Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
Season 2 ~ 153


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Setelah selesai melaksanakan kewajiban mereka, Al dan Aska kembali ke ruang tamu tempat Bella menunggu.


"Maaf lama, Bel," ucap Al tak enak.


Bella tersenyum. "Kau hanya melaksanakan kewajiban kepada Tuhanmu, Al," ucap Bella tersenyum.


"Bagaimana dalam agamamu, Bel?" tanya Aska.


"Apanya, As?" tanya Bella sambil memakan cemilannya.


"Apa kau rutin beribadah?" tanya Aska.


"Beribadah pada siapa?" tanya Bella.


"Pada Tuhanmu," ucap Aska.


"Apa kita harus percaya Tuhan, As?" tanya Bella.


"Harus, Bel. Karena itu adalah identitasmu sebagai seorang hamba," ucap Al menjawab pertanyaan Bella.


Bella mengangguk. "Kalau begitu kenapa dia belum juga mempertemukanmu dengan gadis pujaanmu, Al?" tanya Bella.


"Mungkin Tuhan punya rencana sendiri untukku, Bel," jawab Al pasti.


Bella hanya tersenyum kecut. "Terkadang, omongan seseorang tidak sesuai dengan keinginan hatinya, Al, As," ucap Bella sendu.


"Untuk itu ikuti kata hatimu, Bel," ucap Al.


Andai aku bisa, sudah sejak dulu aku lakukan, Al. Batin Bella berkata lirih.


Bella hanya mengangguk dan tersenyum mendengar perkataan Al. Setelah itu mereka melanjutkan pembicaraan mereka mengenai masa-masa kuliah yang diselingi dengan canda dan tawa diruang tamu apartemen Al.


"Oiya, Al. Kenapa kau tidak meminta bantuan detektif untuk mencari keberadaan Runamu itu?" tanya Aska heran.


"Aku sudah melakukannya. Tapi tidak ada perkembangan. Bahkan aku sudah meminta bantuan temannya Abi untuk mencari keberadaan Runa," ucap Al menjawab.


"Bagaimana jika Runa itu tidak kembali Al?" tanya Bella.


"Berarti dia bukan jodohku," jawab Al singkat.


"Bisakah aku yang mengganti keberadaan Runa di hatimu, Al?" tanya Bella berani.


Al dan Aska sontak tersedak ludah mereka sendiri. Mereka menoleh kepada Bella yang nampak serius.

__ADS_1


"Haha jangan bercanda, Bel," ucap Aska mencoba mencairkan suasana.


Tapi beda dengan Al yang menatap lekat mata Bella. Ada keseriusan dalam pandangan Bella terhadap Al.


"Pertemanan akan lebih baik untuk hubungan kita, Bel," ucap Al. Bella tersenyum kecut. Al menyampaikan penolakan dengan sangat halus.


Bella menatap Al dengan serius, tapi sedetik kemudian dia tertawa. "Hahaha, aku hanya bercanda, Al. Wajah serius kalian berdua tampak sangat menggemaskan," ucap Bella meledek Al dan Aska.


Al dan Aska menghela nafas pelan melihat tingkah Bella. "Kau benar-benar membuatku terkejut, Bella," ucap Aska mengusap dadanya.


"Hahaha, aku hanya ingin menguji kesetiaan Al kepada gadisnya itu," ucap Bella dalam tawanya.


"Caramu benar-benar membuat kami membeku, Bel,* ucap Al.


"Hahaha, tapi bolehkan aku mengatakan sesuatu, Al?" tanya Bella.


Al mengangguk sambil meminum minumannya.


"Jika suatu saat kau bertemu dengan gadis itu, tapi dia dalam keadaan yang berbeda bagaimana, Al?" tanya Bella.


"Maksudmu?" tanya Al tak paham.


"Bagaimana jika kalian bertemu dalam keadaan dia sudah tidak ber-Tuhan?" tanya Bella.


Al terkekeh kecil mendengar pertanyaan Bella. "Aku yakin dia masih seperti dulu, Bel," ucap Al.


"Berarti kita memang tidak berjodoh," ucap Al.


Bella tersenyum kecut dalam hatinya. "Itu berarti kau tidak menerima kekurangannya, Al," ucap Bella.


"Apa kau pernah mendengar istilah jodoh adalah cerminan diri, Al?" lanjut Bella bertanya.


Al mengangguk. "Tapi menurutku itu tidak berlaku, Al," tanya Bella.


"Apa kau juga percaya, As?" tanya Bella pada Aska.


"Lima puluh iya, lima puluh tidak," jawab Aska.


"Kenapa kau tidak mempercayainya, Bel?" tanya Al.


"Karena dalam kehidupanku, aku melihat kehidupan suami istri seperti Fir'aun dan Asiyah," ucap Bella.


"Kamu tahu cerita itu, Bel?" tanya Aska.


Bella tersenyum dan mengangguk. "Aku pernah dengar ceritanya," jawab Bella tenang.

__ADS_1


"Oiya, Al, As, aku harus kembali dulu. Sudah terlalu malam," ucap Bella melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Hati-hati, Bel," ucap Al dan Aska.


Bella mengangguk dan berdiri dari duduknya. Setelah itu dia berjalan keluar dari apartemen Al.


"Bukankah tingkah Bella sedikit aneh, Al?" tanya Aska setelah Bella benar-benar pergi.


Al hanya mengangkat bahu menjawab pertanyaan Aska. Dia tidak ingin ambil pusing dengan tingkah sahabat-sahabatnya.


.....


BRAK.


Seorang gadis menutup pintu apartemennya degan sedikit kasar. Dia bersandar di pintu memegang dadanya yang terasa sesak. Air matanya mengalir tanpa izinnya.


"Hiks, kenapa sesak sekali, hiks," ucap gadis itu terduduk lemas dengan punggung bersandar di pintu.


"Bunda, dada Runa sakit, Bunda. Runa nggak kuat, hiks," ucap Runa menyebut memanggip-manggil Bundanya.


"Dia pasti tidak akan mau menerima Runa, Bunda. Pupus sudah harapan Runa untuk bahagia, Bunda, hiks," ucap Runa pilu.


Ya, Bella adalah Runa. Tidak ada yang tahu nama asli Bella adalah Arabella Aruna Azzahra, begitu juga dengan Al dan Aska. Yang mereka tahu, nama Bella adalah Arabella, hanya itu.


Bella sudah mengetahui Al sejak lama. Sejak awal mereka berkenalan di tempat kuliah, Runa yakin bahwa Al adalah lelaki yang selalu ditunggunya. Ditambah Al yang selalu meminta bantuannya dan juga Aska untuk ikut mencari Runa. Keyakinan Runa bertambah kuat saat melihat kalungnya yang ada pada Al.


Runa memberanikan diri untuk memberi Al petunjuk, tapi jawaban yang dia terima tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.


"Bunda, Bunda bilang Tuhan selalu bersama kita kan? Tapi kenapa Runa selalu dibiarkan tersiksa seperti ini, Bunda, hiks. Jika Runa hanya hidup untuk terluka, lebih baik Runa tidak dilahirkan, Bunda. Bolehkan Runa mengutuk takdir pada diri Runa, Bunda, hiks," ucap Runa menangis pilu.


"Papa yang menjadi tempat sandaran Runa meninggalkan Runa disini sendiri, Bunda. Runa ditinggal hidup sendiri di tempat yang asing, Bunda. Tolong bawa Runa pergi bersama Bunda, hiks. Bundaaaa," ucap Runa menangis sejadi-jadinya.


Papa yang dia harapkan dan dia sayang, meninggalkannya di negeri orang setelah Runa berusia sepuluh tahun. Papanya hanya akan mengirim Runa uang untuk hidup melalui orang suruhan Papanya. Papanya selalu memantau kehidupannya, tapi tidak pernah menampakkan diri. Itu yang membuat Runa bingung.


Runa terus menangis memeluk lututnya sendiri. Sungguh, hidup benar-benar memberinya cobaan yang sangat berat.


Runa berdiri dan berjalan ke arah lemari pajang. Dia menatap Al-Qur'an dan Sajadah yang terletak rapi di sana.


"Kapan kedamaianku akan datang? Apa sebagian orang juga mengalami hidup penuh luka dan air mata sepertiku untuk menjalani hidup?" gumam Nana menatap sendu kitab suci tersebut.


Dengan tangan bergetar, Nana mencoba mengambil sajadah yang ada di sana. Tapi belum tangan Nana menyentuhnya, suara tegas seorang menghentikan pergerakannya.


"Jangan mencoba melanggar perintah Tuan, Nona!"


......................

__ADS_1


Dukung aku dengan like, vote dan komentarnya. Aku sayang kalian, Terimakasih 🌹🥰🤗


Jangan lupa juga baca novel aku yang lain "MEMAKSA CINTA SANG CEO."


__ADS_2