Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 121


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Ibra menatap para buruh yang bekerja di depan matanya. Ada yang mengangkat adukan semen dan pasir, memaku kayu, mencat tembok, memasang batu bata dan yang lainnya.


Ibra mendekati salah seorang pekerja yang ada di sana.


"Permisi," ucap Ibra sopan.


Orang yang sedang mengaduk semen tersebut berhenti dari pekerjaannya dan menatap Ibra. "Iya," jawabnya ramah. Terlihat pekerja tersebut sudah sedikit berumur, nampak dari rambutnya yang sedikit sudah memutih.


"Maaf, Pak, apa disini masih menerima pekerja?" tanya Ibra.


"Masih, Nak. Soalnya kami mau mengejar target waktu penyelesaiannya. Kalau boleh tahu, siapa yang mau bekerja, Nak?" tanya pekerja tersebut.


Ibra tersenyum. "Saya, Pak," jawab Ibra.


Pekerja tersebut melihat penampilan Ibra dari atas sampe bawah. Memang Ibra hanya memakai pakaian yang sangat biasa, celana pendek selutut, baju kaos oblong berwarna hitam dan sendal jepit. Tidak lupa topi di kepalanya untuk menghindari panas. Tapi, dilihat dari wajah dan tubuhnya, yang namanya orang kaya tetap saja terlihat dari aura yang terpancar.


"Anak ini yakin mau bekerja disini?" tanya Bapak pekerja tersebut memastikan.


Ibra mengangguk yakin. "Iya, Pak," ucap Ibra.


"Ya sudah, kalau begitu ayo ikut saya ke dalam. Kita temui Kepala mandornya," ajak Bapak pekerja tersebut.


Dengan patuh Ibra mengangguk dan mengikuti langkah Pekerja tersebut ke dalam rumah yang masih belum selesai tersebut.


.....


Disinilah Ibra sekarang. Mengangkat adukan semen dengan ember di kedua tangannya dan diberikan kepada pekerja lain untuk memasang bata.


"Kalau kerja hati-hati, jangan terlalu diisi banyak. Lebih baik sedikit tapi kerjaan kita bagus," ucap salah satu pekerja menasehati Ibra yang mengisi ember dengan adukan semen yang banyak.


Bukannya marah, Ibra tersenyum dan mengangguk. Sungguh, Ibra ikhlas melakukan ini semua demi masa depannya. Jika Kevin, Alan dan Agam tahu mengenai ini, maka bisa-bisa Ibra akan di tertawai oleh mereka.


Setengah hari telah berlalu, kini Ibra duduk bersama pekerja yang lain untuk beristirahat.


"Tidak bawa makan siang, Ibra?" tanya salah satu pekerja yang sudah kenal Ibra.


Ibra menggeleng. "Saya tidak tahu kalau makan siang dibawa sendiri. Memang tidak ada uang makan dari perusahaan?" tanya Ibra.


"Ada jatah untuk makan siang. Tapi biar nanti hari Sabtu terima uangnya lebih banyak, makanya bawa makan siang sendiri. Pekerja disini sepakat agar uang jatah makan siang di masukan ke gaji," jawab pekerja tersebut.


Jadi, mereka para kuli bangunan menerima gaji setiap sekali seminggu, yaitu pada setiap hari Sabtu.

__ADS_1


Ya Allah, segitu beratnya mereka nyari duit. Batin Ibra miris.


"Em ... kalau boleh saya tahu, perusahaan yang menaungi pembuatan perumahan ini siapa?" tanya Ibra.


"Perusahaan perumahan ini dari Jakarta, kalau nggak salah, Bratawijaya Group," jawab pekerja tersebut.


Ibra menganggukkan kepala mendengar nama perusahaan yang sudah tidak asing di telinganya.


Perusahaan Alan. Wah, ternyata gue kerja sama sahabat gue sendiri. Batin Ibra senang. Satu ide cemerlang timbul di benak Ibra.


Setelah selesai waktu istirahat. Para pekerja kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Ibra yang memang tak ahli dalam hal pertukangan harus bekerja keras. Mengangkat batu bata dengan gerobak, mengangkat pasir dan mengangkat air. Stamina nya benar-benar terkuras disini. Beruntung Ibra suka olahraga, jadi dua tidak mudah lelah. Peluh keringat membasahi baju kaos yang digunakannya.


.....


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Itu artinya waktu bekerja telah selesai. Ibra mengibaskan topi yang dia gunakan untuk mengipasi badannya yang terasa panas.


"Saya pulang duluan, Pak," ucap Ibra kepada beberapa pekerja yang masih ada di sana.


"Iya, Ibra."


"Iya, Nak Ibra."


Terdengar beberapa sautan dari pekerja yang lain menjawab perkataan Ibra.


Tidak berselang lama, motor Ibra sampai di depan Toko Dee. Ibra tidak melihat keberadaan Al, Kina maupun Dee. Hanya ada Joni dan para karyawan lain di dalam Toko. Kaki Ibra melangkah memasuki Toko dan menemui Joni yang sedang duduk sambil mencatat keperluan Toko.


"Joni," panggil Ibra.


"Eh, Iya Pak," jawab Joni.


"Buk Bos sama anak-anak kemana?" tanya Ibra.


"Oh itu, Buk Bos sama anak-anak tadi pergi sama Pak Adam," jawab Joni.


"Pak Adam?" beo Ibra.


Joni mengangguk. "Iya, Pak. Pak Adam itu baru kembali dari Turki tadi pagi, Pak. Dan langsung kesini ajak Al sama Kina dan juga Buk Bos, jalan-jalan mungkin Pak. Karena kebiasaan Pak Adam kalau pulang dari Turki pasti langsung kesini," ucap Joni menjelaskan.


Perasaan Ibra sudah tak enak. Mungkinkah Dee sudah memiliki pilihan lain, selain dirinya? Tanya Ibra pada dirinya sendiri.


Saat asik dengan pikirannya, terdengar suara mobil datang memasuki pekarangan rumah Dee. Nampak mobil Pajero Sport berwarna hitam sudah berhenti di sana.


"Nah, itu mereka pulang, Pak," ucap Joni menunjuk mobil tersebut.

__ADS_1


Ibra menoleh. Hal pertama yang dia lihat adalah wanitanya yang turun dari mobil dengan pakaian gamis yang sangat cantik dan melekat indah di tubuh Dee. menambah kecantikan wanita itu. Setelah itu nampak seorang lelaki tampan berwajah blasteran timur tengah turun dari mobil dengan Kina yang tertidur di gendongannya.


"Assalamu'alaikum," ucap Dee memasuki Toko.


"Waalaikumsalam," jawab para karyawan, termasuk Ibra.


"Abang bawa Kina ke dalam langsung, ya, Yang" ucap Adam yang berdiri di sebelah Dee.


DEG


Jantung Ibra berdetak cepat. Tubuhnya lemas mendengar lelaki tersebut memanggil Dee dengan sebutan Yang.


Dee tersenyum dan mengangguk kepada Adam. Setelah itu Adam pergi meninggalkan Toko dan membawa Kina ke rumah.


"Udah balik jalan-jalanya, Buk Bos?" tanya Joni kepada Dee.


"Udah, Joni," jawab Dee tersenyum kepada Joni.


Ibra hanya diam memandang Dee dengan tatapan yang tak bisa di artikan. Hingga suara Al mengalihkan pandangan Ibra.


"Abi datang?" tanya Al yang baru turun dari mobil.


Ibra menatap Al yang tampak gagah dengan baju kurtanya. "Iya, Nak," jawab Ibra.


"Nggak ke rumah dulu?" tanya Dee menawarkan Ibra. Dia masih sangat bingung untuk memanggil Ibra dengan sebutan apa.


Ibra tersenyum kecut melihat bagaimana sikap Dee kepadanya. Tidak dingin, tapi terkesan canggung. Ibra sangat ingin singgah dan meminum teh buatan Dee untuk menghilangkan lelahnya. Tapi melihat ada lelaki lain, entah kenapa semangatnya hilang begitu saja.


Ibra menggeleng menolak tawaran Dee. Dia hanya terus memandangi wajah manis Dee.


"Kalau begitu, saya ke rumah dulu. Mari Joni," ucap Dee pamit.


Joni dan Ibra mengangguk mengiyakan pamitan Dee.


"Jalan-jalannya seru, Boy?" tanya Ibra kepada Al.


"Seru, Abi," jawab Al.


Al menceritakan dengan antusias jalan-jalan nya hari ini. Sesekali anak itu nampak tertawa bersama Joni yang menanggapi cerita Al. Sedangkan Ibra hanya diam sambil sesekali tersenyum. Mengingat bagaimana Adam dan Dee turun dari mobil, mereka terlihat sebagai pasangan serasi. Apalagi Adam yang memanggil Dee dengan panggilan Yang. Ada rasa tidak percaya diri dalam diri Ibra karena semua ini.


Ya Allah, kuatkan hatiku. Ini belum seberapa dengan luka dan air mata anak-anakku. Batin Ibra menyemangati dirinya.


......................

__ADS_1


Kira-kira Adam siapa yaaa?? Aduh deg-degan 🤭


__ADS_2