Derajat Rumah Tanggaku

Derajat Rumah Tanggaku
BAB 42


__ADS_3

Jangan lupa like nya yaaa 👍


Jangan lupa komentarnya jugaa 💬


Jangan lupa vote novel ini juga yaa


Kebaikan kalian sangat berarti untuk author dan novel ini


🌹HAPPY READING🌹


Dee yang melihat kepergian Naina hanya bisa mengusap dada. Mulutnya mengucap istighfar untuk menenangkan hatinya.


"Astagfirullah, maafkan mulut Dee, Ya Allah," ucap Dee memegang mulutnya sendiri.


"Cepat sembuh, nak," ucap Dee melihat wajah Al yang sedang tertidur pulas.


Ini bukan pertama kalinya jika Ibra dan Al sakit secara bersama. Sebelum Dee masuk penjara, Al dan Ibra juga pernah sakit begini karena mereka berenang sampai malam hari. Ibra yang awalnya melarang anaknya, akhirnya dia yang mengajak Al untuk berenang sampai malam hari.


Adzan magrib telah berkumandang, menandakan malam hari akan menjelang menggantikan siang. Dua manusia dengan umur yang berbeda itu kini tampak merebahkan diri di depan televisi yang ada di ruang keluarga. Tadi setelah ashar, Al terbangun dari tidurnya dan meminta Dee untuk membawanya ke ruang keluarga. Katanya bosan jika selalu di kamar. Panasnya juga sudah mulai turun, hanya saja tenggorokannya masih terasa sakit. Sedangkan Ibra memang sudah ada di sana lebih dulu dari Al.


"Abi, suala televisinya kecilin!" titah Al yang merasa terganggu dengan suara komentator bola yang ada di televisi. Dia merasa terganggu, karena itu mengakibatkan volume iPad nya jadi tidak terdengar.


Sekarang mereka sedang rebahan di depan televisi. Ibra yang fokus dengan siaran bola di televisi dan Al yang fokus dengan film kartun di iPad nya.


"Nggak bisa, Al. Nanti Abi nggak dengar," ucap Ibra menolak permintaan Al.


Al mendudukkan tubuhnya menghadap Ibra. "Abi budeg?" tanya Al.

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Ibra bingung.


"Abi nonton televisi tapi sualanya telalu kelas, Abi. Suala iPad Al kalah," ucap Al menunjukkan iPad nya pada Ibra.


"iPad Al aja yang udah kuno."


"Abi saja yang udah pikun."


"Jangan durhaka, boy."


"Abi juga dulhaka sama, Al. Kalau anaknya lagi sakit itu di tulutin."


"Abi juga lagi sakit, Al," jawab Ibra tidak mau kalah.


"Kecilin, Abi."


Ditengah perdebatan mereka, Dee datang membawa sarung beserta Koko untuk Ibra dan Al. Wanita cantik ini telah lengkap dengan mukenah yang melekat indah di tubuhnya.


"Mas, Al, ayo sholat magrib dulu, yuk," ajak Dee.


"Masih lemes, Umi," rengek Al pada Dee.


"Dasar manja," ucap Ibra meledek Al. Ibra langsung mendudukkan dirinya, lalu mengambil sarung dan koko yang diberikan oleh Dee. Bagaimana juga, dia tidak bisa meninggalkan kewajibannya hanya karena sedang sakit. Karena sakit pun, Allah tetap memberikan kemudahan untuk kita dapat melaksanakan kewajiban sebagai muslim. Dan Ibra juga ingin memberi contoh baik kepada anaknya.


"Makasih, Sayang," ucap Ibra.


"Sama-sama, Mas. Wudhu nya di kamar mandi dapur aja, ya, biar dekat. Sholatnya di sini aja. Nanti TV nya di matiin dulu," ucap Dee lembut kepada Ibra.

__ADS_1


"Iya, Sayang," jawab Ibra dan segera pergi ke kamar mandi yang disebutkan Dee dengan langkah yang pelan. Meskipun panasnya sudah turun, tapi badannya masih tetap lemas.


Setelah Ibra pergi, Dee beralih menatap Al yang masih duduk dengan iPad di tangannya.


"Al, kita sholat dulu, ya," bujuk Dee lembut.


"Badan Al ngilu kena ail, Umi," rengek Al pada Dee. Dia benar-benar sedang tidak ingin terkena air.


"Kita tayamum aja, ya," ucap Dee memberi saran.


"Tayamum?" tanya Al kepada Dee. Karena kalimat tayamum benar-benar asing di telinganya.


"Iya, Nak. Sekarang Al ikutin Umi, ya," ucap Dee kepada Al.


Kemudian Dee menjelaskan apa itu tayamum kepada Al dan mengajarinya. Al hanya mengangguk setiap mendengar penjelasan Uminya. Yang dia tangkap, tayamum itu berwudhu selain dengan air.


Setelah selesai, Al dan Dee menunggu Ibra yang sedang mengambil wudhu di kamar mandi dapur. Setelah Ibra datang, mereka sholat berjamaah dengan Ibra yang tetap sebagai Imam. Setelah menyelesaikan tiga rakaat sholat magrib, Al dan Dee bergantian mencium tangan Ibra, dan dibalas dengan kecupan singkat di kening Dee dan Al. Setelah mencium tangan Ibra, Al bergantian mencium tangan Uminya, dan mendapatkan kecupan singkat di dahi anak itu. Semua orang akan iri melihat keharmonisan keluarga ini. Jika seseorang yang tidak mengetahui setiap permasalahan yang dihadapi keluar ini, maka mereka akan mengatakan bahwa keluarga ini adalah keluarga yang sangat harmonis dan jauh dari kata bertengkar, sangat indah.


......................


Terimakasih selalu setia mengikuti cerita receh yang author tulis.


Tunjukan sayang kalian dengan like, vote dan komentarnya yaa. Agar author lebih semangat lagi.


Jangan lupa follow akun Instagram author juga yaa @nonam_arwa


Author sayang kalian 🌹🌹😘

__ADS_1


__ADS_2