Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 57


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Setelah menempuh perjalanan yang tidak jauh, Dee dan Al sampai di rumah. Al yang tertidur sejak dari kantor Ibra ternyata masih asik dengan dunia mimpinya. Dee menggendong Al memasuki rumah dan membawa Al ke kamar untuk menidurkannya.


Setelah menidurkan Al di kamarnya, Dee kembali turun menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Sampainya di dapur, Dee melihat Bi Nini yang sedang berkutat dengan sedikit piring kotor.


"Assalamu'alaikum, Bi," sapa Dee.


Bi Nini menoleh, "Waalaikumsalam, Nyonya," jawab Bi Nini sopan.


"Ada yang bisa Bibi Bantu, Nyonya?" lanjut Bi Nini.


Dee menggeleng dan tersenyum kepada Bi Nini, "nggak usah, Bi. Dee mau masak sendiri untuk makan malam nanti. Kalau Dee perlu bantuan nanti Dee akan panggil Bibi," jawab Dee ramah.


Bi Nini hanya tersenyum dan mengangguk menjawab perkataan Dee. Setelah itu, Dee berjalan menuju kulkas untuk mengambil bahan-bahan yang dia perlukan. Kemudian Dee memulai kegiatan memasaknya. Cukup lama berkutat dengan peralatan dan bahan dapur, Dee sudah menyelesaikan masakannya.


"Bi," panggil Dee kepada Bi Nini yang.


Bi Nini datang dengan berlari dari arah belakang ketika mendengar Dee memanggilnya. "Iya, Nyonya,"


"Bi, bantu Dee buat taruh ini di meja makan, ya, Bi. Dee mau bangunin Al dulu," ucap Dee meminta bantuan Bi Nini. Dee pergi meninggalkan dapur dan menaiki tangga menuju kamar Al.


Pintu kamar Al terbuka dan Dee melihat Al sudah tidak ada di kasurnya.


"Umi," panggil Al ketika dia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi tubuhnya sampai dada.


Dee mengalihkan pandangannya, "Anak Umi sudah mandi?" tanya Dee


Al mengangguk dan tersenyum menjawab pertanyaan Dee.


"Ya sudah, bentar lagi magrib. Al sholat sendiri, ya?" ucap Dee memberitahu Al.


"Kenapa tidak jemaah, Umi?" tanya Al heran. Karena walaupun tidak ada Abinya, Al dan Dee akan tetap sholat berjemaah.


"Umi lagi nggak baik, Sayang," jawab Dee lembut kepada Al.


"Nggak baik?" tanya Al heran.


"Lagi datang tamu."


"Tamu?"


Dee bingung harus menjelaskan bagaimana kepada Al. "Lagi datang bulan, Sayang. Nanti kalau Al udah besar Al pasti ngerti. Sekarang Al siap-siap buat sholat. Umi mau bersihin badan dulu, ya," ucap Dee mencoba meminta pengertian Al.


Al hanya mengangguk meskipun masih bingung dengan segala perkataan Uminya.


"Tamu? Datang bulan? apa bulan pelnah datang kesini? Kok Al nggak tahu? Ah mending nanti tanya Abi saja," ucap Al bertanya pada diri sendiri setelah Dee meninggalkan kamarnya.

__ADS_1


Setelah selesai waktu magrib, Dee dan Al turun ke bawah untuk segera makan malam.


"Bi, ayo kita makan bareng, Bi?" ucap Dee kepada Bi Nini yang akan makan di dapur.


"Tidak usah, Nyonya. Saya jadi nggak enak," tolak Bi Nini halus.


"Tidak apa-apa, Bi. Ayo kita makan bareng," ucap Dee sedikit memaksa.


Bi Nini pasrah dan mengikuti perkataan Dee untuk makan bersama.


"KAKEK," teriak Al ketika Wijaya datang menghampiri mereka ke meja makan.


Dee mengalihkan pandangannya ketika mendengar Al memanggil Kakek. "Papa," ucap Dee menyapa Wijaya.


"Assalamu'alaikum," salam Wijaya ketika sudah sampai di meja makan.


"Waalaikumsalam," jawab mereka yang ada di sana.


"Papa kenapa nggak ngasih tahu Dee kalau datang ke sini? Kan Dee dan Al bisa menunggu Papa dulu buat makan malam," ucap Dee menyalami tangan Wijaya.


"Tidak apa-apa, Nak. Papa kesini karena kangen banget sama cucu Papa ini," ucap Wijaya mengusap lembut kepala Al.


"Al juga kangen sama Kakek," ucap Al tersenyum kepada Wijaya.


"Nyonya, Bibi ke dapur saja, ya?" ucap Bi Nini merasa tidak enak.


Dan setelah itu mereka melanjutkan makan malamnya. Al yang rindu dengan kakeknya meminta Wijaya untuk menyuapinya makan. Dengan senang hati Wijaya menuruti.


Saat asik dengan santapan makan malam, Wijaya, Dee, Bi Nini dan Al dikagetkan dengan suara sirine polisi. Dee yang memiliki ketakutan dengan polisi sudah gemetaran di tempat duduknya. Wijaya yang melihat menantunya ketakutan langsung menenangkannya. "Tenang lah, Nak," ucap Wijaya.


Dee hanya mengangguk, pikirannya sudah kemana-kemana, segala praduga buruk muncul di benaknya. Kenapa polisi datang ke rumah? pikir mereka semua.


"Kakek," panggil Al takut kepada Wijaya.


"Al tenang, ya. Polisi nya nggak ngapa-ngapain kok," ucap Wijaya menenangkan Al.


Mereka semua berdiri dan berjalan ke depan rumah. Sampainya di depan rumah mereka melihat polisi yang sudah turun dari mobilnya.


"Al, telepon Abi pakai telepon rumah yang ada di kamar Umi, ya, Nak. Ponsel Umi sedang di charger. Al tinggal tekan angka satu dan akan langsung tersambung ke ponsel Abi. Beritahu Abi kalau disini ada polisi," ucap Dee kepada Al.


"Iya, Umi," jawab Al dan langsung berlari kedalam rumah untuk menghubungi Abinya.


Alan yang tadi menerima panggilan dari Ibra untuk melindungi anak dan istrinya selama dia menghukum Naina, langsung saja menuju rumah Ibra selepas magrib.


"Polisi?" tanya Alan bingung melihat mobil Polisi.


"Ada yang nggak beres. Benar kata Ibra," ucap Alan bergegas turun dari mobil dan langsung masuk ke rumah Ibra.

__ADS_1


"Alan," panggil Wijaya ketika melihat Alan, anak dari temannya sewaktu masih aktif di dunia bisnis itu datang.


"Om Wijaya, Apa apa, Om?" ucap Alan menanyakan perihal kedatangan polisi ke rumah Ibra.


Dee yang sudah ketakutan menghadapi polisi sedari tadi hanya diam. Lidahnya kelu, ingatannya kembali lagi saat kejadian setahun yang lalu.


"Maaf jika kedatangan kami mengganggu waktu keluarga anda. Kami dari kepolisian bermaksud untuk membawa saudara Haidee Tsabina terkait kasus penusukan Ibu Reina," ucap salah satu polisi menjelaskan maksud kedatangan mereka.


DEG


Jantung Dee sudah tidak karuan. "Apa maksud kalian? Menantu ku tidak melakukan itu!" tegas Wijaya kepada Polisi.


Sedangkan Alan kini memikirkan Al. Dia takut anak itu akan kembali menelan kekecewaan.


"Om, Al dimana?" tanya Alan kepada Wijaya.


"Dia ada di kamar Ibra. Kamar paling awal di lantai dua," jawab Wijaya.


Tanpa banyak tanya, Alan langsung pergi untuk menyusul Al.


Brakk


"ABI!" pekik Al ketika mendengar pintu kamar Abinya terbuka secara kasar.


Sedangkan Ibra yang sudah menerima panggilan Al terkejut dan cemas mendengar teriakan Al.


"Al, apa semua baik-baik saja, Nak?" tanya Ibra dari seberang sana.


Al hanya diam. Anak itu masih kaget karena suara dobrakan pintu tadi. Alan yang mendobrak pintu langsung saja mendekati Al dan merebut telepon dari Al.


"Ib, Lo lanjutin tugas Lo. Biar gue yang tanganin disini," ucap Alan cepat.


"Apa ketakutan gue terjadi, Lan?" tanya Ibra hati-hati dari seberang sana.


"Iya, Polisi datang. Lo tenang aja, gue bisa atasi ini. Lo lanjutin kerjaan Lo."


"Enggak! Gue pulang sekarang. Kevin dan Agam yang akan disini." ucap Ibra langsung memutus sambungan teleponnya sepihak.


......................


Terimakasih selalu setia mengikuti cerita receh yang author tulis.


Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.


Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @nonam_arwa


Akan sangat indah jika kalian semua memberi like dan komentarnya

__ADS_1


Author sayang kalian 🌹🌹😘


__ADS_2