Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 120


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Berikan aku mahar dari hasil keringatmu. Kata-kata Dee terus berputar dalam benak Ibra. Dia harus bekerja apa?


Saat ini, Ibra sedang berada di Toko Dee. Setelah berbicara dengan Dee, Ibra tidak langsung kembali pulang dan memutuskan untuk melihat-lihat isi Toko Dee. Tapi pikirannya sekarang ini terganggu dengan permintaan Dee.


"Pak," panggil Joni menepuk bahu Ibra yang duduk melamun di depan Toko.


"Eh, iya," jawab Ibra dengan senyum ramahnya.


"Saya nggak nyangka ternyata Bapak itu mantan suaminya Buk Bos," ucap Joni ikut duduk di sebelah Ibra.


"Memangnya kenapa kalau saya mantan suaminya Bos kamu?" tanya Ibra heran.


Joni menggeleng. "Tidak heran lagi kenapa anak Buk Bos bisa cantik dan ganteng, turunan Bapak dan Mak nya," jawab Joni.


"Kamu bisa saja, Joni," ucap Ibra tertawa pelan.


Setelah itu, Joni dan Ibra sama-sama terdiam. Joni dapat melihat bahwa ada sesuatu yang bersarang di pikiran Ibra.


"Lagi mikirin apa, Pak?" tanya Joni.


Baru Ibra akan menjawab pertanyaan Joni, suara mungil Kina menghentikannya.


"Abi," teriak Kina yang datang berlari dari dalam Toko. Diikuti Al dari belakang.


"Jangan lari-lari, Nak," peringat Ibra.


Kina hanya tertawa polos memperlihatkan gigi susunya yang putih bersih.


Ibra mengangkat Kina ke pangkuannya, sedangkan Al duduk di sebelah Ibra.


"Wah, Kina udah punya Abi, cie," ucap Joni menggoda Kina.


"Iya, Ina udah puna Abi cetalang. Uda Joni Talah danteng cama Abi Ina," ucap Kina memeluk erat Ibra.


"Ya, ya. Udah Joni akui itu," ucap Joni tidak bisa mengelak. Bagaimana lagi, Ibra memang tampan.


Al hanya tertawa melihat wajah Joni yang kesal karena di ejek oleh Kina.


"Kamu sudah menikah Joni?" tanya Ibra.


Joni menggeleng. "Saya maunya sama Buk Bos, Pak. Eh Bapak datang-datang ambil jodoh saya. Gimana mau nikah," ucap Joni.


Plak


Tangan mungil Kina memukul bahu Joni. Tidak sakit, tapi Joni ingin membuat anak itu bangga dengan ringisan nya.


"Umi cuma buat Abi, Uda Joni. Uda Joni cali yan lain," ucap Kina kesal.

__ADS_1


"Mau sama Umi berat loh Uda Joni tantangannya," ucap Al.


"Apa Al? Biar Uda bisa bersaing dengan Abi mu," ucap Joni melirik Ibra.


"Tanya Umi sendiri, Uda," jawab Al.


"Kalau ujung-ujungnya tanya Buk Bos ngapain ngomong tadi," ucap Joni kesal.


Al hanya tersenyum tanpa dosa melihat wajah kesal Joni.


Saat sedang asik berbicara, suara Dee terdengar memanggil Kina.


"Dek, Umi panggil," ucap Al kepada Kina.


Kina mengangguk dan turun dari pangkuan Ibra. "Ina te dalam dulu, Abi," ucap Kina kepada Ibra.


"Iya, Nak," ucap Ibra mengusap lembut kerudung yang melekat di kepala Kina.


Setelah kepergian Kina, hanya tinggal Ibra, Al dan Joni berdua di luar. Tampak anak-anak bermain bersama di lapangan yang tidak jauh dari rumah Dee.


"Kamu nggak ikut main sama mereka, Boy?" tanya Ibra kepada Al.


"Capek, Abi," jawab Al.


Ibra membawa tubuh Al ke atas pangkuannya. Sama sekali tidak berat, karena bagi Ibra Al masih anak lelaki kecilnya. Joni yang melihat itu tersenyum senang, karena Al dan Kina memiliki Abi yang menyayangi mereka.


"Lingkungan disini bagus untuk anak-anak, ya Joni," ucap Ibra kepada Joni.


Ibra mengangguk menyetujui perkataan Joni. "Oiya, Joni, apa benar kamu belum berkeluarga?" tanya Ibra sambil mengusap rambut Al yang duduk di pangkuan Ibra.


"Belum, Pak. Saya masih dua puluh tahun, terlalu muda untuk menikah," ucap Joni.


"Kamu tahu Joni, menikah bukan masalah umur. Seseorang pernah bilang kepada saya, bahwa umur tidak menentukan orang untuk dewasa," ucap Ibra.


Al menengadahkan kepalanya mendengar perkataan Abinya. Bersamaan dengan Ibra yang juga menatap Al. Itu adalah kata-kata yang dia sampaikan waktu acara lomba.


Ibra mencium lembut kening Al yang tengah melihatnya. Dalam hati Al bersorak senang, ada kebahagiaan sendiri untuknya. Dan semua itu tak lepas dari pandangan Joni.


Anak dan Ayah yang sangat serasi. Batin Joni senang.


"Jadi menikah bukan soal umur Joni, jika kamu siap dan sudah bersikap dewasa, jodoh mu sudah di depan mata kenapa tidak. Daripada kamu berbuat dosa," lanjut Ibra menatap Joni.


"Iya, Pak. Nanti kalau sudah ada jodohnya, pasti saya akan menikah," ucap Joni.


"Abi, Al mau main sama teman-teman dulu," ucap Al langsung turun dari pangkuan Ibra ketika melihat Aska yang bermain bola dengan teman-teman lainnya.


"Hati-hati, Boy," ucap Ibra sedikit berteriak saat melihat Al yang berlari kelapangan.


"Bapak sangat menyayangi Al dan Kina, ya Pak," ucap Joni tersenyum.

__ADS_1


Ibra mengangguk. "Mereka nafas saya, Joni," ucap Ibra sendu.


Joni langsung menoleh kepada Ibra. "Pak, kalau boleh saya tahu, kenapa Bapak dan Buk Bos bisa pisah? Apa Bapak tidak merasa rugi meninggalkan Buk Bos yang luar biasa seperti itu?" tanya Joni sedikit penasaran. Jiwa kepo nya meronta-ronta untuk bertanya.


Ibra tertawa sumbang. "Semua karena kebodohan saya, Joni. Hingga wanita yang saya cinta dan sayangi harus menerima pengalaman buruk dimasa lalunya," ucap Ibra sendu sambil memandang Al yang asik bermain bola dengan temannya.


"Kamu mungkin melihat saya adalah lelaki sempurna, Joni. Tapi, apa kamu tahu? Hati saya mengutuk diri saya sendiri, Joni," lanjut Ibra.


"Maksud Bapak?" tanya Joni penasaran.


"Jika kamu sudah berumah tangga, maka kamu akan mengerti dan mengalami segala yang namanya ujian itu. Tapi pesan saya, jangan sampai hilang kepercayaan dan kejujuran dalam ibadah yang kamu lakukan. Karena dengan itu, cinta akan lebih kuat dan rumah tangga akan terasa lebih indah, Joni," ucap Ibra.


Joni mengangguk menyetujui perkataan Ibra. "Wah, sepertinya saya harus berguru agar jadi suami yang baik sama Bapak," ucap Joni.


"Berguru kepada Rasulullah Joni, jangan kepada saya. Nanti kamu hancur dan berantakan," ucap Ibra tersenyum kecut mengingat kebodohannya.


"Oiya, Joni, bisakah kamu membantu saya?" lanjut Ibra menghentikan kegiatan Joni sepeti orang yang sedang berfikir keras.


"Membantu apa, Pak?" tanya Joni.


"Pekerjaan apa yang bisa saya lakukan disini agar bisa dapat uang, Joni?" tanya Ibra.


Joni tercengang, bagaimana mungkin seseorang seperti Ibra dengan barang bermerek yang melekat indah di tubuhnya meminta pekerjaan.


"Bukankan Bapak sudah memilki pekerjaan di Ibu Kota?" tanya Joni.


Ibra mengangguk. "Tapi untuk sekarang saya ingin melakukan pekerjaan sebagai orang biasa," ucap Ibra.


"Em ... Pekerjaan disini sulit di cari, Pak. Bapak bisa jadi kuli bangunan misalnya. Atau Bapak bisa jadi tukang ojek. Atau Bapak juga bisa bekerja disini membantu Buk Bos," ucap Joni.


"Saya ingin bekerja dengan hasil keringat saya sendiri, bukan gaji atau upah dari wanita yang saya cintai," ucap Ibra.


"Jadi kuli bangunan saja, Pak. Dekat sini banyak orang lagi bangun-bangun perumahan, pasti mereka butuh pekerja," jawab Joni.


"Apa itu bisa menghasilkan banyak uang dalam waktu satu bulan?" tanya Ibra. Satu bulan adalah waktu yang ditargetkan Ibra untuk mengumpulkan uang sebagai mahar menikahi Dee dengan jumlah yang sudah dia targetkan.


"Saya nggak tahu juga, Pak. Saya nggak pernah jadi kuli. Tapi setahu saya, gaji kuli disini seratus lima puluh ribu perharinya," ucap Joni.


Ibra tampak mengangguk mendengar jawaban Joni. Apapun akan dia lakukan untuk Dee.


"Kalau boleh saya tahu emang untuk apa Bapak mencari uang dengan susah payah, padahal Bapak mempunyai perusahaan besar di Ibu Kota," ucap Joni lagi-lagi dengan jiwa kepo nya.


"Untuk mahar menikahi Buk Bos kamu, Joni," jawab Ibra tersenyum.


"Berikan seperangkat alat sholat saja, Pak. Bapak kerja seminggu pasti sudah dapat dan bisa langsung nikahi Buk Bos," celetuk Joni.


Ibra menggeleng. "Wanita saya memang tidak meminta jumlah banyak Joni, dia hanya meminta usaha saya untuk mendapatkan maharnya. Tapi sebagai lelaki, saya ingin memberikan mahar terbaik bagi wanita saya."


......................

__ADS_1


Jangan lupa follow Instagram aku juga @yus_kiz


Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"


__ADS_2