
🌹HAPPY READING🌹
Sudah tiga hari sejak kedatangan Sofia, Ibra mencoba untuk biasa saja kepada Dee. Sofia tidak pernah datang ke rumah dan Ibra juga tidak pernah mengunjunginya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan Ibra masih berkutat dengan laptop di pangkuannya. Sedangkan Dee sudah tiduran di sebelah Ibra dengan tangan yang melingkar di pinggang Ibra.
"Mas," panggil Dee kepada Ibra.
"Hem," gumam Ibra menjawab panggilan Dee.
"Mas," panggil Dee kembali. Tangannya asik meraba-raba pinggang Ibra.
"Hem," jawab Ibra lagi tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.
"Mas, iihh," cemberut Dee karena Ibra tidak mempedulikannya dan malah sibuk dengan laptopnya.
"Iya, Sayang," jawab Ibra menoleh kepada Dee. Melihat wajah cemberut istrinya, Ibra meletakkan laptop di atas meja sebelah ranjang dan beralih mengusap lembut kepada Dee yang tertutup hijab instannya.
"Adek ngambek!" ketus Dee membalikkan badannya memunggungi Ibra.
Ibra tersenyum melihat tingkah menggemaskan istrinya.
"Kenapa Sayang, hem?" tanya Ibra lembut memegang pundak Dee.
"Dari tadi di cuekin terus. Lebih pentingkan laptop daripada Adek. Adek nggak suka!" ucap Dee dengan gaya marah manjanya.
Ibra tersenyum mendengar perkataan istrinya. Ibra suka Dee yang seperti ini, manja dan menggemaskan. "Maaf, ya. Tadi ada sedikit kerjaan, Sayang. Tapi sekarang udah selesai kok," ucap Ibra.
Dee langsung membalikkan tubuhnya menghadap Ibra. Tanpa aba-aba dia langsung memeluk tubuh Ibra. "Nggak jadi ngambeknya?" ucap Ibra meledek Dee.
"Iih jangan ledekin Adek, Mas. Malu," ucap Dee menyembunyikan wajahnya di dada bidang Ibra.
"Maaf ya, Mas. Adek akhir-akhir ini manja banget, ya," ucap Dee tak enak kepada Ibra.
"Nggak apa, Sayang. Aku suka kalau kamu manja kayak gini. Aku sayang banget sama kamu," ucap Ibra membalas pelukan Dee. Kini mereka saling berpelukan di atas tempat tidur.
"Adek juga sayang banget sama Mas, dan Al juga," jawab Dee yakin.
"Kamu dan Al adalah sumber kehidupan aku, Sayang. Jadi jangan pernah pergi apapun nanti yang terjadi," ucap Ibra tiba-tiba sendu memandangi Dee.
Dee mengerjap polos mendengar perkataan Ibra. "Adek nggak akan ninggalin Mas. Kalaupun Adek pergi, Adek akan bawa Al. Karena seorang anak akan lebih baik dengan ibunya," jawab Dee.
"Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi," ucap Ibra cepat. Setelah itu mereka terdiam menikmati pelukan hangatnya.
"Sayang, kesalahan apa yang tidak akan pernah kamu maafin?" tanya Ibra tiba-tiba.
"Huh?" Dee memandang bingung mendengar pertanyaan Ibra. "Maksud, Mas?" tanya Dee.
__ADS_1
"Kesalahan yang tidak akan kamu maafin kalau aku yang melakukannya," ucap Ibra memperjelas maksud pertanyannya.
"Emm ... pengkhianatan," jawab Dee.
DEG
Jantung Ibra sudah tidak karuan mendengar jawaban Dee. Sangat tepat sasaran. Ibra langsung memeluk Dee kembali menyembunyikan wajah gelisah nya agar Dee tidak khawatir dan mencurigai semuanya.
"Kenapa tanya kayak gitu, Mas?" tanya Dee yang masih dalam dekapan Ibra.
"Tidak apa-apa, Sayang. Aku iseng aja," jawab Ibra.
"Sekarang kita tidur, ya. Besok aku ada meeting penting di kantor, Sayang," lanjut Ibra.
Dee yang sudah merasakan kantuknya mengangguk menuruti perkataan Ibra. Sebelum tidur, Ibra membuka hijab Dee, dan nampak lah rambut Dee yang sudah hampir mendekati bahunya. Ibra mencium dahi Dee lama, setelah itu mengecup bibir Dee. "Selamat tidur, Sayang," ucap Ibra.
"Selamat tidur, Mas," jawab Dee mencium pipi Ibra. setelah itu mereka berdua tidur dengan saling berpelukan.
.....
Pagi ini, Ibra dan yang lainnya sarapan bersama dengan suasana hening. Al yang melihat semuanya hanya diam berdecak kesal, karena tidak seperti biasanya seperti ini.
"Al kenapa, Nak?" ucap Dee bertanya kepada Al yang hanya nampak kesal.
"Ck, kenapa pada diam aja sih, Umi? Biasanya Abi ajakin Al bicala dulu sebelum makan, ini kenapa nggak ada?" tanya Al kepada Uminya.
Dengan kesal Al melanjutkan makannya. Anak itu menyuapi nasi goreng ke mulutnya dengan malas.
Setelah selesai makan, Al langsung turun dari kursi nya dan meminta kepada Ibra untuk memangku nya. Dia merasa sangat merindukan Abinya. Padahal mereka setiap hari bertemu.
"Kenapa, Boy?" tanya Ibra sambil merapikan seragam Al yang sedikit berantakan.
"Abi kenapa diam saja dali tadi? Kenapa nggak ngajakin Al ngobrol?" tanya Al.
Ibra tersenyum dan mengusap lembut rambut anaknya. "Tidak apa-apa, Boy. Tenggorokan Abi hanya sedikit sakit," ucap Ibra memberikan Alasan.
"Banyak-banyak minum ail putih, Abi," ucap Al menasehati Abi.
Ibra tersenyum dan mengangguk. "Baiklah Dokter Albarra," ucap Ibra mencolek hidung Al.
Wijaya, Reina dan Dee yang melihat itu tersenyum senang melihat interaksi Anak dan Ayah itu.
Semoga kebahagiaan kita ini akan selalu ada, Nak. Maafkan kesalahan Abi. Ucap Ibra dalam hati memeluk anaknya.
"Pa, nanti jadi ke Rumah Sakit untuk terapi Mama?" tanya Dee kepada Wijaya.
__ADS_1
"Jadi, Nak," jawab Wijaya.
"Kalau gitu Dee boleh ikut ya, Pa," ucap Dee dengan memohon.
"Papa boleh saja. Tapi izin dulu suamimu, Nak," ucap Wijaya menunjuk Ibra dengan dagunya.
Dee menolehkan pandangannya kepada Ibra. "Mas, boleh ya," ucap Dee dengan puppy eyes nya.
"Nanti kamu kelelahan, Sayang," ucap Ibra.
"Adek janji nggak akan kelelahan," ucap Dee yakin.
"Tapi Sayang."
"Mas," rengek Dee.
Ibra menghela nafas sebentar. "Baiklah. Tapi janji nggak boleh kecapean," ucap Ibra.
Dee mengangguk senang mendengar Ibra yang mengizinkannya pergi bersama Wijaya dan Reina. Bagaikan anak kecil yang di kasi permen, Dee berdiri memeluk suaminya.
Setelah itu, Ibra dan Al pergi ke sekolah Al, dan setelah itu baru dia akan pergi ke kantornya. Sedangkan Dee, Wijaya dan Reina akan ke Rumah Sakit nanti siang jam sepuluh.
.....
Satu Minggu sudah berlalu. Selama itu Ibra dan Wijaya bersikap biasa di depan Dee dan Al. Hari ini, Kiyai Rozak akan datang atas permintaan Sofia. Hari ini juga mereka akan mengatakan semuanya kepada Kiyai Rozak.
"Sayang, aku ada sedikit pekerjaan dengan Kevin. Aku pergi ya," ucap Ibra kepada Dee yang sedang duduk selonjoran di atas kasur.
"Ini kan hari Minggu, Mas," ucap Dee.
"Iya, Sayang. Tapi ini sangat penting," ucap Ibra meyakinkan Dee.
"Dimana?" tanya Dee.
"Di apartemen Kevin," ucap Ibra memberitahu. Karena dia berpikir tidak ada salahnya mengatakan tempatnya kepada Dee. Lagi pula selama ini Dee tidak akan pernah menyusulnya, pikir Ibra.
Dee mengangguk. " Hati-hati ya, Mas," ucap Dee.
Ibra membungkuk dan mencium dahi Dee lama. Setelah itu beralih melahap Bibir Dee dengan sedikit rakus. Entah lah, dia merasa sangat ini mencium istri saat ini. Dee dengan senang hati membalas kecupan Ibra. Setelah dirasa pasukan oksigen mereka menipis, Ibra segera melepaskan pungutan mereka.
"Aku pergi, ya," ucap Ibra.
Dee mengangguk dan tersenyum. "Iya, Mas," ucap Dee. Setelah itu Ibra berlalu keluar kamar dan segera pergi ke apartemen Kevin.
......................
__ADS_1
Author sayang kalian semua. Tidak bosan author untuk ucapin terimakasih karena dengan setia dan sabar nungguin update novel ini. Jangan lupa kasih vote dan tip nya ya. Semoga rezeki kita semakin berlimpah 😘🌹
Jangan lupa juga untuk baca Novel aku "MEMAKSA CINTA" terimakasih 😍😍🌹