.


"Hai, nama kamu siapa?" ucap anak perempuan tersebut sambil mengulurkan tangannya kepada Al.


Al tersenyum dan dengan senang hati menerima ukuran tangan anak perempuan itu. "Namaku Alballa "


"Alballa?" beo anak perempuan tersebut.


Al berdecak, anak perempuan itu salah menyebutkan namanya. "Al-bal-la," ucap Al mengeja namanya.


"Albarra?" ucap anak laki-laki yang duduk di sebelah anak perempuan tersebut.


Al tersenyum dan mengangguk membenarkan perkataan teman barunya itu.


"Nama ku Kenzo, dan ini kembaran aku namanya Kinzi," ucap Kenzo kepada Al.


"Nama kalian hampir sama?" tanya Al heran.


"Iya, karena kami kembar," jawab Kinzi senang.


Al memandang lekat wajah Kinzi. Anak itu sangat cantik dengan jilbab sekolahnya yang terpasang rapi. Di sekolah baru Al, siswi dibebaskan untuk memakai kerudung atau tidak. Karena disini juga terdapat sebagain siswa yang beragama non muslim. Sekolah Al yang sekarang lebih besar dari sekolahnya yang kemarin. Dan anak-anaknya juga lebih ramah.


Wah, Kinzi cantik sekali. Sama sepelti Umi. Dia sepelti bidadali sulga. Ucap Al dalam hati melihat wajah Kinzi yang sangat cantik seperti boneka yang dipakaikan Jilbab.


"Kinzi, kamu cantik," ucap Al.


Kinzi malu, dengan senyum manisnya anak itu menjawab perkataan Al. "Terimakasih Albarra," ucap Kinzi malu.


"Dasar centil," cibir Kenzo kepada saudari kembarnya. Kinzi hanya menjulurkan lidahnya kepada Kenzo mengejek saudara kembarnya.


Sangat lucu. Batin Al melihat tingkah Kinzi dan Kenzo. Dia senang bisa mendapat teman yang mau berteman dengannya. Karena di sekolah yang lama, banyak anak-anak yang menjauhinya.

__ADS_1


......................


Author sayang kalian semua. Tidak bosan author untuk ucapin terimakasih karena dengan setia dan sabar nungguin update novel ini. Jangan lupa kasih vote dan tip nya ya. Semoga rezeki kita semakin berlimpah 😘🌹


__ADS_2