
🌹HAPPY READING🌹
Ibra keluar dari kamar mandi setelah selesai dengan kegiatannya. Dee yang melihat Ibra keluar dari kamar mandi memasang senyum tanpa dosanya. Dengan sengaja Dee membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Berpose seksi sambil tiduran menatap Ibra.
"Udah selesai, Mas?" tanya Dee memasang wajah polosnya.
Ibra menatap Dee dengan tatapan kesalnya. Dee tergelak melihat Ibra yang menggemaskan menurutnya.
"Jangan marah, Mas. Kamu dosa loh, kalau nyentuh aku saat datang tamu," ucap Dee sok menasehati Ibra.
"Hem," jawab Ibra cuek sambil terus berjalan menuju ranjang.
Ibra merebahkan tubuhnya dan langsung menutup mata. Menghindari pemandangan yang sangat indah, namun tidak bisa berbuat apa-apa.
Dee dengan jahil dan senyum mengembangnya menggeser tubuhnya mendekat Ibra.
"Jangan coba-coba, Sayang," ucap Ibra dengan mata terpejam saat merasakan kasur sebelahnya bergerak.
Tidak menghiraukan Ibra, Dee tetap mendekat kepada Ibra. Dengan sengaja Dee memeluk erat tubuh Ibra layaknya guling.
"Sayang," peringat Ibra. Matanya dengan setiap tetap terpejam.
"Iya suamiku," ucap Dee lembut.
Dengan sensual, Dee membuat pola-pola abstrak di dada Ibra.
Karena tidak tahan, Ibra memeluk Dee erat dan mengunci pertahanan istrinya. "Tidur, Sayang," ucap Ibra.
Dee terkekeh kecil mendengar nada frustasi suaminya. Sungguh, jika tahu ini sangat menyenangkan, Dee sudah melakukannya sejak dulu. Setelah itu Dee ikut memejamkan mata memasuki dunia mimpi merasakan kehangatan pelukan Ibra.
.....
Waktu pagi telah menjelang. Kini keluarga Ibra sedang duduk bersama untuk melaksanakan sarapan.
Kina yang melihat wajah kusut Abinya pun mengernyit heran. "Abi," panggil Kina.
"Iya, Nak," jawab Ibra.
"Abi sakit?" tanya Kina memastikan.
Ibra menggeleng. "Enggak, Nak. Kenapa?" tanya Ibra.
"Kok wajah Abi kusut banget. Kayak lesu gitu. Kayak nggak ada semangatnya," ucap Kina.
Al yang mendengar perkataan Adiknya ikut menoleh melihat wajah Abinya. "Iya, Abi kenapa kusut banget?" tanya Al ikut menimpali.
"Abi hanya kurang tidur," jawab Ibra cuek. Padahal dia tengah menahan malu saat ini.
__ADS_1
"Kurang tidur?" ucap Dee ikut mengerjai suaminya. Entah kenapa, ini menjadi kesukaannya sejak semalam.
"Hem," jawab Ibra cuek. Setelah itu dia melanjutkan sarapannya tanpa menghiraukan Anak-anak dan istrinya. Setelah itu mereka melanjutkan sarapan dengan diam.
"Abi," panggil Al saat mereka sudah selesai sarapan.
"Iya, Al," jawab Ibra.
"Al terima tawaran Abi buat kerja," ucap Al yang membuat senyum sumringah terbit di bibir Ibra.
"Kamu serius, Nak?" tanya Dee memastikan.
Al mengangguk. "Al sangat yakin, Umi," ucap Al. Dia berharap, dengan pekerjaannya, Al bisa mengurangi sejenak pemikirannya mengenai Runa dan mengalihkan sebentar rasa penyesalannya.
"Baiklah. Hari ini juga ikut Abi ke kantor," ucap Ibra.
Al mengangguk. "Al ganti baju dulu," ucap Al pamit. Karena dia saat ini hanya menggunakan pakaian rumahannya.
Dee yang melihat senyum di bibir Ibra sedikit ngeri. Dia sangat senang Al bisa menggantikan Ibra, tapi Ibra pasti tidak akan memberi waktu untuk Dee sendiri. Dia akan terus menempel dengan istrinya itu.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Ibra.
"Enggak," jawab Dee.
"Waktu kita akan lebih banyak, Sayang. Jadi siap-siap, ya," ucap Ibra kembali menjahili istrinya.
Ibra terkekeh melihat istrinya. Padahal dia hanya mengerjai saja, tapi Dee sudah berpikir yang tidak-tidak.
.....
Sedangkan di sebuah teras mesjid di yang berada di pinggir kota, seorang wanita nampak masih duduk memandangi kedalam mesjid. Dia tidak berani untuk masuk. Dirinya terlalu kotor untuk memasuki tempat suci tersebut.
"Kamu memberiku tempat untuk berteduh dirumahmu. Setelah semua dosaku, kau masih saja baik padaku," gumamnya sendu memandangi lantai mesjid.
Saat asik dengan lamunannya, sebuah tepukan lembut terasa di pundaknya. Wanita itu berbalik dan menatap seorang wanita paruh baya berjilbab menutupi dada yang tengah tersenyum kepadanya.
"Apa kamu tidur disini, Nak?" tanya wanita paruh baya tersebut. Wanita itu nampak cantik dengan senyum lembutnya.
"Iya, Bu. Saya tidak tahu harus mengadu kemana lagi," ucap wanita itu sendu.
"Nama kamu siapa?" tanya Wanita paruh baya tersebut.
"Nama saya Bella, Bu," jawab wanita tersebut.
Ya, wanita itu adalah Arabella Aruna Azzahra. Tidak tahu harus kemana, Bella menaiki bus yang tidak dia tahu kemana tujuannya. Dia turun di tempat pemberhentian terkahir. Hingga dia sampai disebuah perkampungan yang cukup terpencil. Karena waktu yang semakin malam, Bella berhenti di sebuah mesjid kecil.
"Bella kenapa tidak tidur di dalam saja?" tanya wanita paruh baya tersebut.
__ADS_1
Bella tersenyum getir dan menggeleng. "Saya merasa tidak pantas memasuki tempat sesuci ini, Bu," ucap Bella.
"Mengapa seperti itu, Nak?" tanya wanita paruh baya tersebut.
"Saya memiliki dosa yang sangat besar, Bu. Saya mengkhianati-Nya hanya untuk mengharap kasih sayang seorang manusia," ucap Bella sendu.
"Sekarang saya hanya sedang menjalani sisa hidup saya untuk hukuman yang harus saya terima atas segala dosa saya," lanjut Bella dengan nada bergetar.
Wanita paruh baya tersebut mendekat dan memegang kedua tangan Bella.
"Sebesar apapun dosamu, Allah selalu memiliki maaf untuk setiap hamba-Nya yang tulus dengan taubatnya," ucap wanita paruh baya tersebut.
"Bahkan saya menghina kitab suci dan kebenaran-Nya, Bu," ucap Bella menunduk dalam.
Wanita paruh baya tersebut tersenyum mendengar perkataan Bella.
"Nak, kamu tahu, saya dulu juga seorang hamba yang penuh dosa. Bahkan saya rela menghilangkan nyawa dan menyiksa orang yang tidak bersalah hanya untuk kebahagiaan saya," ucap wanita paruh baya tersebut memulai ceritanya.
Nana menatap wanita didepannya dengan serius.
"Kamu tenang saja, saya sudah menyesali semua kesalahan saya. Untuk saat ini saya hanya ingin menjadi hamba yang patuh pada Allah dan Agama saya," ucap wanita tersebut.
"Kamu tahu, Nak. Seorang wanita tangguh menyadarkan saya atas kesalahan yang saya lakukan padanya. Bahkan saat saya melukai dia dan darah dagingnya, dia tetap memberi saya maaf. Percayalah, Nak, Damai dan memaafkan diri sendiri adalah jalan untuk menjadi lebih baik," ucap wanita tersebut.
Nana mengangguk dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Bisakah Ibu membantu saya kembali ke jalan Allah, Bu?" tanya Bella.
"Kita masih sama-sama belajar, Nak. Saya bahkan belum sebaik itu untuk bisa mengajarkan kamu," ucap wanita tersebut.
"Apa kamu mau tinggal bersama saya?" lanjut wanita paruh baya tersebut bertanya kepada Bella.
"Apa tidak merepotkan, Bu?" tanya Bella tak enak.
"Saya hanya tinggal sendiri, Nak. Tidak ada keluarga ataupun kerabat lainnya. Saya sebatangkara," ucap wanita tersebut.
Dengan senyum tulusnya Bella mengangguk. "Bella mau, Bu."
"Anggap saja sebagai Ibu kamu, Nak," ucap wanita tersebut.
"Terimakasih, Bu," ucap Nana memeluk wanita tersebut. Wanita paruh baya tersebut membalas pelukan Bella dan mengusap punggung Bella dengan lembut.
"Besok ikut Ibu ke pesantren tempat Ibu belajar Agama, Nak," ucap wanita tersebut.
Bella mengangguk dengan senyum manisnya. "Maaf sebelumnya, Bu. Bella belum tahu nama Ibu," ucap Bella.
"Panggil saja saya Ibu Naina, Nak."
......................
__ADS_1