
🌹HAPPY READING🌹
Cahaya jendela masuk dari sela-sela fentilasi kamar Dee. Mata indah itu mengerjap indah menyesuaikan dengan cahaya. Dee melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh siang.
"Astagfirullah," ucap Dee langsung terduduk karena kaget. Dirinya begitu kesiangan.
Sedetik kemudian, senyum terbit di bibir mungil Dee. Telinganya memerah karena mengingat apa yang dia lakukan semalam dengan Ibra.
"Aws," ringis Dee ketika hendak bangun dari duduknya.
Pangkal pahanya terasa sakit dan ngilu. Dengan perlahan Dee bangun dan melangkah ke kamar mandi.
Tiga puluh menit di kamar mandi akhirnya Dee selesai dengan ritual nya. Berjalan dengan perlahan menuju meja rias karena pangkal pahanya yang sedikit lecet karena perbuatan dia dan Ibra semalam.
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Nampak lah Ibra masuk dengan pakaian rumahannya.
"Sayang aku udah bangun," ucap Ibra memeluk Dee yang sedang mengeringkan rambutnya dengan pengering rambut.
Dee tersenyum lembut kepada menatap Ibra di cermin. "Darimana, Mas?" tanya Dee.
"Nggak dari mana-mana. Dari Toko, tadi bantuin Gala angkat pesanan," jawab Ibra mendusel-dusel di leher Dee.
"Mas, geli," ucap Dee menjauhkan kepala Ibra dengan tangannya.
"Sayang, lagi yuk," ucap Ibra memohon.
Dee menghentikan kegiatannya dan menatap Ibra. "Masih sakit, Mas," ucap Dee lembut. "Nanti malam, ya," lanjut Dee lembut mengusap pipi Ibra.
Dengan lesu Ibra mengangguk. Tangannya terulur mengambil sisir dan menyuruh Dee duduk di kursi rias.
"Kamu duduk, ya. Biar aku yang sisir," ucap Ibra.
Dengan patuh Dee menurut dan duduk menghadap cermin. Menikmati sentuhan lembut Ibra di kepalanya.
"Sayang," panggil Ibra di sela kegiatannya menyisir rambut Dee.
"Iya, Mas," jawab Dee melihat Ibra dari cermin.
"Nanti malam Papa sama Mama mau kesini, nggak apa-apa kan?" tanya Ibra hati-hati.
Dee tersenyum lembut dan mengangguk. "Nanti temenin Adek ke pasar buat beli bahan masakan, ya Mas," ucap Dee mengajak Ibra.
"Iya, Sayang," jawab Ibra tersenyum.
.....
Sesuai perkataan Dee tadi, siang ini setelah Al pulang sekolah, Ibra mengajak keluarga kecilnya pergi untuk membeli bahan makanan.
__ADS_1
"Adam, Ayang titip Toko, ya. Ayang mau ke pasar duku," ucap Dee pamit kepada Adam yang sedang berbincang bersama Joni di Toko.
Adam mengangguk. "Hati-hati, Yang. Berangkatnya pake apa?" tanya Adam.
"Pakai mobil nya Mas Ibra," jawab Dee.
"Kalau gitu hati-hati, Yang," ucap Adam menyalami tangan Dee.
"Iya. Ayang berangkat, Assalamu'alaikum," ucap Dee.
"Waalaikumsalam," jawab Adam dan Joni yang duduk di sana.
Ibra meminta Pak Sofyan untuk meminjamkannya mobil, tentu saja atas bantuan Alan. Dengan mudah Ibra bisa menggunakan salah satu mobil kantor milik Alan yang ada di Kota Padang.
"Ayok, Mas," ucap Dee setelah duduk di sebelah kemudi. Kina dan Al duduk di kursi belakang.
Perlahan mobil Ibra berjalan meninggalkan rumah Dee.
"Umi, kita mau ngapain ke Pasar segala, Umi?" tanya Al.
"Malam ini kita mau makan malam, Nak," jawab Dee lembut.
"Tan tita matan tiap malam, Umi," celetuk Kina yang tidur di kursi belakang dengan paha Al sebagai bantalnya.
Dee dan Ibra tersenyum mendengar perkataan Kina, sedangkan Al mengangguk menyetujui perkataan Adiknya.
"Tedutan?" ucap Kina senang sambil bangun dari rebahan nya.
Ibra mengangguk melihat antusias anaknya. "Kejutan apa, Abi?" tanya Al penasaran.
"Kalau di kasi tahu namanya buka kejutan lagi, Boy," ucap Ibra.
"Taci tahu Ina aja, Abi," ucap Kina mencondongkan wajahnya ke depan mendekati Ibra.
"Kejutannya buat Abang sama Adek. Jadi nggak boleh kasih tahu sekarang," jawab Ibra mencolek hidung Kina yang menempel di pipinya.
Dengan cemberut anak itu kembali duduk di kursi belakang.
Ibra dan Dee hanya tersenyum dan menggeleng melihat tingkah anak-anaknya.
"Umi, hidupin sholawat ya," ucap Al kepada Dee.
Dee mengangguk. Tangannya bergerak untuk menghidupkan lagu di mobil Ibra yang dia sambungkan lewat ponselnya. Setelah itu nyanyian sholawat merdu menemani perjalanan mereka.
Empat puluh lima menit kemudian, mobil Ibra sampai di Pasar Tradisional Kota Padang. Orang-orang Padang biasa menyebutnya Pasar Raya Padang. Karena yang jauh dari rumah Dee ke Pasar membuat mereka menempuh waktu lebih kurang satu jam.
"Sayang, yakin kesini?" tanya Ibra dengan wajah memelas nya kepada Dee.
"Iya, Mas," jawab Dee tersenyum. Dee sengaja mengajak Ibra ke Pasar karena dia lebih suka belanja disini dari pada di supermarket.
__ADS_1
"Ayo tulun, Abi. Dendong Ina," ucap Kina merentangkan tangannya kepada Ibra.
Ibra menatap Dee dengan wajah memelas nya. "Sayang," rengek Ibra.
"Turun, Mas," jawab Dee tegas namun lembut.
Dengan pasrah Ibra turun dan menggendong Kina. Sedangkan Al berjalan dengan menggandeng tangan Uminya.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Ibra menginjakkan kaki di pasar tradisional seperti ini.
"Tahu gitu tadi aku pakai jaket. Panas, Sayang," gerutu Ibra yang mengikuti langkah Dee di belakang. Bayangkan saja, panas terik seperti ini dia hanya memakai kaos oblong lengan pendek dengan celana jeans selutut. Pikirannya dia akan pergi ke supermarket untuk membeli bahan masakan, nyatanya Dee membawanya ke Pasar.
"Hihihi, jangan ngeluh, Abi," ucap Al yang menjawab kekesalan Abinya. Sedangkan Dee hanya tersenyum melihat suaminya yang tampak kesal.
Pasrah. Itu lah yang dilakukan Ibra. Setengah jam mengelilingi pasar, Ibra akhirnya sudah tidak peduli lagi dengan panas, serta kakinya yang kotor karena cipratan air kotor. Semuanya hilang karena melihat antusias Kina dan Al yang mengikuti Uminya berbelanja di Pasar. Kina sesekali berceloteh dan bertanya kepada Ibra tentang apa yang dia lihat. Anak itu sangat menggemaskan. Selama berbelanja, Kina tidak dibiarkan oleh Ibra turun dan berjalan kaki sendiri. Dia takut anaknya akan terinjak karena berdesakan.
Dua jam mengelilingi Pasar, akhirnya Dee selesai berbelanja. Ibu-ibu jika berbelanja memang sangat lama.
"Cuci kaki dulu, Mas," ucap Dee memberikan sebotol air mineral yang tadi dia beli sebelum menaiki mobil.
Ibra menerima air tersebut dan mencuci kakinya.
"Al juga, Nak," ucap Dee memberikan botol lainnya kepada Al.
"Iya, Umi," jawab Al menerima botol tersebut.
Setelah selesai, mereka kembali menaiki mobil dan bersiap untuk pulang.
.....
Malam telah menjelang. Kini Al dan Kina sedang dalam perjalan mereka pulang dari mesjid komplek. Memang sudah kebiasaan Kina untuk ikut Abangnya mengaji, oleh karena itu Al selalu membawa Kina ke mesjid. Di mesjid Kina juga diam dan sesekali ikut belajar bersama ustadzah.
Selepas mengaji, Al yang biasanya akan bermain dulu dengan teman-temanya, tapi sekarang tidak. Karena Uminya sudah berpesan untuk langsung pulang. Karena mereka akan kedatangan tamu.
Sampainya di depan rumah, Al dan Kina melihat ada tiga mobil terparkir di depan rumah mereka.
"Ban, tenapa lumah banak mobil na?" tanya Kina bingung. Wajah anak itu sungguh menggemaskan.
"Nggak tahu, Dek. Ayok kita masuk," ajak Al kepada Kina.
Sampainya di depan pintu rumah, mata Al memanas melihat Abinya yang memeluk seorang anak yang duduk di kursi roda. Dia mengedarkan pandangannya dan melihat seorang wanita yang telah menyebabkan Umi dan Abinya berpisah.
......................
Bayar tulisan aku dengan like, komen dan vote dari kalian ya.
Jangan lupa follow Instagram aku @yus_kiz
Terimakasih
__ADS_1