
🌹HAPPY READING🌹
Matahari memasuki jendela ruang kerja Ibra. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Tapi kedua insan yang tadi malam menghabiskan waktu untuk kegiatan menyenangkan mereka masih belum bangun dari tidurnya. Mereka tidur di sofa luas yang sekaligus berfungsi sebagai kasur itu.
Suara pintu yang digedor dari luar mengganggu tidur Ibra. Dengan perlahan matanya mulai terbuka.
Duar, duar, duar.
"Siapa sih yang ganggu," gumam Ibra bangun dari tidurnya. Ibra memakai celana boxernya yang ada di kaki sofa lalu berjalan menuju pintu.
Ceklek.
"ABI!" teriak Kina begitu melihat Ibra yang membuka pintu.
Ibra terperanjat kaget mendengar teriakan anak gadisnya itu.
"Adek ngapain?" tanya Ibra menguap.
"Ini udah jam delapan, Abi. Abi nggak kerja? Lagian Abi sama Umi tidur disini semalam? Terus sekarang Umi mana?" tanya Kina beruntun sambil memasukkan kepalanya kedalam.
"Eits, nggak boleh masuk," ucap Ibra mendorong kepala Kina yang tidak tertutup jilbab itu.
"Umi mana, Abi? Adek ada perlu sama Umi," ucap Kina merengek.
"Adek tunggu di kamar aja, nanti Umi yang nyusul ke sana," ucap Ibra.
"Janji jangan lama-lama," ucap Kina menunjuk wajah Ibra.
"Iya Sayang," jawab Ibra.
Dengan menggerutu Kina pergi berjalan meninggalkan ruang kerja Ibra. "Lagian punya kamar ngapain coba tidur di ruang kerja. Kayak nggak punya tempat aja. Nanti kalau badan sakit semua gimana?" ucap Kina menggerutu yang masih bisa didengar oleh Ibra.
Ibra tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat anak bungsunya itu. "Kalau kamu udah nikah, kamu bakal ngerti, Nak," gumam Ibra. Setelah itu dia kembali masuk ke ruang kerja membangunkan Dee.
"Sayang," ucap Ibra lembut.
"Hem," gumam Dee dengan mata yang masih terpejam.
"Bangun, yuk. Udah siang," ucap Ibra.
"Badan aku sakit semua," rengek Dee manja.
"Aku gendong ke kamar, ya," ucap Ibra lembut.
Dee langsung membuka mata dan bangun dari posisi rebahnya. Dia baru ingat kalau semalam mereka tidur di ruang kerja.
"Kamu keterlaluan. Gempur aku sampai aku capek banget kayak gini. Dasar nggak ingat umur," ucap Dee kesal.
Tanpa mendengar ocehan istrinya, Ibra mengangkat tubuh Dee dengan selimut tebal membalut tubuh Dee. Tanpa memikirkan ada yang melihatnya, Ibra menggendong Dee ke kamar mereka.
.....
__ADS_1
"Benar-benar nggak tahu umur, gimana kalau ada yang lihat coba," gerutu Dee saat mereka sudah ada di kamar.
"Kan nggak ada yang lihat juga, Sayang," ucap Ibra.
"Mas," panggil Dee mulai lembut.
"Kenapa?" ucap Ibra menaikan sebelah alisnya.
"Em ... hari ini aku pergi sama Naina dan Bella ketemu Om Bram, ya," ucap Dee dengan puppy eyesnya.
Ibra menghela nafas sebentar, sedetik kemudian mengangguk. "Tapi hati-hati, ya. Aku nggak bisa antar. Aku ada meeting penting jam sebelas," jawab Ibra lembut mengusap pipi Dee.
Senyum mengembang di bibir Dee. "Makasih ya, Mas," ucap Dee.
Ibra tersenyum dan mengangguk. Setelah itu Ibra berjalan memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Dee mempersiapkan pakaian Ibra dengan selimut untuk menutupi tubuh nakednya.
"Suamiku memang yang terbaik," gumam Dee senang.
.....
Kini Dee, Naina dan Bella sedang dalam perjalanan menuju tempat Bram. Tadi Dee ingin mengajak Kina, tapi anak itu memilih untuk pergi bersama teman-temannya. Karena dia ingin mempersiapkan pembukaan butiknya bersama teman-teman sekolahnya. Dia sudah minta izin kepada Dee dan Ibra, tentu dengan senang hati Ibra dan Dee sangat mengizinkan niat baik anaknya itu.
Naina memperhatikan jalan sekitarnya yang mereka lewati. "Dee," panggil Naina kepada Dee yang duduk di sebelahnya. Sedangkan Bella duduk di depan sebelah sopir.
"Iya, Nai," jawab Dee.
"Ini bukannya jalan ke rumah sakit jiwa Permata Mulia, ya?" tanya Naina.
"Itukan rumah sakit yang sering dikunjungi Bunda, Umi. Bunda selalu antar pesanan nasi kotaknya untuk salah satu pasien disana," jawab Bella yang tak sengaja mendengar pembicaraan Naina dan Dee.
"Wah, benarkah?" tanya Dee memastikan.
"Iya, Dee," jawab Naina.
"Tuhan memang memiliki cara indah untuk kalian, Nai," ucap Dee takjub.
Tangan Tuhan memang selalu bekerja di ujung pengharapan setiap hambanya. Memberikan kesenangan dan hadiah tak terduga atas segala sakit dan rindu yang sudah lama dipendam.
Semoga ini jalan yang baik. Batin Naina berucap penuh harap.
Sepuluh menit kemudian, mobil mereka sampai di depan rumah sakit. Dee, Naina dan Bella turun dari mobil, sedangkan sopir memarkirkan mobil mereka.
Mereka bertiga berjalan di lorong rumah sakit.
"Loh, Ibu Naina mau antar makanan, ya?" tanya salah satu perawat yang mengenali Naina.
Naina tersenyum dan menggeleng. "Bukan, saya mau bertemu seseorang," ucap Naina.
Perawat tersebut tersenyum dan mengangguk. "Kalau begitu saya duluan, Bu Naina. Mari," ucap Perawat tersebut ramah.
Dee dan Bella ikut tersenyum kepada Perawat tersebut. Setelah itu mereka kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ruang Bram.
__ADS_1
Selang beberapa menit, mereka sampai di depan ruangan Bram.
"Dee," panggil Naina dengan jantung yang sudah berdegup kencang.
Dee mengangguk. "Iya, Nai. Ini ruangan Om Bram," ucap Dee.
Ya Allah, takdir macam apa ini. Mungkinkan pasien yang selalu memesan nasi kotak kepadaku itu Bram? Batin Naina bertanya tak percaya dengan semuanya.
"Masuklah, Nai," ucap Dee.
"Tapi-"
"Aku dan Bella akan menunggu disini," ucap Dee menunjuk kursi tunggu di belakangnya.
Naina mengangguk. Dengan ragu tangannya menyentuh handle pintu dan membukanya.
Badan Naina terasa kaku. Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika matanya bersitatap dengan mata yang sudah sangat lama tidak dia pandang.
POV Bram
Saat sedang membaca Al-Qur'an, aku tak sengaja mendengar suara pintu terbuka. Biasanya aku hanya diam dan membiarkan. Karena biasanya yang datang adalah perawat yang memberi makan untukku. Tapi beberapa saat, aku tindak mendengar suara apapun. Aku juga tidak mendengar suara pintu di tutup kembali. Karena penasaran, aku menyelesaikan bacaan Al-Qur'anku dan berbalik badan.
DEG
Jantungku serasa ingin keluar begitu melihat wanita yang sangat aku cintai dan rindukan berdiri dengan mata berkaca-kaca menatapku.
Dengan perlahan aku berjalan mendekatinya. Dan benar saja, semua ini bukan mimpi. Kenyataan akhirnya menghampiri hidupku.
POV Bram End
Bram dan Naina berdiri dengan saling berhadapan. Air mata Naina mengalir melihat tubuh kurus dan rambut yang sudah dihiasi uban itu. Namun kegagahan Bram masih nampak jelas diwajahnya.
Sungguh, jika tahu seperti ini kehidupan cintanya, maka dari dulu Naina akan mempertahankan dan mencarinya.
"Kamu kah ini, Bram?" ucap Naina tak percaya.
Air mata Bram mengalir mendengar suara yang sudah sangat lama tidak dia dengar.
"Naina," panggil Bram lirih.
"Kenyataan ini sungguh menyakitkan Bram," ucap Naina menangis melihat tubuh Bram yang tidak seperti dulu.
Bram mengangguk. "Sayang," panggil Bram sendu.
Badan Naina luruh ke lantai mendengar panggilan yang dulu selalu diucapkan Bram dengan sangat mesra dan lembut.
Bram bersimpuh dan mensejajarkan tubuhnya dengan Naina yang terduduk di lantai sambil menangis.
"Pertemuan ini harusnya menjadi bahagia, bukan? Kenapa menangis, Nainaku?"
......................
__ADS_1