Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
Season 2 ~ 180


__ADS_3

🌹HAPPY READING🌹


Al berjalan mendekati Bella. Al menatap Naina dan Bram secara bergantian. Setelah itu beralih menatap Runa. Al mengambil pergelangan tangan Runa dan menariknya. "Tidak ada penolakan lagi," ucap Al menarik Bella keluar dari ruangan tersebut.


"Kita mau kemana, Al?" tanya Bella dengan langkah kaki yang terus mengikuti Al. Bella tidak bisa menolak. Al terus menyeretnya dengan sedikit bertenaga.


Merek semua yang melihat itu mengikuti langkah kaki Al dan Bella.


"Al, kamu mau kemana, Nak?" tanya Dee sedikit berteriak.


Al menghentikan langkahnya dan memutar badan seratus delapan puluh derajat menghadap Dee. "Mau nikah sama Runa, Umi," jawab Al santai.


Pletak.


Satu jitakan mendarat di kepala Al, dan pelakunya adalah Ibra. "Nikah sih nikah, tapi jangan kebelet juga," ucap Ibra gregetan melihat tingkah anaknya itu.


Ibra memandang kesal Abinya. "Semakin cepat semakin baik, Abi," jawab Al tak kalah ketus.


Mereka semua yang ada disana tersenyum mendengar perkataan Al.


"Selepas magrib ini kamu akan menikah dengan Bella, Nak. Jangan terburu-buru. Biarkan Aunty dan Om Kakek dulu yang menikah," ucap Dee lembut memberi pengertian kepada anaknya.


Al memandang Naina dan Bram secara bergantian. Al menghela nafas pelan setelah itu melepaskan pegangan tangannya kepada Bella dan berjalan mendekati Bram dan Naina.


"Aunty tidak ingin memelukku," ucap Al didepan Naina.


Naina tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Sedetik kemudian dia memeluk anak lelaki yang dulu pernah dia besarkan walau hanya sebentar.


"Maafkan Aunty, Al," ucap Naina dalam pelukan Al.


Al mengangguk. "Al juga minta maaf sudah tidak sopan waktu itu, Aunty. Jangan mengulang masa lalu ya, Aunty," ucap Al.


"Iya, Nak," jawab Naina.


Setelah itu Al melepaskan pelukannya dan beralih menatap Bram. "Om Kakek," panggil Al.


Bram tersenyum. "Kamu tampan melebih Om Kakek dan Abimu," ucap Bram memeluk Al dan dibalas hangat oleh Al.


Mereka semua yang ada disana senang melihat Al dapat memaafkan masa lalunya.


Tapi hal itu tidak dengan Ibra. Dia memilih pergi terlebih dahulu menuju mobil. Entah kenapa, dia sangat sulit memaafkan kesalahannya sendiri.

__ADS_1


Dee yang melihat kepergian suaminya hanya menghela nafas pelan. Dia paham, Ibra memang selalu seperti ini jika menyangkut masa lalunya. Apalagi ini berhubungan dengan kebodohannya yang menyebabkan anak dan istrinya dulu mendapat siksaan.


.....


"SAH"


Kata itu terucap menggema di rumah mewah yang nampak elegan setelah Bram mengucap Ijab kabulnya.


Air mata Naina jatuh ketika mendengar kata tersebut. Sekarang dia sudah sah menjadi istri Bram. Lelaki yang dulu pernah dia sia-siakan. Hingga saat ini dan untuk selamanya, hati dan cintanya hanya dia berikan untuk lelaki itu.


Setalah mereka semua kembali, Bram langsung mengurus pernikahannya dengan Naina. Bram mengucapkan ijab kabul di rumah yang sudah lama tidak dia tempati, karena memilih mengurung dirinya di sebuah tempat yang bahkan tidak cocok untuknya. Dan sekarang dia kembali ke rumah yang dulu menjadi impiannya untuk hidup bersama Naina. Dan hari ini, impian itu menjadi kenyataan.


Naina menyalami tangan Bram dan dibalas kecupan manis di dahi Naina oleh Bram. "Assalamu'alaikum, Istri," ucap Bram tersenyum lembut.


Naina tersenyum dalam tangis bahagianya. "Waalaikumsalam, Suami," jawab Naina.


Semua orang yang hadir disana nampak ikut bahagia menyaksikan pernikahan yang sangat sederhana antara Bram dan Naina.


Mereka semua menjadi saksi pernikahan Bram dan Naina. Dee, Kina, Bella, Bima, Aska, Al dan Ibra. Rumah Bram berada satu komplek dengan rumah Ibra, jadi mereka akan mudah untuk bertemu.


Setelah acara ijab kabul selesai dan Penghulu sudah pamit, kini mereka semua duduk di ruang keluarga rumah Bram.


"Si kecil Om Kakek udah tumbuh besar, ya," ucap Bram.


Kina menyengir lucu mendengar perkataan Bram. Kina yang semula duduk bersama Bella dan Dee kini berdiri dan berpindah duduk diantara Bram dan Naina.


"Aunty," panggil Kina kepada Naina.


Naina tersenyum. Ini adalah hari pertama dia bertemu dengan Kina. Anak dari sahabatnya. Naina juga baru mengetahui bahwa Dee dan Ibra pernah berpisah. Dee menceritakan apa yang terjadi padanya kepada Naina saat Naina masih didalam penjara.


Ekspresi Naina tepat seperti dugaan Dee. Terkejut sekaligus syok. Dia benar-benar mengumpati Ibra yang melakukan kebodohan tersebut. Tapi Dee menjelaskan kepada Naina bahwa hubungan mereka sekarang sangat baik.


"Iya, Sayang," jawab Naina lembut.


"Em ... Aunty sama Om Kakek kasih Kina adik, ya," ucap Kina riang.


Suasana yang tadinya bahagia dan penuh tawa itu kini menjadi diam.


Wajah Naina berubah sendu mendengar permintaan Kina. Permintaan yang tak mungkin pernah dia penuhi.


Dee yang mengerti keadaan langsung mengambil sikap. "Adek, ikut Umi ke dapur buat minum, yuk," ajak Dee.

__ADS_1


"Adek masih mau ngomong sama Aunty Naina, Umi," rengek Kina.


Dee berdiri dan menarik tangan Kina agar segera bangun. "Adek bantuin Umi," ucap Dee.


Kina yang ditarik Dee tidak mau hanya berdua dengan Uminya. Akhirnya dia ikut menarik tangan Bella.


"Eh," ucap Bella kaget karena tangannya ditarik tiba-tiba oleh Kina.


"Calon Kakak Ipar harus ikut sama Kina dan Umi," ucap Kina tersenyum.


"Aunty, ucapan Kina jangan diambil hati, ya. Dia emang asal ngomong," ucap Al tak enak. Al memang sudah mengetahui apa yang terjadi pada Naina. Sedangkan Ibra yang mendengar itu hanya diam. Dia tahu, Naina seperti itu adalah akibat perbuatannya. Tapi Ibra tidak menyesal, karena Naina pantas mendapatkan itu semua, pikir Ibra.


Naina tersenyum dan mengangguk kepada Al. "Aunty paham, Al," jawab Naina.


"Biar Abi yang kasih Adek buat kamu sama Kina," celetuk Ibra santai.


"NO!" tukas Al cepat dan tegas.


"Kenapa?" tanya Ibra.


"Al cukup punya dua adik. Nggak mau nambah lagi," ucap Al.


"Umi dan Abi masih subur tau, jadi masih bisa ngasih kamu dua atau tiga adik lagi," ucap Ibra.


"Abi emang nggak tahu malu. Udah tua bukannya taubat malah makin menjadi. Ingat Abi, umur udah setengah Abad. Pantasnya punya cucu, bukan anak lagi," jawab Al kesal dengan Ibra.


Mereka semua yang ada disana tergelak melihat wajah kesal Al. "Kasih aja adik, Om. Biar nanti jadi jodoh saya," ucap Aska.


"Nggak boleh. Kak Aska jodohnya Kina," ucap Kina yang entah sejak kapan sudah duduk kembali disebelah Ibra.


"Tin-Tin emang selalu lucu," ucap Aska memanggil Kina dengan panggilan kesayangannya dulu.


Kina nyengir lucu mendengar ucapan Aska. Sedangkan Al mendengus kesal melihat sikap adiknya yang selalu ceplas-ceplos dengan Aska.


Bima yang menyaksikan kehangatan itu tersenyum senang. Dari tadi dia tak banyak bicara dan hanya mendengarkan saja. Tidak salah aku menitipkan anakku dikeluarga ini. Batin Bima senang.


......................


Jangan lupa kasih aku like, komentar, dan votenya juga yaa. Mau kasih bunga juga nggak papa. Bukti kalian cinta aku, karena Aku sayang kalian semua 🌹🌹😚🤗


Terimakasih selalu nungguin part demi part novel ini ya, jangan bosan-bosan 🤗🤗🌹

__ADS_1


__ADS_2