
🌹HAPPY READING🌹
Berbeda dengan Al dan Bella yang memilih tidur, sepasang anak manusia lain yang baru saja sah menjadi suami istri itu kini sedang berada dalam kamar mereka.
Naina merasa gugup menunggu Bram yang masih di kamar mandi untuk membersihkan dirinya. "Kenapa gugup begini sih," gumam Naina memegang dadanya yang berdetak tak karuan. Jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya.
Lima belas menit, Bram keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Hati Naina sedikit tercubit melihat tubuh Bram. Tubuh yang dulunya berotot dan tegap itu kini sudah nampak sedikit kurus.
Bram yang melihat Naina memperhatikannya mendekat ke istrinya. "Aku memang kurus sekarang. Tidak seperti dulu," ucap Bram tahu isi pikiran istrinya.
Naina tersenyum. "Bagaimanapun juga, tapi kau tetap tampan," ucap Naina.
"Tapi tenang saja, tenagaku masih sama seperti dulu," ucap Bram menjahili Naina.
Pipi Naina memanas mendengar perkataan Bram. Dulu dia tidak seperti ini, tapi entah mengapa sekarang dia menjadi sangat pemalu didepan Bram.
"Tidak mandi, Sayang?" tanya Bram duduk di sebelah Naina.
Naina mengangkat kepala dan mengangguk. "Aku akan mandi," ucap Naina berdiri dan segera memasuki kamar mandi.
Bram menggeleng pelan melihat tingkah istrinya yang seperti pengantin muda. "Sangat menggemaskan," gumam Bram.
Sedangkan Naina di kamar mandi memegang dadanya yang sejak tadi sudah bergemuruh. "Benar-benar memalukan," gumam Naina.
Setelah itu Naina mandi untuk membersihkan dirinya. Setengah jam di kamar mandi, Naina selesai dari ritualnya.
Naina menyembulkan sedikit kepalanya melihat Bram.
Aman. Batin Naina yang tidak melihat keberadaan Bram dikamar mereka.
Naina segera keluar dan berlari menuju walk in closet untuk mencari baju yang bisa dia pakai. Karena Naina belum mengambil bajunya dirumah lama tempat dia tinggal.
Naina membuka lemari kaca yang ada disana. Mata Naina membulat melihat banyaknya pakaian wanita dan juga lingerie yang tersusun rapi disana.
"Kenapa banyak baju perempuan?" tanya Naina pada dirinya sendiri.
"Apa Bram menyimpan wanita lain disini?" tanya Naina lagi.
Naina langsung menggeleng kuat menghalau pikiran buruknya. Dia yakin Bram benar-benar sudah berubah.
__ADS_1
"Itu baju kamu semua, Sayang," ucap Bram tiba-tiba datang dibelakang Naina.
Naina terlonjak kaget mendengar suara Bram. Naina berbalik dan memandang Bram. "Baju aku?" tanya Naina.
Bram mengangguk. Dia mendekat dan memeluk tubuh Naina yang hanya terbalik handuk itu. "Aku siapin semua ini sudah sejak lama," ucap Bram.
Naina tersenyum. "Terimakasih," ucap Naina lembut.
Bram mengangguk. "Sekarang kamu pilih aja, ya. Aku tunggu ditempat tidur," ucap Bram dengan mata genitnya kepada Naina.
Naina tersenyum dan mengangguk. "Keluar dulu," ucap Naina mendorong tubuh Bram.
Bram menurut dan berjalan keluar walk in closet. Memberi waktu kepada wanitanya untuk mengganti pakaian.
Naina kembali berjalan menuju lemari dan memilih salah satu lingerie berwarna hitam. Sangat seksi.
"Aku akan kembali seperti dulu jika di ranjang. Semua ini untuk suamiku," ucap Naina senang.
Naina dengan semangat memakai lingerie tersebut. Setelah selesai, Main berjalan kebagian parfum. Naina memilih salah satu parfum yang memiliki wangi favorit Bram dulu. "Ayo kita olahraga suamiku," gumam Naina senang.
Setelah selesai, Naina berjalan keluar walk in closet. Dia dapat melihat Bram yang duduk di ranjang dengan hanya menggunakan celana training panjangnya.
Bram mengangkat kepalanya yang tadi menunduk. Mata Bram nampak sangat berbinar melihat Naina yang yang sangat seksi dan beribu kali lebih cantik.
Bram langsung berdiri mendekati Naina. Bram memeluk Naina erat merasakan hangat tubuh istrinya itu.
"Cantik seperti dulu," ucap Bram.
"Semua untuk kamu Bram," ucap Naina tulus.
"Bisa aku meminta hakku, Sayang?" tanya Bram lembut.
Naina dengan senyum manisnya mengangguk. "Sekarang untuk pertama kalinya, kita melakukan ibadah sebagai pasangan halal. Bukan dua orang manusia yang akan berbuat dosa lagi seperti dulu. Aku ikhlas menjalankan kewajibanku, Bram," ucap Naina melingkarkan tangannya di leher Bram.
Mendengar jawaban Naina, Bram langsung melahap bibir Naina yang terasa manis. "Sama seperti dulu," ucap Bram.
Naina tersenyum dan membalas setiap perlakuan lembut Bram. Tanpa melepas penyatuan bibir mereka, Bram menggiring Naina menuju kasur.
Dengan lembut Bram merebahkan tubuh istrinya. Mereka saling mengecap satu sama lain. Tangan Bram tidak tinggal diam. Dia memegang gundukan kembar itu. Tempat favoritnya.
__ADS_1
Kini mereka berdua sudah sama-sama naked. Kamar itu dipenuhi suara desahan indah dari mulut keduanya. Selimut dan bantal sudah berceceran di lantai karena ulah mereka.
Bram memberikan banyak tanda di tubuh Naina. Tanpa menunggu lama lagi, Bram memulai memasukan harta paling berharganya ke milik Naina yang masih sangat indah menurut Bram.
"Aaahh," desah Naina begitu milik Bram masuk sepenuhnya.
"Masih seperti dulu, Sayanghh," ucap Bram dengan suara serak dan desahannya.
Bram mendiamkan sebentar miliknya sambil terus melahap bibir Naina yang sudah nampak membengkak.
"Gerak Sayanghh," pinta Nian manja.
Bram mengangguk dan mulai menggerakkan dengan pelan. Perlahan gerakan Bram berubah cepat menjemput kenikmatannya.
Ini sungguh nikmat. Bahkan ini lebih nikmat daripada mereka sebelum menikah dulu. Ternyata benar, hubungan setelah halal itu terasa lebih indah. Ibadah ini mengantar mereka kepada pahala dan kenikmatan yang tiada Tara.
"Aahhhh," desah Bram dan Naina bersamaan ketika mereka mencapai kenikmatan bersama-sama.
Tubuh Bram lemas di atas tubuh Naina. Bram hendak bangkit, namun tangan Naina menahan pinggulnya.
"Biar seperti ini, ya. Aku menikmatinya," ucap Naina.
Bram mengangguk dan tersenyum. Dia membiarkan miliknya tertanam di tubuh Naina. Tanpa melepas penyatuan mereka, Bram berbalik dan kini tubuh Naina yang berada di atas Bram.
Naina memeluk erat tubuh Bram dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Bram. "Capek Sayang?" tanya Bram lembut.
Naina mengangguk lemas. "Tidur aja, ya. Biar aku usap punggungnya," ucap Bram lembut.
Naina mengangguk. Bram mengusap lembut punggung Naina yang basah karena keringat itu. Sesekali dia membenarkan rambut Naina yang menutupi wajahnya. "Rencana Tuhan memang sangat indah. Terkadang aku bersyukur karena masa lalu kita, Sayang. Kita bisa meraih kebahagiaan tiada tara sepeti ini. I love you," gumam Bram lembut dan menunduk mengecup dahi Naina
......................
Maaf kalau kurang hareudang ya, soalnya author belum pengalaman masalah begituan 😂😂
Hai teman-teman, nggak terasa novel ini udah mau tamat. Untuk kisah rumah tangga Al dan Kina bakal author buat terpisah.
Jangan lupa buat tetap like, komen dan kasih vote ya teman-teman
Tinggal beberapa part lagi, novel ini akan tamat. Semoga kalian nggak bosan menunggu sampai part terakhir yaa. Terimakasih banyak teman-teman 🌹🌹
__ADS_1