
🌹HAPPY READING🌹
"Bahkan Al lebih buruk dari seorang pendosa, Umi," ucap Al lirih dipelukan Dee.
"Nak, jangan putus asa. Saat ini usaha Abang yang diperlukan. Bukan seperti ini," ucap Dee membujuk Al.
Al masih memeluk Uminya. Hingga beberapa saat dia teringat sesuatu. "Al harus pergi, Umi," ucap Al melepaskan pelukannya pada Dee dan langsung berlari keluar kamar tamu.
"Mas, biarkan Al," cegah Dee saat melihat Ibra yang akan mengejar Al.
"Tapi Sayang-"
"Mas, percaya sama Al. Dia tidak akan melakukan sesuatu diluar kendali. Biar dia berusaha sen diri, Mas. Biar dia menyelesaikan masalahnya sendiri. Kita hanya akan membantunya dari belakang," ucap Dee kepada Ibra.
Ibra mengangguk mengiyakan perkataan Dee.
"Umi," panggil Kina. Mata anak itu sudah berair melihat Abangnya yang terpuruk.
Dee langsung memeluk Kina. "Adek harus belajar dari semua ini. Jangan menilai orang lain terlalu cepat. Terkadang kita harus lebih bersabar agar tidak menyesal dikemudian hari," ucap Dee kepada Kina. Tapi matanya menatap dalam mata Ibra yang berdiri di dekatnya.
Sedangkan Ibra yang mendengar perkataan Dee hanya bisa menghela nafas pelan. Tidak tahu harus bicara apa dalam keadaan seperti ini.
Kina hanya mengangguk dalam pelukan Uminya. Sedangkan Bi Nini hanya berdiri menyaksikan semuanya. Lagi-lagi kesalahan yang sama terjadi dalam keluarga majikannya.
.....
Al mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, namu tetap hati-hati. Al mengurangi laju mobilnya ketika teringat sesuatu. Dia mengambil ponsel dari saku celananya untuk menghubungi Aska yang masih di Inggris.
"As, pantau apartemen Bella, As. Kalau Bella kembali ke sana, hubungi gue," ucap Al tanpa sapaannya.
"Memang ada apa, Al?" tanya Aska di seberang sana.
"Nanti gue ceritain. Lo pantau terus apartemen Bella," ucap Al.
"Oke," ucap Aska dan panggilan merekapun terputus.
Setelah panggilan terputus, Al kembali menambah laju mobilnya untuk segera sampai di tempat tujuannya.
Lima belas menit, mobil Al sampai di kantor Alan. Dengan segera, Al turun dari mobil dan berlari menuju ruangan Alan. Tanpa menghiraukan panggilan Satpam yang memanggil-manggil Al karena menerobos masuk menuju ruangan CEO kantornya.
"Uncle," ucap Al dengan nafas terengah-engah.
Alam yang sedang fokus dengan file ditangannya mengalihkan pandangan ketika pintu ruangannya dibuka dengan kasar.
"Maaf, Pak. Saya sudah mencegah pria ini masuk. Tapi dia tetap menerobos masuk," ucap Satpam yang tadi mengejar Al.
"Dia Ponakan saya. Kamu bisa kembali," ucap Alan.
__ADS_1
Satpam tersebut nampak terkejut. Dia mengangguk dan membungkukkan badan meminta izin untuk kembali.
Kini tinggal Al dan Alan berdua diruangan Alan.
"Ada apa, Al?" tanya Alan.
"Bantu Al mencari Runa, Uncle," ucap Al langsung.
"Runa?" tanya Alan.
"Gadis yang Uncle dan Abi selidiki kemarin," ucap Al.
"Jadi, kau dibuat gila oleh perempuan, Boy?" ucap Alan meledek Al.
"Ck, Al sedang tidak bercanda, Uncle. Ayolah," ucap Al kesal dengan tingkah Alan. Alan memang sebelas dua belas dengan Abinya.
"Kau ingin Uncle melakukan apa?" tanya Alan.
"Runa pergi. Al mau meminjam kartu detektif Uncle untuk mempermudah jalan Al," ucap Al.
"Kau mengulangi kesalahan Abimu?" tanya Alan menatap Al.
Alan menghela nafas pelan. "Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya, Uncle. Dengan sekejap mata, Al mengulangi kesalahan Abi yang dulu sangat Al benci," ucap Al.
Alan menepuk pelan bahu Al. "Berusahalah, Uncle yakin kau bisa," ucap Alan.
"Terimakasih banyak, Uncle. Al permisi dulu. Assalamu'alaikum," ucap Al dan langsung keluar ruangan Alan.
Alan hanya geleng kepala melihat kelakuan anak sahabatnya itu. "Ketakutan Lo terjadi, Ib," gumam Alan menatap pintu ruangannya yang masih terbuka.
.....
Waktu sudah menunjukkan malam hari. Al pulang ke rumah dengan keadaan yang sangat berantakan. Pergi ke sana dan kemari mencari tempat yang mungkin dikunjungi Bella. Memeriksa setiap penerbangan di Bandara dengan bekal kartu yang diberikan oleh Alan. Tapi Al tidak menemukan Bella.
Dee yang melihat anaknya memasuki rumah langsung menghampiri.
"Al," panggil Dee yang datang dari dapur.
"Umi," ucap Al sambil menggeleng.
"Jangan putus asa, Nak. Selalu berdoa, maka semua akan dipermudah," ucap Dee mengusap lembut pipi Al.
Al memeluk erat tubuh Uminya. Setidaknya dengan pelukan Dee, dia mendapat kedamaian.
"Al, Umi memang marah. Tapi Umi tidak suka melihat anak Umi seperti ini. Putus asa akan membuat Al semakin terpuruk. Berdoa dan terus berusaha. Serahkan pada Allah. Semua akan terasa lebih ringan dan mudah jalannya, Al," ucap Dee.
"Runa tidak punya siapa-siapa, Umi. Al adalah harapannya. Tapi Al menghancurkan semuanya, Umi," ucap Al sendu.
__ADS_1
"Nak, Allah memang tidak menjanjikan kemudahan, tapi dia menjanjikan jalan keluarnya. Allah memang tidak menjanjikan tidak ada masalah, tapi Allah selalu menjanjikan solusinya, Nak," ucap Dee.
Al mengangguk. Dia melepaskan pelukannya pada Dee. Al mencium kedua punggung tangan Dee. "Al melihat sesuatu yang spesial pada diri Umi yang ada pada Runa, Umi," ucap Al.
"Apa, Nak?" tanya Dee.
"Wanita yang tangguh," jawab Al.
Dee tersenyum mendengar perkataan Al. "Sekarang Abang bersih-bersih, ya. Abis itu makan, biar Umi panaskan lagi makanannya," ucap Dee.
"Nggak usah, Umi. Nanti biar Al makan yang sudah ada aja," ucap Al.
"Al ke kamar dulu, Umi," ucap Al.
Dee mengangguk mengiyakan. Setelah kepergian Al, Dee juga pergi menaiki tangga menuju kamarnya.
Sampainya di kamar, Dee melihat Ibra yang duduk di kasur dengan laptop dipangkuannya.
Ide jahil terlintas dipikiran Dee. Malam ini dia benar-benar akan menghukum suaminya itu.
Dengan cuek Dee berjalan ke walk in closet. Dee membuka lemari kacanya dan mengambil sebuah lingerie seksi berwarna hitam yang sangat transparan.
"Ini hukuman kamu, Mas," ucap Dee senang. Dengan segera Dee mengganti pakaiannya dengan lingerie tersebut.
Setelah selesai, Dee berjalan keluar dengan langkah percaya dirinya. Dee berjalan menuju meja rias untuk menyisir rambutnya.
Ibra yang melihat Dee keluar dari walk in closet dengan pakaian seperti itu hanya bisa menelan ludah kasar.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Dee pita-pura tidak tahu.
Ibra meletakkan laptopnya di kasur dan berdiri dari duduknya. "Sayang," panggil Ibra setengah merengek.
"Iya, Mas," jawab Dee manja.
Tanpa aba-aba Ibra langsung melahap bibir Dee. Tidak peduli Dee marah atau tidak, yang penting dia tidak bisa menahan segala keinginannya.
Dee tersenyum menerima perlakuan Ibra. Ibra membuka pakaiannya setelah menidurkan Dee di ranjang. Saat akan melancarkan inti kegiatannya, tubuh Ibra benar-benar dibuat lemas.
"Kamu datang bulan, Sayang?" tanya Ibra frustasi.
Dengan senyum merekahnya Dee mengangguk.
"Kamu benar-benar menghukum aku, Sayang," ucap Ibra dan langsung bangun berjalan menuju kamar mandi.
Sedangkan Dee tergelak melihat suaminya. "Aku nggak berdosa karena menolak. Karena memang sedang nggak bisa, Mas," gumam Dee sambil tergelak mengingat wajah frustasi Ibra.
......................
__ADS_1