Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
Season 2 ~ 169


__ADS_3

"Om, ayo kita bertemu Naina," ucap Dee.


Bram langsung memandang Dee intens begitu mendengar ajakan Dee. Tapi setelahnya Bram tersenyum dan menggeleng. "Kami tidak untuk bersatu Dee. Kami akan lebih baik hidup sendiri-sendiri seperti ini," ucap Bram tersenyum getir.


"Tidak ada yang tahu apa yang terjadi kedepannya, Om," ucap Dee.


Bram membalikkan badannya membelakangi Dee dan Ibra. "Kalian pergilah," ucap Bram menatap jauh keluar jendela.


"Om-"


"Bawa istrimu pergi, Ibra," ucap Bram memotong perkataan Dee.


Ibra mengangguk. "Jaga diri baik-baik, Om. Jika mungkin, kembalilah," ucap Ibra.


Bram hanya diam dengan terus memandang jauh ke depan.


"Ayo, Sayang," ajak Ibra pada Dee.


"Tapi Mas-"


"Kita pulang, Sayang!" ucap Ibra sedikit tegas.


"Baiklah," ucap Dee patuh pada Ibra.


"Kami pamit, Om. Assalamu'alaikum," ucap Dee dan Ibra pamit.


Mendengar suara pintu tertutup, Bram membalikkan badannya, memandangi pintu dengan pandangan sendu. "Cinta kita tidak untuk bersatu, Naina," ucap Bram lirih dengan setetes air mata yang mengenai pipinya.


.....


Ibra terus memperhatikan istrinya yang tengah melamun menatap keluar jendela. Tidak ada kata yang terucap dari mulut Dee sejak mereka kembali dari tempat Bram.


Ibra menghela nafas pelan melihat istrinya tersebut. "Sayang," ucap Ibra memanggil Dee.


Dee langsung menoleh kepada Ibra. "Iya, Mas," jawab Dee.


"Mikirin apa?" tanya Ibra lembut.


"Mas," panggil Ibra tanpa menghiraukan pertanyaan Ibra.


"Iya Sayang," jawab Ibra.


"Kita ketemu Naina, yuk," ajak Dee.


"No!" ucap Ibra tegas menolak ajakan Dee.


"Mas," ucap Dee merengek.

__ADS_1


"Sekali tidak, tetap tidak, Sayang," jawab Ibra Tegus pada pendiriannya.


"Mas," rengek Dee kembali.


"Aku nggak mau lagi berurusan sama orang yang membuat kita rugi, Sayang. Jadi berhenti bicara mengenai Naina!" ucap Ibra.


"Tapi ini demi Om Bram dan Naina, Mas. Mereka harus bersatu," ucap Dee menjelaskan.


"Sayang, berhenti mikirin orang lain. Aku nggak suka!" ucap Ibra sedikit marah.


"Tapi ini demi kebaikan mereka, Mas," ucap Dee kekeuh.


"Kebaikan mereka bukan urusan kita, Sayang," ucap Ibra.


"Tapi Mas-"


"Sekali enggak, tetap enggak, Sayang. Aku nggak mau marah hanya karena hal yang nggak penting!" ucap Ibra. Dia benar-benar muak mendengar nama Naina yang sejak semalam disebut oleh istrinya itu.


Memang Naina sudah menerima hukuman atas segala perbuatannya, tapi Ibra tetap manusia biasa yang memiliki rasa tidak suka dan marah atas segala masa lalunya. Ibra benci jika harus membahas mengenai ini, karena ini mengingat dia kembali atas segala kebodohan dan keegoisannya.


Melihat suaminya yang sudah akan marah, Dee memilih diam dan menurut. Akan berakibat buruk baginya jika tetap memaksa Ibra mengizinkan dia untuk mendatangi Naina.


.....


Sedangkan di rumah Naina, Naina dan Bella sedang mengemas beberapa kotak makanan yang akan mereka antar sesuai pesanan.


Selama ini, untuk menyambung hidupnya, Naina membuka usaha membuat nasi kotak kecil-kecilan dengan modal seadanya.


Naina mengangguk. "Iya, Sayang. Ini semua rejeki dari Allah," jawab Naina.


Bella tersenyum senang dan mengangguk. "Kita antar sekarang Bunda?" tanya Bella.


"Kita tunggu Go-Car dulu, Sayang. Tadi Bunda udah pesan," ucap Naina.


Naina mengangguk. "Bunda, bungkusan yang putih ini tampak berbeda dengan yang lainnya. Memangnya ini untuk siapa Bunda?" tanya Bella menunjuk bungkusan putih yang nampak berbeda dengan yang lainnya. Karena yang lainnya memiliki bungkus yang berwarna biru.


"Bunda juga nggak tahu, Nak. Ini adalah pesanan khusus dari salah satu rumah sakit, Sayang," jawab Naina.


"Untuk pasien, Bunda?" tanya Bella.


Naina mengangguk. "Katanya iya, Sayang," jawab Naina.


Dahi Bella berkerut heran. "Bukannya di rumah sakit sudah disediakan makanan, Bunda?" tanya Bella.


"Bunda juga nggak tahu, Nak. Dulu Bunda pernah berjualan di depan rumah sakit itu, dan seorang perawat menawarkan Bunda untuk memberi makanan tetap untuk seorang pasien. Katanya pasien itu merupakan pasien khusus. Bunda juga nggak ngerti," ucap Naina menjelaskan kepada Bella.


"Tidak apa, Bunda. Yang penting rejeki kita lancar terus," ucap Bella.

__ADS_1


Naina mengangguk dan tersenyum. Saat pembicaraan mereka, Terdengar suara klakson mobil dari luar rumah. "Mobilnya datang Bunda," ucap Bella.


Naina mengangguk. Mereka berjalan keluar rumah dengan kedua tangan penuh dengan kantong berisi pesanan mereka. Setelah memasukan semua pesanan yang akan di antar ke dalam mobil, mobil mulai melaju meninggalkan rumah Naina.


Naina memang mengantar pesanan langganannya dengan memesan Gocar. Atau jika pesanan sedikit, Naina hanya akan memesan Gojek. Karena pendapatan yang pas-pasan untuk kehidupan sehari-hari dan modal hari berikutnya, Naina tidak bisa menabung untuk kemajuan usahanya. Tapi bagaimanapun, dia tetap bersyukur atas apa yang dia dapatkan.


.....


Mobil yang ditumpangi Naina dan Bella sampai di depan sebuah rumah sakit. Naina turun dengan membawa bungkusan berwarna putih, sedangkan Bella tetap menunggu di mobil. Sopir Go-Car yang membawa mereka adalah sopir langganan Naina. Jadi Naina bisa dengan mudah bekerjasama dengan sopir tersebut.


Naina berjalan menyusuri koridor rumah sakit tersebut. Sesekali Naina menggeleng melihat pasien yang tertawa asik dengan dunianya sendiri.


"Mbak, saya mau antar pesanan," ucap Naina saat sampai di meja jaga perawat.


"Oh, Ibu Naina. Kebetulan saya sedang ada pekerjaan, Bu. Bisa Ibu bantu mengantarnya langsung?" ucap Perawat tersebut ramah.


"Bisa, Mbak. Ruangannya dimana ya?" tanya Naina.


"Ruang paling ujung koridor ini, Bu. Pintu besi yang paling besar," ucap Perawat tersebut menjelaskan.


"Baiklah, Mbak. Kalau begitu saya permisi," ucap Naina.


"Terimakasih, Bu," ucap Perawat tersebut.


Naina mengangguk dan tersenyum. Setelah itu dia berjalan menyusuri koridor tersebut.


Naina memegangi dadanya yang terasa berdegup kencang. "Kok aku deg-degan gini, ya. Nggak kayak biasanya," gumam Naina memegangi dadanya.


Naina sampai di depan pintu yang dimaksud oleh Perawat tadi. Naina mengetuk pintu terlebih dahulu, tapi sudah tiga kali, Naina tidak mendapat jawaban. Hingga akhirnya Naina memutuskan untuk membuka pintu tersebut.


Naina memasuki ruangan tersebut. Kosong, itulah yang Naina lihat pertama kali.


"Tempat ini terlihat seperti ruangan pribadi," gumam Naina memerhatikan setiap sudut ruangan tersebut.


Sedangkan dari sudut ruangan yang tertutup oleh rak buku, seseorang mengamati setiap pergerakan Naina. Matanya menyorot Naina dengan penuh kerinduan. Hanya ini yang bisa dia lakukan. Dia malu untuk menampakkan dirinya kepada wanita yang dia cintai dengan keadaanya yang seperti ini. Badan yang kurus dan uban yang sudah tumbuh di antara rambutnya.


Naina meletakkan makanan tersebut di meja yang ada disana. Tidak ingin berlama-lama, Naina segera berjalan keluar dari ruangan tersebut. Entah kenapa, berada dalam ruangan tersebut tidak baik untuk jantungnya. "Ya Allah, semoga semua baik-baik saja," ucap Naina setelah menutup pintu ruangan tersebut.


Setelah itu Naina berjalan meninggalkan ruang dan kembali ke mobil untuk menyusul Bella.


Sedangkan didalam ruangan, Bram tersenyum senang melihat wanitanya datang mengantar makanan untuknya. "Kamu masih baik-baik saja. Aku senang sekali. Jika kamu tahu makanan yang selalu kamu antar adalah untukku, apa kamu masih ingin melakukannya?" gumam Bram memandangi Naina yang berjalan cepat di koridor rumah sakit dari jendela ruangannya.


"Aku masih disekitar mu, Naina. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk selalu melihatmu," gumam Bram.


"Maafkan pengecut ini, Sayang," ucap Bram sendu. Setelah itu Bram berjalan menuju meja dan mengambil makanan yang tadi diantar oleh Naina.


......................

__ADS_1


Jangan lupa dukung aku dengan like, vote dan komentar kalian yaa, karena itu sangat berharga buat aku


Semoga kalian nggak bosan mengikuti tulisan receh aku ini. Aku sayang kalian 🌹🌹🌹


__ADS_2