
Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍
Jangan lupa komentarnya 💬
Jangan lupa vote nya juga yaa
Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini
🌹HAPPY READING🌹
Sudah tiga hari berlalu sejak Ibra meminta bantuan Alan untuk mencaritahu semua isi pikirannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tapi Ibra masih asik berkutat dengan laptop di ruang kerjanya.
Saat sedang fokus dengan ketikannya, suara ponsel menghentikan kegiatannya. Ibra mengambil ponsel yang tergeletak di sebelahnya. Ibra melihat nama Alan tertera di layar ponselnya. Tanpa pikir panjang Ibra langsung mengangkat panggilannya.
"Ya, Lan," ucap Ibra mengawali pembicaraan mereka.
"Gue udah dapat apa yang Lo mau. Gue harap Lo nggak kaget dengan kenyataan yang Lo terima," ucap Alan to the point kepada Ibra.
"Secepat itu ?" tanya Ibra heran. Karena Alan menjanjikan dalam seminggu, dan ini baru tiga hari Alan sudah mendapatkannya. Sedangkan dia, Kevin dan Agam saja belum menemukan titik terangnya. Alan memang patut di acungi jempol kalau urusan ini.
"Nggak sulit untuk menyelesaikannya. Gue udah kirim semuanya ke email Lo. Dan gue harap Lo nggak kaget dengan kenyataan yang Lo lihat nanti," ucap Alan dari seberang sana. Kekuasaan yang dimiliki Alam mempermudah pekerjaannya sebagai detektif.
"Lo yakin dengan hasil kerja Lo?" tanya Ibra memastikan.
"Gue nggak pernah seyakin ini sebelumnya," jawab Alan pasti.
Tanpa mengucapkan apapun, Ibra memutuskan sambungan telfonnya dan langsung membuka email di laptopnya. Banyak file yang dikirim Alan, mulai dari video, dokumen, dan gambar. Ibra membuka satu persatu file yang di kirim oleh Alan.
Tangan Ibra terkepal melihat satu persatu file tersebut. "BRENGSEK!" teriak Ibra setelah melihat kenyataan besar yang ia ketahui.
"Lo berani main-main sama keluarga gue, gue pastiin hidup Lo hancur sehancur-hancurnya," ucap Ibra dengan tangan terkepal menahan kemarahannya. Kuku-kukunya sampai memutih, urat tangannya keluar karena saking kuat kepalan tangannya.
Di tengah kemarahannya, pintu ruang kerja Ibra terbuka.
"Mas,"
__ADS_1
Ibra menoleh begitu mendengar seseorang memanggilnya. Dengan cepat Ibra menutup laptopnya dan menormalkan kembali emosinya begitu melihat Dee memasuki ruang kerjanya.
"Ya, Sayang," jawab Ibra dengan senyum di bibirnya.
"Udah malam, istirahat dulu," ucap Dee berjalan mendekat kearah Ibra.
"Kamu tidur duluan, ya. Aku ada urusan keluar sebentar," ucap Kevin mengambil laptop di mejanya.
"Mas mau kemana?" tanya Dee heran saat Ibra membawa laptopnya.
"Mas ada kerjaan bentar sama Kevin, Sayang," jawab Ibra.
"Tapi ini udah malam, Mas?"
"Tapi ini nggak bisa di tunda."
"Besok aja, Mas. Ini udah mau larut," kekeuh Dee mencegah Ibra agar tidak pergi.
"Mas pergi dulu. Kamu langsung tidur dan jangan tungguin Mas, ya. Assalamualaikum," ucap Ibra mencium kening Dee dan langsung pergi tanpa menghiraukan panggilan Dee.
Di perjalanan, Ibra melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Saat ini emosinya benar-benar terkuras. Tidak memerlukan waktu yang lama, Ibra sampai di tempat tujuannya. Ibra turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya dan berjalan masuk ke gedung apartemen Kevin. Ibra berjalan dengan langkah panjang dan wajah dinginnya. Dan sialnya itu menambah ketampanan pria ini.
Kaki Ibra berhenti melangkah ketika sampai di depan pintu apartemen Kevin. Ibra langsung masuk tanpa menekan bel terlebih dahulu, karena dia memang sudah mengetahui sandi apartemen Kevin.
Saat masuk, Ibra melihat Kevin dan Agam duduk bersama di ruang tamu.
"Kebetulan kalian berdua disini," ucap Ibra dingin kepada Kevin dan Agam.
Kevin dan Agam yang sedang berbicara serius langsung diam dan menoleh ketika melihat Ibra yang tiba-tiba berdiri di hadapan mereka.
"Lo disini?" tanya Agam kaget melihat kedatang Ibra yang tiba-tiba.
"Kenapa? kalian nggak seneng kalau gue disini?"
Kevin dan Agam saling pandang mendengar ucapan Ibra yang terdengar sinis di telinga mereka.
__ADS_1
"Lo duduk dulu, Ib," ucap Kevin lembut ketika melihat wajah Ibra yang menahan kekesalan.
Ibra duduk di sebelah Kevin yang duduk berhadapan dengan Agam.
"Gimana sama kasus yang kita selidiki?" tanya Ibra seolah tidak tahu apa-apa.
"Kita masih menyelidikinya," jawab Kevin.
"Sulit untuk menemukan titik terangnya, Ib," tambah Agam.
"Sulit menemukan titik terang atau kalian yang menunda untuk memberitahu gue?" ucap Ibra langsung tanpa basa-basi.
"Maksud Lo?" tanya Agam dan Kevin bersamaan.
"Apa ada sesuatu yang gue nggak tahu?" tanya Ibra tanpa menjawab pertanyaan Kevin dan Agam.
"Lo ngomong apa sih, Ib?" tanya Kevin heran. Karena sedari tadi Ibra datang, dia selalu bertanya kembali jika ditanya.
Ibra tergelak melihat wajah polos kedua sahabatnya ini. "Apa ada sesuatu yang gue nggak tahu?" ucap Ibra mengulangi pertanyaannya.
"Lo tahu kan, kalau nggak pernah ada rahasia diantara kita, Ib," ucap Agam menjawab pertanyaan Ibra.
"KALAU GITU KENAPA LO BERDUA NGGAK NGASIH TAU GUE KALAU NAINA DALANG DIBALIK SEMUA KEJADIAN INI?!" teriak Ibra kepada Agam dan Kevin.
DEG
DEG
......................
Terimakasih selalu setia mengikuti cerita receh yang author tulis.
Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.
Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @nonam_arwa
__ADS_1
Author sayang kalian 🌹🌹😘