Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
Season 2 ~ 155


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Kumandang adzan yang keluar dari ponselnya membangunkan Al dari dunia mimpinya. Al langsung bangun dan mengecilkan volume ponselnya. Duduk sebentar untuk mengumpulkan segala nyawanya dengan kepala bersandar di kepala ranjang. Setelah adzan selesai, Al bangun dan berjalan ke kamar mandi untuk mensucikan tubuhnya.


Setengah jam kemudian, Al selesai dengan segala kewajibannya. Berjalan keluar kamar menuju dapur untuk membuat sarapan. Rencananya hari ini Al dan Aska akan pergi ke sebuah Cafe. Al mendapat kabar dari salah satu orang kepercayaannya bahwa Runa pernah bekerja di Cafe tersebut.


Saat sedang asik dengan sarapannya, suara ketukan pintu terdengar dari luar.


"Siapa yang bertamu pagi-pagi begini?" gumam Al sambil berjalan ke arah pintu.


"Bella?" ucap Al saat melihat Bella yang sedang berdiri di depannya.


"Ada apa, Bel?" tanya Al. Al sengaja tidak menyuruh Bella masuk, karena mereka hanya berdua dan tidak ada orang lain.


"Aku tidak disuruh masuk, Al?" tanya Bella tersenyum.


"Alangkah lebih baik kalau disini saja, Bel," jawab Al.


"Tapi ada sesuatu hal penting yang ingin aku sampaikan, Al," ucap Bella sendu.


Melihat wajah Bella yang berubah sendu, Al mengangguk dan membiarkan Bella masuk.


Kini mereka berdua sudah duduk di ruang tamu apartemen Al. "Sudah sarapan, Bel?" tanya Al.


Bella menggeleng. Dia jujur karena tadi dia langsung pergi, takut ketahuan oleh orang suruhan Papanya.


Al berdiri dan berjalan kearah dapur mengambil nasi goreng yang tadi dia buat.


"Makanlah, Bel," ucap Al memberikan sepiring nasi goreng kepada Bella.


Bella tersenyum dan mengangguk. "Terimakasih, Al," jawab Bella.


Lima belas menit dibutuhkan Bella untuk menghabiskan sarapannya. Bella mengusap sedikit sudut bibirnya dengan tisu yang ada di meja. "Masakanmu sangat enak, Al," ucap Bella.


Al tersenyum dan mengangguk. "Jadi ada hal penting apa, Bel?" tanya Al penasaran.


"Apa kamu sudah menemukan petunjuk mengenai gadismu, Al?" tanya Bella.


Al mengangguk. "Sudah, Bel. Hari ini aku dan Aska akan pergi ke sebuah Cafe yang pernah jadi tempat Runa bekerja. Mungkin dari sana aku bisa dapat informasi lebih," ucap Al.


"Aku juga pernah bekerja di Cafe, Al," ucap Bella.


Al mengangkat satu alisnya bingung mendengar jawaban Bella.


"Al, bisakah kamu melupakan gadis itu, Al?" ucap Bella sendu.


"Satu hal yang sulit untuk aku lakukan, Bel," ucap Al.


"Sulit bukan berarti tidak bisa, Al."


"Jangan berbelit-belit, Bel. Katakan apa yang ingin kamu sampaikan!" ucap Al tegas.


"Aku mencintaimu!" ucap Bella memandang lekat mata Al.


Al tertawa kecil mendengar perkataan Bella. "Jangan bercanda, Bel," ucap Al.

__ADS_1


"Aku serius, Al. Salahkah bila aku mencintaimu, Al?" tanya Bella sendu.


Al berubah serius melihat wajah sendu Bella. "Tidak ada yang salah, Bel. Hanya saja aku tidak bisa membalas perasaanmu," ucap Al.


"Apa karena Runa?" tanya Bella.


Al menggeleng. "Tidak hanya itu, keyakinan kita berbeda, Bel," ucap Al.


Bella tersenyum kecut. "Apa kau yakin Runa itu masih seperti dulu, Al? Mempertahankan agamanya daripada Papanya?" tanya Bella sendu.


Al menatap Bella intens. Pasalnya, Al tidak pernah mengatakan apapun mengenai masa lalu Runa dan Papanya kepada Aska maupun Bella. Dia hanya menyampaikan bahwa Runa gadis yang baik, tapi tidak dengan keluarga Runa.


"Darimana kamu tahu, Bella?" tanya Al.


"Al, bagaimana jika aku mengatakan bahwa aku adalah Runa, Al?" ucap Bella menatap mata Al sendu.


Al mengalihkan pandangannya menghindari tatapan Bella. Setelah itu dia tersenyum samar. "Kau berbicara seperti ini karena aku menolakmu. Jangan terlalu memaksakan diri, Bel. Lantunan sholawatku tak akan mungkin bersatu dengan nyanyian setiap minggumu," ucap Al.


Bella menggeleng kuat. "Bahkan aku tak tahu bagaimana caranya beribadah seorang non muslim, Al," ucap Bella lirih.


Al mengalihkan pandanganya. Perkataan Bella pagi ini benar-benar memporak-porandakan perasaannya.


"Pergilah, Bel. Pintu keluar di sana," ucap Al berusaha lembut.


Bella menggeleng kuat. Air matanya luruh melihat penolakan Al. Dengan perlahan Bella berjalan mendekati Al.


Dengan tangan bergetar, Bella mencoba memegang tangan Al. Al tersentak kala merasakan sesuatu menyentuh tangannya. "Jaga batasanmu, Bella!" ucap Al tegas menyentak tangan Bella dari tangannya.


"Al, aku ini Runamu yang selama ini kamu cari, Al. Aku berani bersumpah bahwa aku adalah Runa," ucap Bella.


"Runa tidak seperti ini," ucap Al pelan.


Baru Bella akan membuka suaranya, dering ponsel Al yang ada disaku celananya mengalihkan pandangan mereka. Al merogoh sakunya dan mengambil ponsel. Terlihat nama 'Umi❤️' tertera dilayar ponsel Al. Dengan segera Al menekan tombol hijau.


"Assalamu'alaikum, Umi," ucap Al.


"Waalaikumsalam, Nak. Al, pulang sekarang! Adek sakit," ucap Dee tak terbantahkan.


"Adek sakit, Umi?" tanya Al cemas.


"Iya. Cepat kembali," ucap Dee.


"Baiklah, Al pesan tiket sekarang," ucap Al.


"Baiklah. Hati-hati, Nak. Assalamu'alaikum," ucap Dee.


"Waalaikumsalam," ucap Al memutus sambungan teleponnya.


Al kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celana. Setelah itu dia kembali menatap Bella yang masih berdiri didepannya.


"Pulanglah. Aku harus segera ke Indonesia. Urusan kita sudah selesai, Bel," ucap Al dingin.


Bella mengatupkan kedua tangannya di dada memohon kepada Al. Dia sungguh ingin terlepas dari Papanya. Dia sangat ingin Al mempercayainya. Tapi dia sadar, keadaannya yang sekarang ini, akan membuat Al sulit untuk percaya padanya.


"Al, aku mohon. Setidaknya bawa aku keluar dari negara ini, Al," ucap Bella sendu dengan air mata di pipinya.

__ADS_1


"Aku mohon, Al. Selamatkan hidupku. Tidak masalah jika kau tidak mempercayai aku, Al. Tapi setidaknya sebagai sahabat, bantu Aku, Al. Bantu aku mencari kebebasan, Al," ucap Bella sendu.


Ya Allah, ini bagaimana? Sebenarnya apa yang terjadi? Maafkan Al, Ya Allah. Tidak ada salahnya jika Al menyelidiki apa yang dikatakan Bella. Al hanya tidak ingin menyesal di kemudian hari. Maaf jika Al harus membawanya, Ya Allah. Umi, maafkan Al. Batin Al mempertimbangkan keputusannya.


"Persiapkan barang-barangmu, Bel. Kita akan segera berangkat," ucap Al.


Bella mengangguk dan segera berlari menuju pintu. Tidak sampai satu menit, wanita itu sudah kembali dengan koper ditangannya.


"Aku sudah mengatakan jika ingin bebas bukan? Makanya aku sudah mempersiapkan semuanya," ucap Bella dengan cengirannya menjawab tatapan bingung Al.


Al mengangguk dan pergi ke kamarnya, meninggalkan Bella di ruang tamu.


Bella tersenyum dengan wajah sembabnya melihat punggung Al yang mulai menjauh. Setidaknya aku aman jika bersamamu, Al. Tidak peduli kau percaya atau tidak, yang penting Runa bersama Albarra. Batin Runa senang.


......................


Hai teman-teman, aku punya rekomendasi novel baru buat kalian. Nggak akan nyesal kalau bacanya deh.



VANESSA PUTRI ANJANI


Merupakan seorang gadis yang masih berumur 24 tahun. Nessa, panggilan akrab wanita itu memiliki tubuh bak model, dengan kaki panjang yang mulus, dan juga pinggang yang begitu ramping.


Tak ayal, banyak sekali wanita yang begitu iri dengan lekuk tubuhnya yang seperti.


Dari tubuhnya, mari kini pindah ke wajahnya yang begitu cantik. Wajahnya yang begitu ketara sekali jika ia adalah bule. Ayahnya yang berasal dari Rusia, dan juga ibunya yang campuran Korean Selatan-Indonesia.


Bibir atas yang tipis, dipadukan dengan bibir bawah yang tebal. Membuat siapa saja ingin sekali menaklukkan bibir wanita.


Mata bulat yang bak Barbie dalam kartun anak-anak itu menambahkan kesan mahal pada diri wanita itu.


Dan jangan lupakan hidung yang mancung, bukan mancung yang seperti perosotan anak SD, tapi hidung Nessa benar-benar cetakan yang sempurna.


Apalagi rambutnya yang sering ia ganti cat berkali-kali, menambah kesan seksi pada aura Nessa.


Benar-benar sempurna!!


Saat ini dia baru saja menyelesaikan kuliahnya dan saat ini dia sudah bekerja di salah satu cabang dari perusahaan kelas kakap yang bernama XANDER's CORP.


Dia bekerja sebagai salat satu dari puluhan orang dibagian staf pemasaran. Di kantornya, Nessa juga menjadi primadona disana. Bukan sekali-duakali teman kerja laki-lakinya terang-terangan mendekati Nessa, namun sudah sangat banyak dan Nessa sendiri sudah tak bisa menghitung lagi.


Nessa yang ramah.


Nessa yang baik.


Nessa yang perhatian.


Nessa yang pekerja keras.


Itulah yang mereka tahu dari Nessa, tidak ada yang tahu kehidupan pribadi wanita bule itu. Tak akan ada yang tahu....


Yang mereka tahu adalah Nessa adalah anak tunggal dari pasangan suami-istri yang hidup sederhana.


Ayah kandung Nessa adalah pensiunan PNS dan ibu kandungnya adalah seorang ibu rumah tangga biasa.

__ADS_1


Namun tidak ada yang tahu jika Nessa adalah....


W-A-N-I-T-A S-I-M-P-A-N-A-N.


__ADS_2