Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 122


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Ibra merebahkan tubuhnya setelah melaksanakan sholat magrib. Baju Koko dan sarung masih melekat indah di tubuh atletisnya. Ibra memandangi langit-langit kamar, pikirannya selalu mengingat bagaimana Dee sangat dekat dengan seseorang yang bernama Adam tersebut. Selain itu, anak-anaknya juga seperti menerima Adam dengan baik.


"Mungkinkah Adam ada hubungan spesial dengan Dee? Tapi tidak mungkin. Dee buka wanita yang mudah memilki perasaan terhadap seseorang. Aku yakin hati Dee masih untukku. Tapi Adam? Huft, membayangkan mereka bersama aku tidak sanggup, Tuhan," gumam Ibra mengusap kasar wajahnya.


"Demi apapun aku tidak rela jika Dee bersama orang lain," ucap Ibra dengan nafas yang memburu. Membayangkannya saja jantung Ibra serasa akan copot, bagaimana jika itu benar terjadi? Mungkin Ibra akan berakhir di rumah sakit jiwa.


Lama Ibra memandangi langit kamarnya dengan perasaan tak karuan, hingga ia teringat sesuatu Ibra langsung mengambil ponselnya. Tangan Ibra dengan lincah mencari nama seseorang dari kontak ponselnya.


Setelah ketemu, Ibra menekan tombol panggil dan mendekatkan ponsel ke telinganya.


"Halo," jawab seseorang di seberang sana.


"Lo dimana, Lan?" tanya Ibra pada Alan.


"Di rumah, kenapa?" tanya Alan.


"Perusahaan Lo yang ngurus pembuatan salah satu perumahan di Padang, kan?" tanya Ibra.


"Iya, terus?" tanya Alan.


"Gue mau Lo naikin gaji para buruh kuli nya jadi lima ratus ribu perhari," ucap Ibra santai.


"Lo gila! Mana bisa, anjing," teriak Alan tak terima sekaligus terkejut.


"Cih, jangan pelit. Gue kasian liat para buruh itu kerja seharian cuma Lo upah seratus lima puluh ribu. Lagian itu nggak akan buat perusahaan Lo rugi," bujuk Ibra.


"Emang udah segitu gajinya, Ib," ucap Alan.


"Lo naikin atau kerjasama perusahaan kita batal," ancam Ibra.


"Cih! Iya-iya," ucap Alan kesal.


"Nah gitu dong. Assalamu'alaikum Bapak Alan," ucap Ibra memutus sambungan telepon.


Percayalah, di seberang sana Alan sedang mengabsen segala jenis nama binatang untuk mengumpati Ibra. Temannya itu emang selalu seenak hati.


Senyum mengembang terbit di bibir Ibra setelah panggilan terputus. "Kalau begini kan bagus. Lagian gue nggak curang, kan. Gue bantu pekerja lain, dan gue untung juga. Lo emang benar-benar pintar Ibra. Gue harus cari kerjaan lain juga buat tambahannya," gumam Ibra pada dirinya sendiri.


Ibra mengambil nafas dalam, setelah itu dia bangun dan melepas baju Koko serta sarungnya. Niatnya saat ini adalah pergi ke rumah Dee.


.....


Sedangkan di rumah Dee, Kina merengek kepada Dee ingin bertemu dengan Abinya. Sejak tadi Dee membujuk Kina untuk makan, tapi anak itu tetap menolak kalau tidak ada Abinya.


"Umi, Abi mana ndak datan-datan?" rengek Kina untuk kesekian kalinya kepada Dee. Rambutnya sudah kemana-kemana dari jilbabnya karena sedari tadi gelisah tidak mau diam.

__ADS_1


"Ini udah malam, Nak. Tadi Abi datang waktu Adek lagi tidur, jadi nggak ketemu. Besok pasti Abi datang. Adek sabar, ya," ucap Dee.


"Mau Abi, Umi," rengek Kina. Mata anak itu sudah berkaca-kaca ingin segera bertemu dengan Abinya.


"Iya besok Abi datang, Nak. Sekarang makan, ya. Nanti perut Adek sakit karena telat makan," bujuk Dee.


"Ndak mau Umi!" teriak Kina. Anak itu berlari ke kamar nya dengan menangis dan meninggalkan Dee yang terdiam di meja makan.


"Assalamu'alaikum," teriak Al dari luar yang baru kembali dari mesjid.


"Waalaikumsalam," jawab Dee.


Al langsung masuk dan menemui Uminya.


"Gimana ngajinya, Nak?" tanya Dee kepada Al.


Al meletakkan Alquran yang tadi dia peluk di atas meja dan menyalami tangan Dee. "Baik, Umi. Al udah masuk juz dua enam," jawab Al.


"Wah, bentar lagi anak Umi khatam," ucap Dee mencium pipi Al.


"Hehe iya, Umi," jawab Al.


"Adek mana, Umi?" tanya Al yang tidak melihat keberadaan adiknya di meja makan.


"Dia lagi ngambek nggak mau makan. Al coba bujuk Kina deh," ucap Dee.


Setelah kepergian Al, kembali terdengar seseorang mengetuk pintu dan mengucap salam. Dee berjalan keluar rumah untuk melihat siapa yang datang.


"Waalaikumsalam, Mas Ibra," ucap Dee membuka pintu. Dia sedikit canggung memanggil Ibra dengan panggilan Mas, tapi dia tidak tahu harus memanggil dengan bagaimana lagi. Memanggil nama pun rasanya tidak sopan.


Ibra tersenyum mendengar Dee kembali memanggilnya dengan sebutan Mas. Setidaknya Dee tidak menganggapnya seperti benar-benar orang asing.


Ibra duduk di kursi luar dan diikuti Dee. "Ada apa, Mas?" tanya Dee.


"Aku ingin bertemu anak dan calon istriku," ucap Ibra. memandang Dee.


Dee berdeham menormalkan detak jantungnya. Jika dia tidak menggunakan jilbabnya, maka Ibra bisa melihat telinganya yang memerah karena malu.


"Masuklah, Kina ada di kamarnya. Sejak tadi dia menanyakan mu. Biar aku yang di luar," ucap Dee.


"Kenapa tidak masuk?" tanya Ibra.


"Tidak baik jika kita berdua, manusia dewasa yang bukan muhrim berada dalam satu ruangan. Takut fitnah nantinya," jawab Dee.


Ibra mengangguk meski hatinya sedikit kecewa.


"Kalau begitu aku ke dalam dulu," ucap Ibra.

__ADS_1


Dee mengangguk dan membiarkan Ibra memasuki rumahnya.


Ibra menaiki tangga menuju kamar Kina. Jangan tanya kenapa Ibra bisa tahu, karena dia pernah jadi maling di rumah Dee. Sampainya di depan pintu, Ibra mendengar suara tangis anaknya.


"Kina," panggil Ibra setelah membuka pintu dan berjalan mendekati Kina.


"Abi, hiks," ucap Kina menangis sambil merentangkan tangannya kepada Ibra.


Al yang melihat Abinya datang berpindah duduk di sisi Kina yang lain.


"Adek dari tadi nangis terus, Bi. Nggak mau makan kalau nggak ada Abi," ucap Al memberitahu.


"Adek kenapa nggak mau makan, Hem? Kalau sakit, nanti Umi, Abang sama Abi sedih. Sekarang Adek makan, ya?" ucap Ibra membujuk Kina.


"cuapin Abi," ucap Kina manja.


Ibra mengangguk dan menggendong Kina keluar kamar. Sedangkan tangannya yang lain menggandeng Al keluar kamar.


Sampainya di meja makan, Ibra mendudukkan Kina di atas meja dan dia duduk di kursi. Diikuti Al yang duduk di sebelah Ibra. Di atas meja sudah tersedia makanan yang tadi sudah Dee siapkan untuk Kina, jadi Ibra tinggal menyuapi Kina.


"Sekarang Adek makan, ya. Aaa," ucap Ibra menyuapi Kina dengan tangannya.


Secara bergantian Ibra menyuapi Kina dan Al. Al dan Kina tampak senang dengan kehadiran Ibra. Tidak bisa dipungkiri, rasa rindu Al dan Kina kepada Ibra memang sangat besar. Meskipun kecewa Al masih belum sembuh semuanya, tapi anak itu mencoba menerima.


Sesekali Kina berceloteh kepada Ibra dan Al. Terdengar tawa bahagia dari mereka. Setelah selesai makan, Ibra mengajak Kina dan Al keluar untuk menemui Dee.


Sampainya di luar, mata Al memanas melihat pemandangan di depannya. Dee yang sedang duduk di kursi dan Adam yang berjongkok di depan Dee sambil memegang betis Dee yang tertutup leging nya, seperti sedang mengurut kaki Dee.


"Umi kenapa?" tanya Al cemas.


"Kaki Umi sakit karena tadi jalan terus, Al," jawab Adam.


"Umi ndak boleh catit," celetuk Kina yang ikut berjongkok di sebelah Adam.


Dee tersenyum melihat kedua anaknya yang khawatir dan perhatian. "Umi nggak apa-apa, Nak. Ayah Adam udah obati Kaki Umi," ucap Dee.


DEG


Ayah? Batin Ibra tidak tenang yang melihat interaksi mereka sedari tadi. Dada nya terasa sangat sesak, sungguh. Bahkan ada laki-laki lain yang dipanggil Ayah oleh anaknya.


"Masih sakit nggak, Yang?" tanya Adam mendongak menatap Dee.


"Sedikit," jawab Dee dengan senyum lembutnya.


CUKUP! Ibra sudah tidak sanggup lagi. Tangan Ibra mengepal. Tanpa sadar dia meremas tangan Al yang masih ada dalam genggamannya.


......................

__ADS_1


__ADS_2