
🌹HAPPY READING🌹
Pagi ini, Naina dan Bella sudah bersiap-siap untuk pergi ke Pesantren.
"Wah, anak Bunda cantiknya," ucap Naina takjub melihat Bella menggunakan jilbab instan miliknya.
Bella tersenyum senang. "Terimakasih jilbabnya, Bunda," ucap Bella tulus.
Nana tersenyum dan mengangguk. Tangannya bergerak membenarkan jilbab Bella yang sedikit tidak lurus. "Semakin cantik," ucap Naina selesai dengan kegiatannya.
"Pergi sekarang, Bunda?" tanya Bella semangat.
"Ayo, Nak," ucap Naina.
Mereka keluar rumah dengan senyum bahagianya. Akhirnya keinginan Naina untuk untuk menggunakan jilbab dapat dia penuhi sekarang.
Dua puluh menit berjalan kaki, Bella dan Naina sampai di Pesantren. Ada sedikit rasa lelah dirasakan Bella, tapi itu tidak lebih berarti apa yang dia dapat hari ini.
"Assalamu'alaikum, Ustazah," ucap Naina ketika mereka bertemu dengan salah satu Ustazah senior yang sering membimbing Naina.
"Waalaikumsalam, Naina. Wah, siapa gadis cantik ini, Nai?" tanya Ustazah lembut memandang Bella.
"Dia Bella, Ustazah. Anak saya," ucap Naina.
"Anak?" tanya Ustazah bingung sekaligus terkejut. Karena setahunya, Naina belum pernah menikah.
"Nanti akan saya jelaskan, Ustazah," ucap Naina.
Ustazah Arum mengangguk. "Kalau begitu kita ke rumah dulu, yuk," ajak Ustazah Arum kepada Naina dan Bella.
Naina mengangguk. Mereka bertiga berjalan beriringan menuju kediaman Ustazah Arum, sekaligus istri dari seseorang yang dipercaya menjadi kepala pesantren tersebut.
Lima menit berjalan, kini mereka bertiga sudah sampai di rumah Ustazah Arum.
"Silahkan masuk, Nai, Bella," ucap Ustazah Arum lembut.
Naina dan Bella mengangguk, kemudian mereka duduk bersama diruang tamu.
"Nai, saya panggil Bapak dulu, ya," ucap Ustazah Arum meminta izin untuk memanggil suaminya.
"Iya Ustazah," ucap Naina lembut.
"Bunda, Bella nggak akan dihukum kan, Bunda?" tanya Bella takut. Dia takut akan dihukum karena semua kesalahannya. Dia takut tidak akan diterima baik oleh orang lain.
Naina tersenyum dan menggenggam tangan Bella. "Tidak ada manusia yang berhak menghukum manusia lainnya, Nak. Karena itu berarti dia mendahului Allah," ucap Naina lembut.
Bella mengangguk mendengar perkataan Naina. Meskipun dihatinya masih ada sedikit ketakutan.
Saat asik dengan pembicaraan mereka, datang seorang lelaki paruh baya dengan baju gamis dan sorban yang menggantung di lehernya, serta peci putih di atas kepalanya.
"Assalamu'alaikum, Ustad" ucap Naina.
"Waalaikumsalam, Naina," jawab Ustad Zaki.
__ADS_1
Sedangkan Bella hanya tersenyum dan mengangguk.
"Jadi ini anakmu, Nai?" tanya Ustad Zaki.
Naina tersenyum dan mengangguk. Hingga akhirnya Naina menceritakan bagaimana dia bertemu dengan Bella dan maksud kedatangan mereka ke Pesantren.
"Alhamdulillah. Kamu adalah salah satu hamba yang beruntung, Nak," ucap Ustad Zaki setelah mendengar cerita Naina.
"Benarkah Ustad?" tanya Bella.
Ustad Zaki mengangguk. "Karena Allah masih sayang padamu, Nak. Allah memberimu kesempatan untuk kembali ke jalan-Nya," ucap Ustad Zaki.
"Apakah itu berarti saya bisa meraih Surga, Ustad?" tanya Bella.
"Ingatlah, Nak. Surga itu bukan tempat orang baik, tapi surga dipenuhi oleh pendosa yang bersungguh dalam taubatnya," ucap Ustad Zaki.
Bella tersenyum senang mendengar perkataan Ustad Zaki. "Bella hanya ingin menjadi anak Sholeha, Ustad. Biar Bunda dan Papa bisa ke Surga karena memiliki anak seperti Bella," ucap Bella senang.
"Sungguh mulia hatimu, Nak," ucap Ustad Zaki takjub dengan kebesaran hati Bella.
"Terimakasih, Ustad," ucap Bella tulus.
Saat mereka berbincang, Ustazah Arum datang dari dapur membawa nampan berisi minum dan cemilan.
"Silahkan diminum, Nai, Nak Bella," ucap Ustazah Arum. Naina dan Bella mengangguk mengiyakan perkataan Ustazah Arum.
"Apa Bella sudah siap untuk kembali mengucap dua kalimat syahadat?" tanya Ustad Zaki.
"Sangat siap, Ustad," jawab Bella pasti.
Bella mengangguk. Dengan di temani Naina dan di tuntun Ustad Zaki, serta disaksikan oleh beberapa Ustad yang mengajar di pesantren, hari ini Bella akan kembali mengucap dua kalimat syahadat. Kalimat singkat yang mampu memberikan kesaksian besar seorang hamba akan kebesaran Allah dan Nabi-Nya, Muhammad SAW.
.....
Sebuah mobil sedan mewah memasuki pekarangan Pesantren. Hari ini mereka berkunjung ke Pesantren peninggalan seorang lelaki paruh baya yang telah memberi Dee penglihatan untuk bekal hidupnya di dunia.
"Kita ke rumah Ustad dulu, Umi?" tanya anak laki-laki yang duduk di kursi kemudi.
"Iya, Al. Kita ke rumah Ustad dulu," jawab Dee.
Ya, mereka adalah Dee dan Al yang datang berdua ke Pesantren peninggalan Kiyai Rozak. Sofia memang meminta Dee untuk memantau Pesantren, karena dia yang berada di Turki membuat dia tidak bisa terus-terusan memantau Pesantren.
Pagi ini Dee memaksa untuk pergi bersama Al. Dan dia menyuruh Ibra yang melaksanakan tugas kantor. Dengan berat hati, Ibra mengikuti semua keinginan istri tercintanya itu. Sedangkan Kina, dia memilih untuk tetap di rumah bersama Bi Nini. Entahlah, Dee sangat ingin pergi dengan putranya, meskipun dia tahu Al memiliki banyak pekerjaan di kantor, tapi dia tetap ingin Al untuk menemaninya.
Langkah Al terhenti ketika telinganya mendengar pengucapan dua kalimat syahadat yang sangat merdu dari speaker mesjid.
"Pengucapan yang sangat indah, Umi," ucap Al pada Dee.
Dee mengangguk menyetujui perkataan Al. Setelah itu mereka melanjutkan jalan kaki mereka menuju rumah Ustad Zaki.
Sampainya dirumah Ustad Zaki, Al dan Dee tidak menemukan siapapun.
"Mungkin Ustad Zaki lagi di mesjid, Umi," ucap Al.
__ADS_1
"Kita tunggu disini saja, Nak," ucap Dee kepada Al.
Al mengangguk menyetujui permintaan Uminya. Mereka berdua duduk di kursi yang ada di teras rumah Ustad Zaki.
Al memegang dadanya yang entah kenapa terasa berdegup kencang.
"Al kenapa, Nak?" tanya Dee.
"Enggak tahu, Umi. Perasaan Al beda aja," ucap Al kepada Dee.
"Banyak istighfar aja, Nak," ucap Dee.
Al tersenyum dan mengangguk. "Iya, Umi," jawab Al.
"Umi," panggil Al pada Dee.
"Iya, Nak," jawab Dee lembut.
"Al teringat akan perjodohan antara Al dan Kinzi, Umi," ucap Al.
Dee menghela nafas pelan. "Ada apa, Al?" tanya Dee.
Al turun dari kursinya dan bersimpuh didepan Dee. Tangan Al menggenggam kedua tangan Uminya.
"Umi, apa Umi sangat mengharapkan seorang menantu yang taat agama?" tanya Dee.
"Setiap mertua pasti ingin menantu yang baik, Nak," ucap Dee lembut.
"Kinzi baik, Umi," ucap Dee.
"Nak, dengar Umi. Kinzi memang wanita yang baik, tapi belum tentu dia baik sebagai pasangan Al. Al yang bisa merasakan apa yang baik dan tidak untuk Al, Nak. Karena pernikahan adalah ibadah panjang seumur hidup. Jangan sampai salah pilih, Nak," ucap Dee lembut.
"Umi, bagaimana jika Al masih mengharapkan Runa, Umi? Sedangkan Runa-"
"Al, terkadang seseorang yang menjadi pasangan hidup kita tidak selalu baik dan memenuhi standar kita. Adakalanya seorang yang taat agama berjodoh dengan seorang pendosa. Mereka akan saling menyempurnakan. Memberikan kebaikan, saling melengkapi dan saling menutupi keburukan dengan kebaikan mereka, Nak. Karena saat seorang pendosa jatuh cinta kepada seorang yang taat agama, maka dia akan berusaha memantaskan diri untuk cintanya, Nak," ucap Dee memberi penjelasan kepada Al.
"Apa hati Al memilih Kinzi?" lanjut Dee bertanya dengan menatap lekat anaknya itu.
Al menggeleng. "Al menyayanginya layaknya seorang Adik, Umi," ucap Al jujur.
"Kalau begitu jangan beri dia kesakitan dengan cinta palsu Al, karena itu akan sangat menyakitkan. Lebih baik menolak sekarang daripada menerima karena terpaksa," ucap Dee.
Al mengangguk dan tersenyum menatap Dee. "Terimakasih banyak, Umi," ucap Al memeluk perut Uminya.
Dee tersenyum dan mengusap lembut rambut Al.
"Assalamu'alaikum," ucap Ustad Zaki datang bersama rombongannya.
"Waalaikumsalam," jawab Dee dan Al. Mereka berdua berdiri dan melihat kedatangan ustad Zaki bersama rombongan, dan ...
DEG
......................
__ADS_1
Jangan lupa dukung aku dengan like, vote dan komentar kalian yaa, karena itu sangat berharga buat aku
Semoga kalian nggak bosan mengikuti tulisan receh aku ini. Aku sayang kalian 🌹🌹🌹