Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 85


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Pagi ini Dee sungguh merasa bosan. Karena dia hanya diperbolehkan rebahan oleh Ibra di atas kasur. Makan pun diantar Bi Nini di kamar. Sesekali Dee hanya turun untuk melihat keadaan mertuanya.


"Bosan banget, Ya Allah. Mas Ibra lebay banget nyuruh aku nggak boleh ngapa-ngapain. Mana Papa nurut juga lagi sama Mas Ibra," gerutu Dee mengingat semua larangan suaminya.


"Aha, buat kerajinan nggak akan dilarang kali ya. Aku turun deh," ucap Dee saat otak cemerlangnya mendapat ide untuk mengisi kebosanannya.


Dengan perlahan Dee menuruni satu persatu anak tangga. Hingga akhirnya kaki Dee melangkah dan sampai di ruangan pribadinya.


Dee membuka pintu dan melihat keadaan ruangan yang sangat bersih. Dee membulatkan matanya saat melihat tidak ada persediaan tanah liatnya tidak ada satupun.


"Loh, tanah liat aku kemana? Kemarin kayaknya masih sisa banyak. Kok sekarang udah nggak ada, ya," ucap Dee sambil mencari-cari tanah liatnya. Di bawah meja, dalam lemari, di balik gorden, semua tempat di ruangan itu ia acak-acak untuk menemukan tanah liatnya. Tapi nihil, bahkan nodanya pun tidak ada.


Dee pergi keluar untuk bertanya kepada Bi Nini. Namun sebelum sampai di dapur, Dee melihat Wijaya yang duduk di ruang keluarga bersama Reina di kursi rodanya.


"Pa, Ma," sapa Dee menghampiri mertuanya.


Reina tersenyum melihat menantunya. "Iya, Nak," ucap Wijaya menjawab sapaan Dee.


"Eem, Pa. Apa Papa lihat tanah liat Dee?" tanya Dee sedikit ragu kepada Wijaya.


"Tanah liat?" tanya Wijaya balik.


Dee mengangguk. "Iya, Pa. Tanah liat yang biasa Dee pakai untuk kerajinan nggak ada semua. Padahal kemarin masih banyak," ucap Dee memberitahu Wijaya.


"Papa nggak tahu, Nak. Papa nggak lihat," jawab Wijaya berbohong. Dia ingin Ibra sendiri yang bicara kepada Dee. Dia tidak ingin anak dan menantunya salah paham nanti.


"Ya sudah, Pa, Ma, Dee mau tanya Bi Nini dulu," ucap Dee pamit.


Wijaya mengangguk mengizinkan Dee pergi. Sedangkan Reina hanya mengedipkan mata sekali mengizinkan Dee pergi. Setelah kepergian Dee, Wijaya mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Ibra.


Dikantornya, Ibra baru saja menyelesaikan meeting ditemani Kevin. "Huft, lega banget gue," ucap Ibra menghempaskan tubuhnya ke sofa.


Kevin ikut menyusul dan duduk di sebelah Ibra. "Ib," panggil Kevin serius.


"Hem," jawab Ibra dengan mata terpejam melepas penatnya.


"Kiyai Rozak," satu nama keluar dari mulut Kevin yang berhasil membuat Ibra membuka mata dan mendudukkan tubuhnya dengan tegap.


"Kenapa?" tanya Ibra dingin.


Kevin mengambil sebuah foto dari saku kemejanya. "Sofia. Sudah enam bulan," jawab Kevin memberikan foto wanita cantik dengan kerudung syar'i nya tersebut kepada Ibra.

__ADS_1


Ibra memejamkan mata melihat foto tersebut. Dia tidak sanggup jika Dee sampai mengetahui semua ini.


"Kiyai Rozak meminta Lo untuk menemuinya, Ib. Selesaikan semuanya," ucap Kevin menepuk pelan pundak Ibra.


"Kapan Lo ketemu Kiyai Rozak?" tanya Ibra.


"Kemaren di Rumah Sakit. Gue nggak sengaja nabrak seseorang saat keluar dari ruangan Naina. Dan orang yang gue tabrak Kiyai Rozak. Dia di sana untuk menjenguk saudaranya," ucap Kevin memberitahu Ibra.


Ibra hanya diam asik dengan pikirannya.


Dret, dret, dret.


Lamunan Ibra buyar saat ponselnya bergetar di dalam saku jasnya.


"Halo, Pa," ucap bra begitu panggilan sudah terhubung.


"Kamu dimana?" tanya Wijaya dari seberang sana.


"Di Kantor lah, Pa," jawab Ibra sedikit kesal. Padahal Papanya tahu bahwa ini adalah jam kerja.


Wijaya tergelak di seberang sana mendengar suara kesal anaknya. "Pulang sekarang jika tidak ingin istrimu ngamuk karena kehilangan tanah liatnya," ucap Wijaya langsung memutuskan panggilannga tanpa menunggu jawaban Ibra.


"Gue pulang dulu, Vin. Lo urus Kantor, ya," ucap Ibra kepada Kevin setelah panggilannya dan Wijaya terputus.


"Ngapain pulang?" tanya Kevin.


Kevin hanya menggeleng melihat tingkah sahabatnya. "Benar-benar bucin," gumam Kevin.


.....


Mobil Ibra sampai dirumahnya. Ibra turun dari mobil dan masuk ke rumah dengan tergesa-gesa.


"Assalamu'alaikum, Pa, Ma," ucap Ibra menyalami Wijaya dan Reina yang duduk di ruang keluarga.


"Waalaikumsalam," jawab Wijaya, sedangkan Reina hanya tersenyum.


"Dee dimana, Pa?" ucap Ibra menanyakan istrinya.


"Ada di kamar. Dia terlihat sangat kesal setelah kembali dari tempat satpam," ucap Wijaya memberitahu Ibra.


"Mati gue!" ucap Ibra dan langsung berlari menaiki tangga untuk ke kamarnya.


"Anak kamu, Ma," ucap Wijaya pada Reina. Reina hanya tersenyum dan mengedipkan mata dua kali. Seolah mengatakan 'Anak kamu juga'.

__ADS_1


Ceklek


Ibra membuka pintu Kamar. Dia melihat istrinya yang duduk menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya. Ibra dapat melihat istrinya menangis, karena bagi Dee yang bergetar.


Dengan perlahan Ibra mendekati Dee. "Sayang," panggil Ibra memegang lembut pundak Dee.


Dee mendongak ketika mendengar suara Ibra. "Mas jahat!" ucap Dee menepis tangan Ibra dari pundaknya.


"Jahat kenapa? Hem?" tanya Ibra lembut.


"Kenapa buang semua tanah liat Adek. Itu belinya jauh, Mas," ucap Dee menangis seperti anak kecil.


"Nanti kita beli lagi, ya," ucap Ibra membujuk Dee.


"Nggak mau! Mas jahat! Kenapa buang tanah liat Adek? Tanah liat itu penting untuk buat kerajinan, tahu nggak!" ucap Dee dengan tanpa sadar sedikit membentak Ibra.


Ibra mencoba bersabar, mungkin ini pengaruh kehamilan Dee. "Aku membuangnya karena aku nggak mau kamu kecapean, Sayang," jawab Ibra lembut.


"Tapi jangan dibuang semuanya. Kalau nggak ada tanah liat gimana Adek mau buat kerajinannya?" ucap Dee.


"Untuk sekarang berhenti dulu, ya. Nanti kalau kandungannya udah kuat baru boleh. Kamu harus banyak istirahat, Sayang," ucap Ibra membujuk Dee.


"NGGAK MAU!" teriak Dee membentak Ibra.


"Pelankan suaramu pada suamimu, Dee!" ucap Ibra tegas memperingati Dee.


Dee membuang muka. Dia sangat kesal dan marah pada Ibra. Ibra mencoba membawa tubuh Dee kedalam dekapannya, tapi Dee menolak.


"HAIDEE!" ucap Ibra membentak Dee karena terus memberontak.


"Kamu itu lagi hamil! Kandungan kamu lemah! Aku lebih baik membuang tanah liat itu daripada kehilangan anakku karena keras kepalamu!" ucap Ibra tegas.


Dee menunduk. Dia takut melihat Ibra yang seperti ini. Badan nya gemetar mendengar bentakan Ibra.


Ibra mengusap wajahnya kasar, lalu dengan lembut membawa tubuh Dee kedalam dekapannya. "Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya ingin kamu menurut. Anak kita lebih penting dari tanah liat itu, Sayang," ucap Ibra lembut.


"Jangan bentak Adek lagi. Takut," cicit Dee dalam dekapan Ibra.


Ibra mengangguk. "Maaf, ya."


Dee hanya mengangguk mengiyakan permintaan maaf Ibra. Dia sadar bahwa dirinya juga terlalu berlebihan saat ini. Kehamilannya benar-benar membuat Dee bukan seperti dirinya sendiri.


......................

__ADS_1


Author sayang kalian semua. Tidak bosan author untuk ucapin terimakasih karena dengan setia dan sabar nungguin update novel ini. Jangan lupa kasih vote dan tip nya ya. Semoga rezeki kita semakin berlimpah 😘🌹


Jangan lupa juga untuk baca Novel aku "MEMAKSA CINTA" terimakasih 😍😍🌹


__ADS_2