
🌹HAPPY READING🌹
"Pak, ikuti anak-anak yang berjalan bersama itu, Pak," ucap Ibra menepuk pelan punggung Pak Sofyan.
"Yang mana, Nak Ibra? Anak-anak sangat banyak," ucap Pak Sofyan.
"Yang itu, Pak. Yang berjalan berlima sama teman-temannya," ucap Ibra menunjuk Al yang berjalan bersama lima teman lainnya.
Pak Sofyan mengangguk patuh, dengan sangat pelan Pak Sofyan mengikuti Al. "Jangan sampai ketahuan, ya, Pak," ucap Ibra kepada Pak Sofyan.
"Iya, Nak Ibra," ucap Pak Sofyan patuh.
Dengan sangat pelan Pak Sofyan mengikuti Al dan teman-temannya. Al yang sedang asik tertawa dan bercerita dengan teman-temannya tidak menyadari, bahwa ada sebuah mobil yang mengikuti mereka.
Sesekali Pak Sofyan menghentikan laju mobilnya disaat jarak mobil dan Al sudah dekat.
Sepuluh menit kemudian, Ibra melihat Al masuk ke sebuah toko kerajinan keramik dengan nama Toko Sakinah.
Apa ini toko kamu, Sayang? Kamu tampak sukses tanpa ada aku. Batin Ibra sendu melihat toko Dee yang cukup ramai.
"Apa kita akan masuk ke toko itu, Nak Ibra?" tanya Pak Sofyan kepada Ibra.
Ibra hanya diam. Matanya asik memandangi sekitaran toko Dee dan rumah yang ada di sebelah toko.
Jika aku langsung menemui Dee dan anakku, pasti mereka akan menolak keberadaan ku. Aku tidak mau kejadian di acara lomba terulang lagi. Tapi aku harus bagaimana? Ayolah Ibra berpikir-berpikir. Batin Ibra gelisah memikirkan cara yang akan di gunakan untuk bisa menemui Dee.
"Em ... Pak, apa ada masker di mobil ini?" tanya Ibra kemudian.
"Ada, Nak Ibra," ucap Pak Sofyan mengeluarkan kotak yang berisi masker.
"Ini, Nak," ucap Pak Sofyan memberikan kotak masker tersebut.
Ibra mengambil salah satu masker tersebut dan memakainya agar wajahnya bisa tertutupi. Tidak hanya itu, Ibra juga mengambil topi yang dia bawa untuk berjaga-jaga. Setelah memasang topi tersebut, Ibra mematut dirinya di cermin. Tidak kelihatan. Batin Ibra senang.
"Pak, Bapak tunggu di mobil, ya. Saya akan turun sebentar. Saya ingin memastikan sesuatu dulu, Pak," ucap Ibra sebelum keluar mobil.
Pak Sofyan mengangguk patuh tanpa banyak bertanya. Setelah itu, Ibra keluar dari mobil. Dengan langkah perlahan dia memasuki Toko tersebut.
Ibra memasuki Toko. Hal pertama yang dia lihat adalah pembeli lain dan beberapa karyawan yang sedang melayani para pembeli. Saat sedang melihat-lihat, sebuah suara menghentikan kegiatan Ibra.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" ucap suara lembut dari belakang Ibra.
DEG
Ibra menegang. Ini adalah suara wanita yang sangat dia rindukan. Suara seorang wanita yang selalu memenuhi hati dan pikirannya. Wanita yang menjadi Ibu dari Anaknya.
Ibra mencoba untuk menormalkan detak jantungnya. Tangannya sedikit membenarkan masker dan topi yang dia gunakan. Setelah itu, Ibra membalikkan badan.
Waktu serasa berhenti saat Ibra memandang wajah wanita yang sangat dia cintai. Wajah ini tetap cantik, bahkan lebih cantik. Pipinya sedikit lebih berisi daripada dulu.
Apa kamu sangat bahagia tanpa aku, Sayang? Batin Ibra dengan terus melihat wajah Dee yang tampak lebih berisi.
Dee yang melihat sedikit keanehan pada pengunjung tokonya mengayunkan tangan ke atas ke bawah untuk menyadarkan lamunan pria yang di depannya.
__ADS_1
"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" tanya Dee dengan suara yang lebih keras.
Ibra tersentak dari lamunannya. Sebelum bicara, Ibra sedikit berdeham untuk merubah suaranya.
"Saya ingin mencari sebuah guci," ucap Ibra dengan suara beratnya.
Dee mengangguk. "Kalau begitu ayo ikut saya, Pak," ucap Dee.
Kaki Ibra melangkah mengikuti kaki Dee. Bukannya melihat jalan, Ibra malah memperhatikan kepala Dee bagian belakang.
Rambut Dee sudah tumbuh belum, ya? Batin Ibra bertanya-tanya. Ada sedikit senyum di bibirnya membayangkan bagaimana dulu dia memasangkan shampo di kepala Dee saat mereka mandi bersama.
Ah, aku sangat merindukanmu, Sayang. Batin Ibra tersenyum-senyum tidak jelas di balik maskernya.
Dee menghentikan langkahnya saat sampai di tempat koleksi guci nya. "Silahkan di pilih, Pak. Ini adalah koleksi guci kami," ucap Dee ramah menunjuk semua koleksi guci nya.
Ibra melihat-lihat guci tersebut. Cukup lama, hingga pilihannya jatuh pada sebuah guci kecil yang sangat antik.
"Ekhem, saya ingin yang ini," tunjuk Ibra.
Dee tersenyum senang kemudian mengambil guci tersebut. Saat Dee akan memasukkannya ke dalam kotak, sebuah suara menghentikannya.
"Umi."
Dee dan Ibra sama-sama berbalik. Terlihat Al yang sudah mengganti baju sekolahnya dengan baju rumahannya.
"Umi, buatan Al ada yang beli?" tanya Al antusias ketika melihat Uminya memasukkan guci buatannya ke kotak.
Dee tersenyum dan mengangguk. "Iya, Nak. Bapak ini yang beli," ucap Dee menunjuk Ibra.
Ibra yang mendapat perlakuan tiba-tiba dari Al tidak bisa menolak saat tangannya langsung di ambil Al.
Abi. Batin Al lirih ketika merasakan tangan tersebut. Dia ingat betul bagaimana bau Ibra. Karena wangi parfum ini adalah parfum yang sama seperti yang dia gunakan.
Al kembali melepaskan tangan tersebut. Dia berusaha untuk bersikap biasa didepan Uminya.
Sedangkan Ibra? Dia sudah mematung melihat Al. Ketakutannya jika ketahuan, maka Al akan langsung menolaknya.
"Em ... apa sudah selesai?" tanya Ibra dengan suara beratnya.
Dee mengangguk dan memberikan kotak yang sudah dimasukkan ke dalam Tote bag berlogo Sakinah tersebut.
Ibra langsung mengeluarkan uangnya. Dengan sembarang, Ibra mengambil beberapa lembar uang merahnya dan meletakkan di meja yang ada di sana. Setelah itu Ibra segera pergi dari Toko Dee.
Dee yang melihat tingkah pembelinya itu dibuat bingung. Apalagi uang yang ditinggalkan terlalu banyak. "Al simpan lebih uangnya, ya. Nanti kalau Bapak itu datang lagi Al kasih," ucap Dee kepada Al.
Al mengangguk patuh mengiyakan perkataan Dee. Setelah itu Dee pergi menyusul Kina yang sedang menikmati makan siang bersama karyawan lainnya di belakang.
Akhirnya Abi datang juga. Semuanya tidak akan mudah, Abi. Ucap Al dalam hati. Dia sudah mempersiapkan semuanya jika Ibra datang menemui mereka. Bukannya dendam, tapi dia hanya ingin Abinya berjuang.
.....
Sedangkan di dalam mobil, Ibra mengusap dadanya pelan mencoba untuk menenangkan detak jantungnya yang sudah maraton.
__ADS_1
"Ayo balik ke rumah, Pak," ucap Ibra kepada Pak Sofyan.
Hanya sepuluh menit, Ibra sampai di rumah yang tadi dia kontrak.
"Bapak bisa pergi, Pak. Motor yang saya pesan harus datang menjelang malam ini ya, Pak," ucap Ibra.
"Iya, Nak Ibra," jawab Pak Sofyan.
"Terimakasih sebelumnya, Pak," ucap Ibra. Setelah itu Ibra turun dari mobil dan masuk ke rumahnya.
.....
Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Ibra sudah siap dengan pakaian serba hitamnya. Masker hitam dan topi hitam. Saat mengamati arena rumah Dee, terbesit di pikiran Ibra untuk menyelinap masuk seperti maling.
"Kalau gue ketahuan gimana? Masa iya, seorang CEO terkenal jadi maling," gumam Ibra.
"Ah udah lah. Coba dulu," ucap Ibra mantap.
Ibra keluar dari rumah dengan motor Vespa matic hitam yang dia pesan tadi. Mengapa Vespa matic? Karena Ibra berpikiran motor lain ribet. Bunyinya juga tidak terlalu keras.
Sepuluh menit, Ibra sudah sampai di depan rumah Dee. Suasana sekitar rumah Dee nampak sepi. Lampu rumah juga sudah mati.
"Demi kamu aku jadi maling, Sayang," gumam Ibra memandang rumah di depannya.
Dengan perlahan, Ibra memarkirkan motornya di bawah pohon yang ada di depan rumah Dee. Dengan langkah pasti, Ibra memanjat pagar dan mendarat dengan sempurna. Tujuan Ibra kali ini adalah kamar yang ada di lantai dua. Dengan tangga lipat yang ada di bagian samping Toko Dee, Ibra memanjat dengan mudah.
"Ternyata Tuhan merestui gue," gumam Ibra senang. Karena sampai detik ini, rencananya berjalan lancar.
Dengan cepat, Ibra menaiki satu persatu tangga. Ibra sampai di balkon lantai dua. Menurut perkiraan Ibra, itu adalah sebuah kamar. Ibra mengeluarkan jepit rambut wanita yang seperti lidi dari saku jaketnya untuk membuka pintu.
Klik
Mantap. Pintu terbuka dengan sempurna. Dengan perlahan Ibra memasuki kamar tersebut. Suasana kamar nampak redup karena lampu tidur. Ibra dapat melihat seorang anak wanita kecil yang tidur membelakanginya.
Apa itu anakku? Batin Ibra dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Dengan langkah hati-hati Ibra berjalan memutari kasur agar dapat melihat wajah anaknya.
DEG
"Ki-Kina."
Ibra berjalan mendekat dan berjongkok tepat di depan wajah Kina.
"Ternyata Allah mempertemukan kita lebih dulu, Nak," ucap Ibra lirih. Setitik air mata Ibra jatuh ketika memandang wajah Kina. Wajah yang sangat mirip dengan Dee. Air mata Ibra kembali mengalir ketika mengingat lukisan Al pada saat acara lomba.
Anakku sudah tumbuh besar sekarang. Batin Ibra mengusap lembut rambut Kina.
......................
Bayar Kiz dengan like dan komentar nya yaa, jangan lupa vote juga. Kalau ada rezeki lebih kasih tip yaa 🌹
Jangan lupa kasih semangat buat Abi Ibra ya teman-teman.
__ADS_1
Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"
Maaf karena nggak bisa crazy up. Terhalang kesibukan dunia nyata 🙏