Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 119


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Dee hanya diam. Ibra yang melihat Dee diam langsung berdiri dan berjongkok di depan Dee. Sontak itu langsung membuat Dee kaget. Ibra menggenggam erat tangan Dee. Ibra tahu ini salah, tapi dia harus melakukannya. Semakin kuat Dee melepaskan, semakin erat Ibra menggenggam tangannya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Dee.


Ibra menatap dalam mata Dee yang sudah berkaca-kaca. "Izinkan aku berjuang membawa kamu kembali, Sayang," ucap Ibra.


Dee hanya menggeleng menjawab perkataan Ibra.


"Aku dan Sofia sudah tidak ada hubungan apa-apa. Sofia sudah menikah dengan jodoh yang dipilihkan Allah untuknya. Cukup sudah kita menyiksa hati, Sayang. Izinkan aku berjuang memperbaiki semuanya. Memberi obat untuk luka yang telah aku ciptakan. Aku mohon," ucap Ibra lirih. Mata lelaki itu sudah memerah menahan kesedihannya.


Air mata Dee mengalir mendengar perkataan Ibra. Ada senang dihatinya, tapi juga ada kecewa yang sangat dalam hingga luka yang dia dapatkan sangat sulit untuk sembuh. Bahkan untuk kering saja rasanya enggan.


"Aku memaafkan mu, tapi tidak untuk kembali," ucap Dee.


DEG


Jantung Ibra berdetak kencang. Badannya terasa tidak bertenaga mendengar perkataan Dee.


"Apa memang tidak ada kesempatan untuk kita bersama, Sayang?" tanya Ibra sendu. Air matanya sudah mengalir di pipinya.


Sedangkan Dee hanya diam dengan air mata di pipinya.


"Apa begitu sulit mengobati luka itu, Dee? Apa kesalahanku terlalu besar untuk dimaafkan? Aku mohon demi anak-anak kita," ucap Ibra memohon kepada Dee.


"Luka ku sangat dalam. Untuk kering saja membutuhkan waktu yang sangat lama. Apalagi sembuh, mungkin saat nyawaku berakhir luka ini baru akan sembuh," ucap Dee dengan tangisnya.


Dia benar-benar merasa trauma untuk kembali menjalin rumah tangga. Kepedihan, ketidakpercayaan, dan tidak ada kejujuran membuatnya enggan untuk menjalin hubungan. Sendiri rasanya lebih baik daripada harus hidup berdua tapi tersiksa.


Ibra sudah tak sanggup lagi. Dia memegang erat kedua kaki Dee dan mencium lutut yang tertutup gamis itu. Hatinya sakit mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Dee.


"Beri aku kesempatan, Sayang. Keluarga kita menantikan kamu dan anak-anak. Mereka sangat menyayangi kalian. Jangan terlalu siksa aku dengan penyesalan ini, Sayang," ucap Ibra sendu sambil terus menggenggam erat kaki Dee.

__ADS_1


"Bangun lah! Jangan merendahkan diri mu seperti ini," ucap Dee mencoba melepaskan tangan Ibra dari kakinya.


"Bahkan bersujud di depan mu akan aku lakukan untuk sebuah kata maaf, Sayang," jawab Ibra.


"Aku mohon berdirilah," ucap Dee sekali lagi.


Tapi Ibra tetap diam. Dia tetap kekeuh memeluk kaki Dee.


"Berdiri Ibra!" ucap Dee tegas.


Ibra tersentak. Tidak ada lagi kata-kata lembut keluar dari mulut wanita yang dia cintai. Dia merindukan nada bicara Dee yang manja dan manis. Tapi Ibra sadar, semua ini terjadi karena dirinya. Jadi, dia yang harus mengembalikan semuanya.


Ibra berdiri dari jongkoknya dan menghapus air matanya.


"Duduklah!" titah Dee.


Dengan patuh Ibra kembali duduk di kursinya.


Ibra menggeleng dengan tatapan sendunya. Matanya memperhatikan tiap inci wajah Dee.


"Kamu tahu Ibra, banyak lelaki yang lebih baik dan lebih segalanya dari mu yang datang kepadaku, tapi aku menolaknya karena aku hanya ingin bahagia dengan anakku tanpa ada rasa cinta terhadap laki-laki lain. Cintaku hanya tersisa untuk anakku saja," ucap Dee.


"Haruskah aku mati dulu baru kesempatan itu ada untukku, Sayang?" tanya Ibra lirih.


Dee langsung menoleh ketika mendengar penuturan Ibra. Ada rasa tidak suka atas perkataan yang dilontarkan Ibra padanya.


"Nyawamu terlalu berharga jika di korbankan hanya untuk aku dan anak-anakku. Jangan lupakan ada anak lain yang membutuhkan kasih sayangmu," ucap Dee.


"Sedikit saja, berikan aku ruang kembali di hatimu, Sayang. Selebihnya biar tugas ku untuk memperbesar ruang itu," ucap Ibra. Hati kecilnya mengatakan bahwa dia bisa meyakinkan Dee untuk kembali padanya.


Dee hanya menggeleng menjawab perkataan Ibra.


"Begitu keras hatimu, Sayang?" ucap Ibra sendu.

__ADS_1


"Kamu yang menyebabkan aku seperti ini. Mungkin Allah masih ingin aku bahagia hanya dengan anak-anakku," jawab Dee.


"Lalu bagaimana dengan aku? Aku berhak memberikan kebahagiaan untuk anak-anakku juga," ucap Ibra.


Dee hanya diam. Seketika dia kembali teringat akan perkataan Al yang menginginkan mereka kembali bersama. Hati dan pikirannya sangat bertolak belakang untuk saat ini. Tapi harapan Al sangat penting untuknya.


Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Bantu aku Ya Allah. Bismillah, semoga apa yang aku lakukan tidak melukai siapapun. Batin Dee berkecamuk.


Dee mengusap kasar air matanya. Mencoba untuk menenangkan dirinya.


Ibra mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan memberikannya kepada Dee.


Dee yang melihat sikap Ibra mengernyit heran.


"Ambil nyawaku dengan pisau itu jika itu semua membayar setiap luka yang kamu dapatkan karena keegoisanku, Sayang," ucap Ibra menyodorkan kedua pergelangan tangannya kepada Dee.


Air mata Dee kembali mengalir. Haruskah pertahannya runtuh dengan mudah seperti ini. Dee membuang pisau itu dengan kasar. "Kebodohanmu hanya akan menambah luka anakku," ucap Dee.


"Baiklah, sekarang tujuanmu apa sebenarnya?" lanjut Dee.


"Menikahi mu kembali," jawab Ibra pasti. Kata yang sudah dari tadi Ibra tahan akhirnya keluar juga.


Dee menolehkan kepalanya kepada Ibra. "Jika begitu, berikan aku mahar dari hasil kerja dengan keringat, bukan dari tanda tangan di balik meja."


......................


Dee orangnya nggak suka bertele-tele guys, jadi dia main langsung tembak aja 🤭👌


Bayar Kiz dengan like dan komentar nya yaa, jangan lupa vote juga. Kalau ada rezeki lebih kasih tip yaa 🌹


Jangan lupa follow Instagram aku juga @yus_kiz


Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"

__ADS_1


__ADS_2