
🌹HAPPY READING🌹
Ibra menoleh kepada Dee. "Melihat Zahra yang sampai saat ini masih di kursi roda, membuat hati aku sakit. Melihat Kina yang selalu menganggap aku lelaki terbaik, aku rasanya tidak pantas, Sayang," ucap Ibra sendu.
"Abi."
Dee dan Ibra tersentak kala mendengar panggilan dari pintu balkon kamar mereka.
"Kina, Zahra," gumam Dee dan Ibra bersamaan. Ibra dengan cepat menghapus sisa air matanya. Sedangkan Dee berjalan mendekati Kina dan Zahra.
"Anak-anak Umi kenapa belum tidur?" tanya Dee lembut mensejajarkan tubuhnya dengan Zahra yang duduk di kursi roda.
Ibra menyusul istrinya dan berdiri di sebelah Kina.
"Abi," panggil Zahra dan Kina secara bersamaan kepada Ibra dengan mata berkaca-kaca.
"Hey, anak-anak Abi kenapa?" tanya Ibra lembut.
"Adek sama Kak Zahra sayang sama Abi," ucap Kina mewakili dirinya dan Zahra.
Ibra tersenyum. "Abi juga sayang kalian," jawab Ibra lembut mengusap kepala Kina yang tidak tertutup hijab. Begitu juga dengan Zahra.
"Abi," panggil Zahra menengadah melihat Ibra.
"Iya, Nak," jawab Ibra lembut.
"Abi, kaki Ara lumpuh bukan salah Abi," ucap Zahra dengan suara bergetar.
Dee dan Ibra tersentak kaget mendengar perkataan Zahra. "Sayang, kamu dengar perkataan Umi sama Abi?" ucap Dee bertanya.
Zahra mengangguk. "Bahkan kami tahu semuanya, Umi," jawab Zahra.
Dee langsung menoleh kepada Kina. Kina mengangguk mengerti maksud Uminya.
Zahra beralih memandang Ibra dan menggenggam tangannya. "Abi, maafkan masa lalu. Maafkan dulu kehadiran Bunda yang mengganggu rumah tangga Abi sama Umi," ucap Zahra dengan suara menahan tangisnya.
"Nak-"
"Ara belum selesai, Abi," potong Zahra cepat.
__ADS_1
"Ara cacat bukan karena kesalahan Abi dan Bunda. Mungkin ini cara Allah menguji keimanan Ara, Abi. Mungkin jika Ara tidak cacat, maka Ara akan tumbuh menjadi gadis yang sombong. Mungkin jika Ara tidak cacat, Ara tidak akan patuh pada Tuhan kita. Ara mensyukuri semuanya, Abi. Lalu kenapa Abi mengutuk diri Abi sendiri karena kelumpuhan Ara? Apa Abi mau, Ara ikut mengutuk takdir yang sudah Allah berikan untuk Ara?" ucap Zahra menangis kepada Ibra.
Kina yang mendengar perkataan Zahra juga ikut meneteskan air matanya.
"Ara berterimakasih karena Abi sama Umi mau menerima Ara sebagai anak kalian. Sama seperti Adek dan Abang. Ara bersyukur berada dikeluarga ini, Abi. Ara juga diberikan kasih sayang oleh dua Ayah dan dua Ibu. Itu sudah membuat Ara menjadi anak yang beruntung di dunia, Abi," ucap Zahra.
Dee hanya mendengarkan dengan terus mengusap rambut Zahra. Hatinya senang, melihat anak-anaknya tumbuh menjadi manusia yang berhati mulia.
Setelah itu, Zahra beralih menatap Dee. "Umi," panggil Zahra lembut.
"Iya, Sayang," jawab Dee sambil menghapus air mata di pipi Zahra.
"Terimakasih sudah menjadi contoh keikhlasan dan kesabaran, Umi. Zahra bisa sekuat ini karena Umi," ucap Zahra tulus.
Dee menggeleng. "Bukan Umi yang membuat Zahra kita, tapi Allah yang memberikan Zahra keikhlasan dan ketulusan itu hingga bisa menerima semuanya, Nak," jawab Dee.
Zahra mengangguk dan tersenyum. "Bilang sama Abi untuk berdamai sama masa lalunya, Umi," ucap Zahra.
Dee mengangguk dan beralih menatap Ibra. "Dengerin anak, Mas," ucap Dee.
Ibra tersenyum dan mengangguk. Ibra menoleh ketika merasakan genggaman lembut ditangannya.
Tangan Ibra terulur menghapus air mata Kina. "Adek jangan nangis, ya," ucap Ibra.
"Abi, bagaimanapun masa lalu, Abi tetap menjadi yang terbaik. Abi tetap cinta pertama bagi Adek," ucap Kina.
"Abi, Adek memang marah saat tahu Abi pernah tidak adil dan tidak percaya sama Umi. Adek marah, karena Abi juga Umi harus mendapat banyak luka. Adek juga marah, karena Abi Abang harus ikut menderita. Tapi bagaimanapun juga, tidak ada orang tua yang sempurna, Abi. Tapi satu hal yang pasti, tidak ada orang tua yang ingin anaknya menderita. Dan Abi sudah menerima hukuman atas semuanya saat dulu berpisah dengan Umi," ucap Kina dengan suara bergetar.
Ibra dan Dee nampak kaget mendengar perkataan Kina. Mereka tidak terkejut jika Kina mengatakan mengenai Sofia, karena Kina memang sudah mengetahuinya saat dia masih duduk di bangku SMP. Tapi mengenai Dee yang di penjara dan Al sewaktu kecil, Kina tidak tahu menahu mengenai ini.
"Adek tahu darimana?" tanya Ibra.
Kina dan Zahra saling pandang mendengar pertanyaan Ibra. "Abang menceritakan semuanya, Abi," jawab Zahra dan Kina bersamaan.
Ibra memejamkan mata sebentar mendengar jawaban anak-anaknya.
"Kalian tidak membenci Abi kan?" tanya Ibra.
Zahra dan Kina menggeleng. "Rasa benci kami kalah oleh kasih sayang untuk Abi," jawab Kina.
__ADS_1
Air mata Ibra jatuh mendengar jawaban Kina. "Maaf dan terimakasih, Nak," ucap Ibra memeluk Kina.
Kina mengangguk dalam pelukan Abinya. "Berhenti menyalahkan diri sendiri, Abi. Adek sama Kak Zahra nggak mau Abi diam-diam kayak tadi lagi," ucap Kina.
"Kalian merasakannya?" tanya Dee.
Zahra dan Kina mengangguk. "Kami selalu memperhatikan setiap gerak-gerik orang terkasih kami, Umi," jawab Zahra mewakili dirinya dan Kina.
Kina mengangguk menyetujui perkataan Zahra.
Kina melepaskan pelukannya pada Ibra dan beralih menatap Ibra dan Dee. "Abi, Umi, boleh Adek bilang sesuatu?"
Dee dan Ibra sama-sama mengangguk. "Terimakasih sudah menjadi orang tua terbaik," ucap Kina dengan mata berkaca-kaca.
Dee hanya bisa mengangguk menjawab perkataan anaknya. Dia sangat bersyukur memiliki anak-anak yang sangat baik dan pengertian. Sedangkan Ibra hanya memeluk erat Kina yang ada dihadapannya. "Abi yang berterimakasih karena memiliki kalian, Nak," ucap Ibra.
Dee memeluk Zahra yang ada di kursi roda dan dibalas Zahra tak kalah erat. "Ara sayang Umi," ucap Zahra tulus.
Dee mengangguk. "Umi juga sayang anak-anak, Umi," jawab Dee.
"Janji untuk tidak sedih dan berdamai dengan diri sendiri Abi?" ucap Kina mengajukan jari kelingkingnya kepada Ibra.
Ibra terkekeh pelan dan mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Kina. "Iya, Nak," jawab Ibra.
"Sama Ara juga," ucap Zahra ikut mengulurkan jari kelingkingnya dan dibalas oleh Ibra.
Ya Allah, terimakasih memberikan aku anak-anak yang sangat berhati besar dan istri yang penuh keikhlasan dan kesabaran. Tidak ada yang lebih nikmat dari semua ini, Ya Allah. Batin Ibra bersyukur atas kehadiran keluarganya.
Sedangkan dibalik pintu kamar Ibra dan Dee, Al tersenyum senang melihat semuanya. Ya, Al ikut merasakan perbedaan akan sikap Ibra tadi yang tidak seperti biasanya. Setelah mengantar Bella dan Bima kerumahnya, Al pamit sebentar kepada Bella untuk kembali kerumahnya dengan alasan ada barang yang tertinggal.
Namun siapa sangka, Al menemui kedua adiknya dan menceritakan semua yang terjadi. Hingga akhirnya dia meminta kedua adiknya untuk membujuk Ibra dan meyakinkan Abinya itu.
Sampai kapanpun, Abi tetap yang terbaik. Bagaimanapun masa lalu, semua akan terlupakan dengan segala kebahagiaan masa depan yang telah Abi berikan untuk kami. Al juga sangat menyayangi Abi dan Umi. Batin Al senang. Setelah itu Al pergi dan kembali ke rumah Bima yang berada disebelah rumahnya.
......................
Hai teman-teman, nggak terasa novel ini udah mau tamat. Untuk kisah rumah tangga Al dan Kina bakal author buat terpisah.
Tinggal beberapa part lagi, novel ini akan tamat. Semoga kalian nggak bosan menunggu sampai part terakhir yaa. Terimakasih banyak teman-teman 🌹🌹😍🤗
__ADS_1