
🌹HAPPY READING🌹
Kini di kediaman Ibra, sudah ramai karena kehadiran Agam dan Alan. Kini mereka sedang duduk menikmati cemilan yang tadi di berikan eh Bi Nini di ruang keluarga.
"Lo pada ngapain kesini?" tanya Ibra.
"Suntuk gue. Sekali-kali gue nemenin jomblo," celetuk Agam mengejek Ibra.
"Sialan!" ketus Ibra melempar bantal kepada Agam.
"Kira-kira Dee udah nikah lagi nggak, ya?" tanya Agam sambil seraya memasang wajah berpikirnya.
"Ya udah lah. Siapa yang nggak mau sama Dee? Udah cantik, taat agama, keibuan lagi. Cuma orang bodoh yang nggak suka sama dia," ucap Alan menyindir Ibra.
"Lo nyindir gue?" ucap Ibra gak terima.
"Lo ngerasa?" jawab Alan sengit.
Ibra berdecak kesal melihat Alan. Temannya yang satu ini emang benar-benar ahli dalam sindir-menyindir. Tapi sedetik kemudian, wajah Ibra berubah sendu.
"Tapi Lo benar, Lan. Kalau bukan karena gue, sekarang ini gue pasti lagi bantuin Al buat tugas sekolahnya. Terus Dee datang buat ngasih cemilan dan susu buat Al. Setelah itu Al tidur, dan gue bisa mesraan sama Dee," ucap Ibra mengkhayal.
"Lo ngayal?" ucap Agam meledek.
Ibra tersenyum kecut. "Cuma itu yang bisa gue lakuin sekarang," ucap Ibra.
"Gue nggak maksud nyindir Lo, Ib. Gue cuma mau Lo berubah. Jika suatu saat nanti Dee kembali sama Al, gue harap Lo udah jadi Ibra yang nggak bodoh dan egois," ucap Alan.
"Lo tahu dimana Dee?" tanya Ibra. Karena dari ucapan Alan, Ibra menduga bahwa Alan seolah-olah tahu keberadaan Dee.
"Belum. Kali ini Dee benar-benar dengan niat yang besar pergi ninggalin Lo," ucap Alan.
"Berdoa aja, Ib. Kalau jodoh mah nggak kemana," ucap Agam.
Ditengah perbincangan mereka, Kevin datang dengan wajah kusutnya.
"Kenapa Lo? Datang-datang udah kusut gini? Nggak dapat jatah Lo?" tanya Agam.
"Tahu apa Lo soal jatah? Nikah aja belum" tanya Kevin.
"Belagu Lo. Nikahin jandanya Ibra aja bangga," ucap Agam kesal.
"Nggak apa-apa, yang penting gue cinta," ucap Kevin santai.
"Cinta nggak menjamin, Vin. Harus ada kepercayaan dan kejujuran dalam rumah tangga," ucap Ibra.
"Setuju gue mah kalau Ibra udah ngomong. Dia lebih berpengalaman. Saking berpengalamannya sampai di tinggalkan," ucap Agam.
Lagi-lagi ucapan Agam membuat Ibra melempar kotak tisu yang ada di meja. Niat nya ingin menasehati, malah dia yang di sindir. Alan dan Kevin yang melihat itu hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan Agam dan Ibra.
Agam yang melihat lemparan Ibra sontak menghindar. Saat dia bergerak untuk menghindari kotak tisu, sebuah kertas jatuh dari dalam saku jaketnya.
__ADS_1
"Apaan tuh yang jatuh?" tanya Alan yang pertama kali melihatnya.
"Apaan?" tanya Agam bingung.
"Tuh, ada kertas jatuh dari saku jaket Lo," ucap Alan menunjuk kertas di lantai dengan mulutnya.
Kevin langsung melihat kebawah dan mengambil kertas tersebut. "Oh ini," ucap Kevin.
"Kertas apaan?" tanya Ibra.
"Surat," jawab Kevin singkat.
"Surat apa?" tanya Ibra lagi.
"Lo baca aja sendiri," ucap Agam memberikan kertasnya kepada Ibra.
"Lo dapat tugas mengawasi lomba, Gam?" tanya Ibra setelah membaca surat tersebut.
"Iya. Ada lomba melukis tingkat nasional yang diadakan Galeri Nasional Indonesia. Jadi untuk keamanannya, pihak penyelenggara minta bantuan Polisi. Soalnya lomba ini seluruh Indonesia yang ikut," jawab Agam.
"Anak gue ikut tuh," celetuk Alan.
"Anak Lo bisa lukis?" tanya Kevin.
"Nggak tahu, katanya dia diminta sama sekolahnya buat ikut lomba itu," jawab Alan sambil memakan cemilan di depannya.
Ibra terdiam. Mendengar kata melukis dia mengingat anaknya. Al sangat suka melukis. Apa sekarang dia masih sering melukis atau tidak? Entahlah, Ibra tidak tahu.
.....
Pagi ini Al sudah berada di sekolahnya. Al langsung berjalan menuju ruang kepala sekolah untuk menyerahkan surat persetujuan yang sudah ditanda tangani oleh Dee.
"Assalamu'alaikum," ucap Al. Mendengar tidak ada sahutan dari dalam, Al sedikit mengintip dan mendapati ruang kepala sekolah masih kosong.
Saat matanya celingak-celinguk di dalam ruangan Kepala Sekolah, sebuah tepukan di pundaknya mengagetkan Al.
"Astagfirullah," ucap Al mengusap dadanya. Al berbalik dan melihat Kepala Sekolahnya yang berdiri di belakang Al dengan ekspresi heran.
"Kamu ngapain Al?" tanya Anton selaku Kepala Sekolah.
Al tidak menjawab pertanyaan Anton. Di melepaskan tasnya dan meletakkan tas itu di depannya. Setelah itu Al mengeluarkan amplop dan memberikannya kepada Anton.
"Ini, Pak Kepala Sekolah," ucap Al. Setelah itu dia kembali menutup Tasnya dan menyandang di kedua bahunya.
"Ibu mu menyetujuinya, Nak?" tanya Anton senang.
Al mengangguk. "Iya, Pak. Umi setuju jika Al ikut," jawab Al.
"Ya sudah, kalau begitu hari ini Al boleh pulang dan tidak usah ikut pelajaran. Kamu harus mempersiapkan diri untuk keberangkatan kita besok," ucap Anton.
"Besok, Pak?" tanya Al terkejut.
__ADS_1
"Iya, Nak. Sebenarnya surat ini sudah dari dua Minggu yang lalu. Karena Bapak banyak pekerjaan, jadi lupa. Dan baru bisa memberikannya kemaren sama kamu," ucap Anton.
"Kenapa Bapak tidak bilang dari jauh hari!" ucap Al ketus. Setelah itu dia berlalu pergi dari ruangan Kepala Sekolah untuk segera pulang ke rumahnya. Ternyata sikap buruk Ibra masih ada pada diri Al. Ketus dan tidak tahu tempat kalau sudah marah.
Anton yang melihat kepergian Al hanya bisa melongo. "Yang Kepala Sekolah siapa, yang di marahi siapa. Untung siswa kesayangan," ucap Anton mengusap dada nya.
.....
Al sampai dirumahnya dengan wajah di tekuk. Dee yang sedang berada di tokonya langsung berjalan keluar ketika melihat Al yang berjalan memasuki tokonya.
"Loh, Al. Kenapa udah pulang lagi, Nak?" tanya Dee heran.
"Disuruh Pak Kepala Sekolah Umi. Katanya Al harus berangkat besok," ucap Al dengan wajah kesalnya.
"Terus kenapa wajahnya kesal begitu, Nak?" tanya Dee.
"Kalau besok kan mendadak, Umi," rengek Al.
Dee tersenyum melihat Al yang merengek kepadanya. Sudah lama sekali dia tidak melihat anaknya ini bersikap manja.
"Ya sudah, sekarang Umi bantu siapin keperluan Al, ya," ucap Dee mengajak Al pergi ke rumah mereka.
Al mengangguk patuh dan mengikuti langkah Uminya.
"Umi," panggil Al. Kini mereka sudah berada di dalam kamar Al.
Dee yang sedang memasukkan beberapa keperluan Al kedalam tas anaknya menoleh. "Iya, Nak," jawab Dee.
"Apa semuanya akan baik-baik saja, Umi?" tanya Al.
Dee mengerti sekarang. Anaknya ini ternyata belum sepenuhnya siap untuk ke Jakarta. Dee berjalan mendekati Al dan mendudukkan Al di pangkuannya. "Al harus yakin. Semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada yang akan berubah," ucap Dee.
"Tapi bagaimana jika nanti Al bertemu Abi dan istrinya?" tanya Al.
"Berarti Allah memang menuntun Al untuk bertemu Abi. Percayalah, Nak. Allah selalu ingin yang terbaik untuk hambanya," ucap Dee lembut.
"Al berharap tidak bertemu siapapun di sana, Umi," ucap Al lirih.
"Bagaimanapun nanti, itu pasti yang terbaik. Al hanya perlu fokus pada lombanya dan jangan pikirkan yang lainnya," ucap Dee.
"Umi sama Kina disini menunggu Al pulang bawa piala," lanjut Dee menyemangati Al.
Al tersenyum senang dan mengangguk dengan antusias. "Al akan usahakan yang terbaik untuk Umi dan Kina," ucap Al.
Dee mengangguk dan memeluk erat tubuh anak lelakinya itu. Beribu syukur dia ucapkan karena diberikan anak sebaik Al. Allah begitu baik memberikan dua Amanah terindah kepadanya, Al dan Kina.
......................
Hai teman-teman, jangan lupa lihat video kenangan Abi Ibra sama Umi Dee dan Al ya di Instagram aku @yus_kiz. Video ini merupakan gambaran untuk BAB saat Ibra dan Dee berpisah. Jangan lupa nonton ya 👌😘
Jangan lupa baca novel aku yang lain, ya teman-teman. "MEMAKSA CINTA SANG CEO"
__ADS_1
Bayar Kiz dengan like dan komentar nya yaa, jangan lupa vote juga. Kalau ada rezeki lebih kasih tip yaa 🌹