
Jangan lupa like nya ya teman-teman 👍
Jangan lupa komentarnya 💬
Jangan lupa vote nya juga yaa
Kebaikan teman-teman sangat berharga untuk novel ini
🌹HAPPY READING🌹
Sudah dua hari sejak pembicaraan mereka di kantor polisi. Berbagai cara dilakukan untuk mengungkap siapa sebenarnya yang selama ini selalu membantu kejahata Naina.
Hari pertama yang mereka lakukan adalah menggeledah apartemen Naina. Gadis itu sampai sekarang masih ditahan oleh Ibra. Di dalam apartemen Naina, awalnya mereka tidak menemukan apa-apa. Tapi ketika pencarian mereka ke arah dapur, berbagai bukti transaksi tergelatak tak berdaya di dalam tong sampah. Dari bukti tersebut mereka dapat melihat sebuah nama yang merupakan seorang pelindung Naina selama ini. Yang membuat mereka semua syok melihat nama tersebut.
Agam, Kevin, Alan dan Ibra berhasil mendapatkan bukti yang menyeret seorang Komandan Polisi. Dia yang selalu berada dibelakang Naina. Dia yang membuat kasus penyiksaan Dee di dalam penjara tidak diketahui oknum polisi yang lain. Dia yang membuat penyelidikan kasus ini sulit untuk dilakukan.
..........
Malam ini di kamarnya, Ibra sedang duduk santai bersama Dee. Ibra yang bersandar ke kepala ranjang dan Dee yang menyandarkan tubuhnya ke tubuh Ibra. Ibra memeluk tubuh istri tercintanya dari belakang. Saat ini wanita cantik itu tidak menggunakan hijabnya. Memperlihatkan kepalanya yang sudah berambut seperti rambut lelaki. Tapi tidak menghilangkan kecantikannya.
"Sayang," panggil Ibra lembut kepada Dee.
"Iya, Mas," jawab Dee mendongak melihat Ibra.
"Besok ikut aku, ya?"
"Kemana, Mas?"
Dengan hati-hati Ibra mengatakan maksud nya kepada Dee. "Sayang, polisi sudah melakukan pemeriksaan terkait bukti yang waktu itu mereka dapatkan, dan juga bukti yang aku kasih sama mereka," ucap Ibra hati-hati memperhatikan ekspresi Dee.
Dee sudah gemetaran, pikiran negatif kembali hinggap di otaknya. "La-lalu?" tanya Dee takut.
"Polisi minta kamu untuk melakukan pemeriksaan di sana."
Dee menggeleng kuat. "Tapi Adek bukan pelakunya, Mas," ucap Dee dengan mata yang sudah berkaca-kaca menatap Ibra. Tangannya memilin kuat ujung piyama tidurnya.
"Kita harus mematuhi aturan Polisi terlebih dahulu, Sayang. Urusan kamu pelakunya atau tidak itu urusan nanti. Maaf, Sayang. Aku terpaksa melakukan ini," lanjut Ibra dalam hati.
"Mas juga nggak percaya?"
"Mas percaya sama kamu."
"Kenapa masih meragukan kalau bukan Dee pelakunya?"
__ADS_1
"Aku nggak ragu, Sayang. Kita akan buktikan besok di sana kalau kamu nggak bersalah. Besok kita pergi sama-sama ke sana," ucap Ibra membawa tubuh Dee ke dekapannya.
"Jangan beri tahu Al tentang ini. Kalau nanti Adek di tahan lagi, bilang sama Al Uminya hanya pergi sebentar saja," ucap Dee kepada Ibra. Air matanya keluar tanpa meminta izin kepada yang punya.
"Kita percaya sama Allah. Kebenaran akan selalu menang, Sayang," ucap Ibra. Dee hanya mengangguk menyetujui perkataan Ibra.
..........
Hari yang di tunggu tiba. Ibra dan Dee sedang berada di dalam mobil menuju Kantor Polisi. Al sengaja mereka suruh ikut Bi Nini untuk menjaga Reina di rumah sakit. Karena Wijaya juga akan ikut serta ke Kantor Polisi.
Sepanjang perjalanan Dee hanya menatap kosong ke arah jendela. Waktu terasa sangat lama untuknya. Pikirannya sudah menerawang jauh. Bagaiman jika dia di tahan kembali? Bagaimana keadaan Al nanti kalau tahu dia di tahan kembali?" berbagai spekulasi muncul di pikirannya.
Dee tersentak ketika merasakan tangannya di genggam oleh Ibra. "Tenang, ya. Semua akan baik-baik saja," ucap Ibra menenangkan Dee.
Dee hanya mengangguk, tidak tahu haru berbicara apa.
Kini mereka sudah berada di Kantor Polisi. Terlihat Agam dengan pakaian Polisinya, Kevin, Alan dan juga Wijaya.
"Mas," panggil Dee kepada Ibra dengan wajah bingungnya karena melihat banyak orang disini.
"Nanti kita akan tahu semuanya," jawab Ibra yang mengerti dengan raut wajah Dee.
"Saudari Dee, selamat datang kembali di tempat ini," ucap seorang Komandan Polisi yang bertuliskan Bramantyo Hebi di seragamnya. Ya, dia adalah adik dari Wijaya Hebi. Paman dari Ibrahim Gavino Hebi. Demi nafsunya kepada sahabat ponakannya sendiri, dia mengotori profesinya.
"Kau tahu kenapa diminta kembali untuk datang kesini, istri keponakanku?" tanya Bram.
Dee hanya menggeleng. Ibra, Kevin, Agam dan Alan memandang Bram dengan pandangan yang sulit diartikan. Sedangkan Wijaya hanya memperhatikan gerak-gerik adiknya itu.
"Bukti menunjukkan bahwa kau yang menusuk Kakak Ipar ku sampai koma selama satu tahun ini. Dan bukti yang di berikan oleh suamimu, ternyata rekayasa," ucap Bram.
Saat mendengar bahwa bukti yang berikan suaminya adalah palsu, Dee menoleh kepada Ibra. Ibra hanya diam dengan pandangan yang terus mengarah kepada Omnya itu. Dee sangat ketakutan saat ini. Apakah kecemasannya akan terjadi? Pikir Dee.
Dee menoleh kepada Kevin, Agam, Alan dan Wijaya, tapi mereka semua hanya diam dan tidak ada yang membalas tatapannya.
"Tapi Dee tidak melakukan itu," ucap Dee berani membela dirinya.
"Mulutmu memang mengatakan tidak, tapi bukti menunjukkan bahwa kau seorang pembunuh!" ucap Bram tajam kepada Dee.
Dee tersentak kaget mendengar ucapan Bram.
"Bisakah anda bicara sedikit sopan pada istriku?" ucap Ibra merasakan ketakutan istrinya.
"Aku hanya menjalankan tugas ku, Ponakan," jawab Bram santai.
__ADS_1
"Tapi kami punya bukti yang menunjukkan bahwa Dee tidak bersalah, Komandan," ucap Agam kepada atasannya itu.
"Pihak kepolisian di larang membela pelaku, Agam," ucap Bram menatap tajam Agam. Dia memang selalu bertentang dengan sahabat ponakannya ini. Agam hanya tersenyum remeh mendengar ucapan Komandannya itu.
"Kami menemukan orang lain yang ikut terlibat dalam kasus ini, Pak," kali ini Alan yang berbicara.
"Kalian mencari orang lain untuk dijadikan pelaku demi menutupi kejahatan wanita ini?"
"Istriku memiliki nama!" ucap Ibra tegas. Dia sudah menahan amarahnya sedari tadi.
"Hem, bagaimanapun juga, istrimu ini telah mencoba membunuh Ibumu," ucap Bram santai.
"Dia seorang narapidana yang membuat malu keluarga Hebi!" lanjut Bram tegas menunjuk wajah Dee.
Mereka semua yang ada di sana sudah sangat muak dengan Komandan kurang ajar ini. Cukup! Ibra sudah tidak sanggup lagi melihat istrinya diperlakukan seperti ini.
"MASUK SEKARANG," teriak Ibra.
DEG
Bram terkejut hebat melihat siapa yang masuk dengan dua orang lelaki bertubuh tegap di kedua sisinya. Tapi dia berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
Mata Dee membulat sempurna ketika melihat seorang wanita yang sangat dia kenal.
Naina.
Dee semakin terkejut melihat kondisi Naina yang sangat memprihatinkan. Luka yang mengering di wajahnya. Lebam di tubuhnya dan seperti bekas cambukan. Dan juga telapak kakinya yang di balut perban. Ternyata sekejam-kejamnya Ibra, dia masih mengobati Naina dengan mengirim dokter pribadinya.
"Kau terkejut, Om?" tanya Ibra mencemooh Bramantyo.
"Siapa dia?" ucap Ibra pura-pura tidak tahu.
Mata Ibra memicing mengintimidasi Bram. "Benarkah kau tidak tahu siapa dia?"
Bram hanya diam tidak tahu harus bicara apa.
"Haruskah aku menyuruh wanita itu yang berbicara?" ucap Ibra menunjuk Naina.
"JAWAB SIALAN?" bentak Ibra kepada Bram yang hanya diam. Dia sudah tidak peduli lagi dimana dia berada. Polisi lain yang sedang bekerja terkejut mendengar suara Ibra yang menggelegar. Mereka kaget melihat Komandan mereka yang di bentak sekeras itu oleh Ibra.
"Kemana keberanian mu sebagai Komandan?"
......................
__ADS_1
Pada deg-degan nggak yaaa??????