Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
Season 2 ~ 179


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


"Kenapa Runa? Jawab aku kenapa Runa? JAWAB RUNA!"


"KARENA AKU SUDAH BUKAN SEORANG GADIS, AL!" teriak Bella memberitahu Al dengan lantang.


Al menatap nanar kepada Bella. Badannya terhuyung ke belakang karena tidak kuat menyangga tubuhnya sendiri. Perkataan Bella benar-benar membuat dunianya hancur.


"A-apa maksudmu, Bella?" tanya Al terbata.


Bella menghapus air matanya kasar. Haruskah dia membuka masa lalu kelam yang dia alami? Haruskah dia kembali membuka luka lama itu? Batin Bella bertanya-tanya.


Bella menatap Al dengan sendu. "Hiks, aku bukan lagi seorang wanita suci, Al. Aku bukan lagi seorang gadis. Aku memang hina," ucap Bella menangis kepada Al.


"Aruna," terdengar suara sendu yang memanggil Bella dari ambang pintu.


Bella dan Al menoleh. Mereka melihat semua yang tadi diluar, kini sudah berdiri di ambang pintu. Mata Bella berubah sendu dengan air mata yang tak hentinya keluar ketika manik matanya menangkap sosok yang dulu kasih sayangnya sangat dia harapkan.


"Papa," ucap Bella lirih.


Ya, dia adalah Bima. Lelaki paruh baya yang kasih sayangnya dulu sangat Bella harapkan. Bima yang sudah tidak sabar bertemu dengan anaknya menghubungi Aska untuk menanyakan keberadaan Bella. Hingga akhirnya Aska memberitahu. Rasa rindu yang sudah membengkak itu membuat Bima tidak bisa menunggu. Dia menerobos masuk dan diikuti yang lainnya. Tapi mereka malah melihat pertengkaran antara Al dan Bella.


Bima berjalan mendekat kearah Al dan Bella. Begitu sudah sampai didepan anaknya, Bima langsung membawa tubuh rapuh Bella kedalam pelukannya.


"Princess Papa," ucap Bima sendu.


Tangis Bella pecah mendengar panggilan sayang yang sejak dulu dia rindukan. Panggilan yang selalu membuatnya nyaman.


"Papa," gumam Bella pilu.


Bima mengangguk. "Iya, Nak. Ini Papa. Pahlawannya Runa, Anak Papa," jawab Bima.


"Hiks, kenapa baru sekarang, hiks?" ucap Runa menangis memukul-mukul pelan dada Bima.


"Maaf, Nak. Maaf," hanya kata itu yang mampu Bima ucapkan untuk saat ini. Lidahny kelu, tenggorokannya terasa tercekat mendengar apa yang disampaikan Bella pada Al.


Bima melepaskan pelukannya dan menatap wajah anaknya yang kini bertambah cantik dan ayu dengan hijab yang menghiasi kepalanya. "Anak Papa persis seperti Bunda," ucap Bima tersenyum dan mengecup seluruh wajah anaknya.


Bella tersenyum dalam tangisnya. Ini sudah sangat lama dia harapkan, dan semua terjadi dalam waktu yang pernah dia sangka.


Semua yang ada disana ikut terharu melihat Anak dan Ayah itu.


Bima beralih menatap Al yang sedari tadi diam dengan mata memerahnya. Dia ikut bersimpuh mensejajarkan tubuhnya dengan Al. Bima mengatupkan kedua tangannya kepada Al.


"Aku yang membuat anakku menjadi seperti itu Al. Karena aku, anakku harus menjadi piala bergilir para bodyguardnya," ucap Bima dengan suara bergetar dan kepala yang menunduk dalam.

__ADS_1


Tangis para wanita yang ada disana pecah mendengar perkataan Bima.


Naina yang melihat Bella sudah terduduk dilantai menghampiri dan memeluk tubuh yang rapuh dan bergetar itu.


Dee yang mendengar perkataan Bima langsung berlari memeluk anak lelakinya yang sudah menangis layaknya anak kecil itu. Memberi ketenangan dan pelukan hangat kepada anaknya.


Ibra, Bram dan Aska yang mendengar itu menatap tidak percaya atas apa yang dikatakan Bima. Bagaimana mungkin seorang Ayah tega membuat anaknya menjadi wanita hina seperti itu? Batin mereka tak habis pikir.


Al menumpahkan tangis dipelukan Uminya. "Hati Al sakit, Umi. Sesak sekali," ucap Al mengadu dengan segala sesak didadanya. Pemuda yang gagah itu kini menjadi seorang lelaki rapuh layaknya anak kecil yang menangis kepada Ibunya.


Aska yang melihat sahabatnya seperti itu menjadi tidak tega. Ini pertama kali baginya melihat Al yang sangat rapuh dan terluka.


Dee ikut menangis melihat anaknya yang sangat rapuh seperti ini. Sekuat-kuatnya lelaki, jika sudah mendengar sesuatu buruk mengenai orang yang dia cintai, maka semua wibawa itu akan hilang. Dee seperti melihat Al kecil yang dulu mengadukan semua luka ditubuhnya kepada Dee.


Naina yang menenangkan Bella mencoba bertanya kepadanya. "Nak, kalau seperti itu, Kenapa lebih memilih ustad itu, Nak?" tanya Naina lembut menahan tangisnya.


Bella menatap Naina. Setelah itu beralih menatap semua orang. "Ustad Zaki pernah bilang, kalau Ustad yang ingin meminang Bella itu adalah seorang duda, Bunda. Istrinya meninggal satu tahun setelah mereka menikah karena melahirkan," jawab Bella sesegukan.


Mereka semua yang mendengar perkataan Bella menatap Bella tak percaya.


"Jadi karena dia duda, kamu menerimanya, Bella?" ucap Aska mengeluarkan suaranya. Dia sungguh gak habis pikir dengan sahabatnya itu.


"Al," panggil Bima lirih kepada Al.


Al melepaskan pelukan Uminya dan beralih menatap Bima. Dengan kasar Al menghapus air matanya.


BUGH


"AL!" pekik mereka semua melihat Al yang melayangkan pukulan kerasnya di wajah Bima.


"Kamu memang seorang Iblis!" ucap Al tajam tanpa menghiraukan yang lainnya.


BUGH


"Karena kamu, dia harus melalui hidup berat. Kamu memang tidak pantas dipanggil seorang Ayah!" ucap Al memukul Bima.


Dee yang ingin melerai anaknya ditahan oleh Ibra. "Dia pantas mendapatkan itu, Sayang," ucap Ibra.


Sedangkan Bella hanya menangis dipelukan Naina. Dia juga sedih, marah dan kecewa atas apa yang terjadi padanya dulu karena perbuatan Papanya. Tapi karena haus akan kasih sayang Papanya, dia diam dan memendam semuanya sendiri.


Bima mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Ini tidak seberapa dengan luka dan kecewa anakku. Batin Bima.


"Bunuh aku, Al. Aku memang Papa yang buruk untuk anakku," ucap Bima.


"Jika membunuh itu tidak dosa, maka sudah sejak kemarin-kemarin aku melakukannya," jawab Al.

__ADS_1


"Al, tolong jangan berpaling dari anakku," ucap Bima sendu dengan suara bergetar memohon kepada Al.


Al beralih menatap Bella yang menangis dipelukan Naina. Setelah itu dia berbalik menatap Umi dan Abinya.


Al bersimpuh dengan kedua lutut sebagai tumpuannya didepan Dee dan Ibra. Al menengadah menatap Dee dan Ibra dengan mata yang memerah.


"Abi, Umi, apa restu kalian masih ada?" tanya Al sendu.


Dee menangis dipelukan Ibra. Ibra mengusap lembut punggung istrinya yang bergetar itu.


Al meraih tangan Dee yang terbebas begitu saja. "Umi, apa Umi memberi restu jika Al melanjutkan niat Al bersama Runa, setelah Umi mengetahui semuanya?" tanya Al lembut.


Dee tidak sanggup rasanya. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Bagaimanapun juga, seorang Ibu tentu ingin anaknya mendapat pendamping hidup yang terbaik. Tapi mengapa mereka diuji dengan hal yang sangat berat seperti ini?


Dee menatap Al yang bersimpuh sambil memegang tangannya. "Apa cinta Al kepada Runa masih sama?" tanya Dee setelah mensejajarkan tubuhnya dengan Al.


Al mengangguk. Perasaan itu masih sama meskipun dia sudah mengetahui semuanya. Cintanya kepada Bella tidak serendah itu hingga hilang begitu saja karena mendengar kekurangannya.


"Al tidak mencintai kelebihannya, Umi. Cinta itu hadir tanpa alasan, jadi tidak alasan untuk cinta Al juga akan berkurang, Umi," jawab Al menatap Uminya.


Dee beralih menatap Bella yang sesegukan melihat segala tindakan Al. "Apa harapan kamu masih ada pada anak Umi, Bella?" tanya Dee.


Bella mengangguk dengan mata berkaca-kaca melihat Dee. Dia masih sangat mencintai lelaki itu. Harapannya akan selalu pada lelaki itu.


Setelah itu Dee Kembali menatap anaknya. "Bahagiakan dia, Nak. Jangan pernah ungkit masa lalunya. Jika sudah menikah, aibnya adalah aibmu yang harus kamu jaga, Nak," ucap Dee.


Al mengangguk yakin mendengar perkataan Uminya. Setelah itu dia beralih menatap Ibra yang masih berdiri disebelah Dee. "Abi," panggil Al.


"Apa Al ikhlas menerima kekurangannya, Nak?" tanya Ibra.


Lagi-lagi Al mengangguk menjawab perkataan Abinya.


"Restu Abi dan Umi bersama kamu, Nak," ucap Ibra.


Al tersenyum senang. "Terimakasih, Umi. Terimakasih, Abi," ucap Al memeluk Dee yang ada didepannya.


"Berbahagialah, Nak," ucap Dee membalas pelukan anaknya.


Setelah memeluk Uminya, Al berdiri dan berjalan kearah Bima yang mengusap sudut bibirnya. "Restumu masih untukku, kan?" tanya Al.


Bima tersenyum dan mengangguk. "Tentu," jawab Bima.


Al berjalan mendekati Bella. Al menatap Naina dan Bram secara bergantian. Setelah itu beralih menatap Runa. Al mengambil pergelangan tangan Runa dan menariknya. "Tidak ada penolakan lagi," ucap Al menarik Bella keluar dari ruangan tersebut.


......................

__ADS_1


Jangan lupa kasih aku like, komentar, dan votenya juga yaa. Mau kasih bunga juga nggak papa. Bukti kalian cinta aku, karena Aku sayang kalian semua 🌹🌹😚🤗


Terimakasih selalu nungguin part demi part novel ini ya, jangan bosan-bosan 🤗🤗🌹


__ADS_2