
Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍
Jangan lupa komentarnya 💬
Jangan lupa vote nya juga yaa
Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini
🌹HAPPY READING🌹
Kini Ibra dan Wijaya sedang berada di mobil menuju Kantor Polisi. "Semoga kali ini berita baik yang menghampiri kita," ucap Wijaya menatap lurus ke depan.
Ibra yang fokus pada jalan hanya mengangguk. Dia juga mengharapkan hal yang sama seperti yang Papanya ucapkan.
Saat fokus dengan kemudinya, Ibra teringat seseorang. Ibra mengambil ponsel yang dia letakkan di dashboard untuk menghubungi seseorang.
"Halo, Vin," ucap Ibra setelah panggilan terhubung.
"Ya, Ib," jawab Kevin dari seberang sana.
"Jalan ke Kantor Polisi sekarang," ucap Ibra.
"Oke," ucap Kevin tanpa banyak pertanyaannya. Karena dia sudah mengetahui hal ini sebelumnya dari Agam.
Panggilan berakhir, dan Ibra kembali fokus kepada jalan yang ada di depannya.
....
"Gimana pemeriksaannya?" tanya Ibra.
Kini Agam, Ibra, Wijaya dan juga Kevin sudah duduk bersama di sofa di ruangan Agam.
"Mending Lo panggil Alan kesini, Ib," ucap Agam.
"Buat apa?" tanya Ibra heran mendengar ucapan Agam.
"Lo baca ini!" ucap Agam memberikan map berwarna coklat kepada Ibra.
Ibra menerima amplop itu. Dia melihat semua orang terlebih dahulu sebelum membuka nya.
"Bagaimana bisa?" ucap Ibra heran setelah membaca isi map nya.
"Kenapa, Ib?" tanya Kevin penasaran.
__ADS_1
Ibra memberikan map tersebut kepada Kevin.
"Anjing! Ini pasti ada yang nggak benar, nih," ucap Kevin emosi.
"Mulut kamu, Kevin!" tegur Wijaya kepada Kevin.
"Hehehe maaf, Om. Tapi ini benar-benar ada yang nggak beres, Om," ucap Kevin seraya memberikan map tersebut kepada Wijaya.
Dengan seksama Wijaya membaca isi map tersebut. Matanya membulat sempurna saking terkejutnya.
"Halo, Lan. Lo lagi dimana?" tanya Ibra ketika sambungan teleponnya di angkat oleh Alan.
"Di ranjang. Aahh," jawab Alan sambil menikmati mainannya bersama sang istri di kasur kesayangannya.
"Anjing emang. Bisa-bisa nya Lo bercinta sambil angkat telfon gue. Nggak waras Lo!" umpat Ibra mendengar suara laknat L
Alan.
"Lo yang ganggu ahh gue ahh," jawab Alan dengan mengeraskan suara laknatnya.
"Dalam sepuluh menit Lo harus datang ke kantor polisi. Lewat sepuluh menit, kerjasama perusahaan kita batal!" ucap Ibra memutuskan sambungan teleponnya sepihak.
Sedangkan di seberang sana, Alan mengumpat tidak karuan. "Anjing!" umpat Alan.
"Kamu ngatain aku?" tanya istri Alan yang sedang berada dibawahnya.
"Bentar lagi, Pa," jawab Ayu, istri Alan yang sedang membalas permainan Alan.
Sepulu menit kemudian, Alan baru selesai dengan olahraganya bersama sang istri. Dengan segera dia membersihkan badan dan bersiap ke Kantor Polisi.
"Kamu kenapa marah-marah telpon Alan, Ibra?" tanya Wijaya yang heran melihat Ibra.
"Si Alan sialan, Pa. Masa dia main sama istrinya sambil angkat telepon aku," jawab Ibra kesal.
Semuanya tergelak mendengar jawaban Ibra. "Waktu Lo hubungin dia yang nggak tepat, bego. Lo lihat jam berapa sekarang," jawab Kevin menunjuk jam dinding yang ada di ruangan Agam.
"Hahaha, gue jadi ngebayangin wajah nya Alan," ucap Agam yang sudah tidak bisa menahan tawanya.
Tidak berselang lama, Alan sampai di kantor polisi. Setelah menanyakan ruangan Agam, Alan langsung berjalan dan masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Dasar nggak sopan!" ucap Agam yang terkejut karena kedatangan Alan.
"Lagi ngomongin gue kan?"
__ADS_1
"Gimana, Lan? sampai selesai?" tanya Wijaya ambigu.
"Selesai apa, Om?" tanya Alan tak paham.
"Buat anak," celetuk Kevin dengan wajah polosnya.
"Gara-gara Lo gue main cepat tau nggak. Berkurang kenikmatan gue. Oiya, kenapa malam-malam gini panggil gue kesini?"
"Nih, Lo baca!" ucap Ibra menyerahkan map yang sejak tadi menjadi objek operan mereka.
Alan menerima map tersebut dan membacanya. "Ini nggak mungkin," ucap Alan menggeleng setelah membaca isinya.
"Lo yakin sama hasil penelusuran Lo, Lan?" tanya Ibra. Kini mereka sudah kembali serius dengan topik pembicaraan sebenarnya.
"Bahkan gue nggak pernah seyakin ini sebelumnya, Ib. Mana mungkin gue merekayasa bukti yang gue kasi sama Lo. Kenapa bisa bukti gue dikatakan palsu dan bukti yang satu lagi bisa asli? Gue yakin ada yang menukar hasil ini." ucap Alan pasti kepada Ibra.
"Nggak ada pilihan lain, kita sendiri yang akan periksa buktinya," ucap Ibra.
Mereka semua mengangguk. Agam berdiri mengambil laptop yang ada di mejanya dan memberikannya kepada Ibra. Tanpa pikir panjang Ibra langsung mengotak-atik laptop Ibra. Kemampuan IT nya benar-benar dia keluarkan saat ini.
"Selesai!" ucap Ibra lega setelah satu jam berkutat dengan laptop Agam.
"Huft, gue sengaja biarin polisi sendiri yang periksa bukti ini supaya hasilnya lebih kongkrit. Tapi ternyata ada diantara mereka yang main-main sama kita," ucap Ibra.
"Ib, tiga hari lagi, Lo bawa Dee kesini dengan alasan pemeriksaan. Untuk sementara kita percaya dulu sama hasil pemeriksaan ini. Dan selama tiga hari itu, kita mencari bukti keterlibatan orang dalam disini. Kita usahain dalam tiga hari kita harus menemukan orangnya. Gue yakin, ada orang Kepolisian yang mendukung Naina untuk melakukan semua ini. Itu tidak akan sulit, karena dia bermain dengan orang yang salah," ucap Agam memberi ide kepada Ibra.
"Bawa Dee kesini? Itu nggak akan sulit, tapi gue takut mental Dee pasti akan gemetaran. Sewaktu Polisi ke rumah aja dia udah pucat kayak nggak ada darah, apalagi dibawa kesini. Banyak banget hal buruk yang dia dapat disini, Gam," ucap Ibra menjelaskan.
"Tapi kita nggak ada pilihan lain, Ibra. Papa setuju dengan ide Agam," ucap Wijaya menimpali.
"Dan gue butuh banget bantuan Lo, Lan," ucap Agam kepada Alan.
". Oke, Gam. Gue siap bantu," jawab Alan mantap.
"Huft, andai Mama bisa dibawa kesini. Oke, kalau gitu gue akan bawa Dee kesini tiga hari lagi," ucap Ibra memutuskan.
......................
Terimakasih selalu setia mengikuti cerita receh yang author tulis.
Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.
Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @nonam_arwa
__ADS_1
Akan sangat indah jika kalian semua memberi like dan komentarnya
Author sayang kalian 🌹🌹😘