Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
Season 2 ~ 160


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Waktu subuh telah menjelang. Bella tersentak dari tidurnya karena bunyi alarm yang berasal dari ponselnya. Sengaja Bella memasang alarm sangat subuh, karena dia harus pergi untuk memenuhi keinginan orang yang sangat dia cintai. Jika dengan kepergiannya kebahagiaan akan menghampiri Al, maka Bella akan melakukannya.


Bella bangun dari tidurnya dan segera berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setengah jam di kamar mandi, Bella keluar dengan pakaian yang sudah lengkap. Bella mengeluarkan sebuah buku dari kopernya. Mengambil sehelai kertas dan menulis surat untuk orang yang akan dia tinggalkan.


Dengan air mata, Bella menulis surat tersebut. Rasanya bahkan sangat sakit sekali. Belum dia memulai, tapi semuanya harus berakhir.


Setelah selesai menulis surat tersebut, Bella mengambil kotak yang dulu pernah diberikan oleh Al kepadanya.


"Aku sudah tidak berhak lagi menyimpan ini, Al. Mungkin kamu benar, seorang iblis tidak mungkin bisa bersanding dengan manusia," ucap Bella sendu.


Bella meletakkan kotak tersebut di meja dan menyelipkan surat yang tadi dia buat dibawah kotak tersebut.


Bella menyeret kopernya keluar rumah Al dengan pelan agar tak menimbulkan suara. "Selamat tinggal, Al. Semoga bahagia selalu bersamamu. Biar aku pergi dengan luka, asal kau bisa hidup dengan bahagia. Selamat tinggal," ucap Bella memandangi pintu kamar Al dari lantai satu.


Bella mengusap air matanya kasar. Menghela nafas sejenak dan mencoba meredakan sesak yang begitu menyiksa. Tidak ingin semakin larut, Bella mengangkat kopernya dan berjalan keluar rumah Al dengan mengendap-ngendap.


Tanpa halangan, Bella bisa keluar dari kediaman keluarga Ibra. Sejenak Bella memandangi rumah yang berada di sebelah rumah Al.


"Selamat tinggal masa kecil," ucap Bella lirih. Bella segera melangkah menjauh sambil terus menyeret kopernya untuk segera mencari tumpangan.


.....


Setelah selesai sholat subuh berjamaah bersama Ibra, Dee langsung bangun setelah selesai berdoa tanpa menyapa Ibra sama sekali. Entah kenapa, suaminya itu tidak salah, tapi rasa kesalnya menjalar untuk Ibra.


Ibra yang melihat tingkah istrinya hanya menghela nafas pelan. Ini yang dia takutkan, perbuatannya berdampak untuk masa depan.


"Sayang," panggil Ibra ketika Dee akan keluar dari kamar.


Dee menghentikan langkahnya. "Iya," jawab Dee.


Ibra berjalan mendekati Dee. Ibra segera menutup pintu kamar. Karena dia harus bicara sama istrinya. Sungguh, sangat tidak enak didiamkan istri.


"Mas," protes Dee tak terima dengan apa yang dilakukan Ibra.


"Kita harus bicara, Sayang," ucap Ibra lembut.


Dee mengalihkan pandangannya. Ibra mengambil tangan Dee dan menuntunnya duduk di tepi ranjang. Ibra bersimpuh didepan Dee dan menggenggam kedua tangan Dee yang ada di atas pahanya Dee.


"Sayang," ucap Ibra.


Dee hanya melirik sebentar, setelah itu kembali mengalihkan pandangannya.


"Sayang, nggak baik diemin suami seperti ini, Sayang," ucap Ibra.


"Mungkin secara tidak langsung aku memang bersalah, tapi jangan hukum aku dengan diam kamu," ucap Ibra lembut.


"Adek nggak marah, tapi kesal, Mas," ucap Dee.

__ADS_1


"Kesel sama aku?" tanya Ibra menunjuk dirinya.


"Bukan, tapi sama anak kamu," ucap Dee ketus.


"Lalu kenapa aku dihukum juga?" tanya Ibra bingung.


"Karena sifatnya menurun dari kamu," ucap Dee langsung bangun dan segera berjalan keluar kamar tanpa menghiraukan Ibra yang masih bersimpuh dengan wajah bingungnya.


Alamat nggak bakal dapat jatah kalau begini. Anak yang salah, Abinya juga dihukum. Bakal peluk guling gue seminggu ini. Batin Ibra meratapi nasibnya yang akan puasa dari kegiatan favoritnya.


.....


Sekarang keluarga Ibra sedang sarapan bersama di meja makan. Bi Nini juga ikut sarapan bersama.


"Ini sarapan Adek," ucap Dee lembut memberikan sepiring nasi goreng kepada Kina.


Dengan senyum mengembang Kina menerimanya. "Terimakasih, Umi," ucap Kina.


Sedangkan Al dan Ibra saling pandang. Karena piring mereka masih kosong. Biasanya Dee akan mengambilkan sarapan untuk mereka, tapi sekarang? Bahkan Dee tidak melirik mereka sama sekali.


Kina yang melihat itu mengernyit heran. "Umi, Abang sama Abi piringnya masih kosong," ucap Kina.


"Tangan Umi pegel," alasan Dee cuek. Setelah itu dia memakan sarapannya.


Ibra dan Al yang melihat itu menghela nafas pelan. Ibra menatap Al dengan tatapan kesal yang juga menatapnya, seolah mengatakan 'Ini semua gara-gara kamu'. Al hanya memperlihatkan wajah memelas nya kepada Ibra. Sungguh dia tak berani untuk bersuara. Akhirnya mereka mengambil sarapan sendiri-sendiri.


Sebenarnya Dee sudah tidak marah, tapi dia hanya ingin memberi pelajaran bagi kedua laki-laki tersebut. Mungkin hukuman ini sangat terlambat bagi Ibra, tapi Dee ingin melakukannya sekarang.


Bi Nini menggeleng. "Dari tadi Bibi nggak lihat Non Bella keluar, Nyonya," ucap Bi Nini.


"Kalau gitu biar Dee panggil Bella dulu," ucap Dee.


"Jangan, Nyonya. Biar Bibi saja," ucap Bi Nini mencegah Dee.


Dee mengangguk. Bi Nini segera berdiri dan berjalan menuju kamar tamu.


Sepuluh menit, Bi Nini kembali dengan tergopoh-gopoh.


"Pelan-pelan jalannya, Bi. Nanti jatuh," ucap Dee memperingati Bi Nini.


"Iya, hati-hati, Nek," tambah Kina.


"I-itu Nyonya. Nona Bella nggak ada di kamarnya," ucap Bi Nini memberitahu.


Al yang mendengar itu langsung berdiri dan berlari menjauh kamar tamu.


Kosong, rapi dan bersih.


Itulah yang ditangkap Al saat memasuki kamar tamu. Al mencari ke kamar mandi, namun nihil. Al juga tidak melihat koper Bella.

__ADS_1


"Kamu benar-benar melakukan permintaanku, Bel," ucap Al sendu.


Dee datang bersama Ibra, Kina dan Bi Nini.


"Al," panggil Dee lembut.


Al menoleh kepada Dee dengan mata merahnya.


"Dia pergi, Umi," ucap Al lirih mengadu kepada Dee.


Dee segera berjalan mendekati Al yang duduk di tepi ranjang. Al langsung memeluk pinggang Dee dan membenamkan kepalanya di perut Dee.


"Umi," panggil Al sendu.


Sungguh, bagaimanapun marahnya, Dee tidak sanggup melihat anaknya seperti ini.


"Ada surat, Umi," ucap Kina yang melihat kertas dan kotak tersebut.


Al segera melepaskan pelukannya pada Dee dan melihat apa yang dikatakan Kina.


Al melihat kotak kado yang pernah dia berikan kepada Bella kecil. Kamu benar-benar pergi meninggalkan semuanya. Batin Al memandangi kotak yang sudah di pegang tersebut.


Dengan segera, Al membaca surat yang diberikan oleh Bella.


Untuk cinta masa kecilnya Runa.


Al, Runa pamit pergi, ya. Runa hanya ingin memenuhi permintaan Al. Runa berharap, kepergian Runa akan memberi Al bahagia. Kepergian Runa akan memberikan kenyamanan dalam hidup Al. Runa sadar, Al. Runa sangat tidak pantas menjadi pendamping Al.


Mungkin ini hukuman untuk Runa, Al. Kesedihan dan pilu ini merupakan hukum dari Allah untuk segala dosa Runa. Terimakasih telah menyadarkan Runa, Al, bahwa manusia bergelimang dosa seperti Runa, tidak pantas menjadi makmum seorang hamba berbalut iman dan taqwa seperti Al.


Selamat tinggal, Al. Bahkan dalam ucapan perpisahan pun, tetap ada kata selamat. Berarti perpisahan itu selalu burukkan, Al. Berbahagialah dalam hidup bersama wanita pilihan Al. Maaf telah menjadi noda untuk Al. Runa pamit ya, Al. Berikanlah hadiah itu kepada wanita yang nantinya menjadi pilihan Al.


Dan sampaikan terimakasih Runa kepada Umi ya, Al. Bilang sama Umi, kalau Runa sangat berterimakasih karena pelukan nyaman seorang Ibu yang sudah Umi berikan. Dan sampaikan sama Umi, terimakasih telah mengizinkan Runa mencintai anak laki-lakinya.


Selamat tinggal, Al. Semoga cinta Runa pernah memberi manfaat untuk Al.


Dari wanita akhir zaman yang sangat penuh dosa.


Arabella Aruna Azzahra


Badan Al luruh ke lantai membaca pesan Runa. Dee yang melihat anaknya seperti itu langsung memeluk Al.


"Umi," ucap Al lirih.


Ini yang aku takutkan. Batin Ibra tak kuasa melihat anaknya.


"Abang harus percaya, bahwa segala sesuatu yang sudah di takdirkan untuk kita, sejauh apapun dia pergi, serumit apapun jalannya, dia akan kembali kepada kita, Nak," ucap Dee menenangkan Al.


"Bahkan Al lebih buruk dari seorang pendosa, Umi."

__ADS_1


......................


__ADS_2