Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 124


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Malam ini Ibra pergi ke rumah Dee untuk menemui kekasih hati beserta anak-anaknya. Tiga hari lagi adalah ulang tahun Al, dan dia berniat untuk memberi tahu kepada Dee bahwa dia ingin menikah dengan Dee tepat saat hari ulang tahun Al.


Ibra menghentikan motornya saat sampai di depan rumah Dee. Ibra turun dari motor dan berjalan menuju rumah Dee. Melihat pintu rumah yang masih terbuka, Ibra langsung masuk dan mengucap salam.


"Assalamu'ala-"


DEG


"APA YANG KALIAN LAKUKAN?" teriak Ibra melihat Adam yang tidur dengan paha Dee sebagai bantalannya. Sedangkan tangan Dee mengusap lembut rambut Adam.


Adam dan Dee terperanjat kaget mendengar teriakan Ibra.


Ibra langsung berjalan ke arah Adam dan memberi pukulan di wajah Adam.


BUGH


Adam tersungkur ke lantai tepat di depan kaki Dee.


"Mas, apa yang kamu lakukan?" tanya Dee marah sambil membantu Adam untuk berdiri.


"Kamu yang apa-apaan Haidee!" bentak Ibra.


Dee tersentak mendengar Ibra memanggil namanya dengan tegas.


"Beberapa hari ini aku sabar melihat kau dekat dengannya. Beberapa hari ini aku diam saja saat kau mengacuhkan ku dan lebih mementingkan lelaki ini. Dimana harga dirimu!" teriak Ibra marah. Beruntung Al dan Kina sedang berada di mesjid saat ini. Jika tidak mereka akan melihat pertengkaran Umi dan Abinya.


Tangan Ibra mengepal erat menyalurkan emosinya. Sedangkan Dee sudah berdiri mematung dengan mata yang berkaca-kaca.


Adam yang melihat Dee dimarahi tanpa alasan yang jelas maju untuk membalas pukulan Ibra. Namun tangan Dee menahan bahu Adam untuk tetap diam.


"Kenapa diam Haidee? Apa seperti ini kelakuan seorang wanita? Apa ini kelakuan mu selama tidak hidup bersama ku? Kau mengajarkan hal yang tidak baik pada anakku, Haidee!" bentak Ibra.


"Mereka anak-anakku!" jawab Dee tegas.


Ibra beralih kepada Adam yang berdiri di sebelah Dee. "Dan kau, apa kau tidak tahu malu hingga bersentuhan seperti itu dengan wanita yang bukan mahram mu? JAWAB BRENGSEK!" teriak Ibra tepat di depan Adam.

__ADS_1


Adam tertawa sumbang mendengar perkataan Ibra. "Brengsek? Bahkan kau lebih brengsek dari ku!" ucap Adam tegas melihat menatap nyalang mata Ibra.


"Kalian berdua sama-sama brengsek. Disaat anak-anakku tidak ada di rumah, dengan seenaknya kalian berbuat yang tidak-tidak. Dimana otak kalian!" ucap Ibra tegas.


Sungguh, darahnya langsung mendidih melihat Dee yang begitu dekat dengan lelaki ini. Kecemburuan, kemarahan dan segala emosinya benar meluap malam ini.


"Aku tidak seperti yang kamu tuduhkan, Mas!" ucap Dee tegas menatap Ibra.


"Jika tidak, lalu bagaimana? Kau sudah menjadi seorang ibu Haidee. Dan begini sikapmu saat tidak ada anak-anakmu di dekatmu?" tanya Ibra.


"JAGA UCAPAN MU!" teriak Adam emosi mendengar perkataan Ibra.


Ibra diam tidak menghiraukan Adam. Pandangan Ibra berubah sendu melihat Dee. "Apa perjuangan ku untuk mendapatkan mu kembali akan sia-sia? Apa keringat yang sudah aku keluarkan tidak ada artinya, Dee?" tanya Ibra dengan tatapan sendu.


"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Mas. Kamu selalu mengambil kesimpulan sesuai dengan pemikiran mu sendiri," ucap Dee lirih.


"Lalu bagaimana? Apa begini caramu menolak kehadiranku? Dengan cara berhubungan dengan laki-laki lain? Jika memang aku tidak di terima sejak awal, mengapa tidak langsung mengatakannya?" tanya Ibra.


Dee menggeleng. "Tidak seperti itu," ucap Dee lirih. Entah kenapa hatinya sakit melihat Ibra yang terluka. Padahal dia tidak salah disini. Tapi kembali lagi pada cinta yang masih ada untuk pria itu.


"Lalu bagaimana Dee? Tindakanmu ini sungguh murahan Haidee!" bentak Ibra.


"Cukup Bang Ibra!"


DEG


Jantung Ibra serasa tak karuan ketika Adam memanggilnya dengan panggilan Bang Ibra.


Ibra mengalihkan pandanganya kepada Adam yang sudah menatapnya dengan mata yang memerah.


"Selama ini aku diam melihat semua perlakuan Bang Ibra. Selama ini aku berusaha tenang melihat perlakuan Bang Ibra. Tapi sekarang cukup! Sudah cukup Abang melukai Ayang!" bentak Adam.


Mata Ibra membola, tubuhnya mematung mendengar Adam memanggil Dee dengan panggilan Ayang, yang artinya Kakak. Itu adalah panggilan khusus dari seseorang kepada Dee, Adik Dee. Mengapa Ibra tidak berpikir panjang sebelumnya.


"Kenapa Abang diam? Abang kaget? Apa sekarang Abang mengingatku?" tanya Adam.


"Ga-galaksi," ucap Ibra gugup.

__ADS_1


Adam tertawa sumbang. "Iya ini aku, Adam Putra Galaksi. Adik dari seorang wanita yang kau siksa dalam kehidupan pernikahan denganmu. Adik yang dulu selalu Abang lindungi," ucap Adam kepada Ibra.


Ibra linglung, lututnya lemas mengetahui semua ini. Rasa bersalah atas segala ucapan kasar kepada Dee membara di hati Ibra. Ibra memandang Dee dengan tatapan penyesalan. Sedangkan yang di pandang hanya menunduk menyembunyikan tangisnya.


"Gala diam karena Gala menghormati Ayang Dee. Gala diam karena Gala berharap Abang sama Ayang Dee bisa bersatu kembali. Abang tahu, rasanya Gala ingin mengamuk dan membunuh Abang karena telah menyiksa Ayang Dee hingga di penjara. Rasanya Gala ingin membunuh Abang karena tidak memberitahu Gala mengenai kematian orang tua Gala. Karena kesalahpahaman dan egois Abang, Ayang dan Gala harus hidup dalam kesengsaraan. Karena kesalahpahaman Abang, Abang melupakan bahwa masih ada Gala sebagai keluarga Ayang," ucap Adam dengan mata yang sudah memerah kepada Ibra.


"Ga-Gala, wajah kamu-"


"Kenapa dengan wajah Gala, Bang. Berubah jauh dari empat belas tahun yang lalu saat terakhir kita bertemu di bandara, iya Bang? Abang tahu, Gala bersyukur dengan bentuk wajah Gala yang jauh berubah. Karena dengan begitu Gala bisa memanfaatkannya untuk melihat bagaimana cinta sejati yang dulu Abang janjikan kepada Gala untuk diberikan kepada Ayang," ucap Gala memotong perkataan Dee.


"Abang tidak memenuhi janji kepada Gala," ucap Gala berlalu pergi meninggalkan Dee dan Ibra.


Ibra terdiam mendengar setiap ucapan Gala. Adik Dee yang terakhir kali dia temui empat belas tahun yang lalu, kini sudah menjelma menjadi seorang pemuda tampan. Gala yang waktu itu masih berusia sepuluh tahun, sedangkan Dee berusia lima belas tahun, dan Ibra yang berusia tujuh belas tahun. Keputusan Gala yang ingin melanjutkan pendidikan SMP nya di salah satu sekolah asrama terbaik di Turki membuatnya harus berpisah dengan keluarganya di Indonesia. Karena kesibukannya, Ibra melupakan kehadiran Gala yang merupakan adik kandung Dee.


Ibra mengalihkan pandanganya kepada Dee. "Sa-sayang," panggil Ibra lirih.


"Kamu kembali jahat. Kamu kembali melukai aku. Bahkan keluarga ku pun kamu tidak mengingatnya. Selama ini aku diam tidak pernah menanyakan keadaan Gala saat aku dipenjara, karena aku pikir kamu pasti mengurus Gala dengan baik. Tapi kamu melupakannya," ucap Dee.


Tubuh Ibra luruh kelantai, bersimpuh tepat di kaki Dee. Bahunya bergetar menyesali semuanya. "Maafkan aku," ucap Ibra dengan suara bergetar.


"Katakan apa yang harus aku lakukan untuk menebus semuanya, Sayang?" tanya Ibra.


Dee bungkam. Dia tidak tahu harus menjawab bagaimana. Lidahnya terasa tercekat, tenggorokannya sakit karena tangisnya.


"Tinggalkan aku dan anak-anakku untuk selamanya," ucap Dee memejamkan matanya.


Ibra mendongak menatap Dee. Air mata Ibra luruh dengan deras mendengar perkataan Dee.


"Jika aku pergi untuk selamanya, berjanjilah untuk bahagia, Sayang," ucap Ibra dengan tangisnya.


......................


Maafkan tulisan receh ku teman-teman online


Jangan lupa follow Instagram aku juga @yus_kiz


Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"

__ADS_1


Ayang itu artinya Kakak ya, tetangga aku ada yang memanggil kakak nya dengan sebutan Ayang. Panggilan khusus dari adik untuk kakaknya.


__ADS_2