
Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍
Jangan lupa komentarnya 💬
Jangan lupa vote nya juga yaa
Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini
🌹HAPPY READING🌹
Al berlari menuruni anak tangga. "Jangan lari-lari, Boy. Nanti jatuh," tegur Ibra melihat Al yang berlari menuruni tangga.
"Abi, Umi Abi," ucap Al dengan nafas tak beraturan. Mata anak itu sudah berkaca-kaca didepan Abinya.
"Kenapa, Boy?" tanya Ibra.
"Cucu Kakek kenapa?" tanya Wijaya yang khawatir melihat wajah cucunya.
"Umi kesakitan di kamar Al, Abi," ucap Al memberitahu Ibra.
Jantung Ibra serasa ingin keluar mendengar perkataan anaknya. Ibra langsung berdiri dan berlari menaiki tangga untuk segera ke kamar Al.
Wijaya menggendong Al untuk membawanya ke atas. "Kakek, Umi nggak akan kenapa-napa kan, Kek?" tanya Al dengan mata berkaca-kaca kepada Wijaya.
"Al tenang, ya. Umi pasti baik-baik saja," ucap Wijaya menenangkan Al.
"Astagfirullahalazim, Sayang!" pekik Ibra melihat Dee yang sudah terduduk di lantai dengan tangan yang memegang perutnya.
Wijaya yang baru memasuki kamar bersama Al juga kaget melihat menantunya. Wajah Dee pucat dengan keringat yang sudah menetes di kepalanya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Ibra cemas.
"Perut Adek nyeri lagi," ucap Dee lemah kepada Ibra. Bibirnya terus merintih menahan sakit.
"Bawa ke Rumah Sakit, Ib," ucap Wijaya tidak tega melihat menantunya.
Dee menggeleng. Dia tidak mau di bawa ke Rumah Sakit. "Bawa Adek ke kamar aja, Mas," pinta Dee kepada Ibra.
Ibra langsung menggendong Dee dan membawanya ke kamar mereka. Diikuti Wijaya dan Al dari belakang. Sampainya di kamar, Ibra menidurkan Dee dengan pelan agar tidak menambah kesakitan istrinya.
"Kita ke Dokter, ya?" ucap Ibra.
Dee menggeleng menolak ajakan Ibra.
__ADS_1
"Tapi kamu kesakitan, Sayang. Kalau terjadi apa-apa gimana?"
Dee kembali menggeleng. Dia sangat tidak ingin ke Rumah Sakit. Dia yakin anaknya pasti akan baik-baik sana di dalam sana. "Tolong vitamin Adek di laci, Mas."
Ibra membuka laci nakas dan mengambil vitamin yang dimaksud Dee. "Ini, Sayang," ucap Ibra memberikan vitamin tersebut.
Dee menerima dan langsung memakan vitaminnya. Ibra dengan sigap memberi air yang ada di atas nakas kepada istrinya.
"Usap-usap perut Adek, Mas," pinta Dee setelah memakan vitaminnya.
Ibra melakukan apa yang diminta oleh istrinya. Tangannya dengan lembut mengusap perut Dee. Usapan tangan Ibra membuat Dee nyaman dan akhirnya tertidur.
Al meronta ingin turun dari gendongan Wijaya. Anak itu naik dengan tergesa-gesa ke atas kasur dan duduk di sebelah Uminya.
"Umi baik-baik saja kan, Abi," tanya Al cemas kepada Abinya.
Ibra mengangguk dan tersenyum kepada Al. "Al tenang ya, Umi baik-baik saja," ucap Ibra menenangkan anaknya.
"Al nggak suka Umi sakit Abi. Kenapa adik buat Umi kita sakit?" tanya Al dengan mata yang sudar berair.
"Adik nggak buat Umi sakit, Boy. Justru Umi tambah kuat karena ada adik di perut Umi," jawab Ibra.
"Tapi tadi Umi kesakitan, Abi."
"Al, Umi bukan sakit karena Adik. Al harus semangati Adik sama Umi agar kuat sampai Adik lahir," ucap Wijaya membujuk Al.
Al mengerti, dia mengangguk patuh mendengar perkataan Kakeknya. Tangan mungil Al bergerak untuk mengusap lembut perut Dee seperti yang dilakukan Abinya.
"Adik, jangan nakal didalam, ya. Jangan buat Umi capek. Adik halus jadi anak baik bial cepat lahil dan bisa main sama Abang," ucap Al kepada Adiknya yang masih berada di dalam perut Uminya.
Ibra dan Wijaya tersenyum senang melihat perlakuan Al yang dewasa dan sangat menyayangi Dee.
.....
"Bi," panggil Ibra kepada Bi Nini yang tengah memasak di dapur.
Bi Nini menoleh dan melihat majikannya berdiri di belakangnya.
"Iya, Tuan. Ada yang bisa Bibi bantu?" tanya Bi Nini ramah.
"Hari ini Dee ngapain aja, Bi?" ucap Ibra kepada Bi Nini menanyakan kegiatan istrinya hari ini. Karena istrinya sakit pasti karena kelelahan.
"Nyonya tidak ngapa-ngapain, Tuan. Setelah Tuan dan Tuan Muda pergi, Nyonya menghabiskan waktu di ruang pribadinya," ucap Bi Nini memberitahu Ibra.
__ADS_1
"Hanya itu?" tanya Ibra memastikan.
Bi Nini mengangguk yakin. " Iya, Tuan. Memangnya ada apa, Tuan?" tanya Bi Nini.
"Tadi Dee merasakan nyeri di perutnya, Bi. Dokter melarang nya untuk banyak beristirahat agar kandungan dan Ibunya tidak apa-apa, Bi," ucap Ibra memberitahu Bi Nini.
"Astagfirullah, sekarang Nyonya bagaimana, Tuan?" tanya Bi Nini khawatir dengan majikannya.
"Sudah lebih baik, Bi. Sekarang Dee lagi tidur sama Al di kamar," jawab Ibra.
"Semoga Nyonya dan kandungannya baik-baik saja, Tuan," ucap Bi Nini peduli kepada Dee.
Ibra mengangguk, "terimakasih ya, Bi," ucap Ibra.
"Sama-sama, Tuan," jawab Bi Nini ramah.
Setelah itu, Ibra pergi meninggalkan dapur dan pergi ke ruang pribadi Dee. Sampainya di sana, Ibra kaget melihat banyaknya kerajinan tanah liat Dee yang sudah selesai. Padahal sebelumnya tidak sebanyak ini.
"Jadi Dee membuat semua ini? Ya Allah, Sayang. Bagaimana tidak kelelahan jika seperti ini," monolog Ibra melihat banyak kerajinan di depannya. Mulai dari kendi, gelas, piring dan ada yang lainnya.
Ibra mengambil semua persediaan tanah liat yang ada di sana dan memasukkannya ke dalam karung. Ibra berniat membuang tanah liat tersebut agar istrinya tidak melakukan ini lagi.
"Aku nggak larang kamu buat kerjain ini, Sayang. Tapi untuk sekarang kamu harus berhenti mengerjakan ini," monolog Ibra sibuk membereskan semua tanah liat yang ada di sana.
Setelah selesai, Ibra memanggil satpam dan menyuruhnya untuk membuang semu tanah liat tersebut.
"Kenapa di bawa keluar, Ib?" tanya Wijaya heran melihat tanah liat kesukaan menantunya di bawa keluar oleh satpam.
"Mau dibuang, Pa," jawab Ibra.
"Kenapa di buang? Istrimu bisa ngamuk kalau dia tahu tanah liatnya kamu buang," ucap Wijaya mencoba menghentikan Ibra.
"Harus di buang, Pa. Seharian ini Dee menghabiskan waktu dengan membuat kerajinan ini sampai lupa istirahat. Ibra nggak mau kandungannya nanti bisa berbahaya karena keras kepalanya," jawab Ibra.
"Tapi kamu bisa menasehati Dee baik-baik," ucap Wijaya membujuk Ibra.
"Menasehati bagaimana lagi, Pa? Ibra udah sering bicara baik. Sekarang Ibra nggak mau ambil resiko. Anak dan Istri Ibra lebih penting dari tanah liat ini," jawab Ibra kekeh dengan keputusannya.
"Ya sudah, jika itu memang yang terbaik," ucap Wijaya mengalah. Dia juga tidak ingin menantu dan cucunya yang belum lahir kenapa-napa.
......................
Author sayang kalian semua. Tidak bosan author untuk ucapin terimakasih karena dengan setia dan sabar nungguin update novel ini. Jangan lupa kasih vote dan tip nya ya. Semoga rezeki kita semakin berlimpah 😘🌹
__ADS_1
Jangan lupa juga untuk baca Novel aku "MEMAKSA CINTA" terimakasih 😍😍🌹