Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 67


__ADS_3

Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍


Jangan lupa komentarnya 💬


Jangan lupa vote nya juga yaa


Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini


🌹HAPPY READING🌹


Suara adzan berkumandang membangunkan Dee dari tidur nyenyak ya. Saat membuka mata, yang pertama kali dia lihat adalah wajah tampan anaknya yang tertidur di dekapannya. Sedangkan Ibra memeluknya dari belakang. Dengan perlahan Dee membalikkan badan menghadap Ibra. Dee dapat melihat wajah suaminya yang sangat tenang ketika tidur.


"Mas," panggil Dee dengan mengusap lembut rahang Ibra.


"Mas, bangun, yuk. Kita sholat dulu," ucap Dee membangunkan Ibra.


Melihat tidak ada pergerakkan dari suaminya, Dee mencium seluruh wajah Ibra untuk membangunkannya.


"Jangan nakal, Sayang. Ini masih pagi," ucap Ibra dengan mata yang masih setia terpejam.


Dee tersenyum, caranya berhasil membangunkan Ibra. "Bangun dulu, yuk. Kita sholat dulu. Nanti kalau mau tidur lagi nggak apa," ucap Dee lembut.


Ibra membuka matanya, "Kamu wudhu duluan, ya. Biar aku bangunin Al dulu," ucap Ibra.


Dee mengangguk dan bangun perlahan untuk ke kamar mandi. Tapi belum sampai dirinya benar-benar bangun tangannya sudah di tarik duluan oleh Ibra. Hingga tubuhnya menimpa tubuh Ibra. "Cup. Morning Kiss dulu, Sayang," ucap Ibra dengan suara serak seksinya.


"Selamat pagi," jawab Dee tersenyum lembut kepada Ibra. Setelah itu Dee kembali bangkit dan ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu.


Selesai dengan kegiatannya di kamar mandi, Dee keluar dan melihat Ibra yang sedang menggendong Al yang tertidur.


"Tidurin aja, Mas. Kayaknya masih ngantuk banget," ucap Dee yang tidak tega melihat anaknya.


Ibra mengangguk dan kembali merebahkan Al di kasur. "Aku wudhu dulu, ya. Kamu tunggu sebentar," ucap Ibra dengan segera melesat ke kamar mandi.


Tidak berapa lama, Ibra keluar dari kamar mandi dan dengan segera mereka melakukan sholat subuh berjamaah. Setelah selesai sholat, Dee langsung pergi ke bawah untuk menyiapkan sarapan. Sedangkan Ibra memilih untuk memeriksa pekerjaannya di laptop yang kemaren sempat dia tinggalkan karena mengurus kasus Dee.


Sampainya di bawah, Dee melihat Bi Nini yang sudah berada di dapur. "Assalamu'alaikum, Bi," ucap Dee.


Bi Nini yang tadinya asik mencuci sayuran menoleh mendengar suara majikannya. "Waalaikumsalam, Nyonya," jawab Bi Nini tersenyum ramah.


"Biar Dee aja yang masak, Bi. Bibi kerjain yang lain aja. Atau kalau mau istirahat lagi nggak papa, Bi. Pasti Bibi capek kemaren seharian nemenin Mama di rumah sakit," ucap Dee lembut kepada Bi Nini.


"Tapi Nyonya-"


"Udah nggak apa-apa, Bi. Bibi istirahat lagi aja. Biar Dee yang buat sarapan," ucap Dee sedikit memaksa Bi Nini.


Bi Nini mengangguk pasrah. "Baiklah Nya. Kalau butuh bantuan Nyonya bisa panggil Bibi, ya," ucap Bi Nini.


"Iya, Bi," jawab Dee tersenyum lembut kepada Bi Nini. Setelah itu Bi Nini pergi meninggalkan dapur.

__ADS_1


Saat sedang asik dengan kegiatan memasaknya, sebuah tangan melingkar indah di pinggang Dee. "Mas," ucap Dee lembut mengetahui bahwa itu adalah tangan suaminya.


"Lagi ngapain?" tanya Ibra. Pria itu menyandarkan kepalanya dengan manja di ceruk leher Dee. Dee meremang merasakan hembusan nafas Ibra yang terasa hangat.


"Ehm. Lepas dulu, Mas. Adek lagi masak," jawab Dee menghilangkan kegugupannya.


"Nggak mau."


"Mas, nanti sarapannya nggak jadi-jadi kalau Mas kayak gini terus. Lepas dulu, ya," ucap Dee lembut membujuk Ibra.


Ibra menurut. Tapi sebelum benar-benar melepaskan pelukannya Ibra mencuri ciuman hangat di bibir Dee sang langsung pergi karena takut dimarahi istrinya. "I love you, Sayang," ucap Ibra berlari menghindari Dee yang akan memukulnya.


Dee hanya tersenyum geleng kepala melihat kelakuan suaminya. Setelah itu barulah Dee melanjutkan kembali kegiatannya.


.....


"Umi, kenapa nggak bangunin Al sholat subuh, sih?" tanya Al cemberut kepada Dee. Pasalnya saat dia bangun matahari sudah terbit.


Kini keluarga kecil itu sedang duduk bersama di meja makan menikmati sarapan mereka.


"Kamu yang nggak mau bangun, Boy," ucap Ibra menjawab pertanyaan Al.


"Benalkah, Abi?" tanya Al menoleh kepada Ibra.


"Iya. Masih kecil udah pikun," jawab Ibra mengejek Al.


"Sudah Al, Mas. Sarapan dulu, nggak baik bicara ketika makan," tegur Dee kepada anak dan suaminya.


"Iya, Umi."


"Iya, Sayang."


Jawab Ibra dan Al patuh kepada Dee.


Setelah selesai sarapan, Ibra dan Al berangkat bersama. Kali ini Al akan diantar Ibra. Awalnya Al tidak mau, dia selalu ingin diantar Uminya. Tapi dengan sedikit paksaan akhirnya dia menurut dan berakhirlah sekarang dia sedang duduk manis di kursi depan sebelah Ibra.


"Belajar yang rajin, ya Boy," ucap Ibra mengusap lembut kepada Al setelah mereka sampai di sekolah Al.


Al mengangguk patuh. "Iya, Abi. Kalau begitu Al masuk dulu, Abi," ucap Al mengambil tangan Ibra untuk menyalaminya. "Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam, Boy," jawab Ibra. Setelah memastikan Al benar-benar hilang dari pandangannya, Ibra segara menaiki mobil dan melesat menuju kantornya.


.....


Kini Ibra sudah duduk di kursi kebesarannya. Suara pintu terbuka mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas di tangannya.


"Selamat pagi, Ib," sapa Kevin ketika memasuki ruangan Ibra.


"Hm," jawab Ibra singkat.

__ADS_1


"Nih," ucap Kevin meletakkan setumpuk berkas di depan Ibra.


"Lagi?" tanya Ibra. Karena ini sudah ketiga kalinya Kevin memberikannya kertas-kertas berharga ini.


"Yoi, Pak Bos," jawab Kevin santai.


"Lo yang periksa deh. Gue percaya sama Lo."


"Kerjaan gue juga banyak, Pak Bos. Lagian Lo nggak mau cari sekretaris baru, Ib?"


"Kan ada Lo," ucap Ibra santai.


"Gue yakin sebentar lagi waktu istirahat gue bakal berkurang banyak."


"Hidup memang harus berkorban, Vin."


"Heh, kurang berkorban apa gue? bahkan waktu gue lebih banyak sama Lo. Kalau gitu gimana gue bisa cari jodohnya, Ib," ucap Kevin sedikit memelas kepada Ibra.


"Lo mau gue kasih jodoh, nggak?" kata Ibra dengan wajah yang dibuat serius kepada Kevin.


"Maksud Lo?"


"Gue ada calon buat Lo. Ini bahkan lebih baik lagi dari Dee. Pengalamannya sangat banyak dan gue jamin bisa ngasih Lo banyak pelajaran hidup."


"Lo serius?" ucap Kevin yang tertarik dengan penawaran Ibra.


Ibra mengangguk pasti meyakinkan Kevin.


"Siapa?"


"Bi Nini."


"Anjing!" Umpat Kevin melempar bulpen yang ada di saku kemejanya kepada Ibra.


"Hahaha, Bi Nini baik tahu. Agamanya juga baik. Cocok buat orang-orang model Lo begini."


"Cocok jadi Mak gue iya!" ucap Kevin ketus.


Ibra tertawa senang karena berhasil mengerjai sahabatnya ini. Sebenarnya Ibra tidak tega melihat Kevin yang selalu sibuk membantunya. Tapi mau bagaimana lagi? itu sudah menjadi hobi bagi Ibra.


"Oiya, Vin. Pesan satu pulau buat gue!" ucap Ibra kepada Kevin yang masih duduk kesal di depannya.


Kevin menaikkan sebelah alisnya mendengar permintaan Ibra. "Buat apaan?" tanya Kevin heran.


"Buat gue sama Dee buat adiknya Al," ucap Ibra santai. Pikirannya sudah traveling jauh membayangkan bulan madu yang entah ke berapa bersama Dee.


......................


Author sayang kalian semua. Tidak bosan author untuk ucapin terimakasih karena dengan setia dan sabar nungguin update novel ini 🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2