
🌹HAPPY READING🌹
"Ceraikan aku!" tegas Dee menatap dalam mata Ibra.
DEG
Mereka semua yang berada dalam ruangan terkejut bukan main mendengar penuturan Dee, yang terdengar sangat tegas dan yakin kepada Ibra.
Ibra menggeleng kuat. Badannya bergetar mendengar perkataan Dee. "Enggak, Sayang," ucap Ibra lirih. Mata yang tadinya memerah, kini sudah basah karena air yang sedari tadi dia tahan runtuh begitu saja.
"Dee, jangan mengambil keputusan saat emosi, Nak," ucap Wijaya mencoba membujuk Dee.
"Dee, Kak Kevin mohon jangan gegabah, Dee. Pikirkan Al Dee. Al butuh Abi dan Uminya," ucap Kevin memberi pengertian kepada Dee.
Sofia berjalan mendekat kearah Dee. Sampai di depan ranjang Dee, Sofia memegang sebelah tangan Dee yang tidak terkena infus.
"Dee, jangan minta cerai dari Ibra Dee. Aku dan Ibra yang akan bercerai. Setelah anak ini lahir kami akan bercerai Dee. Aku mohon Dee. Jangan memberi penyesalan yang sangat dalam kepada kami," ucap Sofia menangis kepada Dee.
Dee melepaskan tangan Sofia dari tangannya. Hatinya sudah terlanjur sakit. Cukup sudah Dee menderita. Mungkin pergi dari kehidupan Ibra akan memberi ketenangan kepada Dee.
Dee tertawa sumbang mendengar perkataan Sofia. "Penyesalan? Kau tidak ingin menyesal, tapi kau menyakiti hati ku dan anakku, Mbak Sofia," ucap Dee.
"Nak Dee, maafkan keegoisan saya. Jangan meminta cerai dari Ibra. Dia tidak bersalah dalam hal ini. Ini semua keegoisan saya," ucap Kiyai Rozak.
Dee mengalihkan pandangan kepada Kiyai Rozak. "Maaf jika perkataan saya sedikit kasar, Pak. Tapi keegoisan anda meninggalkan luka yang sangat dalam. Bahkan saya tidak tahu apakah luka ini bisa sembuh atau tidak," ucap Dee. Dee memang menjawab perkataan Kiyai Rozak, tapi matanya terus membalas tatapan mata Ibra yang menatapnya dengan dalam. Dee ingin Ibra melihat pedihnya luka yang sudah dia berikan untuk Dee.
"Maafkan aku, Mas. Aku mohon ceraikan aku. Talak aku, Mas," ucap Dee kepada Ibra.
Ibra menggeleng. Dia bersimpuh di depan ranjang Dee dengan kedua lutut sebagai tumpuan, dia menegakkan badannya dan menggenggam tangan Dee yang tidak di infus. "Enggak, Sayang. Aku sangat membutuhkan kamu. Bukan kah kamu berjanji akan selalu berada di dekat ku apapun yang terjadi. Aku mohon, jangan tinggalkan aku," ucap Ibra.
"Apa saat kamu menikahi Sofia kamu mengingat aku dan anakmu? Tidak, bukan? Jadi jangan pernah mengatakan aku penting untuk kamu, Mas," ucap Dee. Air matanya kembali mengalir tanpa bisa dia cegah.
"Maaf, Sayang. Maaf," ucap Ibra dalam tangisnya.
Dee melepaskan genggaman tangan Ibra dari tangannya. "Tidak ada lagi yang bisa di pertahankan. Bukankah kamu yang mengatakan bahwa kepercayaan dan kejujuran pondasi dalam rumah tangga? Tapi kenapa kamu menghancurkannya, Mas? Rumah tangga kita sudah hancur semenjak kamu menuduhku menusuk mama, Mas. Padahal sudah berulang kali aku mengatakan pada kalian semua bahwa bukan aku yang menusuk Mama. Tapi apa? kamu tidak mempercayai aku, Mas. Aku rela disiksa, aku iklhas menjalani hukuman untuk perbuatan yang tidak pernah aku lakukan," ucap Dee dengan tangis yang sudah tak terbendung.
"Dee."
__ADS_1
"Sayang."
"Nak."
Ucap mereka semua menggeleng kepala mendengar semua isi hati Dee.
Dee tidak mengharukan dan melanjutkan ucapannya. "Tidak hanya luka fisik, aku juga mendapat luka batin. Bahkan anakku juga mendapat akibat dari keegoisan kalian. Anakku harus dipaksa dewasa sebelum umurnya. Orang tua mana yang akan sanggup melakukan ini pada anaknya, Mas. Tapi kamu melakukannya. Jika hanya aku yang kamu sakiti tidak apa-apa, tapi anakku jangan. Dia masih terlalu kecil. Aku mohon ceraikan aku. Bahkan anakku juga mendapat luka yang sama dengan ku. Bahkan tubuh anakku-" ucap Dee terpotong karena sudah tidak sanggup lagi untuk meneruskan kalimatnya. Tangisnya semakin kencang mengingat Al saat ini.
"Berada di dekat mu membuat aku dan anakku terluka, Mas. Kamu hanya memberikan luka untuk kami," ucap Dee.
"Jangan bicara seperti itu, Sayang," ucap Ibra memohon.
"Pertama dirimu sendiri yang tidak mempercayai ku. Kedua sahabatmu yang menghancurkan aku dan anakku. Setelah itu Pamanmu, nanti siapa lagi, Mas? Apa aku dan Al harus mati dulu baru semuanya akan membaik? Iya Mas? JAWAB AKU IBRA?" teriak Dee bertanya kepada Ibra. Dia melupakan kesopanannya kepada sang suami karena kekesalannya.
Ibra memejamkan mata mendengar teriakan Dee. Hatinya sakit, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Semua yang dikatakan istrinya adalah benar.
Ibra menghapus air matanya kasar dan berdiri dari posisi bersimpuh nya.
"Tinggalkan aku berdua dengan Dee!" tegas Ibra tanpa mau di bantah.
"Tapi Ib," protes Kevin.
Setelah memastikan semuanya keluar, Ibra ikut mendudukkan badannya di atas ranjang Dee. Mereka duduk berhadapan. Tangan Ibra bergerak memegang tangan Dee. "Istirahatlah, Sayang," ucap Ibra.
"Jangan sentuh aku!" tegas Dee menjauhkan tangannya dari Ibra.
"Apa kesalahanku tidak termaafkan?" ucap Ibra sendu.
"Berpikirlah sebelum bertindak dan mengambil keputusan," jawab Dee.
"Allah maha memberi ampun untuk setiap hambanya, Sayang."
"Tapi aku bukan Allah yang berhak memberimu ampun. Aku hanya manusia dengan perasaan yang sudah sangat kau lukai."
"Aku akan menerima hukuman apapun, tapi jangan sesekali meminta cerai, Sayang. Itu tidak akan pernah aku lakukan," ucap Ibra.
Dee menggeleng. "Jangan bersikap egois. Kau masih harus bertanggung jawab pada janin yang berada dalam perut istri kedua mu. Sedangkan anakku sudah tidak ada, jadi kau bisa mengucapkan talak untuk ku," ucap Dee.
__ADS_1
"Apa kau tidak memikirkan anak kita?" tanya Ibra sendu.
"Apa kau memikirkan anak mu saat menikahinya?" tanya Dee balik.
"Apa perceraian membuat mu bahagia?" tanya Ibra menatap Dee dalam.
"Keluar dari hidupmu akan memberikan kebahagian untukku dan anakku."
"Begitu besar keinginanmu untuk berpisah?"
Dee mengangguk menjawab pertanyaan Ibra.
"Jika aku melepaskan mu, berjanjilah untuk tetap bahagia. Berjanjilah untuk tetap ada senyum di wajahmu."
Lagi-lagi Dee mengangguk mengiyakan perkataan Ibra.
"Boleh aku memeluk mu untuk terakhir kalinya?"
Dee kembali mengangguk. Tanpa pikir panjang, Ibra memeluk erat tubuh mungil Dee dan mengecup pucuk kepalanya. Ibra memandang lekat wajah Dee dan mencium seluruh wajah Dee tanpa ada yang tertinggal. Terakhir dia melahap bibir Dee lama menyalurkan cintanya.
"Percayalah, sampai kapanpun cinta ku akan tetap untukmu. Semoga dengan ini kebahagiaan selalu ada untukmu, Sayang," ucap Ibra dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya. Sama halnya dengan Dee, air mata wanita itu sudah membanjiri wajahnya. Dia patah hati, tapi berpisah mungkin baik untuk mereka.
Ibra sadar, semua masalah ini berasal darinya. Mungkin Dee benar, berada di dekat nya hanya akan memberikan Dee luka yang sangat dalam.
Ibra turun dari ranjang Dee dan berdiri di depan Dee. Ibra meletakkan tangannya di atas kepala Dee dan memejamkan matanya.
"Aku Ibrahim Rubino Hebi, memutuskan hubungan suami istri di antara kita. Maka haram bagiku untuk menyentuhmu" ucap Ibra dengan air mata yang mengalir. Tidak beda jauh dengan Ibra, tangis Dee pecah mendengar perkataan talak Ibra. Ini yang dia inginkan bukan? Ada kelegaan dalam dirinya.
Ibra menurunkan tangannya dan memandang wajah Dee. "Mulai sekarang kita resmi berpisah. Boleh aku meminta sesuatu pada mu?" ucap Ibra.
Dee mengangguk mengiyakan permintaan Ibra. "Tolong jangan pernah hilang dari pandanganku? Setidaknya izinkan aku melihatmu dari kejauhan," ucap Ibra dengan suara bergetar.
"Allah maha menentukan semuanya. Kita hanya bisa menjalani apa yang sudah dia gariskan. Dan mungkin ini yang terbaik untuk kita," ucap Dee.
......................
NB : Dari beberapa artikel yang telah author baca, talak saat hamil itu hukumnya sah dan diperbolehkan. Talak yang tidak sah yaitu talak yang diucapkan saat istri dalam masa haid.
__ADS_1
Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"
Bayar Kiz dengan like dan komentar nya yaa, jangan lupa vote juga. Kalau ada rezeki lebih kasih tip yaa 🌹🌹