Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
Season 2 ~ 166


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


"Bagaimana keadaan Bram, Dee?" tanya Naina memandang lekat Dee.


Dee terdiam. Dia sedang berusaha mencari jawaban yang tepat untuk memberitahu Naina.


"Em .. Om Bram baik-baik saja, Nai," ucap Dee.


"Apa dia hidup bahagia, Dee?" tanya Naina.


Dengan ragu Dee mengangguk. Karena sebenarnya dia juga tidak tahu bagaimana kehidupan Bram sekarang. Terakhir yang dia tahu, Bram memilih menjalankan usahanya sendiri setelah bebas dari penjara.


Senyum terbit di bibir Naina mendengar jawaban Dee. Dia senang jika lelaki yang selalu mengisi hatinya hidup bahagia.


Syukurlah, kamu bahagia, Bram. Semoga siapapun pendampingmu saat ini, dia memberimu cinta dan kasih sayang yang sangat tulus. Batin Naina senang.


.....


Sedangkan di bagian lain, Bella dan Al sudah duduk di kursi taman pesantren. Sudah sepuluh menit mereka duduk, tapi tidak ada yang membuka suara.


"Bicaralah, Al," ucap Bella membuka suaranya. Pandangan tetap lurus ke depan. Tidak melihat Al yang duduk disampingnya.


Al menoleh mendengar suara Bella. Senyum getir terbit di bibir Al melihat Bella yang bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


"Apa kabar, Runa?" tanya Al.


"Aku baik, Al. Bahkan sangat baik sekarang," jawab Bella santai.


"Kamu baik, Al?" lanjut Bella bertanya.


Al menggeleng. "Badanku baik, tapi hati dan pikiranku terganggu oleh kebodohanku, Runa," ucap Al.


"Selalu ada resiko atas setiap perbuatan, Al," ucap Bella.


Al mengangguk setuju. Ada rasa canggung diantara mereka saat ini. "Kamu cantik, Runa," ucap Al memandang lekat wajah Runa.


Runa menggeleng. "Bukan aku yang cantik, Al. Tapi matamu yang melihat objek sesuai keinginan hatimu," ucap Runa.


Lagi-lagi Al tersenyum kecut. "Kamu berubah dalam waktu cepat, Runa," ucap Al.


"Karena aku mendapat kenyamanan seperti ini, Al," jawab Bella.


"Runa," panggil Al lembut.


Akhirnya Bella menoleh. "Iya, Al," jawab Bella.


"Menikah denganku, Runa," ucap Al.


Bella tersenyum kecut. "Aku wanita hina, Al," ucap Bella mengulangi perkataan Al saat dia menolaknya.


Hati Al berdenyut sakit mendengar perkataan Runa. Sungguh, jika waktu bisa diulang, Al akan menarik setiap perkataan kasarnya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Runa," ucap Al.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Al," jawab Bella.


"Kalau begitu ayo kembali dan kita menikah, Runa," ucap Al.


"Tidak Al," ucap Bella tanpa basa-basi.


Al memandang lekat wajah Runa. Tidak ada keraguan di mata Runa saat dia mengatakan tidak.


"Kenapa?" tanya Al.


Bella menarik nafas sebentar lalu menghembuskan ya secara perlahan.


"Bukankah kamu sudah menolakku, Al? Lantas kenapa sekarang kamu meminta kembali? Apa karena aku sudah berubah seperti ini?" tanya Bella.


"Maafkan aku, Runa," ucap Al. Hanya kata maaf yang bisa dia katakan untuk saat ini. Sungguh, penyesalan itu kini hinggap di hatinya.


"Aku tidak butuh maaf, Al. Karena semua yang kamu ucapkan dulu benar. Hanya saja kamu terlalu cepat menilai seseorang, Al," ucap Bella.


"Kamu tahu, Al, aku menjadi Khadijah dan Zulaikha yang secara terang-terangan mengatakan cintanya. Dan itu tidaklah mudah, Al. Aku menghilangkan segala rasa malu demi bisa bersamamu. Tapi aku sadar, dulu aku tidak tahu diri hingga berani menyatakan cinta pada manusia sempurna sepertimu, Al," ucap Bella.


"Tidak seperti itu, Runa. Hanya Aku yang terlalu bodoh karena menyia-nyiakanmu. Aku mohon, Runa. Ayo menikah," ucap Al.


Bella menggeleng. "Tidak semudah itu, Al. Dulu aku begitu menginginkanku. Berharap aku mendapatkan cinta dan kasih sayang yang tulus dari hidupku. Berharap mendapat seorang lelaki yang memberiku perlindungan dan sebuah kenyamanan Al. Tapi Allah punya jalan lain, Al. Dia membuatku menerima rasa sakit dari penolakanmu, karena Dia sendiri yang akan memberi perlindungan kepadaku, Al," ucap Bella dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Percayalah, saat ini dia sedang menguatkan hatinya sendiri untuk meneguhkan tekadnya.


"Sekeras ini hatimu, Runa," ucap Al sendu.


"Bukan aku yang keras hati, Al. Tapi kamu yang membuatku begini," ucap Bella dengan suara bergetar.


"Aku akan tetap menunggumu, Runa. Cinta ini masih sama seperti dulu," ucap Al.


"Jangan menungguku, Al. Aku tidak bisa memberimu kepastian. Lebih baik jalani hidup dengan wanita pilihanmu," ucap Bella.


"Kamu wanita pilihanku, Runa," ucap Al tegas.


"Tapi aku tidak bisa Al. Saat ini aku ingin mencurahkan segala cinta kepada Penciptaku. Aku tenang dan damai seperti ini. Aku merasakan Tuhan memelukku saat ini, Al. Kenyamanan itu aku dapatkan. Aku mohon, biarkan aku menikmati pelukan Penciptaku, Al," ucap Bella.


"Aku akan selalu berusaha, Runa," ucap Al sendu.


Bella berdiri dari duduknya. Dia sudah tidak sanggup lagi jika harus berlama-lama dengan Al. Hatinya sungguh tidak sekuat itu.


"Bahagialah dalam hidupmu, Al," ucap Bella melangkah pergi.


"Aku akan berusaha memintamu kepada Pencipta kita, Runa. Dan kita akan merasakan jatuh cinta untuk yang kedua kalinya," ucap Al sedikit keras.


Bella mendengar perkataan Al, tapi dia tetap melangkahkan kakinya menjauh dari Al.


Al mengusap wajahnya kasar. Tanpa sadar ada setitik air mata mengalir dari sudut matanya. "Usahaku akan lebih keras sekarang," gumam Al mengusap sudut matanya.

__ADS_1


Bella berhenti di balik tembok setelah berjalan cepat menjauhi Al. Bella memegangi dadanya yang terasa sangat sesak. Air matanya mengalir bersamaan dengan badannya yang merosot dibalik tembok.


"Ini sangat sesak, Al. Tapi maaf, bukannya aku tidak mau. Aku hanya sedang menikmati cinta kepada Allah dan Nabiku, Al," gumam Bella.


.....


Saat ini Al dan Dee sedang dalam perjalanan untuk kembali pulang. Sejak tadi Al hanya diam sambil memandangi jalanan didepannya. Dee yang melihat tingkah Al hanya bisa menghembuskan nafas kasar.


"Umi berasa jadi patung. Tidak di acuhkan dari tadi," ucap Dee menyindir anaknya.


Al segera menoleh melihat Dee. "Maaf, Umi," ucap Al menyesal.


"Ada apa, Nak?" tanya Dee lembut. Dia tahu, pasti sesuatu terjadi dengan Al.


Al menggeleng. "Tidak ada, Umi," ucap Al.


"Kamu tidak bisa bohong sama Umi, Al," ucap Dee.


Al memegang sebelah tangan Uminya. Sedangkan tangan lainnya memegang stri mobil. "Sekali ini saja, jangan paksa Al untuk cerita, Umi," ucap Al.


Dee mengangguk. "Kapanpun Al butuh teman, Umi siap jadi sahabat dan teman Al," ucap Dee tersenyum.


"Abi sungguh beruntung memiliki Umi. Sangat beruntung, Umi," ucap Al.


"Umi lebih beruntung memiliki kalian," jawab Dee tersenyum.


.....


Waktu malam telah menjelang. Bulan telah nampak mengganti Matahari untuk memberi cahaya Bumi. Saat ini Bella sedang tiduran di ruang tamu dengan paha Naina sebagai bantalnya.


"Bunda," panggil Bella.


"Iya, Nak," jawab Naina.


"Bella tidak salah jika menolak Al kan, Bunda?" ucap Bella lirih.


"Bella yang tahu isi hati Bella, Nak. Bella sendiri yang tahu apa yang terbaik dan tidak untuk Bella. Mau tahu sesuatu, Nak?" tanya Naina.


"Apa Bunda?" ucap Bella.


"Nak, Al kecil bukanlah anak yang biasa. Dia adalah anak spesial. Al kecil adalah anak yang mendapat kasih sayang yang kurang dari Uminya. Al kecil adalah anak yang mendapatkan pelatihan mental dari orang yang merawatnya. Dia adalah anak kecil yang harus dipaksa dewasa karena keadaannya, Nak," ucap Naina lirih.


"Latihan mental, Bunda?" tanya Bella tak mengerti.


"Dia selalu disiksa atas kesalahan yang tidak dia lakukan, Nak," jawab Naina dengan mata berkaca-kaca.


"Siapa yang melakukan itu, Bunda?" tanya Bella. Karena yang dia lihat, Kedua orang tua Al sangat menyayanginya.


"Bunda, Nak. Orang yang dipercaya memberi kasih sayang menggantikan Uminya."


......................

__ADS_1


Jangan lupa dukung aku dengan like, vote dan komentar kalian yaa, karena itu sangat berharga buat aku


Semoga kalian nggak bosan mengikuti tulisan receh aku ini. Aku sayang kalian 🌹🌹🌹


__ADS_2